
BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 4 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.
14. Beberapa Kisah dari Orang-orang yang Pandai Menahan Diri
1. Diceritakan, Hathith Az-Zayyat dibawa menghadap kepada Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsagafi. Ketika dia masuk kepada Hajjaj, Hajjaj berkata: “Engkau yang bernama Hathith?” Hathith menjawab: “Ya, tanyakanlah apa yang Anda Suka. Karena -aku berjanji kepada Allah ketika berdiri di hadapan Maqam Ibrahim atas tiga perkara: Pertama. jika aku ditanya, aku akan menjawab dengan benar: kedua, jika aku mengalami cobaan, aku akan bersabar: ketiga, jika diberi keselamatan, aku akan bersyukur.”
Hajjaj bertanya: “Apa pendapatmu mengenai diriku?” Hathith menjawab: “… Aku katakan, sesungguhnya Anda termasuk musuh Allah di muka bumi. Anda melanggar larangan Allah dan membunuh dengan sangkaan.” Hajjaj bertanya: “Apa pendapatmu tentang Amirul Mukminin Abdul! Malik bin Marwan?” Hathith menjawab: “Dia lebih besar dosanya daripada Anda. Sesungguhnya Anda adalah salah satu dosa-dosanya.” Maka Hajjaj berkata: “Siksalah dia.”
Maka, sampailah penyiksaan terhadapnya dengan dibelahkan kayu bambu, kemudian ditusukkan ke daging (tubuh)nya, lalu diikat dengan tali dan dibentangkan diatas kayu-kayu hingga bercerai berai dagingnya. Akan tetapi mereka tidak mendengarnya mengucapkan sesuatu. Kemudian diberitakan kepada Hajjaj, bahwa Hathith dalam keadaan menjelang ajal (sekaratulmaut). Maka Hajjaj berkata: “Keluarkan dia dan lemparkan ke pasar.”
Ja’far berkata: “Kemudian aku bersama seorang temanku mendatanginya. Kemudian kami tanyakan kepadanya: ‘Hathith, apakah kamu punya keperluan?’ Hathith menjawab: ‘Seteguk air.’ Kemudian mereka membawa segelas air, lalu dia meninggal. Waktu itu Hathith berusia 18 tahun, semoga Allah merahmatinya.”
2. Ada seorang ulama didatangi oleh seorang temannya. Dia menyajikan makanan kepadanya. Kemudian keluarlah istri orang bijak itu. Perempuan tersebut adalah seorang yang berakhlak buruk. Dia mengangkat hidangan dan memulai memaki orang bijak itu. Lalu temannya keluar sambil marah-marah. Maka orang bijak itu mengikutinya dan berkata kepadanya:
“Engkau ingat pada hari ketika kita makan dirumahmu, lalu seekor ayam terjatuh menimpa hidangan sehingga merusakkannya, namun tidak seorangpun yang marah di antara kita?” Temannya menjawab: “la.” Orang bijak itu ber. kata: “Anggaplah perempuan ini seperti ayam itu.” Maka redalah kemarahan orang itu dan ia pun pergi. Temannya berkata: “Benarlah orang bijak itu. Sifat menahan diri adalah penyembuh dari setiap penyakit.”
3. Seorang laki-laki memukul kaki seorang hiiak hingga menyakitkannya. Namun dia tidak marah. Maka dikatakan kepadanya mengenai hal itu. Orang bijak itu berkata: “Aku menganggapnya seperti batu yang membuat aku tersandung, maka aku sembelih kemarahanku.”
4. Seorang laki-laki memaki sahabat Abdullah bin Abbas ra. Setelah selesai, Abdullah berkata: “Hai Ikrimah,: apakah orang itu punya keperluan, agar kita penuhi?” Maka, orang itu pun menundukkan kepalanya dan merasa malu.
5. Diceritakan, seorang ahli ibadah (‘Aabid) mempunyai seekor kambing. Orang itu melihat kambingnya berkaki tiga. Kemudian dia berkata: “Siapa yang melakukan ini terhadapnya?” Seorang sahayanya berkata: “Aku.” Orang itu berkata: “Kenapa?” Sahaya itu menjawab: “Supaya tuan susah.” Orang itu berkata: “Tidak, bahkan aku akan menyusahkan orang yang menyuruhmu. Pergilah! Engkau bebas (merdeka).”
