Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (18): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (18): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian kedelapan belas ini memuat Terjemah dari Bab (2): Nasehat yang Berisi Tiga Perkara, sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya.

 

 

Dari Sufyan bin Uyainah r.a. ia berkata, “Barangsiapa cinta kepada Allah, maka cinta kepada orang yang dicintai Allah: barangsiapa cinta terhadap orang yang dicintai Allah, maka cinta perbuatan yang dilakukan karena cinta Allah: Barangsiapa cinta terhadap perbuatan yang dilakukan karena cinta Allah, maka cinta melakukan perbuatan itu tanpa diketahui manusia.”

Al-Asqalani menukilkan: Bahwa mahabbah (cinta kepada Allah) itu ada dua macam:

1. Mahabbah Fardu, Yaitu mahabbah yang mendorong dilakukannya perintah-perintah Allah dan dijauhi larangan-larangan-Nya.

2. Mahabbah Sunnah, Yaitu mahabbah yang mendorong dibiasakannya melakukan ibadah sunah dan dijauhinya hal-hal yang subhat.

Ash-Shiddiq mengatakan: Barangsiapa telah merasakan Mahabbah Allah yang murni, maka apa yang dia rasakan itu dapat melupakannya dari keinginan dunia dan membuatnya merasa asing dari seluruh manusia.

 

 

Nabi saw. bersabda, “Kebenaran cinta berada pada tiga hal: Memilih ucapan kekasih ketimbang ucapan orang lain: memilih duduk bersama kekasih ketimbang bersama orang lain, dan memilih kerelaan kekasih ketimbang kerelaan orang lain.”

Yahya bin Mu’adz berkata: “Sekecil apa pun cintaku kepada Allah itu lebih aku sukai daripada beribadah selama tujuh puluh tahun.”

 

 

Dari Wahab bin Munabbih Al-Yamani r.a., “Ada tertulis dalam Taurat: Orang yang tamak adalah melarat, walaupun memiliki dunia, orang yang taat kepada Allah adalah disenangi, walaupun dia seorang hamba sahaya dan orang yang qanaah (merasa cukup dengan seadanya) adalah kaya, walaupun kelaparan.”

Orang yang mencari sesuatu dengan sungguh-sungguh ingin mendapatkannya, adalah orang yang kehilangan segala sesuatu yang diperlukannya, walaupun dia memiliki semua yang berada di antara langit dan bumi. Orang yang taat kepada Allah swt., adalah orang yang disegani manusia, walaupun dia seorang hamba sahaya. ‘

Orang yang qanaah, yaitu orang yang tenteram hatinya (puas) dengan segala sesuatu yang dimilikinya serta rida atas bagiannya yang diterima dari Allah swt., adalah orang yang kaya, walaupun dia orang yang lapar.

Ada seorang tawanan perempuan lari dari daerah orang-orang kafir, dia berjalan menempuh jarak dua ratus pos, dalam keadaan tidak makan suatu makanan pun. Dia ditanya oleh seseorang: Bagaimana kamu kuat berjalan tanpa makan? Dia menjawab: Apabila aku lapar, aku membaca surah Al-Ikhlas tiga kali, lalu aku merasa kenyang.

 

 

 

Dari sebagian hukama r.a., “Barangsiapa yang makrifat kepada Allah, maka tidak ada suatu kenikmatan baginya bersama makhluk, barangsiapa yang mengetahui dunia, maka tidak ada suatu kecintaan baginya mengenai dunia dan barangsiapa yang mengetahui keadilan Allah swt., maka tidak akan didatangi musuh.”

Orang yang makrifat kepada Allah itu tidak merasakan kelezatan bersama makhluk, sebab ia tidak akan senang kepada selain Allah. Orang yang mengenali dunia itu tidak akan senang padanya, sebab ia akan memilih kebahagiaan abadi di akhirat. Dan orang-orang yang mengenali keadilan Allah tidak akan didatangi lawan, sebab ia tidak pernah menimbulkan percekcokan.

Sebagaimana Al-Hasan r.a. berkata, “Barangsiapa yang mengetahui Allah, maka Allah mencintainya dan . barangsiapa yang mengetahui dunia, maka ia membenci dunia itu.”

Selain itu Imam Syafii juga mengatakan dalam puisinya, “Tiada lain, dunia itu bangkai yang membusuk diatasnya terdapat anjing-anjing yang ingin memperolehnya.

Bila kamu menjauhinya, niscaya kamu selamat dari ahlinya jika kamu menariknya, niscaya kamu disenangi anjing-anjingnya.

 

 

 

Dari Dzin Nun Al-Misri, “Setiap orang yang takut akan lari, setiap orang yang suka akan mencari dan setiap orang yang jenak dengan Allah akan merasa asing dengan makhluk.”

Orang yang takut akan lari, maksudnya menjauh dari yang ditakutinya itu. Maka, orang yang takut siksa, hendaknya berbuat kebajikan agar terjauh dari siksa itu.

Orang yarig suka akan mendekati, maksudnya mencari sesuatu yang disukainya itu. Maka, orang yang suka surga, hendaklah melakukan kebajikan agar dapat memperolehnya.

Orang yang jenak terhadap Allah akan merasa asing bersama sesama manusia. Dalam naskah lain justru disebutkan ” merasa asing bersama dirinya sendiri”.

Dzin Nun adalah Abdul Faidh, si Tsauban bin Ibrahim, pendapat lain mengatakan Al-Faidh bin Ibrahim. Ibrahim ini adalah seorang yang berbangsa Sudan (Nubiy). Dzin adalah orang satu-satunya kala itu, baik ilmu, warak, tingkah laku maupun adabnya. Dzin Nun-yang berbadan kurus berkulit agak kemerahan dan berjenggot yang tidak memutih itu, wafat tahun 245 Hijriah. (*)

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Q & A about Imam Ahmad bin Hanbal
Oleh : Immim pangkep

Q & A about Imam Ahmad bin Hanbal

0 Komentar

KELUAR