Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
31 Juli 2026

Implementasi Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial di Pondok Pesantren

Jum, 31 Juli 2026 Dibaca 56x

– Menyiapkan Santri Melek Teknologi, Berpikir Komputasional, dan Tetap Berkarakter Islami

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

IMMIMPANGKEP – Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam hampir seluruh bidang kehidupan, termasuk pendidikan. Koding dan Kecerdasan Artifisial (KA/AI) tidak lagi semata-mata menjadi kompetensi yang dibutuhkan oleh mahasiswa teknologi informasi atau pekerja industri digital, tetapi mulai dipandang sebagai bagian dari literasi baru yang perlu dikenalkan sejak pendidikan dasar dan menengah.

Pemerintah Indonesia sendiri telah memasukkan Koding dan Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence) sebagai mata pelajaran pilihan yang dapat disediakan satuan pendidikan sesuai kesiapan dan minat peserta didik. Implementasinya dapat berbentuk intrakurikuler, terintegrasi dengan mata pelajaran lain, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.

Dalam konteks pondok pesantren, gagasan tersebut menarik sekaligus menantang. Pesantren memiliki sistem pendidikan yang khas: selain mengikuti pendidikan formal, santri menjalani pembelajaran agama, tahfiz, bahasa Arab, kajian kitab, pembinaan akhlak, ibadah berjamaah, kegiatan kepesantrenan, serta berbagai aktivitas organisasi dan keterampilan. Pada saat yang sama, banyak pesantren menerapkan pembatasan penggunaan laptop, telepon pintar, dan gadget demi menjaga disiplin, konsentrasi belajar, serta menghindarkan santri dari dampak negatif penggunaan teknologi.

Namun, pembatasan gadget tidak seharusnya dimaknai sebagai penolakan terhadap teknologi. Justru di sinilah pesantren dapat mengambil posisi yang lebih strategis: santri tidak harus bebas menggunakan teknologi, tetapi harus dididik agar mampu menggunakan teknologi secara benar, produktif, kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Koding dan AI sebagai Ekstrakurikuler Pesantren

Salah satu pilihan paling realistis adalah menjadikan pembelajaran Koding dan AI sebagai ekstrakurikuler pilihan. Model ini tidak harus mengubah struktur utama kurikulum pesantren, tetapi menjadi program pengembangan minat dan bakat santri.

Kebijakan nasional sendiri membuka ruang bagi satuan pendidikan untuk mengembangkan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan koding dan KA, misalnya robotika dan koding. Bahkan, strategi pembelajarannya tidak harus selalu menggunakan perangkat digital. Pemerintah mengenalkan tiga pendekatan: unplugged tanpa perangkat digital, plugged menggunakan perangkat digital, dan internet-based dengan memanfaatkan koneksi internet.

Hal ini sangat relevan dengan karakter pesantren. Dengan pendekatan unplugged, santri dapat belajar algoritma, logika, pengenalan pola, struktur data sederhana, dan computational thinking melalui permainan, kartu instruksi, teka-teki logika, simulasi, diagram alur, bahkan aktivitas fisik. Ketika memasuki tahap plugged, laptop dapat digunakan secara terbatas di laboratorium komputer pada waktu yang telah ditentukan. Dengan demikian, pesantren tidak perlu memberikan laptop atau smartphone kepada setiap santri. Yang diperlukan adalah sistem penggunaan perangkat secara terkontrol.

Pengalaman di Sulawesi Selatan juga menunjukkan bahwa model tersebut bukan sesuatu yang hipotetis. MTs dan MA Nurul Jadid Assallangnge Bua, misalnya, telah menyelenggarakan ekstrakurikuler coding dan melibatkan pengajar profesional dari luar pesantren. Program tersebut diarahkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan pemecahan masalah santri.

Mengapa Santri Perlu Belajar Koding?

Koding pada hakikatnya bukan hanya kegiatan “menulis program”. Koding melatih seseorang untuk berpikir secara terstruktur: memahami persoalan, memecah persoalan menjadi bagian-bagian kecil, menyusun langkah penyelesaian, menguji solusi, menemukan kesalahan, kemudian memperbaikinya.

Dengan kata lain, yang paling penting bukan semata-mata bahasa pemrogramannya, melainkan cara berpikir di balik pemrograman. Karena itu, santri yang belajar koding sebenarnya sedang dilatih untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah secara sistematis. Kebijakan Koding dan KA nasional juga menempatkan computational thinking, algoritma, analisis data, pemrograman, dan etika teknologi sebagai kompetensi penting.

Keterampilan tersebut dapat dikaitkan dengan kebutuhan pesantren sendiri. Santri dapat belajar membuat: aplikasi sederhana jadwal kegiatan pesantren, sistem pencatatan hafalan, katalog perpustakaan digital, kuis pembelajaran Al-Qur’an, aplikasi penghitung zakat sederhana, media pembelajaran bahasa Arab, website profil pesantren, sistem pendataan kegiatan santri, permainan edukatif Islami hingga proyek digitalisasi naskah atau manuskrip lokal. Dengan demikian, koding tidak diajarkan sebagai ilmu yang terpisah dari kehidupan pesantren, tetapi sebagai alat untuk menyelesaikan persoalan nyata di lingkungan pesantren.

AI: Bukan untuk Menggantikan Santri, tetapi Memperkuat Kemampuan Santri

Pembelajaran AI juga perlu ditempatkan secara proporsional. Santri tidak perlu langsung diarahkan untuk membuat model AI yang rumit. Tahap awal justru harus dimulai dari pemahaman: apa itu AI, bagaimana AI bekerja, bagaimana AI menggunakan data, apa manfaatnya, apa keterbatasannya, dan apa risiko penggunaannya.

UNESCO melalui AI Competency Framework for Students menempatkan kompetensi AI dalam empat dimensi: human-centred mindset, ethics of AI, AI techniques and applications, serta AI system design. Kompetensi tersebut berkembang dari tahap understand, apply, hingga create.

Bagi pesantren, dimensi etika AI justru sangat penting. Santri harus memahami bahwa AI bukan sumber kebenaran mutlak. Jawaban AI dapat keliru, bias, bahkan menghasilkan informasi yang tidak pernah benar-benar ada (hallucination).

Karena itu, pembelajaran AI harus disandingkan dengan nilai amanah, kejujuran ilmiah, tabayyun, adab, tanggung jawab, dan perlindungan privasi. Santri dapat diajarkan, misalnya, bahwa AI boleh digunakan untuk mencari ide, membuat kerangka tulisan, membantu memahami konsep, menerjemahkan teks, membuat latihan soal, atau membantu pemrograman. Namun, santri tetap wajib memeriksa kebenaran informasi, mencantumkan sumber, dan tidak menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI.

UNESCO juga menekankan pentingnya pendekatan yang berpusat pada manusia, perlindungan data pribadi, keamanan, kesesuaian usia, serta validasi pedagogis dalam penggunaan AI generatif di pendidikan.

Contoh Kurikulum Ekstrakurikuler Koding dan AI Pesantren

Berikut contoh kurikulum implementatif satu tahun yang dapat disesuaikan dengan jenjang MTs maupun MA.

Periode Materi Pokok Praktik/Produk
Bulan 1 Pengenalan teknologi & etika digital Tata tertib teknologi pesantren
Bulan 2 Computational thinking Permainan algoritma
Bulan 3 Algoritma & flowchart Diagram alur kegiatan
Bulan 4 Koding berbasis blok Program sederhana
Bulan 5 Variabel, kondisi, pengulangan Game edukatif
Bulan 6 Dasar HTML/CSS Website sederhana
Bulan 7 Pengenalan AI Eksperimen klasifikasi sederhana
Bulan 8 AI dan data Mengenal kualitas data
Bulan 9 Prompt & AI generatif Latihan membuat prompt
Bulan 10 AI untuk pendidikan Media belajar Islami
Bulan 11 Proyek kelompok Produk digital pesantren
Bulan 12 Presentasi & evaluasi Pesantren Digital Expo

 

Kurikulum tersebut dapat dibuat bertingkat. Tingkat dasar berfokus pada logika dan unplugged coding, tingkat menengah pada pemrograman blok dan web sederhana, sedangkan tingkat lanjut dapat diarahkan pada Python dasar, pengolahan data, AI generatif, prompt engineering, serta pembuatan proyek digital.

Bagaimana Mengatur Waktu Jika Gadget Dibatasi?

Inilah bagian yang paling penting bagi pesantren. Solusinya bukan menghapus pembatasan gadget, melainkan membuat jadwal teknologi yang terkontrol. Misalnya, ekstrakurikuler dilaksanakan satu kali seminggu selama 90–120 menit. Untuk santri yang memiliki minat tinggi dapat dibentuk kelas lanjutan 2x sepekan.

Contoh pembagian 120 menit:

– 30 menit pertama: pembahasan konsep, diskusi dan simulasi tanpa gadget.

– 60 menit berikutnya: praktik menggunakan komputer laboratorium secara berkelompok.

– 30 menit terakhir: presentasi, refleksi, evaluasi, dan pencatatan jurnal belajar.

Model ini memungkinkan satu komputer digunakan oleh dua atau tiga santri. Dengan demikian, keterbatasan perangkat justru dapat menjadi sarana pembelajaran kolaboratif. Pesantren juga dapat menerapkan “jam teknologi terbatas”. Laptop hanya boleh digunakan di laboratorium pada jadwal ekstrakurikuler dan berada di bawah pengawasan pembina. Smartphone pribadi tidak harus digunakan.

Bahkan sebagian materi AI dapat dilakukan secara unplugged: guru memberikan contoh keluaran AI, kemudian santri diminta memeriksa apakah jawaban tersebut benar, menemukan kesalahan, membandingkan dengan kitab atau sumber akademik, dan menjelaskan mengapa AI dapat keliru. Hal ini sejalan dengan kebijakan nasional yang secara eksplisit mengakui pembelajaran tanpa perangkat digital sebagai salah satu strategi pembelajaran Koding dan KA.

Keunggulan bagi Pesantren

Implementasi program ini memberikan beberapa keuntungan strategis. Pertama, meningkatkan daya saing santri. Santri tidak hanya memiliki kemampuan agama dan akademik, tetapi juga kompetensi teknologi yang dibutuhkan dunia kerja dan pendidikan tinggi.

Kedua, memperkuat citra pesantren. Pesantren dapat menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak berseberangan dengan perkembangan teknologi. Pesantren justru dapat menjadi pusat pendidikan yang memadukan iman, ilmu, akhlak, dan teknologi.

Ketiga, melatih kemampuan berpikir kritis. Koding mengajarkan logika dan pemecahan masalah, sedangkan AI mengajarkan santri untuk mengevaluasi informasi dan memahami keterbatasan teknologi.

Keempat, menghasilkan karya nyata. Program tidak berhenti pada sertifikat. Santri dapat menghasilkan website, aplikasi, media pembelajaran, gim edukasi, sistem informasi sederhana, dan konten digital yang bermanfaat bagi pesantren.

Kelima, membuka peluang prestasi. Santri dapat diarahkan mengikuti lomba coding, robotika, inovasi teknologi, desain aplikasi, maupun kompetisi AI.

Keenam, membantu digitalisasi manajemen pesantren. Santri yang terampil dapat dilibatkan dalam pengembangan website, dokumentasi digital, perpustakaan, pengarsipan, publikasi, hingga sistem administrasi sederhana.

Kondisi ini juga mulai terlihat di lingkungan madrasah. MTsN 1 Sinjai, misalnya, telah menghadirkan mata pelajaran Coding dan Kecerdasan Artifisial pada semester genap 2025/2026, sementara MAN 1 Muara Enim mengintegrasikan Coding dan AI dalam program pendukungnya.

Penutup

Pesantren pada dasarnya tidak perlu memilih antara tradisi dan teknologi. Yang diperlukan adalah kemampuan menempatkan keduanya secara proporsional. Kitab kuning tetap dipelajari. Al-Qur’an tetap menjadi sumber utama pembentukan karakter. Bahasa Arab tetap diperkuat. Adab tetap menjadi fondasi. Tetapi santri juga perlu memahami dunia tempat mereka akan hidup dan berkiprah.

Karena itu, pembelajaran Koding dan AI di pesantren idealnya bukan sekadar program mengejar tren teknologi. Ia harus menjadi pendidikan literasi teknologi yang berkarakter, yaitu membentuk santri yang mampu menggunakan teknologi tanpa diperbudak teknologi.

Prinsipnya sederhana: gadget boleh dibatasi, tetapi kemampuan berpikir tidak boleh dibatasi. Laptop boleh hanya digunakan pada waktu tertentu, tetapi kreativitas, logika, daya kritis, dan kemampuan memecahkan masalah harus terus dikembangkan.

Dengan pendekatan tersebut, pesantren dapat melahirkan generasi santri yang bukan hanya user teknologi, tetapi juga creator, problem solver, dan bahkan pengembang teknologi yang menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana kemaslahatan.

Referensi

– Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Naskah Akademik Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta, 2025.

– Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial. Sistem Informasi Kurikulum Nasional.

– Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI. Keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 127/P/2025 tentang Pedoman Implementasi Koding dan Kecerdasan Artifisial.

– Kementerian Agama RI. Keputusan Menteri Agama Nomor 1503 Tahun 2025 tentang Perubahan atas KMA Nomor 450 Tahun 2024 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada Madrasah.

– UNESCO. AI Competency Framework for Students. Paris: UNESCO, 2024.

– UNESCO. Guidance for Generative AI in Education and Research. Paris: UNESCO, 2023.

– Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan. “Ada Coding di Pondok Pesantren Nurul Jadid Bua.” 23 Mei 2025.

– Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan. “Sambut Era Digital, MTsN 1 Sinjai Hadirkan Mata Pelajaran Coding dan Kecerdasan Artifisial.” 12 Januari 2026.

 

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Humas dan Penanggung Jawab Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077