
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Meraih Ijazah Sanad Hadits Musalsal
BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri dapat menerima ijazah dan sanad khusus dengan syarat yang mu’tabar untuk Hadits Musalsal Fuqaha Hanafiyyah pada Tanggal 27 Januari 2025 M /27 Rajab 1446 H dari ustadzuna, Ustadz Dhani al-Farisy, Abu Abdillah al-Batawy, Founder Markaz Thalabul Ilmi (MTI). Beliau berkata, “Kami Ijazahkan bagi yang menginginkan dengan syarat mendoakan kesehatan untuk kami serta umumnya kaum muslimin”.
Ijazah & Sanad Hadits Musalsal Fuqaha Hanafiyyah
Untuk diketahui bahwa Hadits musalsal adalah salah satu model periwayatan hadits dari masa Nabi kepada para perawi secara turun temurun, bahkan hingga sekarang. Secara bahasa, musalsal bermakna berturut-turut. Ulama memberikan definisi bahwa hadits musalsal adalah hadits yang disampaikan para perawi secara berurutan dan sama dalam keadaan dan situasi tertentu, baik secara perbuatan maupun perkataan.
Imam an-Nawawi dalam Kitab at-Taqrib menyebutkan bahwa hadits musalsal ini bisa terkait perbuatan, keadaan atau sifat pada diri perawi, atau bisa juga terkait dengan cara penyampaian haditsnya. Karena periwayatan hadits musalsal terkait dengan keadaan atau sifat tertentu pada perawi, setidaknya hadits musalsal bisa musalsal qauli (secara perkataan), fi’li (secara perbuatan) atau keduanya.
Selain diriwayatkan secara khas dalam perkataan atau perbuatan, hadits musalsal juga bisa disampaikan perawi (mujiz) pada muridnya di tempat atau momen tertentu. Semisal, dalam suatu majelis ilmu diteruskan hadits musalsal bil awwaliyah (Hadits pertama dari seorang guru kepada muridnya) dan hadits musalsal bil mahabbah. Selain itu ada pula hadits musalsal yang diteruskan mengikuti momen waktu Bulan Ramadhan, Yaumil Arafah, Yaumul ‘Ied, atau hadits musalsal berdoa di Multazam, dan lain sebagainya.
Apa fadhilah dari hadits musalsal ini? Menurut para ahli hadits model periwayatan hadits musalsal ini memperkuat hafalan seseorang tentang suatu hadits. Hal ini karena dalam sebuah hadits, ada hal lain yang menunjang untuk diingat. Jika merekam satu keadaan, tentu hadits yang sudah dihafal dan diketahui tadi bisa tercetus untuk diingat kembali, semacam ada momen waktu atau peristiwa untuk muraja’ah hadits yang telah dipelajari atau dihafal sebelumnya.
Hal penting lain yang perlu diketahui adalah bahwa meski hadits musalsal ini diriwayatkan secara khas, bahkan hingga masa sekarang, tetap harus dicek kualitas haditsnya, baik dari sanad atau matan. Jadi kualitas hadits ini bisa shahih, hasan, atau dha’if, sehingga tetap berdampak pada aspek ajaran Islam. Di Indonesia, beberapa kiai pesantren, syaikh atau ustadz ada yang menyampaikan hadits musalsal kepada para santri ataupun jamaahnya.
Semoga catatan singkat ini bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Artikel/Tulisan terkait:
– Tentang Hadits Musalsal Bil Awwaliyyah Bil Rahmah
– Meraih Ijazah Sanad Hadits Musalsal – MTI
– Meraih Ijazah Sanad Hadits Musalsal biyaumil ‘Ied (Idul Adha)
– Meraih Ijazah Sanad Hadits Musalsal biyaumil Arafah
– Meraih Ijazah Sanad Hadits Musalsal bi Yaumil I’ed (Idul Fitri)
– Meraih Ijazah Sanad Hadits Musalsal bi Qira’ati Surah Al-Kautsar wa Surah As-Shaff