Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Meraih Ijazah Sanad Kitab Arbain Nawawiyah dan Syarahnya
IMMIMPANGKEP – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri dapat terus mengikuti majelis ilmu/dauroh ilmiyyah kitab-kitab bersanad, bersambung sampai kepada ulama penyusunnya. Salah satu kumpulan karya kitab yang menarik perhatian penulis adalah karya ulama terkenal, Imam Nawawi.
Mengenal Imam Nawawi
Siapa itu Imam Nawawi yang namanya selalu disebut-sebut dalam banyak pengajian kitab, termasuk dalam lingkungan Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep? Nama lengkap beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria dan beliau dilahirkan pada bulan Muharram tahun 631 H di Nawa, sebuah kampung di daerah Dimasyq (Damascus), Suriah.
Ketika berusia 10 tahun, Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi melihatnya dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun ia menghindar, menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Syaikh ini berkata bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam. An-Nawawi tinggal di Nawa hingga usia 18 tahun. Pada tahun 649 H, beliau mulai rihlah thalabul ilmi-nya ke Dimasyq dengan menghadiri banyak halaqah ilmiah para ulama di kota tersebut. Ia tinggal di Madrasah Ar-rawahiyyah di dekat Al-Jami’ Al-Umawiy. Jadilah thalabul ilmi sebagai kesibukannya yang utama.
Diantara syaikh/guru Imam Nawawi adalah Abul Baqa’ An-Nablusiy, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ausiy, Abu Ishaq Al-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul ‘Aththar Asy-Syafi’iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi’iy, Abul ‘Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu ‘Abdil Hadi. Pada tahun 651 H, beliau menunaikan ibadah haji bersama ayahnya, lalu beliau ke Madinah dan menetap disana selama satu setengah bulan lalu kembali ke Dimasyq. Pada tahun 665 H ia mengajar di Darul Hadits Al-Asyrafiyyah (Dimasyq) dan menolak untuk mengambil gaji.
Imam Nawawi digelari Muhyiddin (yang menghidupkan agama) dan membenci gelar ini karena tawadhu’ nya. Diriwayatkan bahwa beliau berkata: “Aku tidak akan memaafkan orang yang menggelariku Muhyiddin”. Imam An-Nawawi adalah seorang yang zuhud dan wara’, sederhana, qana’ah dan berwibawa. Beliau menggunakan banyak waktu beliau dalam ketaatan ibadah dan menulis.
Imam Nawawi juga tegas dalam dakwah, menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar kepada para penguasa, dengan cara yang telah digariskan Islam. Suatu ketika beliau dipanggil oleh raja Azh-Zhahir Bebris untuk menandatangani sebuah fatwa. Datanglah beliau yang bertubuh kurus dan berpakaian sangat sederhana. Raja pun meremehkannya dan berkata: “Tandatanganilah fatwa ini!” Beliau membacanya dan menolak untuk membubuhkan tanda tangan. Raja marah dan berkata: “Kenapa !?” Beliau menjawab: “Karena berisi kedzaliman yang nyata.” Raja semakin marah dan berkata: “Pecat ia dari semua jabatannya!” Para pembantu raja berkata: “Ia tidak punya jabatan sama sekali.” Raja ingin membunuhnya tapi Allah menghalanginya. Raja ditanya: “Kenapa tidak engkau bunuh dia padahal sudah bersikap demikian kepada Tuan?” Raja pun menjawab: “Demi Allah, aku sangat segan padanya.”
