Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Q & A tentang Ilmu Tajwid (1)

Q & A tentang Ilmu Tajwid (1)

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Berikut ini Q & A (Questions and Answer) tentang Ilmu Tajwid dan Penerapannya. Q & A ini penting dipahami, khususnya bagi seluruh santriwati untuk memantapkan pemahamannya tentang Ilmu dan Kaidah-kaidah Tajwid.

1. Question (Q): Tujuan utama mempelajari ilmu tajwīd adalah … ? A. Memperindah suara qārī’  B. Menghindari kesalahan makna ayat.  C. Menjaga lisan dari kesalahan membaca Al-Qur’an. D. Mempercepat hafalan

Answer (A): Tujuan utama mempelajari ilmu tajwid adalah: C. Menjaga lisan dari kesalahan membaca Al-Qur’an

Penjelasan:

Dalam literatur ilmu tajwid, tujuan ini sering disebut dengan Lahn (kesalahan). Mempelajari tajwid berfungsi untuk menghindari dua jenis kesalahan, yaitu Lahn Jali (Kesalahan Jelas). Kesalahan fatal yang dapat mengubah makna, seperti tertukarnya huruf atau berubahnya harakat dan Lahn Khafi (Kesalahan Tersembunyi). Kesalahan yang tidak mengubah makna tetapi menyalahi aturan keindahan membaca, seperti kurang panjang saat membaca Mad atau tidak mendengung saat Ghunnah.

Mengapa Pilihan Lain Bukan Tujuan Utama?

A. Memperindah suara hanyalah dampak positif atau pelengkap, bukan tujuan pokok syariatnya.

B. Menghindari kesalahan makna adalah bagian dari tujuan tajwid (lewat pencegahan Lahn Jali), namun jawaban C lebih mencakup keseluruhan esensi tajwid secara teknis maupun maknawi.

D. Ilmu tajwid justru sering kali membuat tempo membaca menjadi lebih tertata (tartil), bukan untuk mempercepat hafalan.

2. Q: Perintah membaca Al-Qur’an dengan tartīl terdapat dalam QS…. ? A. Al-Baqarah: 121. B. Al-Muzzammil: 4.  C. Al-Isrā’: 9.  D. Al-‘Alaq: 1

A: Perintah membaca Al-Qur’an dengan tartīl terdapat dalam Qs. : B. Al-Muzzammil: 4

Penjelasan Ayat

Ayat tersebut berbunyi: {…وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيْلًا}  (…wa rattilil-qur’āna tartīlā)

Artinya: “…Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).”

Apa itu Tartil? Menurut Sayyidina Ali bin Abi Thalib, makna tartil dalam ayat ini adalah: Tajwidul Huruf (Membaguskan pengucapan huruf-hurufnya, sesuai makhraj dan sifat), dan Ma’rifatul Wuquf (Mengetahui tempat-tempat berhenti (waqaf) yang tepat).

Analisis Pilihan Lain:

A. Al-Baqarah: 121: Membahas tentang orang-orang yang membaca Al-Qur’an dengan “haqqa tilawatih” (sebenar-benar bacaan).

C. Al-Isrā’: 9: Membahas tentang Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi jalan yang paling lurus.

D. Al-‘Alaq: 1: Perintah untuk membaca (Iqra’) secara umum sebagai wahyu pertama.

3. Q:  Menurut ‘Alī bin Abī Ṭālib r.a., makna tartīl adalah … ?  A. Membaca perlahan. B. Memahami tafsir. C. Tajwīd huruf-huruf. D. Menghafal dengan sanad

A: Berdasarkan definisi klasik yang sering dirujuk dalam kitab-kitab tajwid (seperti An-Nasyr fil Qira’at al-Asyr karya Ibnu al-Jazari), Sayyidina ‘Alī bin Abī Ṭālib r.a. menjelaskan makna tartil sebagai berikut: C. Tajwīd huruf-huruf

Penjelasan Lengkap:

Definisi utuh dari Sayyidina ‘Alī bin Abī Ṭālib r.a. mengenai tartil adalah, “At-Tartilu huwa tajwidul hurufi wa ma’rifatul wuquf.” (Tartil adalah membaguskan pengucapan huruf-huruf dan mengetahui tempat-tempat pemberhentian/waqaf).

Dalam pilihan ganda yang Anda berikan, “Tajwid huruf-huruf” adalah bagian inti dari definisi tersebut. Tanpa membaguskan pelafalan setiap huruf sesuai makhraj dan sifatnya, sebuah bacaan belum bisa dikatakan tartil meskipun dibaca secara perlahan.