1. Ketahuilah, Allah menciptakan harta bagi kepentingan para hamba-Nya dan menyuruh kita bermurah hati dengannya kepada orang-orang fakir dan orang-orang yang membutuhkan serta melarang kita menimbunnya di saat orang-orang sangat membutuhkannya. Oleh karena itu, Allah Ta’ala mewajibkan zakat kepada kita dan mendorong agar mengeluarkan sedekah.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan dirikanlah shalat serta keluarkan zakat …” (QS. Al-Baqarah: 43).
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam. dan di siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 274).
“…… Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.
Pada hari dipanaskan emas-perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggungnya, (lalu dikatakan) kepada mereka: “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At-Taubah: 34-35).
2. Manusia itu berwatak senang pada harta dan gemar mengumpulkannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi, sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Al-A’la: 16-17).
Akan tetapi, kamu wajib membiasakan diri untuk bersifat pemurah hingga selamat dari penyakit kikir yang merupakan penyakit paling berbahaya (gawat). Sebagaimana dijelaskan dalam hadits: “Penyakit mana yang lebih berbahaya daripada kikir?”
Apabila kamu terbiasa bersifat pemurah, maka kamu pun dicintai di sisi Allah, kemudian oleh makhluk-Nya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)
Disebutkan dalam hadits: “Sesungguhnya orang orang pemurah itu dekat dari Allah, manusia dan surga serta jauh dari neraka. Sesungguhnya orang yang kikir itu jauh dari Allah, manusia dan surga serta dekat dari neraka.” “Seorang yang bodoh tapi pemurah, lebih dicintai Allah daripada seorang alim yang kikir.”
3. Sifat kikir adalah kejahatan besar dan bencana buruk yang menyebabkan permusuhan dan pertengkaran, bahkan perkelahian dan pemutusan hubungan rahim serta kerabat.
Allah Ta’ala berfirman: “Ingatlah, kamu ini orangorang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada orang yang kikir, dan orang yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Maha Kaya, sedangkan kamulah orang yang membutuhkan (kepadaNya) ….” (QS. Muhammad: 38).
Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa dikaruniai harta oleh Allah, sedangkan dia tidak menunaikan zakatnya, maka diciptakan untuknya seekor ular yang terlepas kulit kepalanya dan mempunyai dua titik hitam di atas matanya, yang dikalungkan padanya di hari Kiamat, kemudian membungkam mulutnya. Lalu ia berkata: Akulah hartamu, akulah harta simpananmu.”
Kemudian beliau membaca ayat: “Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat ….. ” (QS. Ali-Imran: 180).
Dalam hadits lain: “Janganlah kamu bersifat kikir, karena sifat itu membinasakan orang-orang sebelum kamu. Mereka disuruh berdusta, lalu mereka berdusta. Mereka disuruh berbuat aniaya, lalu mereka berbuat aniaya. Mereka disuruh memutuskan hubungan, lalu mereka pun memutuskan hubungan silaturrahmi.”
4. Setan sangat berkeinginan untuk mencegah manusia dari mengeluarkan sedekah, karena dia mengetahui kadar keutamaannya yang besar. Maka, dengan dengki dan permusuhannya terhadap manusia, dia ingin menggagalkan manusia dari pahala yang banyak itu. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “
“Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).” (QS. Al-Baqarah: 268). Dalam hadits dijelaskan: “Tidaklah seseorang mengeluarkan suatu sedekah, melainkah terlepaslah dia dari tantangan tujuh puluh setan, yang semuanya melarang dia bersedekah.”
Maka, hendaklah kamu berjiwa pemurah dan terbuka kedua tangan dengan menyerahkan sedekah. Waspadalah, jangan sampai kamu tertipu oleh setan dan was-wasnya. Percayalah, bahwa Allah akan mengganti sedekah yang kamu nafkahkan di jalan Allah. Allah Ta’ala berfirman: “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantikan dan Dialah, Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39).
Dalam hadits Qudsi dijelaskan. “Hai hamba-ku, nafkahkan (hartamu), niscaya Aku ganti nafkahmu. Kekayaan Allah adalah penuh, tidak berkurang oleh pengeluaran nafkah yang mengalir malam dan siang. Tidaklah kamu lihat, apa yang dinafkahkan’ Allah sejak Allah menciptakan langit dan bumi? Sesungguhnya tidaklah berkurang segala yang ada dalam kekayaan-Nya.”
