Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (26): Nasehat yang Berisi Empat Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (26): Nasehat yang Berisi Empat Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian Kedua Puluh Enam ini memuat Terjemah dari Bab (3): Nasehat yang Berisi Empat Perkara,  sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya.

 

 

Hatim Al-Asham -semoga Allah memberikan rahmat kepadanya berkata, “Empat hal yang tidak diketahui nilainya kecuali oleh empat orang, yaitu: Kemudaan, nilainya hanya bisa diketahui oleh orang tua, , kebahagiaan, nilainya hanya bisa diketahui oleh orang yang tertimpa ..bencana, kesehatan, nilainya hanya bisa diketahui oleh orang-orang sakit, dan kehidupan, nilainya diketahui oleh orang yang telah mati.”

Segala sesuatu tidak dapat diketahui selain oleh lawannya. Kemudian tidak dapat diketahui nilainya selain oleh orang-orang yang telah lanjut usia. Kebahagiaan tidak dapat diketahui nilainya selain oleh orang-orang yang ditimpa bencana. Sehubungan dengan h hal ini, Imam Al-Ghazali berkata, “Tidak dapat mengetahui nilai kekayaan, kecuali orang fakir.”

Penyair Abu Nuwas menggubah puisi dalam Bahar Thawil sebagai berikut:

Dosa-dosaku

Jika aku pikirkan itu banyak

namun rahmat Tuhanku

lebih luas daripada dosadosaku

Aku tidak tamak

tentang kebaikan yang telah aku kerjakan .

namun aku tamak kepada rahmat Allah

Dia adalah Allah Tuhanku

yang menciptakan ku

sedang aku adalah hamba-Nya

aku mengakui dan tunduk

Apabila dosa-dosaku diampuni

maka itulah rahmat

Namun jika selain itu,

maka tak ada yang dapat aku lakukan

Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa yang tidak ingin amal-amal jeleknya dihisab dan catatan amal keburukannya dibeberkan, maka seusai salat hendaklah berdoa dengan doa ini:

“Wahai, Allah, sesungguhnya ampunan-Mu lebih diharapkan ketimbang perbuatanku dan rahmat-Mu lebih luas ketimbang dosaku. Ya, Allah, jika diriku sepatutnya menggapai rahmat-Mu, namun rahmat-Mu lebih patut menjangkau diriku, karena bentangan rahmatMu meratai segala sesuatu: wahai, Tuhan Yang Maha Pengasih di atas segala-galanya.”

 

 

Dari Nabi saw., beliau bersabda, “Apabila telah terjadi hari Kiamat, maka timbangan diletakkan, lalu ahli salat didatangkan? maka dipenuhi pahala-pahala mereka sesuai perhitungan-mizan, lalu didatangkan orang-orang yang berpuasa dan diterimakan pahala mereka sesuai dengan perhitungan mizan: dan akhirnya didatangkan orang-orang yang tertimpa bencana, untuk mereka tidak diperhitungkan dengan mizan dan tidak pula dibentangkan kepada mereka catatan amalnya, lalu diberi pahala sepenuhnya tanpa hitungan, sehingga orang-orang yang selamat mengharapkan beroleh kedudukan seperti mereka karena banyaknya pahala dari Allah swt.”

Sabda Nabi di atas menerangkan bahwa amal salat, puasa dan haji, semuanya akan ditimbang. Namun ada amal yang tidak akan ditimbang, yaitu orang-orang yang sewaktu di dunia ditimpa musibah. Mereka sabar menghadapinya, sehingga pada hari Kiamat, orang-orang yang sewaktu di dunianya senantiasa berada dalam kesenangan, kemudahan dan kekayaan, mereka mengharapkan dapat seperti orang-orang yang ditimpa musibah, karena banyaknya pahala yang diberikan kepada mereka.

 

 

Sebagian hukama mengatakan, “Anak cucu Adam akan menghadapi empat macam renggutan: Malaikat maut akan merenggut nyawanya, ahli waris akan merenggut hartanya, ulat akan merenggut daging tubuhnya dan para penuntut akan merenggut pahala amalnya.”

Empat yang akan merenggut manusia, yaitu:

1. Malaikat maut akan merenggut roh anak Adam dengan paksa.

2. Ahli waris merampas harta bendanya setelah anak Adam meninggal “dunia.

3. Ulat akan menggerogoti jasadnya di dalam kubur.

4. Penuntut atau lawan-lawan yang mempunyai hak menuntut orang yang lupa kepada mereka, dengan c cara menyita harta si alim mengumpat atau memukulnya dan sebagainya, merampas amal salehnya jika si zalim mempunyai amal saleh. Apabila tidak ada ama salehnya, maka dosa si teraniaya dilimpahkan kepada si zalim.

 

 

Sebagian hukama mengatakan, “Barangsiapa yang sibuk dengan hawa nafsunya, maka pasti mam perempuan, barangsiapa yang sibuk mengumpulkan harta benda, maka pasti terjerumus ke barang haram: barangsiapa yang sibuk mengurus kemaslahatan arang-orang muslim, maka harus. ramah tamah, dan barangsiapa yang sibuk dengan ibadah, maka harus punya ilmunya.”

Orang yang sibuk dengan keinginan-keinginan syahwat, maka akan terjerumus main perempuan. Orang yang sibuk mengumpulkan harta, maka akan terlibat barang haram. Orang yang sibuk mengurus manfaat bagi orang-orang muslim, maka harus bersikap lemah lembut kepada mereka dalam ucapan dan perbuatan. Orang yang sibuk dengan ibadah,

Apabila tidak mengetahui tata caranya, maka ibadahnya tidak akan sah. Jadi, ibadah tidak dapat dilepaskan dari ilmu.

 

 

Sayidina Ali r.a, berkata, “Amal perbuatan yang sungguh paling berat ada empat: Memberi ampun di saat marah, suka berderma di saat melarat, berbuat iffah (enggan) ketika sendirian dan berkata benar terhadap orang yang ditakuti atau diharapkan jasanya.”

Menurut Ali -karrama wajhahu-, amal yang paling berat ada empat perkara:

1. Memaafkan seseorang jika kita sedang marah. Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa menghentikan marahnya, maka Allah menghentikan siksa atasnya.”  Dalam hadis lain Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa yang mencegah marahnya, melapangkan kerelaannya, mendermakan kebaikannya, menghubungkan kerabatnya dan menunaikan amanatnya, maka Allah Azza wa Jalla memasukkan dia pada hari Kiamat dalam cahaya-Nya Yang Maha Agung.”  (H.R. Ad-Dailami).

2. Dermawan, walaupun sedang susah, yakni memberikan harta benda ‘ kepada yang membutuhkannya.

3. Enggan melakukan hal yang haram, sekalipun sedang sendirian. Orang yang afif ialah orang yang mengurus perkara-perkara yang sesuai dengan syarak dan kepribadian.

4. Ucapan yang hak kepada orang yang ditakutinya, misalnya kepada sultan yang zalim atau diharapkan, yakni orang yang diharapkan ampunan atau pemberiannya.

(*)

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR