Manzhumah Abi Ishaq al-Ilbiri cukup populer dipelajari di berbagai madrasah di Sudan. Bahkan, menurut sumber penulis, mata kuliah akhlak dan adab thalibul Ilmi yang pertama kali dipelajari di Sudan adalah divan syair al-Ilbiriy. Divan (dalam bahasa Arab: diwan) syairnya yang dikaji di Sudan bernama “Mandzhumat al-Ilbiry” atau “Tā’iyyat al-Ilbīrīy.”
Apa kehebatannya sehingga “Manzhumat al-Ilbiry” dipelajari sampai hari ini di Sudan? Ternyata, deretan bait syair yang sebenarnya sangat panjang itu memiliki perjalanan sejarah yang cukup menakjubkan dalam perjalanan kesyuhudan dan keilmuan Abu Ishaq.
Abu Ishaq al-Ilbiriy pernah dibuang ke pengasingan di benteng al-Uqab dan dalam pengasingannya tersebut, beliau menulis syair-syair revolusi dalam bahasa sastra sederhana dan sangat menyentuh. Untaian syairnya lahir dari hati yang bersih menginginkan kebaikan bagi masyarakat Granada, tanpa tendensi duniawi.
Bait-bait syair Abi Ishaq al-Ilbiri berhasil memompa nafas perjuangan revolusi di Granada sebagai respons terhadap kezaliman dan dominasi Yahudi di internal pemerintahan, baik dalam urusan sosial, perpajakan, izin dagang, dan regulasi dan birokrasi serta urusan bidang. Di masa itu, hampir seluruh kendali pemerintahan Granada ada di tangan wazir Yahudi Ibn Naghrilla junior dan kroni Yahudi lainnya.
Masyarakat Granada pun bergerak untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar terhadap penguasa Granada. Menembus benteng istana, dan menangkap wazir Yahudi Ibn Naghrillah junior sembari menggemakan syair-syair revolusioner karya Abu Ishaq al-Ilbiriy. Wazir Yahudi bersembunyi di dalam istana dan mencoba menyamarkan wajahnya dengan debu hitam batu bara di ruangan bahan bakar. Namun upayanya ternyata gagal. Wazir Yahudi itu dibunuh dan jasadnya digantung di tiang salib tepat di depan gerbang kota Granada.
Setelah itu, para pebisnis, para pejabat, dan komunitas Yahudi di Granada pun banyak yang turut ditumpas kaum muslimin. Kekayaan mereka dirampas dan dijadikan harta Baitul Mal (harta negara) Granada. Kaum Yahudi yang berhasil diberangus oleh kaum muslimin saat itu diperkirakan hingga 4.000 orang. (Sumber: Dirasat Andalusia, Thahir Ahmad Makki, 75). Selang beberapa waktu pasca peristiwa itu, sang Penyair Syaikh Abu Ishaq Elvira al-Ilbiriy pun meninggal di tahun yang sama. Yaitu di penghujung tahun 1067 M/456 H.
Dua ratusan tahun kemudian, sejarawan asli Andalusia bernama Lisanuddin Ibnul Khathib dalam kitabnya Al-Ihāthah menegaskan bahwa sebab utama yang paling mempengaruhi revolusi Granada adalah syair-syair tajam milik Abu Ishaq al-Ilbiriy, yang menjadi narasi pembakar ruh perjuangan dan kekuatan media yang sangat dahsyat.
Para orientalis Barat mengakui hal ini. Ibnul Khathib menguatkan faktor tersebut dengan kalimatnya,
وَكَانَ مُهْلِكُ هَذَا الْيَهُوْدِي بِسَبَبِ شِعْرٍ حَفِظَ عَنْهُ، يُحَرِّضُ صَنْهَاجَةَ عَلَيْهِ
Artinya:
“Faktor utama kehancuran (wazir) Yahudi ini adalah lantaran gubahan syair-syair Abu Ishaq al-Ilbiriy yang menggelorakan masyarakat Berber, dan Arab muslim di Granada untuk bangkit melawan.” (Dirasat Andalusia, Thahir Ahmad Makki, 75)

Ijazah Manzhumah Abi Ishaq al-Ilbiry. (foto: ist/*)
Demikianlah sedikit penjelasan tentang Manzhumah Abu Ishaq Al-Ilbiri, sebagai sebuah matan berbentuk nazham yang berisi tentang pokok-pokok hikmah, adab, dorongan menuntut ilmu, dan kezuhudan. Catatan singkat ini sekaligus menambah syarah (penjelasan) dari Majelis Sama’ wal Ijazah “Manzhumah Abi Ishaq al-Ilbiri” yang penulis ikuti dan terima ijazah sanadnya dari al-Ustadz Abdur Rahman al-Maidany. Semoga ustadzuna selalu diberikan kesehatan dan kelapangan hati dalam mengajar dan menyebarkan pemahamannya dari berbagai kitab-kitab para ulama, lewat majelisnya yang selalu dinanti.
Semoga catatan ini bermanfaat adanya, khususnya bagi diri penulis sendiri untuk selalu semangat dan tak pernah berhenti belajar. Barakallahu fiikum. (*)







