Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
31 Juli 2026

Kunjungan ke FAJAR: Menata Ulang Kemampuan Literasi Santri

Jum, 31 Juli 2026 Dibaca 45x

– Laporan Perjalanan Study Comparative Santriwati Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep ke Redaksi Harian Fajar, 31 Juli 2026

IMMIMPANGKEP – Kunjungan ke media massa bukan sekadar perjalanan untuk melihat bagaimana sebuah surat kabar diproduksi. Lebih jauh dari itu, kunjungan ke ruang redaksi adalah perjalanan untuk memahami bagaimana informasi dikumpulkan, diolah, diverifikasi, ditulis, diedit, kemudian disajikan kepada masyarakat. Karena itu, kunjungan santriwati Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep ke Redaksi Harian Fajar pada Jumat, 31 Juli 2026, dalam rangkaian study comparative, memiliki arti penting bagi pengembangan kemampuan literasi santri.

Harian Fajar dipilih sebagai salah satu destinasi bukan semata karena posisinya sebagai media massa yang telah lama dikenal di Sulawesi Selatan, tetapi karena ruang redaksi dapat menjadi laboratorium nyata bagi santri untuk memahami dunia jurnalistik dan kepenulisan. Di tempat seperti inilah para santriwati dapat melihat bahwa menulis bukan hanya kegiatan akademik untuk memenuhi tugas sekolah. Menulis adalah keterampilan hidup, sarana menyampaikan gagasan, medium merekam pengalaman, sekaligus bentuk partisipasi seseorang dalam kehidupan sosial.

Kunjungan tersebut juga mempunyai makna tersendiri karena pimpinan rombongan, Muhammad Farid Wajdi, merupakan seorang guru pesantren yang memiliki pengalaman sebagai mantan wartawan di lingkungan Fajar Group. Kehadirannya dalam rombongan menjadi semacam jembatan antara dua dunia yang selama ini sering dianggap berbeda: dunia pesantren dan dunia media. Di satu sisi, ia hadir sebagai guru yang memahami karakter, kebutuhan, dan tantangan pendidikan santri. Di sisi lain, pengalaman jurnalistiknya memberikan perspektif praktis mengenai bagaimana tulisan diproduksi dan bagaimana seorang penulis harus mempertanggungjawabkan gagasannya di ruang publik.

Dari Pesantren Menuju Ruang Redaksi

Pesantren pada hakikatnya adalah lingkungan yang sangat dekat dengan tradisi literasi. Santri membaca kitab, mempelajari berbagai disiplin ilmu, mencatat pelajaran, menghafal teks, berdiskusi, menyampaikan ceramah, dan berlatih mengemukakan pendapat. Namun, literasi pada masa kini tidak cukup berhenti pada kemampuan membaca dan memahami teks. Literasi juga menuntut kemampuan untuk menghasilkan teks.

Di sinilah persoalan penting yang perlu mendapat perhatian. Banyak santri memiliki pengalaman membaca yang cukup baik, tetapi belum tentu memiliki keberanian untuk menulis. Tidak sedikit santri yang sebenarnya memiliki pengalaman menarik, gagasan kreatif, pendapat kritis, maupun pengetahuan yang bermanfaat, tetapi semuanya berhenti dalam ruang pikiran atau percakapan sehari-hari.

Kunjungan ke Harian Fajar menjadi momentum untuk mengubah keadaan tersebut. Santri diperkenalkan kepada dunia kepenulisan secara lebih nyata. Mereka diajak memahami bahwa seorang penulis tidak harus menunggu menjadi orang terkenal untuk mulai menulis. Sebaliknya, keberanian menulis justru perlu dibangun sejak seseorang masih menjadi pelajar.

Pengalaman berada di ruang redaksi memberikan pesan sederhana tetapi penting: tulisan yang baik lahir dari keberanian untuk memulai, kebiasaan membaca, ketekunan berlatih, dan kesediaan menerima proses penyuntingan.

Belajar Menulis dari Dunia Jurnalistik

Dalam kunjungan tersebut, para santriwati mendapatkan pembekalan mengenai dasar-dasar menulis. Pembekalan semacam ini menjadi penting karena menulis untuk media memiliki karakter yang berbeda dengan sekadar menulis tugas sekolah.

Santri perlu memahami bagaimana menentukan ide, membuat judul, menyusun paragraf pembuka, mengembangkan informasi, memilih fakta yang relevan, serta menyampaikan gagasan secara sistematis dan mudah dipahami. Mereka juga perlu belajar membedakan fakta, opini, interpretasi, dan informasi yang belum terverifikasi.