Selengkapnya Lihat: Biografi Imam Nawawi di Tadzkiratul Huffazh 4/1470, Thabaqat Asy-Syafi’iyyah Al-Kubra 8/395, dan Syadzaratudz Dzahab 5/354
Karya Kutub Imam Nawawi
Imam Nawawi meninggalkan banyak sekali karya ilmiah yang terkenal. Jumlahnya sekitar empat puluh kitab, dalam berbagai bidang: Ilmu Hadits, Fiqih, Bahasa, dan Adab-Akhlaq, diantaranya adalah:
1. Kitab Al-Ijaz Fi Syarh Sunan Abu Daud
2. Idhoh Fi Manasik Al-Haj wa Al-Umroh
3. Kitab Al-Ushul dan Ad-Dhowabidh
4. Irsyad At-Thullab Al-Haqoiq Ila Ma’rifah Sunan Khoirul Kholaq
5. Al-Fatawa An-Nawawiy
6. Rhoudoh Tholibin wa Umdatul Muftin
7. Al-Minhaj_Syarah Nawawiy ‘ala Shahih Muslim
8. Kitab Khulasatul Ahkam
9. Kitab Daqoiq Al-Minhaj Al-Usul Ad-Dhowabith
10. Adabul Fatwa wal Mufti wal Mustafti
11. Tahrir Al-Fazh At-Tanbih
12. Tahzib Al-Asma’ wa Al-Lughot
13. Minhaj Tholibin wa Umdathul Mufthin Fi Fiqh (Fikih)
14. Kitab Bustanul ‘Arifin
15. Kitab Majmu’ Fi Syarh Muhazzab
16. Kitab Al-Arbaun An-Nawawiyyah (Hadits)
17. Kitab Riyadus Sholihin (Hadits)
18. Kitab Al-Azkar (Do’a dan Dzikir)
19. Kitab At-Tibyan Fi Adab Hamalah Al-Qur’an (Adab-Akhlaq)
20. Al-Isyarot ila Bayan Al-Asma’ Al-Mubhamat
21. Kitab Juz’un Fihi Dzikru I’itiqod Salaf Fil_Huruf wa Al-Aswatht
22. Kitab Tahrir Alfazh At-Tanbih
23. Kitab Tobaqot Asy-Syafiiyah
24. Kitab Al-Idhoh Fi Manasik
25. Kitab Tashihut Tanbih
26. Kitab An-Nukat ‘ala Tanbih
27. Kitab Irsyadut_Thullab Al-Haqoiq Ila Ma’rifah Sunan Khoir Al-Kholaiq
28. Kitab At-Taqrib wa At-Taisir Fi Ma’rifah Sunan Al-Basyir An-Nazir
29. Kitab Al-Mukhtashor Asadul Ghobah
30. Kitab Tuhfatut_Thullab Al-Fadhoil
31. Kitab Lubâb Al-Bayyân Fi ‘Ilmi Bayyân
33. Kitab Tahdzibul Asma’ wal Lughat.
Majelis Ilmu Kutub karya Imam Nawawi
Diantara sekian banyak kitab karya Imam Nawawi yang disebutkan diatas, Alhamdulillah beberapa dari Kitab tersebut telah penulis raih ijazah sanadnya pada kegiatan majelis ilmu/dauroh ilmiyyah, dari banyak guru dan syaikh.
Kitab-kitab Imam Nawawi yang telah penulis dapatkan ijazah sanadnya tersebut adalah
1. Kitab Arbain an-Nawawiyah; Lihat: Meraih Ijazah Sanad Hadits Arbain An-Nawawiyah
2. Kitab Riyadush Shalihin;
3. Kitab at-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an; Lihat: Meraih Ijazah Sanad Kitab At-Tibyan Imam Nawawi
4. Kitab al-Adzkar
5. Qosidah Wadihah Fi Tajwidil_Fatihah
Demikian catatan singkat ini sebagai pengingat kegiatan majelis ilmu/dauroh ilmiyyah kutub bersanad yang telah penulis ikuti. Pada setiap akhir majelis ilmu, biasanya penulis melakukan ulasan kitab yang sanadnya telah diraih dan untuk kutub karya Imam Nawawi yang telah penulis ulas adalah yang disertakan linknya pada list kitab diatas.
Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep, Sulsel.
Komentar Terbaru