
BLOGGURU – Berikut ini lanjutan dari Part 28 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin.
Ketika telah menetap di Madinah dengan tenang, Rasulullah saw. mengirimkan utusan yang terdiri dari Sahabat Zaid ibnu Haritsah dan Abu Rafi’ ke Makkah. Keduanya diberi tugas mengambil keluarga Rasulullah saw. yang masih tertinggal di Makkah. Rasulullah saw. menyertakan bersama mereka ‘Abdullah ibnu Uraigith sebagai penunjuk jalan. Mereka berdua datang menemui Siti Fathimah dan Ummu Kaltsum, kedua putri Rasulullah saw. Mereka menemui pula istri Rasulullah saw., yaitu Siti Saudah. Selanjutnya mereka menghubungi Ummu Aiman, istri Zaid, dan Usamah, anaknya.
Adapun putri Rasulullah saw. yang lain, yaitu Siti Zainab, dilarang oleh suaminya, Abul ‘Ash ibnur-Rabi’, sehingga tidak ikut hijrah. Bersama mereka ikut ‘Abdullah ibnu Abu Bakar, Ummu Rauman (istri Sahabat Abu Bakar), dan kedua saudara perempuan ‘Abdullah, yaitu Siti ‘Aisyah dan Asma. Asma adalah istri Sahabat Az-Zubair ibnul’Awwam. Pada saat itu Asma sedang mengandung. Kemudian ia melahirkan anaknya di Madinah dan diberi nama ‘Abdullah. ‘Abdullah adalah anak pertama kaum Muhajirin yang dilahirkan di Madinah.
Pada permulaannya udara kota Madinah kurang cocok bagi kaum Muhajirin penduduk kota Makkah sehingga banyak di antara mereka yang terserang penyakit demam. Rasulullah saw. sangat rajin menjenguk mereka tatkala mereka mengadukan masalah ini, lalu Rasulullah saw. berdoa, “Ya Allah, jadikanlah kami mencintai kota Madinah sebagaimana Engkau menjadikan kami cinta kepada kota Makkah dengan kecintaan yang lebih kuat. Dan berkahilah untuk kami mudd dan sha’nya, dan pindahkanlah wabah (penyakit)nya ke Juhfah”.
Allah swt. memperkenankan doa Rasulullah saw. sehingga kaum Muhajirin hidup di Madinah dengan tenang dan damai.
Kemarahan telah membakar hati kaum musyrikin Makkah. Akhirnya mereka mencegah sebagian kaum Muslimin yang hendak melakukan hijrah. Mereka ditahan dan disiksa oleh kaum musyrikin. Di antara mereka yang mengalami perlakuan ini ialah Al-Walid ibnul-Walid, ‘Iyasy ibnu Rabi’ah, dan Hisyam ibnul-Ash. Untuk itu Rasulullah saw. selalu mendoakan mereka di dalam salatnya. Hal ini merupakan asal mula doa gunut. Doa ini dilakukan Rasulullah saw. pada waktu-waktu salat yang berbeda dan di tempat salat yang berbeda pula. Doa ini dilakukan Rasulullah saw. terkadang dalam rakaat ganjil salat isya dan terkadang di dalam salat subuh sesudah rukuk dan sebelumnya. Setiap sahabat meriwayatkan hadis mengenai masalah doa gunut ini sesuai dengan apa yang telah dilihatnya, dan hal inilah yang menjadi penyebab selisih paham di para imam ahli figih dalam menempatkan doa qunut. (*)