Dunia jurnalistik mengajarkan satu prinsip penting: menulis berarti menyampaikan sesuatu kepada orang lain dengan tanggung jawab. Karena tulisan dapat dibaca oleh publik, penulis tidak boleh sembarangan menyampaikan informasi. Ada etika, ketelitian, akurasi, dan tanggung jawab yang harus diperhatikan.

Pelajaran semacam itu sangat relevan dengan pendidikan pesantren. Santri tidak hanya dipersiapkan untuk memiliki pengetahuan agama, tetapi juga perlu memiliki kemampuan berkomunikasi dan berpartisipasi dalam masyarakat. Ketika seorang santri mampu menulis dengan baik, ia memiliki instrumen untuk menyampaikan nilai-nilai keislaman, pengalaman kepesantrenan, gagasan kebudayaan, pendidikan, sosial, dan berbagai persoalan kemasyarakatan kepada publik secara lebih luas.

Dari Membaca Menjadi Menulis

Salah satu gagasan penting yang dapat ditarik dari kunjungan ini adalah perlunya menata ulang paradigma literasi santri: dari budaya membaca saja menuju budaya membaca dan menghasilkan karya.

Membaca memberikan bahan bakar bagi pikiran. Menulis menguji sejauh mana bahan bakar tersebut mampu menggerakkan gagasan.

Seorang santri yang membaca banyak buku tetapi tidak pernah mencoba menulis mungkin memiliki banyak pengetahuan, tetapi belum tentu terlatih mengorganisasikan pengetahuan tersebut menjadi gagasan yang dapat dipahami orang lain. Sebaliknya, kegiatan menulis memaksa seseorang untuk berpikir lebih tertib. Ia harus menentukan apa yang ingin disampaikan, kepada siapa tulisan ditujukan, apa argumennya, dan bagaimana gagasan tersebut dibuktikan.

Karena itu, budaya menulis perlu menjadi bagian dari kehidupan santri sehari-hari. Tidak harus selalu dimulai dari tulisan panjang. Santri dapat memulai dengan menulis catatan perjalanan, refleksi kegiatan, resensi buku, opini sederhana, profil tokoh, laporan kegiatan pesantren, cerita pendek, puisi, maupun tulisan tentang pengalaman belajar.

Dari kebiasaan kecil tersebut, kemampuan menulis dapat berkembang secara bertahap.

Tantangan dan Peluang di Era Digital

Generasi santri hari ini hidup dalam lingkungan informasi yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik melalui berbagai platform digital. Namun, derasnya arus informasi tidak otomatis menghasilkan kemampuan literasi yang baik.

Justru sebaliknya, santri menghadapi tantangan baru: membedakan informasi benar dan salah, mengenali clickbait, memahami konteks informasi, menghindari plagiarisme, serta menggunakan media sosial secara produktif.

Karena itu, pengembangan literasi santri tidak cukup dengan mengajarkan cara menggunakan teknologi. Yang lebih penting adalah membangun kemampuan berpikir kritis dan kemampuan menghasilkan konten yang bermutu.

Dalam konteks inilah keberadaan media santri yang telah disediakan menjadi sangat strategis. Media tersebut dapat menjadi ruang latihan bagi santri untuk mempraktikkan keterampilan yang mereka peroleh. Santri dapat belajar menjadi penulis sekaligus pembaca yang kritis terhadap tulisannya sendiri. Jika dikelola secara konsisten, media santri dapat berkembang menjadi semacam laboratorium jurnalistik pesantren.

Tantangan untuk Berani Mengirim Tulisan

Hal menarik lainnya dari kunjungan ke Harian Fajar adalah adanya dorongan agar santri tidak berhenti pada tahap belajar menulis. Mereka ditantang untuk berani mengirimkan karya ke media, termasuk mencoba mengirim tulisan ke rubrik Keker Harian Fajar.

Tantangan ini sebenarnya jauh lebih penting daripada sekadar mengejar tulisan dimuat. Ada proses pendidikan mental di dalamnya.

Seorang penulis pemula harus belajar menerima kemungkinan tulisannya ditolak. Ia harus memahami bahwa penolakan bukan berarti dirinya tidak mampu. Bisa saja tulisan belum sesuai dengan karakter rubrik, belum memenuhi standar redaksi, kurang kuat secara data, atau membutuhkan perbaikan dari sisi penyajian.

Keberanian mengirim tulisan berarti keberanian memasuki ruang evaluasi publik.

Dalam perspektif pendidikan, pengalaman tersebut sangat berharga. Santri belajar bahwa prestasi tidak selalu lahir dari sekali mencoba. Ada proses mencoba, gagal, memperbaiki, mencoba kembali, dan akhirnya menghasilkan karya yang lebih baik.

Perspektif Muhammad Farid Wajdi: Pesantren dan Media Harus Berjumpa

Bagi Muhammad Farid Wajdi, yang menjalani pengalaman sebagai guru pesantren sekaligus pernah berada dalam lingkungan jurnalistik Fajar Group, perjumpaan santri dengan media mempunyai nilai strategis. Pesantren memiliki kekayaan pengalaman, nilai, tradisi, dan pengetahuan yang sangat besar. Namun, kekayaan tersebut tidak akan banyak diketahui masyarakat apabila tidak dikomunikasikan dengan baik.

Dalam konteks itu, kemampuan menulis menjadi salah satu jembatan penting. Santri dapat menjadi penghubung antara tradisi keilmuan pesantren dengan masyarakat luas. Mereka dapat menulis tentang kehidupan pesantren, kegiatan pendidikan, pengalaman belajar, tradisi keagamaan, literasi kitab, budaya lokal, tokoh masyarakat, lingkungan, hingga persoalan generasi muda.

Dengan demikian, santri bukan hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen pengetahuan. Pandangan tersebut menemukan relevansinya dengan pengalaman Muhammad Farid Wajdi sendiri. Perjalanan dari dunia jurnalistik ke dunia pendidikan pesantren memperlihatkan bahwa keterampilan menulis dan pengalaman jurnalistik tidak harus berhenti ketika seseorang meninggalkan profesi wartawan. Pengetahuan jurnalistik justru dapat diwariskan kepada generasi berikutnya melalui pendidikan.

Di tangan guru pesantren, jurnalistik dapat menjadi instrumen pendidikan karakter: melatih kejujuran, ketelitian, keberanian, tanggung jawab, keterbukaan terhadap kritik, dan kemampuan berpikir kritis.

Menata Ulang Budaya Literasi Santri

Kunjungan ke Redaksi Harian Fajar pada 31 Juli 2026 pada akhirnya bukan sekadar agenda perjalanan dalam rangkaian study comparative. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar menata ulang kemampuan literasi santri.

Literasi harus dipahami sebagai kebiasaan hidup. Santri membaca untuk mengetahui, berdiskusi untuk memahami, menulis untuk menyampaikan, dan mempublikasikan karya untuk mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, tindak lanjut dari kunjungan tersebut menjadi sama pentingnya dengan kunjungannya sendiri. Pembekalan yang diperoleh di ruang redaksi hendaknya diteruskan melalui kegiatan menulis secara rutin. Media santri yang telah tersedia perlu dihidupkan dengan karya-karya para santriwati. Guru dapat berperan sebagai pembimbing dan editor awal, sementara santri diberi ruang seluas-luasnya untuk bereksperimen dengan berbagai jenis tulisan.

Pada tahap berikutnya, tulisan-tulisan terbaik dapat diarahkan untuk dikirim ke media massa yang lebih luas. Dengan demikian, pengalaman berkunjung ke Harian Fajar tidak berhenti sebagai kenangan perjalanan, tetapi berubah menjadi budaya produktif.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan kunjungan bukanlah seberapa banyak foto yang dihasilkan atau seberapa lama rombongan berada di ruang redaksi. Ukuran keberhasilannya adalah berapa banyak santri yang setelah pulang kemudian mengambil pena, membuka komputer ketika mendapat kesempatan, menulis gagasan, mengunggah karya di media santri, dan berani mengirimkannya kepada media yang lebih luas.

Dari ruang redaksi Harian Fajar, para santriwati belajar bahwa dunia literasi bukan dunia yang jauh dari pesantren. Justru pesantren memiliki begitu banyak cerita, pengalaman, nilai, dan pengetahuan yang layak dituliskan.

Kini tantangannya tinggal satu: berani memulai menulis.Sebab santri yang mampu membaca dunia, lalu mampu menuliskan hasil pembacaannya, sesungguhnya sedang mempersiapkan dirinya untuk ikut menentukan bagaimana dunia membaca pesantren. (*)

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077