Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (7): Nasehat yang Berisi Dua Perkara

Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani (7): Nasehat yang Berisi Dua Perkara

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Nashoihul ‘Ibad ( نصائح العباد ) adalah salah satu kitab klasik dalam literatur Islam, dalam bidang tasawwuf dan etika Islam yang ditulis oleh salah satu ulama Nusantara Abad ke-19 dari Banten, yaitu Syekh Nawawi al-Bantani rahimahullah. Kitab Nashoihul Ibad berisi banyak nasehat dalam berbagai aspek kehidupan dan panduan praktis tentang kehidupan spiritual, moralitas, dan etika bagi umat Islam.

Salah satu fokus utama kitab Nashoihul ‘Ibad adalah penekanan pada pentingnya berakhlakul karimah dan menjalani kehidupan yang bermartabat sesuai dengan Tuntunan Islam. Syekh Nawawi al-Bantani mengajarkan Nilai-nilai kesederhanaan, kejujuran, tolong-menolong, dan kasih sayang sebagai pondasi yang kuat dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadilan. Kitab ini juga mengulas masalah-masalah etika dan perilaku yang sering dihadapi oleh umat Islam dalam kehidupan sehari-hari, terkait bagaimana menghadapi cobaan, mengendalikan emosi, dan mengatasi godaan dalam menjalani kehidupan spiritual.

Berikut ini Seri Terjemah Kitab Nashoihul ‘Ibad Syaikh Nawawi al-Bantani, dan untuk Bagian ketujuh ini memuat Terjemah dari Bab (1): Nasehat yang Berisi Dua Perkara, sambungan dari Bab yang sama dari seri sebelumnya.

 

Ada yang mengatakan:

“Tiada pengasingan bagi orang mulia (berilmu) dan tiada tanah air bagi orang yang bodoh.”

Orang yang mulia ialah orang yang berilmu serta beramal, dia selalu dimuliakan dan dihormati orang lain di mana saja berada, sebab selalu dihormati dan diperlukan kehadirannya. Karena itu, walaupun di negeri asing, ia tetap hidup seperti di rumah sendiri. Sebaliknya, adalah nasib orang bodoh.

 

Ada yang mengatakan:

“Barangsiapa karena berbuat taat menjadi dekar kepada Allah, maka dia merasa asing hidup di tengah manusia.”

Orang yang telah mampu merasakan kenikmatan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah, maka tidak lagi merasa nikmat hidup bergaul di tengah-tengah manusia. :

 

Ada yang mengatakan:

“Gerak seseorang berbuat taat itu menunjukkan adanya makrifat, sebagaimana gerakan organ tubuh menunjukkan adanya hidup.”

Makrifat adalah mengenal Allah dengan segala macam keagungan, kebesaran dan kekuasaan-Nya. Jika seorang hamba melakukan perbuatan taat kepada Allah, berarti itu bukti bahwa dia telah mengenali Allah. Jika semakin banyak perbuatan taat dilakukan, maka semakin dalam pula dia mengenali Allah. Demikian pula sebaliknya, jika semakin sedikit perbuatan taat, maka akan sedikit pula kemakrifatannya. Hal itu karena perbuatan lahir adalah merupakan cerminan dari sikap batinnya.

 

Nabi saw. bersabda:

“Pangkal segala kesalahan adalah cinta dunia, sedangkan pokok segala fitnah adalah enggan membayar zakat dan sepersepuluh hasil bumi.”

Yang dimaksud cinta dunia di sini, adalah mencintai dunia lebih dari keperluannya (bermewah-mewah).

 

Ada yang mengatakan:

“Orang yang mengakui kelemahan diri akan terpuji selamanya dan pengakuan adanya kekurangan itu tanda diterima amalnya.”

Pengakuan adanya kekurangan pada diri sendiri itu menjadi isyarat, bahwa tidak bersikap sombong dan congkak. (*)

 

(Bersambung …. )

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Khazanah Keilmuan Islam

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Pembagian Djuz dalam Al-Qur’an
Oleh : Immim pangkep

Pembagian Djuz dalam Al-Qur’an

0 Komentar

KELUAR