Dalam hadits yang lain: “Setiap hari ketika pagi, turun dua malaikat kepada para hamba. Yang satu berkata: ‘Ya Allah, berilah ganti terhadap orang yang menafkahkan sedekah,’ sedang yang lain mengatakan: ‘Ya Allah, timpakan kebinasaan bagi orang yang kikir’.”
5. Bersikaplah pemurah kepada keluargamu lebih. dahulu, kemudian kepada kerabatmu yang lebih dekat, lalu yang dekat, Nabi saw. bersabda:
“Dinar yang kamu nafkahkan di jalan Allah, untuk : membebaskan budak dan sedekah kepada orang miskin serta kepada keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” Nabi saw. juga bersabda: “Sedekah bagi orang miskin adalah satu sedekah, sedangkan sedekah terhadap ke rabat adalah dua sedekah, yaitu sedekah dan hubungan kekeluargaan.”
Nabi saw. bersabda di lain hadits: “Hal umat Muham. mad, demi Allah yang mengutus aku dengan kebenaran, tidaklah Allah menerima sedekah dari seorang laki-laki, sedangkan dia mempunyai kerabat yang sangat mem. butuhkan bantuannya, tetapi dia memberikannya kepada orang lain. Demi Allah yang nyawaku berada dalam kekuasaan-Nya, Allah tidak melihat kepadanya (tidak menghiraukannya) di hari Kiamat.”
Hendaklah kamu mengeluarkan sedekah secara diamdiam (dirahasiakan), karena ia bisa memadamkan kemarahan Tuhan. Sebagaimana tersebut dalam hadits. Juga di hadits lain: “Sesungguh-nya pahalanya dilipatgandakan dari pahala sedekah yang terang-terangan sebanyak 70 kali.”
6. Di antara beberapa faedah sedekah, ialah menolak bencana dan penyakit serta memelihara harta. Sebagaimana tersebut dalam hadits: “Perbuatan-perbuatan makruf (kebajikan) itu dapat mencegah mati dalam keadaan buruk. Bentengilah hartamu dengan zakat dan sembuhkan orang-orang sakit di antara kamu dengan sedekah. Tidaklah binasa harta di laut dan darat, melainkan karena menahan zakat.”
Di antara pahalanya, ialah dapat menyucikan orang rang bersedekah dari dosa-dosa.. Allah Ta’ala berfirman: ‘Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat tu kamu membersihkan dan menyucikan mereka…” (At-Taubah: 103).
Di samping itu, sedekah berarti memasukkan kegembiraan pada orang-orang miskin dan menyebabkan mereka mendoakanmu. Dalam hadits dijelaskan: “Sebaik-baik amal adalah apabila kamu memasukkan kegembiraan kepada saudaramu yang beriman, melunaskan utang atau memberinya makanan (roti).”
Sedekah dapat menambah rezeki. Telah dikemukakan hadits mengenai hal itu. Sedekah juga menjadi naungan bagi pelakunya dari terik panas di Padang Mahsyar pada hari Kiamat, menyebabkan keringanan hisab (perhitungan amal), beratnya timbangan amal dan meloloskan penyeberangan di atas Ash-Shirot, menambah derajat di surga.
7. Apabila kamu miskin, maka sedekahlah walaupun sedikit. Hal itu lebih utama di sisi Allah daripada sedekah orang kaya yang banyak. Sebagaimana tersebut dalam hadits: “Satu dirham mengungguli seribu dirham.”
Janganlah kamu menolak peminta-peminta pertama yang berdiri di pintumu dan bersedekahlah setiap hari, walaupun sedikit dan segerakanlah pada waktu pagi. Sebagaimana tersebut dalam hadits: “Segerakanlah mengeluarkan sedekah karena bencana itu tidak bisa menimpa kepada orang yang bersedekah.”
Waspadalah untuk tidak mengungkit-ungkit sedekahmu terhadap orang miskin, karena mengungkit-ungkit itu haram dan membatalkan pahala sedekah. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima) …..” (QS. Al-Baqarah: 264)
Sedangkan dalam hadits: “Tidaklah masuk surga orang yang suka mengungkit-ungkit sedekahnya.” Hendaklah kamu meminjami orang-orang yang membutuhkan, karena pahala meminjami itu sangat besar.
Allah Ta’ala berfirman: “Siapa yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatgandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak.” (QS. Al-Hadid: 11). Dalam ayat lain: “…. maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak …… ” (QS. Al-Baqarah: 245).
Sedangkan dalam hadits disebutkan: “Pada malam Isra’, kulihat di pintu surga tertulis: “Sedekah itu dibalas Sepuluh kali lipat, sedangkan utang dibalas 18 kali lipat! Maka aku bertanya: ‘Ya Jibril, mengapa utang itu lebih utama daripada sedekah?’ Beliau menjawab: ‘Karena orang yang meminta terkadang hanya meminta, padahal dia mempunyai harta yang mencukupinya, sedangkan orang yang berutang, dia tidak berutang, kecuali karena membutuhkan.”
Hendaklah kamu lebih mengutamakan orang lain daripada dirimu, yaitu apabila kamu mempunyai sesuatu yang kamu butuhkan, kemudian ada orang lain yang membutuhkan, lalu kamu berikan dan dahulukan mereka daripada dirimu. Maka, pahala yang demikian itu sangat besar sekali.
Allah Ta’ala berfirman: “….. dan mereka (kaum Anshar) mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan orang yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah o-rang-orang yang beruntung…..” (QS. Al-Hasyr: 9).
1. Rasul saw. adalah orang yang paling pemurah dan dermawan. Beliau mendermakan setiap yang ada dan memberikan pemberian yang tidak mampu dilakukan oleh raja-raja, misalnya, Kisra dan Kaisar. Tidak pernah beliau diminta sesuatu, lalu beliau mengatakan: “Tidak.”
Datang kepada beliau seorang perempuan membawa selembar kain burdah yang ditenun. dengan kedua tangannya untuk dipakaikan kepada beliau. Maka Nabi saw. mengambil dan memakainya karena dibutuhkan. Kemudian seorang Sahabat berkata: “Pakaikanlah ia padaku. Alangkah bagusnya!”
‘ Maka Nabi saw. bersabda: “Ya.” Setelah Nabi saw. duduk di majlis, kemudian pulang, lalu beliau melipatnya. Setelah itu beliau mengirimkannya kepada sahabat tadi. Maka orang-orang berkata kepadanya: “Kamu tidak berbuat baik. Nabi saw. memakainya karena dibutuhkan. Kemudian kamu memintanya, sedangkan kamu tahu bahwa beliau tidak menolak orang yang meminta.” Sahabat tadi menjawab: “Demi Allah, aku tidak memintanya untuk dipakai. Sesungguhnya aku memintanya agar ia menjadi ‘kain kafanku.” Maka kain burdah itu pun menjadi kafannya.
2. Dibawa kepada Nabi saw. uang sebanyak 90.000 dirham. Kemudian beliau meletakkannya di atas sehelai tikar. Setelah itu beliau berdiri dan membaginya. Maka, tidaklah beliau menolak seorang pun yang meminta hingga selesai membagikannya.
Datang seorang laki-laki meminta sesuatu kepadanya (Nabi saw). Maka beliau bersabda: “Aku tidak punya apa apa, tetapi belilah atas namaku. Jika aku punya uang, nanti aku yang membayarnya.” Nabi saw. juga mengembalikan tawanan dari bani Hawazin yang berjumlah 6.000 orang.
Kedermawanannya itu semua karena Allah dan demi mendapatkan ridha-Nya. Beliau lebih mengutamakan orang lain daripada diri dan anak-anaknya. Terkadang selama sebulan atau dua bulan tidak dinyalakan api di dalam rumah-nya. Beliau dan keluarganya hanya cukup makan kurma dan air. Sering kali beliau tidur dalam keadaan lapar dan bangun pagi dalam keadaan puasa. Beliau mengikatkan batu di perutnya karena lapar. Dibawakan harta kepadanya, namun beliau tidak menyimpan sedikit pun bagi dirinya, bahkan ketika beliau wafat, baju besinya masih tergadai pada orang Yahudi dengan imbalan 30 sha’ biji gandum. Padahal beliau telah menguasai Jazirah Arab.
Masih banyak lagi kemurahan hati Nabi saw. dan sifat mengutamakan orang lain, yang mengherankan pikiran dan dicatat dalam buku sejarah. Keluarga dan para sahabatnya serta orang-orang yang mengikuti mereka (para tabiin) mengikuti jalan dan menempuh perilakunya dalam hal pengorbanan dan kemurahan, kedermawanan dan pemberian.
Maka, lihatlah pada kemurahan Sayyidina Abu Bakar ra. hingga beliau menafkahkan seluruh hartanya dalam perang Tabuk. Sayyidina Umar ra. membelanjakan dari setengah hartanya. Sedang Sayyidina Utsman dan Sayyidina Abdurrahman bin Auf ra. menafkahkan harta yang sangat banyak.
