
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Siapa santri atau mahasiswa Jurusan Bahasa Arab yang tak kenal Kitab Nahwu yang satu ini? Di Indonesia sendiri, banyak dijual kitabnya dan menjadi konsumsi santri dan mahasiswa, termasuk kitab terjemah dan penjelasan kata perkatanya. Ya, Kitab Al-Kawakib Durriyah ini merupakan karya Syekh Muhammad al-Ahdal pada pertengahan Abad ke-13 Hiriyah, merupakan Kitab Syarah dari Kitab Matan Mutammimah Al-Ujrumiyah.
Sebagai Kitab Syarah (Penjelasan) dari Kitab Mutammimah al-Ajurumiyah, maka dapat dikategorikan kitab ini sebagai Kitab Ilmu Nahwu Tingkat Menengah. Jika kutub nahwu yang lain banyak mengurai gramatika Arab lebih condong pada rumus-rumus ilmu nahwu secara umum, maka tidak dengan kitab yang satu ini. Kitab Kawakib Durriyah ini lebih pada penjelasan yang lebih detail dan lebih luas daripada kitab nahwu pada umumnya. Tak hanya menyebutkan rumus-rumus ilmu nahwu, tapi juga berbagai cabang-cabangnya, lengkap dengan contohnya.
Syekh Muhammad Al-Ahdal menulis Kitab Kawakib Durriyah ini sebagai bentuk respon dan rasa tanggung jawab beliau atas permintaan beberapa ulama pada masanya. Nama lengkap beliau Syekh Muhammad bin Ahmad bin Abdul Bari Al-Ahdal, salah satu ulama kontemporer (mu’ashirin) yang luas keilmuannya, penguasaannya dalam semua cabang ilmu syariat sangat mendalam, dalam Bidang Ilmu Nahwu, Hadits, Fiqih, dan beberapa cabang ilmu lainnya. Bahkan, beliau masyhur dengan sebutan Mufti Tihamah (ahli fatwa kota Tihamah).
Syekh Muhammad Al-Ahdal dilahirkan pada tahun 1241 H (1826 M) di Tihamah Yaman. Di daerah tersebut, beliau tumbuh sebagai sosok ahli ilmu yang disegani. Belau wafat pada tahun 1298 H, bertepatan dengan tahun 1880 Masehi. Az-Zirikli mengatakan, Syekh Muhammad Al-Ahdal memiliki nasab bersambung sampai pada Rasulullah saw melalui jalur Sayyidina Husain. Di antara karya Syekh Muhammad Al-Hadal adalah Kitab Tahzirul Ikhwan min Tashdiqil Kuhhan. Bughyatu Ahlil Atsar. Sullamul Qari ‘ala Hasyiyah Shahihil Bukhari. Tasdidul Bunyan lil Musytaghilina bi Hikmatil Yunan, Al-Kawakibud Durriyah Syarhu Mutammimah Al-Ajrumiyah dan masih banyak lagi kitab karya lainnya. (Az-Zirikli, Al-A’lam, [Darul Ilmi: 2002], juz VI, halaman 19).
Dengan ilmu nahwu, maka semua cabang ilmu syariat akan mudah dimengerti. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Syekh Muhammad Al-Ahdal dalam mukadimah kitab. Beliau mengatakan:
Artinya:
“Ilmu nahwu adalah paling manfaat dari ilmu gramatika Arab, karena dengannya bisa diraih (dipahami) semua (ilmu bahasa Arab).” (Al-Ahdal, I/25).
Pada Djuz Pertama Kitab Al-Kawakibud Durriyah, Syekh Muhammad Al-Ahdal mengurai kembali semua rumus-rumus nahwu yang ada dalam Kitab Mutammimah Al-Ajrumiyah, mulai dari bab kalam sampai bab isim-isim yang dibaca rafa’. Kemudian dikembangkan dengan penjelasan yang lebih rinci dan detail. Semua contoh yang berkaitan dengan kalam, tanda-tanda i’rab, isim ma’rifat dan nakirah, beliau sebutkan semua.
Syekh Muhammad Al-Ahdal menjelaskan isim-isim yang dibaca rafa’ (marfu’atul asma), yaitu: fail, naibul fail, mubtada dan khabar, kana dan saudaranya, huruf-huruf yang pengamalannya serupa dengan laisa, af’alul muqarabah, inna dan saudaranya, la li nafyil jins, zhanna dan saudaranya. Semua isim yang dibaca rafa’ diatas dijelaskan sangat luas dengan contohnya, dan contoh lain yang juga berkaitan dengannya, agar pembaca bisa dengan mudah mengetahui suatu lafal secara khusus, dan bisa dengan mudah membedakan dengan lafal lainnya yang serupa dengannya.
Pada Djuz Kedua Kitab Al-Kawakibud Durriyah, Syekh Muhammad Al-Ahdal mengurai kembali semua rumus-rumus yang ada dalam Kitab Mutammimah Al-Ajrumiyah, mulai dari bab isim-isim yang dibaca nashab dan isim yang dibaca jar, hingga bab akhir, yaitu bab waqaf. Semua contoh yang berkaitan dengan isim yang dibaca nashab, seperti tamyiz, hal, dan isim yang dibaca jar, i’rab-i’rab kalimat fi’il, beliau sebutkan semua.
Tak sampai disitu, dilanjutkannya pembahasan isim-isim yang dibaca jar (khafad), begitupun beberapa rumus ilmu nahwu yang tidak disebutkan dalam Kitab Mutammimah, dan ini merupakan salah satu kelebihan Kitab Al-Kawakibud Durriyah daripada kitab syarah nahwu lainnya. Rumus-rumus tersebut di antaranya adalah isim-isim yang beramal seperti amalnya fi’il, pembahasan tentang tanazu’, bab ta’ajjub, bab waqaf, dan diakhiri dengan nazham-nazham. Semua rumus ini dijelaskan dengan sangat luas oleh penulis, tak lupa juga disebutkan semua contoh dan tandanya, sehingga bisa memudahkan pembaca untuk mengenal dan memahaminya.
Demikian sedikit catatan pengantar mengenal Kitab Kawakib Durriyah, kitab syarah atas Kitab Matan Mutammimah Ajurumiyah. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.