Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Meraih Ijazah Sanad Kitab Matn Thayyibatun Nasyr

Meraih Ijazah Sanad Kitab Matn Thayyibatun Nasyr

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Meraih Ijazah Sanad Mutun Lintas Qiraat

BLOGGURU – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri dapat mengikuti Majelis Ilmu bersanad yang diselenggarakan oleh Markaz Thalabul Ilmi (MTI), yang mana salah satu kitab yang diijazahkan sanadnya tersebut adalah Kitab Matan Thayyibatun Nasyr yang merupakan salah satu karya populer Imam Ibnul Jazari dalam bidang Ilmu Qiraat.

Kitab Tayyibatun Nasyr fi al-Qira’at al-‘Asyar karya Ibn al-Jazari adalah kitab yang membahas tentang qira’at sepuluh. Salah satu faktor yang melatar belakangi penyusunan kitab ini adalah untuk menepis anggapan sebagian masyarakat bahwa hanya qira’at tujuhlah yang memiliki sanad yang shahih sedang yang selebihnya itu adalah syaz.  Dengan mengkaji kitab matan Tayyibatun Nasyr dan Syarahnya ini, paling tidak pembacanya akan sampai pada dua tinjauan, yaitu: Pertama, Dasar Ibn al-Jazari dalam kualifikasi sepuluh qira’at sehingga harus diterima oleh umat Islam. Kedua, Hubungan antara sab’ah ahruf dengan perbedaan qira’at sepuluh yang dikualifikasikan Ibnul Jazari dan konsep sinonimitas dalam al-Qur’an.

Kitab Matn Tayyibatun Nasyr merupakan kitab representatif dalam kualifikasi qira’at sepuluh. Dalam kualifikasi yang dilakukannya, Ibn al-Jazari menerapkan tiga syarat, yaitu kesesuaian qira’at dengan bahasa Arab, kesesuaian dengan rasm mushaf, dan kesahihan sanad. Namun dalam kesahihan sanad ini Ibn al-Jazari tidak menerapkan kriteria. mutawatir. Baginya jika kriteria ini diterapkan, maka justru akan menghapus banyak qira’at itu sendiri, termasuk qira’at tujuh. Sebuah qira’at yang memiliki sanad sahih, sesuai dengan mushaf dan bahasa Arab, maka dihukumi sebagai qira’at sahih yang harus diterima dan boleh dibaca dalam shalat, bahkan qira’at ini disertakan pula pada jajaran qira’at yang mutawatir, meskipun tidak sampai pada derajat mutawatir.

Ibn al-Jazaii berasumsi bahwa qira’at mutawatir ataupun qira’at sahih tersebut sama-sama mengandung keyakinan dan kepastian. Dua hal inilah yang menjadi i’tibar dalam penerimaan sebuah qira’at. Dengan dasar ini Ibn al-Jazari termasuk ulama mutasahil dalam kualifikasi qira’at. Dalam memaknai sab’ah ahruf, Imam Ibnul Jazari menunjukkan bentuk perbedaan qira’at yang tidak lepas dari tujuh segi.

Dalam Kitab Matn Tayyibatu  Nasyr ini, Imam Ibnul Jazari mengingatkan akan potensi penambahan ataupun pengurangan Qiraat. Sab’ah ahruf sebenarnya tidak menunjukkan makna bilangan dalam arti yang sebenarnya. Ia mengisyaratkan adanya kemudahan dan kelonggaran dalam pembacaan al-Qur’an yang variatif. Bentuk kemudahan tersebut tidak lepas dari penggantian huruf, perubahan harakat, taqdim dan ta’khir, ataupun penambahan dan pengurangan, serta perbedaan dialek. Sab’ah ahruf dalam hadits Nabi saw tersebut tidak menunjukkan adanya sinonimitas dalam al-Qur’an sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama. Sab’ah ahruf tersebut sebenarnya menunjukkan adanya lafaz mutabayin mutawasil dalam al-Qur’an. Hal inilah yang mengisyaratkan adanya potensi tafsir dalam qira’at sebagaimana yang diungkapkan sebagian kecil ulama.

Kitab Matn Tayyibatun Nasyr. (foto: ist/*)

Kitab Matn Tayyibatun Nasyr. (foto: ist/*)

Jadi, Matan Tayyibatun Nasyr memuat 10 Qiraat kubra atau lazim disebut “Qiraat Al-‘Ashara Al-Kubra”, Contoh: “Qashrul MunfaSil” = 2 harakat.  Thoriq An-Nashr (Kitab an-Nasyr Fi al-Qiraat al-`Asyr) susunan Imam Ibn al-Jazari mencakup 10 Qiraat Kubra, dimana terdiri dari 10 imam Qurra’ yang sama seperti di atas dan perawi-perawinya (Tetapi dengan penambahan Thoriq-thoriq yang banyak).  Kitab Matn Tayyibatun Nasyr atau disebut juga “Matan Toyyibah an-Nasyr Fi al-Qiraat al-`Asyr” melingkupi 1,015 rangkap syair. Bedakan dengan Kitab Matn Al-Jazariyyah (Matan Tajwid). Dikatakan al-kubra karena mengandungi thoriq-thoqiq yang tak disebut di dalam as-sughra.

Adapun perawi-perawi yang ambil langsung dari Imam Qiraat tanpa perantaraan adalah Qaloon dan Warasy – langsung dari imam Nafi’ ,  Syu’bah dan HafS – langsung dari imam ‘Ashim, serta Abu Harith dan Durri – langsung dari imam Kisha’i

Perawi-perawi yang  ambil dari Imam Qiraat menerusi perantaraan adalah:

Yang lagi 7 Qiraat, perawi-perawinya ambil bacaan menerusi guru-guru di atas mereka yang ambil langsung dari imam Qiraat masing-masing.

> Bazzi dan Qunbul ambil dari guru masing-masing. Guru-guru itu pula ambil dari guru yang sama, Al-Qist, yang ambil dari Shibl, yang ambil dari imam Qiraat yaitu Ibn Kathir.

> Durri dan Sussi – ambil dari guru yang sama, Yazid, yang ambil dari imam Qiraat yaitu Abu ‘Amru.

> Hisham dan Ibn Zakwan, ambil dari guru masing-masing. Guru-guru itu pula ambil dari guru yang sama, Al-Thamari, yang ambil dari imam Qiraat yaitu Ibn ‘Amir

> Khallaf dan Khallad sama-sama ambil dari guru yang sama, Sullim b. Isa yang ambil dari imam Qiraat yaitu Hamzah.

Pemilihan 7 imam Qiraat dan 2 perawi masing-masing berdasarkan pemilihan Ibn Mujahid (w. 329 Hijrah).

Maka demikianlah catatan singkat penulis tentang Kitab Matan Tayyibatun Nasyr Fi al-Qiraat al-`Asyr” karya Imam Ibnul Jazari yang membahas tentang keshahihan Qiraat Sepuluh sebagai pelengkap tak terpisahkan dari Tata Cara Bacaan Al-Qur’an dalam khazanah Ilmu Qira’at. Dan Alhamdulillah, penulis bersyukur masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk mengikuti Majelis Ilmu Tajwid dan Qiraat bersanad oleh Ustadzuna Abu Abdillah al-Batawy pada Hari Ahad, 23 Syawal 1444 H / 14 Mei 2023 M, yang mana salah satu diantaranya yang diijazahkan tersebut adalah Kitab Matan Tayyibatun Nasyr Fi al-Qiraat al-`Asyr”

Semoga catatan singkat ini dapat selalu menjadi pengingat terhadap Kitab Matan Tayyibatun Nasyr Fi al-Qiraat al-`Asyr” yang telah penulis terima ijazah sanadnya, beserta syarahnya yang penulis pelajari dari berbagai referensi dan catatan ulama lainnya. Barakallahu fiikum. (*)

 

Minasatene, 16 Mei 2023

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Al-Qur’an-Hadits/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

KELUAR