3. Dari sahabat Ibnu Abbas ra.: Bahwa Hasan dan Husein ra. (cucu Rasulullah) sakit, lalu Rasulullah saw. menjenguk kedua anak itu bersama beberapa orang. Kemudian mereka berkata: “Wahai Abal Hasan (yang dimaksud Sayyidina bin Abi Thalib, ayah Hasan dan Husein) bagaimana Seandainya engkau bernazar (janji melakukan kebaikan untuk mendekatkan diri kepada Allah) untuk anakmu?” Lalu Ali dan Fatimah serta si Fidhdhah (nama sahaya perempuan) bernazar, bahwa jika kedua anak itu sembuh dari penyakitnya, maka mereka akan berpuasa tiga hari. Akhirnya kedua anak itu sembuh, sedang mereka tidak punya apa-apa.
Kemudian Ali ra. berutang dari Syam’un Al-Khaibari, seorang Yahudi, 3 sha’ gandum. Fatimah ra. menggiling gandum itu sebanyak satu sha’ dan membuat roti sebanyak lima potong, sesuai jumlah mereka. Kemudian mereka meletakkan di hadapannya untuk berbuka puasa. Kemudian datang seorang peminta-minta seraya berkata: “Assalamu’alaikum, wahai keluarga Muhammad, aku seorang muslim yang miskin, berilah aku makanan, semoga Allah memberi kalian makanan dari hidangan surga.” Kemudian mereka memberinya dan tidur tanpa makan sesuatu, selain air.
Pada waktu pagi mereka berpuasa. Ketika tiba waktu sore dan mereka menyiapkan makanan di hadapannya, datanglah kepada mereka anak yatim. Mereka pun memberinya makanan itu.
Pada hari ketiga, datang kepada mereka seorang tawanan. Maka, mereka pun melakukan seperti itu. Pada waktu pagi, Ali memegang tangan Hasan dan Husein ra. Mereka datang kepada Rasulullah saw., ketika melihat mereka yang gemetar seperti anak burung karena sangat lapar, Rasulullah saw. bersabda: “Betapa menyedihkan keadaanmu, sebagaimana yang aku lihat.” Beliau berdiri, lalu pergi bersama mereka. Dilihatnya Fatimah berada di mihrabnya. Tubuhnya tampak kurus dan kedua matanya tampak cekung. Beliau sedih melihat hal itu. Maka, turunlah Jibril dan berkata: “Ambillah dia, wahai Muhammad! Allah memberimu selamat mengenai keluargamu.” Kemudian Jibril membacakan kepadanya surat Al-Insan sampai akhir. Di antaranya:
“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air Kafur, (yaitu) mata air (dalari surga) yang daripadanya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.
Mereka menunaikan nazar dan takutakan suatu hari, yang azabnya merata di mana-mana. Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami ti. dak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.
Sesungguhnya kami takut akan (azab) Tuhan kami pada suatu hari yang (di hari itu) orang-orang bermuka masam penuh kesulitan.” (QS. Al-Insan:5-10). Imam Al-Alusi, Fakhrur Razi dan Az-Zamakhsyari menyebutkan hadits di atas dalam kitab-kitab tafsir mereka dan para ulama lainnya.
4. Diriwayatkan, Sayyidah Fatimah ra. menghadiahkan kepada Rasulullah saw. dua potong roti dan sedikit daging. Kemudian beliau mengirimkannya kembali kepada Fatimah atau mengambil dan mengembalikannya dalam keadaan tertutup, seraya bersabda: “Kemarilah hai anakku.” Maka Fatimah membuka talam itu.
Ternyata, ia penuh roti dan daging. Rasulullah bertanya kepadanya: “Dari mana engkau mendapat ini?” Fatimah menjawab: “Ia berasal dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada setiap orang yang dikehendaki-Nya tanpa perhitungan (batas).” Kemudian beliau bersabda: “Segala puji bagi Allah yang menjadikanmu menyerupai pemimpin wanita bani Israel.” (Siti Maryam binti Imran).
Kemudian beliau mengumpulkan Ali, Hasan dan Husein serta keluarganya, semoga Allah meridhai mereka semua. Lalu mereka makan sampai kenyang, sedangkan makanan itu tetap seperti semula, maka diberikannya kepada tetangga-tetangga. (Abu Suud menyebutkan kisah ini dalam tafsirnya).
(Bersambung …. )