Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
4 November 2025

Sajak Hijau di Gerbang Pesantren

Sel, 4 November 2025 Dibaca 585x

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

IMMIMPANGKEP – Berikut ini satu puisi karya penulis, diberi judul, “Sajak Hijau di Gerbang Pesantren”, ditulis khusus terkait penyelenggaraan Eco-Pesantren. Puisi ini menekankan pentingnya menjaga lingkungan, adab, dan interaksi yang sehat dengan alam. Sebagai saran bagi siapapun yang bermaksud membacakannya diatas panggung, sebagai “musikalisasi puisi” sebaiknya dibawakan dengan iringan musikalisasi suara alam (gemericik air, kicau burung, desau angin, dan suara alam lainnya).

Sajak Hijau di Gerbang Pesantren 

Di gerbang sunyi, jiwa merunduk hening, Eco-Pesantren, sebutan yang ingin kami penuhi. Bukan sekadar ilmu, bukan pula dinding kaku, Namun janji suci pada bumi yang merindu.

Tentang air yang kami minum setiap hari, dari mata air pegunungan leang kassi, dari kampung yang menjanjikan harapan manis

Kubanggakan namamu Minasatene, sebagaimana janjimu di Penjara Suci, diiringi gemericik ere tallasa, irama pagi penuh tuntunan.

 

Adab pertama, memandang air sebagai berkah, Bukan untuk disia, bukan pula untuk dipecah. Pohon-pohon menjulang, saksi bisu ikrar kami mengakrabi Al-Qur’an dan Hadits

Pada setiap helai daun, tasbih hijau tiada henti. Kami belajar mencintai lingkungan, dari akar yang menghujam, menjaga keseimbangan, sebelum alam meredam.

Udara dihirup, sejuknya embun pagi membelai, Jauh dari asap kota, hati kembali damai. Ini interaksi sehat, tanpa perlu meminta, Cukup dengan merawat, alam memberi sukacita.

 

Di lahan organik, cangkul beradu dengan tanah, Tiada pupuk kimia, tiada racun yang memecah. Kami memuliakan proses alami, yang diajarkan, Dari benih kecil, hingga panen yang didapatkan.

Limbah diolah, menjadi kompos yang berharga, Tiada yang terbuang, semua kembali guna. Sebab dalam ajaran Nabi, kebersihan sebagian dari iman, Tanggung jawab lingkungan, amalan sepanjang zaman.

Tadarus pagi, disahut kicauan burung yang riang, Suara alam berpadu, membentuk harmoni yang terang. Memahami adab berbicara, setenang desauan angin, Tidak meninggi suara, tidak pula berkata sumbing.

 

Kami hidup sederhana, jauh dari gemerlap maya, Belajar qana’ah hati, menerima apa adanya. Sebab kerakusan jiwa adalah pangkal dari rusaknya dunia, Harta tak terbawa, hanya amal yang setia.

Mandi berhemat, air bersih takkan selamanya ada, Setiap tetes yang jatuh, adalah rahmat Sang Pencipta. Inilah adab penggunaan, mengukur kebutuhan diri, Bukan menuruti nafsu, yang tiada pernah berhenti.

Ketika malam tiba, langit bertabur jutaan bintang, Jauh dari polusi cahaya, pandangan terasa lapang. Kami merenungkan kuasa, betapa kecilnya insan, Di hadapan semesta, tunduk dalam kerendahan.

 

Interaksi dengan satwa, penuh kasih dan sayang, Kami pelajari jejak mereka tanpa pernah mengganggu. Sebab mereka umat juga, berhak atas kehidupan, Bukan untuk disiksa, bukan untuk dijadikan mainan.

Setiap langkah di rumput, kami pijak dengan hati-hati, Menghindari merusak, yang tak perlu disakiti. Inilah adab berjalan, menghargai setiap inci bumi, Seolah ia ibu, yang harus kami sayangi.

Di kelas terbuka, beratap langit dan ranting cemara, Ilmu menyerap lancar, terhubung dengan udara. Kami pahami sunnatullah, hukum alam yang pasti, Jika kita berbuat baik, ia balas dengan rezeki.

 

Kami tanam kembali, setiap pohon yang kami petik, Sebab mengambil hak alam adalah kewajiban baik. Memberi lebih banyak, daripada yang dikonsumsi, Prinsip keberlanjutan, mengalir dalam nadi.

Murojaah Al-Qur’an, di bawah teduhan pepohonan rindang, Huruf demi huruf, menenangkan jiwa yang bimbang. Di sana tersemat hikmah, tentang amanah khalifah, Pemimpin di muka bumi, bukan perusak yang alpa.

Kami bersihkan lingkungan pondok, dari sampah dan segala noda, Kembalikan pada fitrahnya, agar biota hidup sentosa. Sebab harus ada keindahan menyebar, ke jantung kehidupan penghuni pondok, Menjaga air tawar, adalah perintah yang mulia.

 

Belajar hemat energi, mematikan lampu di siang hari, Menggunakan apa adanya, bukan mengikuti gengsi. Adab memanfaatkan sumber, tanpa berlebihan, Pikirkan hari esok, untuk generasi yang menantikan.

Puisi ini kami lantunkan, bersama desiran angin sepoi yang menyampaikan pesan tulus, jauh dari sikap tengil dan kejam. Bahwa Islam dan alam, adalah dua sisi mata uang, Saling melengkapi, saling menjaga, saling mendukung.  Mari bersama merawat, titipan Tuhan Yang Maha Kuasa.

Bumi ini warisan, bukan sekadar tempat singgah. Perlu aksi nyata kebaikan menjaga lingkungan lestari, menuju ridho Ilahi. Kini dengarkanlah alam berbisik lirih, Eco-Pesantren, mengajari kami adab yang shahih. Hidup selaras dengan alam, hati damai dan bersih, Menyambut fajar esok, dengan syukur yang terkasih. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Penikmat Puisi dengan nama pena “Etta Adil”/Penulis Buku Antologi Puisi “Penjara Suci” (Pustaka Puitika, 2015) dan Antologi Puisi “Menjawab Waktu” (Guepedia, 2020)

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077