Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Mandzhumah al-Baiquniyah dan Terjemahnya
IMMIMPANGKEP – Mengenal Kitab Mandzhumah al-Baiquniyah adalah langkah awal yang sangat populer bagi siapa saja yang ingin menyelami samudera Ilmu Hadits. Kitab ini dianggap sebagai “pintu gerbang” karena bentuknya yang ringkas namun padat akan definisi dasar yang krusial.
Dalam tradisi intelektual Islam, ilmu hadits bukan sekadar menghafal redaksi sabda, perkataan atau informasi tentang sifat, sikap dan perbuatan Nabi SAW, melainkan juga memahami instrumen untuk menguji keaslian dan kualitas berita tersebut. Di sinilah peran Mushthalahul Hadits (terminologi hadits). Di antara sekian banyak kitab yang membahas ilmu ini, Mandzhumah al-Baiquniyah menempati posisi istimewa sebagai buku teks tingkat dasar.
Kitab Mandzhumah al-Baiquniyyah ditulis oleh Syekh Thaha bin Muhammad bin Futuh al-Baiquni. Beliau adalah seorang ulama bermazhab Syafi’i yang berasal dari Damaskus (Wafat sekitar tahun 1080 H/1669 M). Meskipun profil biografinya tidak banyak tercatat secara detail di buku-buku sejarah besar, karya beliau yang satu ini telah mengangkat namanya menjadi abadi di kalangan penuntut ilmu hadits di seluruh dunia.
Keunikan utama kitab ini terletak pada formatnya yang berupa Mandzhumah atau bait-bait syair. Mengapa syair (Nadzom)? Ya, karena dalam tradisi pendidikan klasik, ilmu yang disusun dalam bentuk bait puisi jauh lebih mudah dihafal (hifzh) dan diingat dibandingkan tulisan prosa biasa. Al-Baiquniyah hanya terdiri dari 34 bait syair dengan bahar (ritme) Rajaz. Kesederhanaan ini membuatnya sangat ramah bagi pemula, bahkan sering kali sudah dihafalkan oleh para santri di tingkat dasar.
Meski sangat ringkas, al-Baiquniyah berhasil merangkum sekitar 32 jenis istilah hadits. Penulis memulainya dengan memuji Allah dan bershalawat, lalu langsung masuk mendefinisikan pembagian hadits, antara lain: Hadits Shahih (Syarat-syarat hadits yang paling autentik), Hadits Hasan (Hadits yang berada satu tingkat di bawah shahih namun tetap bisa dijadikan hujjah), Hadits Dha’if (Hadits yang lemah karena tidak memenuhi syarat shahih maupun hasan), dan Istilah Teknis Lainnya, seperti Marfu’ (sampai ke Nabi), Maqthu’ (sampai ke Tabi’in), Musnad, Muttashil, Aziz, Masyhur, hingga jenis-jenis hadits yang tertolak seperti Maudhu’ (palsu).
Mengapa Mempelajari Kitab Mandzhumah Al-Baiquniyah? Ya, Ada beberapa alasan mengapa kitab ini menjadi kurikulum wajib di berbagai pesantren dan universitas Islam. Pertama, karena Sistematis. Penulis memberikan definisi yang lugas. Biasanya, satu bait berisi satu definisi jenis hadits tertentu. Kedua, Diterima Luas. Kitab ini telah disyarah (diberi penjelasan) oleh puluhan ulama besar setelahnya, menunjukkan betapa besarnya keberkahan dan penerimaan umat terhadap karya ini. Ketiga, Fondasi Kokoh. Memahami Mandzhumah Al-Baiquniyah memberikan kerangka berpikir bagi penuntut ilmu sebelum membaca kitab yang lebih tebal seperti Nukhbatul Fikar karya Ibnu Hajar atau Muqaddimah Ibnu Shalah.
Al-Baiquni menutup kitabnya dengan rendah hati melalui bait, “Telah sempurna bait-baitnya sebanyak tiga puluh empat, diakhiri dengan kebaikan.”. Jadi, Mempelajari Kitab Mandzhumah al-Baiquniyah adalah bentuk penghormatan kita terhadap kemurnian ajaran Islam. Dengan memahami istilah-istilah Hadits di dalamnya, kita belajar untuk tidak sembarangan dalam mengutip ucapan yang disandarkan kepada Rasulullah SAW.
Demikian catatan pengantar Mengenal Kitab Mandzhumah al-Baiquniyyah ini. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Tinggalkan Komentar