Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Nurul Yaqin (6): Perjalanan Muhammad ke Negeri Syam yang Kedua Kalinya dan Perkawinan dengan Siti Khadijah

Terjemah Nurul Yaqin (6): Perjalanan Muhammad ke Negeri Syam yang Kedua Kalinya dan Perkawinan dengan Siti Khadijah

BLOGGURU – Berikut ini lanjutan dari Part 5 dari Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin.

Tatkala Muhammad berusia dua puluh lima tahun dia melakukan perjalanan yang kedua ke negeri Syam.  Siti Khadijah binti Khuwailid al-Asadiyah,” seorang wanita pengusaha yang terkemuka lagi terpandang dan kaya, selalu menyewa orang-orang untuk memasarkan barang dagangannya, kemudian ia membagi keuntungan dengan mereka. Ia mendengar tentang sifat amanah dan kejujuran Muhammad di dalam berbicara, yang belum pernah ditemukannya pada diri orang lain, sehingga kaumnya sendiri menjulukinya sebagai Al-Amin (orang yang dipercaya).

Oleh sebab itu, Siti Khadijah menyewa Muhammad untuk membawa barang dagangannya ke negeri Syam, kemudian menjajakannya di sana. Ia bersedia memberinya lebih banyak dari apa yang pernah diberikannya kepada orang lain. Kemudian Muhammad berangkat bersama pembantu Siti Khadijah yang bernama Maisarah. Keduanya menjual barang-barang bawaannya, dan ternyata mendapat laba yang besar sekali. Selama dalam perjalanan tampak keberkahan-keberkahan yang timbul dari diri Muhammad. Hal ini membuat Maisarah Senang sekali.

Setelah keduanya tiba kembali di Makkah. Siti Khadijah melihat hasil penjualannya ternyata mendapat laba yang sangat besar. Maka ia mulai tertarik kepada Muhammad. Lalu Siti Khadijah mengirimkan utusan untuk menyatakan kesediaan dirinya menjadi teman hidup Muhammad. Siti Khadijah pada saat itu berumur empat puluh tahun dan termasuk orang yang mempunyai kedudukan di kalangan kaum Quraisy dan paling banyak hartanya.

Muhammad bersama paman-pamannya segera menemui paman Siti Khadijah, ‘Amr ibnu Asad, dan mengajukan lamaran untuk memperistri Siti Khadijah melalui pamannya, Abu Thalib. Paman Siti Khadijah menikahkan keponakannya itu dengan Muhammad. Pada hari itu Abu Thalib mengucapkan khotbahnya yang terkenal seperti berikut ini:

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita sebagai anak-cucu Nabi Ibrahim: keturunan Nabi Isma’il: berasal dari Ma’ad, dan lahir dari kalangan Mudhar. Dia telah menjadikan kita sebagai pengurus Bait-Nya (Ka’bah) dan pelindung tanah sucinya. Dan dia telah menJadikan untuk kita Ka’bah yang diziarahi dan tanah suci yang aman, serta Dia pulalah yang menjadikan kita sebagai pemimpin manusia. Kemudian sesungguhnya keponakanku ini, Muhammad ibnu ‘Abdullah, tiada seorang pun yang dapat mengimbanginya dalam hal kehormatan, kemuliaan, dan keutamaannya. Bila dalam hal harta benda tidak banyak yang dimilikinya, maka sesungguhnya harta itu adalah bayangan yang pasti lenyap karena ia merupakan penghambat dan pinjaman yang pasti dikembalikan. Dia, demi Allah, sesudah peristiwa ini memiliki berita yang besar dan kedudukan yang agung. Dan dia telah datang kepada kalian untuk melamar putri kalian, Siti Khadijah, dan dia telah memberikan maskawin untuknya sebanyak anu.

Setelah itu dilangsungkanlah akad nikah di antara keduanya. Siti Khadijah sebelum itu pernah nikah dengan Abu Halah, lalu Abu Halah meninggal dunia dan mempunyai seorang putri bernama Halah dari hasil perkawinannya dengan Siti Khadijah. Selanjutnya Halah menjadi anak tiri Muhammad. (*)

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR