Kitab Turats (kadang juga disebut al-kutub al-turatsiyyah) adalah istilah yang merujuk pada karya-karya klasik Islam yang ditulis oleh para ulama terdahulu, terutama antara Abad ke-2 hingga ke-14 Hijriah. Kata “turats” sendiri secara harfiah berarti warisan—dalam konteks ini, warisan intelektual dan keilmuan umat Islam. Apa itu Kitab Turats? Kitab Turats adalah kitab-kitab yang mencerminkan pemikiran, hukum, teologi, tasawuf, dan kebudayaan Islam yang dikembangkan oleh para ulama klasik. Kitab-kitab ini biasanya ditulis dalam bahasa Arab (klasik) dan menjadi sumber utama dalam tradisi keilmuan pesantren.
Apa saja karakteristik Kutub Turats? Diantara kekhasannya adalah: (1) Bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. Seluruh pembahasannya berakar dari sumber utama Islam, (2) Ditulis oleh Ulama Mujtahid dan Imam Mazhab. Seperti Imam al-Ghazali, Imam Syafi’i, Imam Malik, al-Nawawi, Ibn Hajar, dan banyak lainnya, (3) Menggunakan Bahasa Arab Klasik. Memerlukan penguasaan nahwu, sharaf, balaghah, dan ilmu alat lainnya, (4) Menjadi Kurikulum Pesantren. Dipelajari dalam sistem halaqah, sorogan, dan bandongan, dan (5) Multidisipliner. Mencakup fikih, tafsir, akidah, tasawuf, gramatika, logika, filsafat, dan bahkan astronomi.
Contoh Kitab Turats yang Populer di Pesantren:
| Disiplin | Contoh Kitab |
|---|---|
| Fikih | Fath al-Qarib, Fath al-Mu’in, Taqrib, Bajuri |
| Tauhid | Jawharat al-Tawhid, Sullam al-Taufiq, Aqidatul Awam |
| Tasawuf | Ihya Ulum al-Din (al-Ghazali), Bidayat al-Hidayah |
| Nahwu | Ajurumiyyah, Alfiyah Ibn Malik |
| Balaghah | Jauhar Maknun, Mukhtashar al-Ma’ani |
| Tafsir | Tafsir al-Jalalayn, Tafsir al-Maraghi |
Bagaimana Kitab Turats Dipelajari di Pesantren? Oleh Para kyai, Ustadz atau Guru yang membawakan pengajian kitab atau pengajaran Islam dengan menggunakan kitab turats maka dilakukan dengan cara: (1) Melalui talaqqi (tatap muka langsung dengan guru). Santri tidak hanya membaca, tapi mendengarkan penjelasan (syarh) dari kyai atau ustadz. (2) Menggunakan metode bandongan, sorogan, dan halaqah. Santri menyimak atau menyetor bacaan kepada guru dengan pendalaman makna kata demi kata, dan (3) Dibubuhi catatan pinggir (ta’liq/jawami’). Ini menjadi bagian dari khazanah hidup santri dan guru.
Lihat pula: Mengakrabkan Diri dengan Kitab Kuning di Pesantren
Mengapa Kitab Turats Masih Relevan? Tentu banyak alasannya mengapa sampai saat ini pembelajaran kitab kuning atau kutub turats masih tetap relevan dijadikan rujukan atau bahan referensi dalam pembelajaran khazanah keilmuan Islam, diantaranya adalah karena menjadi warisan ulama. Kitab Turats adalah warisan pemikiran yang kokoh dan sistematis, mendorong kedalaman berpikir (tadabbur, istinbath, qiyas), mengajarkan adab keilmuan dan keikhlasan dalam belajar, serta memberi fondasi kuat untuk menjawab persoalan kontemporer secara bijaksana.
Bagaimana Kitab Turats bisa dihidupkan Ulang? Tentu ada banyak hal yang bisa dilakukan, diantaranya adalah kontekstualisasi tanpa mengubah substansi, mengkaji ulang dengan pendekatan tematik (misalnya fikih lingkungan, fikih digital, dan lain-lain, serta diterjemahkan dan diajarkan secara interaktif kepada generasi baru. Maka demikianlah Kitab Kuning (kutub turats) masih relevan hingga kini diajarkan di madrasah dan pondok pesantren, dan malahan disitulah salah satu keunggulan pendidikan yang ada di Pondok Pesantren, khususnya Pesantren Salafiyah, yaitu mengkaji khazanah keilmuan Islam dari sumber aslinya: para ulama! Pemahaman yang baik akan isi kitab kuning juga menjadi jalan menyambungkan rantai atau silsilah keilmuan dengan para ulama, yang lazim disebut sanad. Apa dan bagaimana itu sanad keilmuan, silakan baca link tulisan berikut: 10 Artikel Ini Bisa Membuatmu Memahami Tentang Sanad Keilmuan
Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Kutub Turats/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.


Tinggalkan Komentar