Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
IMMIMPANGKEP – Masa Khulafaur Rasyidin (11-40 H / 632-661 M) merupakan periode paling krusial dalam sejarah dakwah Islam pasca-kenabian. Tanpa bimbingan langsung dari wahyu yang turun melalui Rasulullah SAW, para sahabat dituntut untuk melakukan ijtihad kolektif dalam menjaga eksistensi agama sekaligus menyebarkannya ke luar batas Jazirah Arab. Dakwah pada masa ini tidak hanya bermakna ajakan lisan (dakwah bil lisan), tetapi juga mencakup penataan administrasi negara, stabilitas keamanan, dan diplomasi internasional yang inklusif.
A. Strategi Dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq (11-13 H)
Pemerintahan Abu Bakar adalah periode “Penyelamatan Dakwah”. Sebagai khalifah pertama, ia menghadapi krisis legitimasi dan disintegrasi yang luar biasa hebat. Strategi dakwah utama Abu Bakar adalah stabilitas internal. Banyak kabilah Arab yang menganggap bahwa perjanjian setia mereka berakhir seiring wafatnya Nabi. Abu Bakar mengambil tindakan tegas melalui Perang Ridda untuk mengembalikan mereka ke pangkuan Islam. Dakwah di sini berfungsi sebagai instrumen pemersatu bangsa (integrasi sosial-keagamaan).
Setelah banyak penghafal Al-Qur’an gugur dalam Perang Yamamah, Abu Bakar memprakarsai pengumpulan naskah Al-Qur’an dalam satu mushaf. Strategi ini sangat vital bagi dakwah jangka panjang; tanpa teks yang terstandarisasi, ajaran Islam berisiko mengalami distorsi saat tersebar ke wilayah yang lebih luas. Meskipun singkat, Abu Bakar memulai pengiriman pasukan ke wilayah Syam (Suriah) dan Irak. Strategi ini bertujuan untuk membebaskan masyarakat dari hegemoni Romawi dan Persia, sehingga mereka memiliki kebebasan untuk memilih agama tanpa tekanan politik (prinsip tahrirul insan atau pembebasan manusia).
b. Strategi Dakwah Umar bin Khattab (13-23 H)
Jika Abu Bakar adalah penyelamat, maka Umar adalah “Arsitek Dakwah”. Di bawah kepemimpinannya, Islam mengalami ekspansi besar-besaran yang dikenal sebagai Al-Futuhat al-Islamiyyah. Umar bin Khattab menyadari bahwa wilayah yang luas membutuhkan administrasi yang kuat. Ia membentuk Diwan (departemen), menetapkan kalender Hijriah, dan mengangkat hakim (Qadhi). Strategi dakwahnya adalah dakwah melalui keteladanan sistem. Keadilan yang ditunjukkan oleh para gubernur Umar menjadi daya tarik utama bagi penduduk Persia dan Romawi untuk memeluk Islam.
Khalifah Umar melarang para tentara untuk merampas tanah milik penduduk lokal di wilayah taklukan. Ia menerapkan pajak tanah (Kharaj) yang adil dan menjamin perlindungan bagi non-Muslim (Ahlul Dhimmah). Hal ini membuktikan bahwa dakwah Islam tidak dilakukan dengan paksaan senjata, melainkan dengan jaminan keamanan dan toleransi. Khalifah Umar juga secara sistematis mengirim para sahabat besar seperti Muadz bin Jabal dan Abu Darda ke berbagai provinsi untuk mengajarkan Al-Qur’an dan Fiqh. Dakwah menjadi sangat terorganisir di bawah pengawasan pusat di Madinah.
C. Strategi Dakwah Utsman bin Affan (23-35 H)
Masa Utsman ditandai dengan kemakmuran ekonomi dan perluasan dakwah melalui jalur maritim. Inilah jasa dakwah terbesar Utsman. Karena wilayah Islam sudah mencapai Armenia dan Afrika Utara, terjadi perbedaan dialek dalam membaca Al-Qur’an yang berpotensi memicu perpecahan. Utsman menyeragamkan bacaan Al-Qur’an. Strategi ini menjamin kesatuan teologis umat Islam di seluruh dunia hingga hari ini.
Khalifah Utsman adalah khalifah pertama yang membangun armada laut Islam. Ini membuka jalur dakwah baru ke wilayah Kepulauan Mediterania seperti Siprus dan mencapai wilayah yang kini menjadi bagian dari Eropa. Dakwah beralih dari daratan menuju eksplorasi bahari. Utsman bin Affan juga menggunakan kekayaan pribadinya dan kas negara untuk membangun infrastruktur publik (sumur, masjid, jembatan). Strategi dakwahnya adalah dakwah melalui kesejahteraan umum, yang memperlihatkan bahwa Islam membawa kemakmuran material di samping keselamatan spiritual.
D. Strategi Dakwah Ali bin Abi Thalib (35-40 H)
Periode Ali adalah masa “Dakwah Internal dan Pemurnian Pemikiran”. Karena situasi fitnah yang berkecamuk, strategi dakwah Ali lebih terfokus ke dalam. Ali bin Abi Thalib adalah simbol intelektualitas. Di tengah perang saudara, Ali tetap aktif memberikan kuliah-kuliah teologi, filsafat, dan hukum. Strategi dakwahnya adalah menjaga integritas pemikiran Islam dari pengaruh-pengaruh ekstrimisme (seperti Khawarij). Kumpulan pidatonya dalam Nahj al-Balagha menjadi rujukan sastra dan moral yang luar biasa.
Ali mencoba mengembalikan sistem pembagian harta baitul mal yang egaliter seperti masa Umar, setelah pada akhir masa Utsman terjadi beberapa penyimpangan oleh oknum pejabat. Strategi dakwah Ali adalah dakwah dengan integritas moral, menekankan bahwa keadilan sosial adalah inti dari ajaran Islam, bahkan jika itu harus dibayar dengan stabilitas politik yang goyah. Dalam menghadapi pemberontak, Ali tetap menerapkan etika perang Islam yang ketat: tidak membunuh yang lari, tidak merampas harta sesama Muslim, dan tetap mengedepankan dialog. Ini adalah strategi dakwah untuk menunjukkan bahwa persaudaraan Islam (Ukhuwah) berada di atas kepentingan kekuasaan.
Jadi, Strategi dakwah Khulafaur Rasyidin berevolusi sesuai dengan tantangan zaman. Abu Bakar fokus pada soliditas, Umar pada institusionalisasi, Utsman pada standardisasi literasi, dan Ali pada intelektualitas. Benang merah dari semua strategi ini adalah Islam tidak disebarkan sebagai agama kekuasaan semata, melainkan sebagai tatanan hidup yang menawarkan keadilan, ilmu pengetahuan, dan penghormatan terhadap martabat kemanusiaan.
Bahan Bacaan:
Azra, Azyumardi. (2011). Historiografi Islam Kontemporer. Jakarta: Gramedia.
Ash-Shallabi, Ali Muhammad. (2013). Sejarah Lengkap Khulafaur Rasyidin. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Hitti, Philip K. (2002). History of the Arabs. London: Palgrave Macmillan.
Al-Usairy, Ahmad. (2003). Sejarah Islam: Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad Modern. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.
Madjid, Nurcholish. (1992). Islam, Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina.
Lapidus, Ira M. (2002). A History of Islamic Societies. Cambridge University Press.
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Tinggalkan Komentar