
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Dalam Kitab Matn Taqrib, Sumpah tidak sah kecuali dengan BILLAHI atau dengan salah satu nama nama Alloh atau salah satu dari sifat sifat dzat Alloh. Bila seseorang sumpah akan menyedekahkan hartanya mak dia disuruh memilih antara sedekah dan kifarat sumpah. Dn tidk ada dalam send gurau sumpah. Bila seseorang sumpah tidak akan melakukan sesuatu dan ada orang lain menyuruhnya maka dia tidak dihukumi melanggar sumpah.
Bila seseorang bersumpah akan melakukan dua pekerjaan dan dia melakukan salah satu pekerjaan tersebut maka dia tidak dihukumi melanggar sumpah dan harus membayar kifarat pilihan antara tiga hal: (1) Merdekakan budak perempuan mukmin; (2) Memberi makan makan 10 miskin. A) satu mud atau member pakaian mereka; (3) Bila tidak menemukan maka puasa tiga hari.
Untuk lebih detailnya, berikut ini terjemah Matn Taqrib terkait Sumpah dan Nadzar (الأَيْمَانِ وَالنُّذُورِ)
Sumpah tidak sah kecuali dengan nama Allah atau salah satu nama nama Alloh atau salah satu dari sifat sifat dzat Allah
Barang siapa sumpah akan menyedekahkan hartanya maka dia dapat memilih antara sedekah dan kafarat sumpah
Dan tidak ada (kewajiban) apapun dalam sendau gurau sumpah.
Barang siapa bersumpah tidak akan melakukan sesuatu, lalu menyruruh orang lain melakulan sesuatu tersebut, maka dia tidak (dihukumi) melanggar sumpah.
Barang siapa bersumpah akan melakukan dua pekerjaan, lalu dia melakukan salah satu pekerjaan tersebut maka dia tidak (dihukumi) melanggar sumpah
Kafarat sumpah adalah seseorang dapat memilih antara tiga perkara: (1) merdekakan budak yg beriman (2) Memberi makan 10 orang miskin, setiap satu miskin satu mud, atau memberi pakaian mereka (3) Bila tidak menemukan maka puasa tiga hari.
Nadzar itu wajib (dilaksanakan) di suatu balasan atas perkara boleh dan taat kepada Alloh. Seperti ucapan seseorang: “ bila Alloh menyembuhkan penyakit saya maka Saya akan solat atau puasa atau sedekah” maka semuanya wajib atsnya bila terjadi atasnya nama yang diucapkan
Dan tidak boleh nadzar dalam maksiat seperti ucapan seseorang: jika aku membunuh fulan maka saya harus begini kerena Allah
Nadzar tidak wajib (dilaksanakan) karena meninggalkan perkara mubah, seperti ucapannya: “ saya tidak akan makan daging dan saya tidak akan minum susu” dan yang senada dengannya.
Wallahu ‘alam bish-shawab. (*)