Mengapa Pilihan Lain Kurang Tepat?

A. Membaca perlahan: Ini adalah makna tartil secara bahasa, namun menurut Sayyidina Ali, aspek teknis (tajwid) lebih diutamakan.

B. Memahami tafsir: Ini adalah langkah setelah tartil, yaitu tadabbur.

D. Menghafal dengan sanad: Ini adalah metode penjagaan Al-Qur’an, bukan definisi tartil dalam cara membaca.

4. Q: Alasan utama tajwīd harus dipelajari melalui guru adalah … ?  A. Agar cepat hafal. B. Menghindari tashḥīf dan taḥrīf. C. Menjaga suara. D. Menguasai maqām

A: Alasan utama tajwīd harus dipelajari melalui guru adalah: B. Menghindari tashḥīf dan taḥrīf

Penjelasan Mendalam

Ilmu tajwid adalah ilmu talaffuz (pengucapan) yang bersifat musyafahah (dari mulut ke mulut). Berikut alasan mengapa pilihan B adalah yang paling tepat:

Tashḥīf: Adalah kesalahan dalam membaca titik atau harakat huruf yang bentuknya mirip (misalnya tertukar antara huruf $ب$, $ت$, dan $ث$).

Taḥrīf: Adalah penyimpangan atau perubahan huruf, kata, atau makna.

Sifat Huruf yang Tidak Tertulis: Banyak aspek tajwid yang tidak bisa dipelajari hanya dengan membaca buku, seperti tingkat ketebalan (Tafkhim), durasi dengung (Ghunnah), atau getaran Qalqalah. Hanya telinga seorang guru yang bisa mendeteksi apakah pengucapan Anda sudah benar-benar tepat atau masih meleset sedikit.

Mengapa Pilihan Lain Tidak Tepat?

A. Agar cepat hafal: Hafalan adalah hasil dari pengulangan (murojaah), bukan tujuan utama belajar tajwid dengan guru.

C. Menjaga suara: Menjaga suara lebih berkaitan dengan teknik vokal atau kesehatan, bukan inti dari hukum tajwid.

D. Menguasai maqām: Maqam (irama/lagu) adalah seni tambahan dalam membaca Al-Qur’an dan hukumnya tidak wajib, berbeda dengan tajwid yang hukumnya fardu ain dalam praktiknya.

Pesan Penting: Mempelajari tajwid secara otodidak sangat berisiko membuat seseorang merasa sudah benar padahal lisannya melakukan kesalahan fatal (Lahn Jali). Itulah mengapa sistem Sanad (rantai guru yang bersambung hingga Rasulullah) sangat dijaga dalam Islam.

5.  Q: Tashḥīf secara istilah berarti … ?  A. Mengubah makna tafsir. B. Kesalahan bacaan huruf atau harakat.  C. Menambah ayat. D. Menggugurkan hukum

A: Secara istilah, tashḥīf berarti: B. Kesalahan bacaan huruf atau harakat

Penjelasan Detail:

Tashḥīf ($التصحيف$) berasal dari kata shahifah (lembaran/tulisan). Dalam ilmu tajwid dan hadis, istilah ini merujuk pada kesalahan seseorang dalam membaca teks karena kemiripan bentuk huruf, namun berbeda dalam titik atau harakatnya.

Contoh pada Huruf: Tertukar antara huruf Ba (ب), Ta (ت), atau Ya (ي) karena bentuk dasarnya sama.

Penyebab: Biasanya terjadi karena seseorang belajar hanya mengandalkan buku (otodidak) tanpa bimbingan guru (talaqqi), sehingga ia keliru mengidentifikasi huruf yang titiknya tidak jelas atau mirip.

Perbedaan dengan Pilihan Lain:

A. Mengubah makna tafsir: Ini lebih berkaitan dengan kesalahan dalam istimbat atau pemahaman hukum, bukan sekadar teknis bacaan.

C. Menambah ayat: Ini termasuk kategori tahrif (perubahan/pemalsuan) yang sangat fatal.

D. Menggugurkan hukum: Ini adalah dampak dari kesalahan serius, namun bukan definisi dari tashhif itu sendiri.

Intinya: Tashhif adalah “salah baca” karena mata terkecoh oleh kemiripan tulisan. Itulah sebabnya belajar Al-Qur’an harus didengarkan langsung oleh seorang guru.

***

(Bersambung …. )

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Al-Qur’an-Hadits/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR