Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
IMMIMPANGKEP – Ada yang sudah tahu tentang Isim Maushul? Secara bahasa, kata Maushul berasal dari kata “وصل – يوصل” yang artinya menghubungkan atau menyambungkan. Lafadz Maushul sendiri merupakan isim maf’ul, sehingga isim maushul artinya isim yang disambung. Sementara, secara istilah, isim maushul dimaknai sebagai:
Artinya:
“Isim Maushul adalah isim yang tidak memberikan makna yang sempurna kecuali dengan jumlah atau syibhul jumlah yang disebutkan setelah. Ini disebut sebagai silatul maushul.”
Anggota Isim Maushul
Isim Maushul dibagi menjadi beberapa bagian anggota, apa saja kah itu?
1. Isim Maushul Mukhtash
Isim maushul mukhtash merupakan isim maushul yang jelas penunjukannya dan dibatasi hanya untuk lafadz tertentu. Disebut mukhtash (khusus) karena setiap lafadznya memiliki bentuk berbeda. Ada yang untuk mufrad, mutsanna, dan jamak, baik itu yang berupa kategori mudzakkar maupun muannats. Isim-isim tersebut, antara lain:
Alladzi (الَّذِي) Khusus untuk bentuk mufrad mudzakar, baik berakal maupun tidak. Dia dihukumi mabni sukun. Contoh:
Artinya:
“Aku melihat dia (yang) duduk diatas kursi (yang kursi tersebut) didepan Guru”.
Allati (الَّتِي) Khusus untuk bentuk mufradah muannats, baik berakal maupun tidak. Ia dihukumi mabni sukun. Contoh:
Artinya:
“Aku melihat orang cewek (yang) berdiri didepan mobil (yang mobil itu) di depan sekolah”
Alladzani (اللَّذَانِ) Khusus untuk bentuk mutsanna mudzakar, baik berakal maupun tidak. Ia dihukumi seperti i’rab mutsanna yaitu rafa’ dengan alif, nashab dan Jar dengan ya’i.
Contohnya:
Artinya:
“Telah datang dua orang siswa laki (yang) lulus dalam ujian”
Artinya:
“Aku melihat dua orang siswa laki (yang) lulus dalam ujian”
Alladzani (اللَّتَانِ) khusus untuk bentuk mutsana muannats, baik berakal maupun tidak. Ia dihukumi seperti i’rab mutsanna yaitu rafa’ dengan alif, nashab dan Jar dengan ya’i.
Contohnya:
Artinya:
“Dua siswi (yang) ikut lomba tilawah al-Qur’an telah menang”
Artinya:
“Aku melihat Dua siswi (yang) telah menang dalam lomba tilawah al-Qur,an”
Alulaa (الأُلَى) Khusus untuk bentuk Jamak, baik mudzakkar/muannats, berakal maupun tidak. Ia dihukumi mabni sukun.
Contohnya:
Artinya:
“Para siswa (yang) lulus ujian membuatku bahagia”
Artinya:
“Para siswi (yang) lulus ujian membuatku bahagia.”
Alladzina (الَّذِيْنَ) Khusus untuk bentuk Jamak Mudzakkar berakal. Ia dihukumi mabni fathah.
Contohnya:
Artinya:
“Orang-orang yang memahami pelajaran ini sedikit”
Allaatii, Allaaii, Allawaaii (اللَّاتِي, اللاَّئِي, اللَّوَاتِي) Khusus untuk Jamak Muannats, baik berakal maupun tidak. Ia dihukumi mabni sukun.
Contohnya:
Artinya:
“Para Siswi(yang) lulus ujian berasal dari berbagai sekolah.”
2. Isim Maushul Musytarak
Kebalikan dari isim maushul muktash, isim maushul musytarak merupakn bentuk isim maushul yang umum.
Semua bentuk lafadz yang ada, baik itu, mufrad, mutsanna dan jamak, juga baik itu isim yang aqil atau ghairu aqil, maka isim maushul musytarak tidak akan berubah.
Adapun isim-isim maushul musytarak, antara lain:
Man (مَنْ) Digunakan untuk semua bentuk (Mufrad Mudzakkar/Muannats, Mutsanna Mudzakkar/Muannats, Jamak Mudzakar/Muannats).
Pada umumnya hanya digunakan untuk berakal. Ia dihukumi mabni sukun. Contohnya:
Artinya:
“Aku tahu (Siapa) (Dia laki, Dia berdua, Dia Cewe, Mereka laki, Mereka Cewe) yang lulus”
Man (مَا) Digunakan untuk semua perubahan sama persis seperti مَنْ. Namun, pada umumnya digunakan untuk tidak berakal. Ia dihukumi mabni sukun.
Contoh Maa untuk tidak berakal:
“(Sesuatu) yang dikatakan ( Kholid, Nurah, Para siswa/siswi telah membuatku kagum”.
Maa ما disini mengandung arti makna “sesuatu yang dikatakan” (tidak berakal)
Contoh Maa untuk berakal:
Maa ما pada Ayat diatas mengandung makna “orang” (berakal)
Dza (ذَا) Digunakan untuk semua perubahan sama persis seperti مَنْ dan ما untuk berakal dan tidak berakal. Ia dihukumi mabni sukun
Contoh: Dza untuk berakal
Artinya:
“Siapa dia laki (yang) telah lulus?”
Artinya:
“Siapa dua orang laki-laki (yang) telah lulus?”
Contoh: Dza untuk tidak berakal
Artinya:
“Apa (yang) kholid katakan?”
Artinya:
“Apa (yang) kholid dan Zaid katakan?”
Ayyun ( أيّ) Digunakan untuk semua perubahan seperti kawanya diatas. Isim maushul yang ini dihukumi mu’rab (berubah harakat akhir). Contohnya:
Artinya:
“Berikan dia (apa) yang dibutuhkan”
Artinya:
“Tolonglah (apa) yang dia butuhkan”.
Demikianlah sedikit catatan tentang Isim Maushul, terkait pengertian, anggota dan contohnya. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiik. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Bahasa Arab/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Tinggalkan Komentar