Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
22 Juli 2026

SKI Kelas X (2): Dakwah Islam Periode Makkah

Rab, 22 Juli 2026 Dibaca 55x

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

IMMIMPANGKEP – Periode Makkah merupakan fase awal sekaligus fondasi paling krusial dalam sejarah risalah kenabian Muhammad SAW. Berlangsung selama kurang lebih 13 tahun (sejak pengangkatan beliau sebagai nabi pada usia 40 tahun hingga peristiwa hijrah ke Madinah pada tahun 622 M), masa ini diwarnai oleh perjuangan berat menegakkan tauhid di tengah masyarakat paganisme Quraisy yang mengakar kuat.

Memahami fase Makkah tidak hanya sekadar melihat rentetan peristiwa sejarah, tetapi juga menelaah bagaimana nilai-nilai akidah ditanamkan, strategi dakwah yang dinamis diterapkan, serta keteguhan mental kaum Muslimin awal dalam menghadapi berbagai gelombang penindasan.

1. Sejarah Dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah: Dari Diam-diam hingga Terang-terangan

Sejarah dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah umumnya dibagi oleh para sejarawan menjadi dua fase utama: fase sembunyi-sembunyi (sirriyah) dan fase terang-terangan (jahriyah). Fase Dakwah Sembunyi-Sembunyi (± 3 Tahun Pertama): Rasulullah SAW memulai dakwahnya secara rahasia kepada orang-orang terdekat dan keluarga besar beliau (al-aqrabin). Langkah ini diambil untuk menghindari reaksi frontal dari para pemuka Quraisy yang belum siap menerima perubahan tatanan sosial-agama.

Orang pertama yang memeluk Islam dari kalangan wanita adalah istri beliau, Khadijah binti Khuwailid; dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib; dari sahabat karib adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq; dan dari kalangan budak yang kemudian dimerdekakan adalah Zaid bin Haritsah. Mereka yang masuk Islam pada tahap ini dikenal sebagai As-Sabiqunal Awwalun (generasi awal yang terdahulu masuk Islam). Pertemuan ibadah dan pembinaan dilakukan secara sembunyi-sembunyi di rumah Ar-Arqam bin Abul Arqam (Darul Arqam).

Fase Dakwah Terang-Terangan (Tahun ke-4 hingga ke-13 Kenabian): Setelah turunnya wahyu yang memerintahkan dakwah secara terbuka (di antaranya Surah Al-Hijr ayat 94: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu”), Nabi Muhammad SAW mulai menyeru masyarakat Makkah secara terang-terangan. Beliau pernah mengumpulkan kaum Quraisy di bukit Safa untuk memperingatkan mereka tentang hari kiamat dan mengajak menyembah Allah Yang Maha Esa. Sejak saat itulah resistensi dari kaum musyrikin Quraisy mulai meningkat secara signifikan.

2. Substansi dan Strategi Dakwah Nabi Muhammad SAW di Makkah

Meskipun durasi periode Makkah cukup panjang, fokus utama ajaran yang disampaikan Nabi Muhammad SAW memiliki substansi yang sangat spesifik dan terarah, yaitu Penekanan mutlak pada pemurnian akidah, yakni mengesakan Allah SWT dan memberantas praktik syirik (penyembahan berhala). Nabi mengajak masyarakat Makkah meninggalkan tuhan-tuhan selain Allah dan menanamkan kesadaran bahwa kekuasaan mutlak hanya milik Sang Pencipta.

Hari Kiamat dan Kehidupan Akhirat: Mengingatkan manusia akan adanya hari kebangkitan, hari perhitungan amal (hisab), serta balasan surga dan neraka. Substansi ini bertujuan untuk membangun kesadaran moral bahwa setiap perbuatan manusia di dunia akan dimintai pertanggungjawaban mutlak.

Akhlak Mulia: Memperbaiki moralitas masyarakat Arab jahiliyah yang saat itu gemar menindas kaum lemah, mengubur bayi perempuan, berjudi, berperang antar-kabilah, dan berbuat zalim. Nabi mengajarkan nilai-nilai kejujuran, amanah, persaudaraan, tolong-menolong, dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Penyucian Jiwa (Tazkiyatun Nafs): Mengajak manusia untuk membersihkan hati dari sifat-sifat sombong, dengki, dan materialistis, serta mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah yang tulus.

Ada beberapa Strategi Dakwah yang digunakan pada masa periode Makkah ini, yaitu: Pertama, Pendekatan Personal (Persuasif): Pada awal masa Islam, Nabi mendekati individu-individu yang memiliki potensi dan kelayakan moral tinggi untuk menerima kebenaran secara persuasif dan penuh kasih sayang.

Kedua, Pusat Pembinaan Terpadu (Darul Arqam). Memanfaatkan rumah Ar-Arqam bin Abul Arqam sebagai basis edukasi, tempat turunnya wahyu, dan ruang konseling bagi para sahabat baru agar memiliki keteguhan akidah yang kokoh.

Ketiga, Keteladanan Akhlak (Uswah Hasanah). Nabi Muhammad SAW sendiri menampilkan perilaku yang sangat jujur, adil, dan terpercaya (Al-Amin) sebelum dan sesudah diangkat menjadi nabi, sehingga argumen moral beliau sulit dipatahkan oleh musuh-musuhnya sekalipun.

3. Tantangan dan Pengembangan Dakwah Nabi Muhammad SAW

Semakin luas pesan Islam tersebar, semakin keras pula gelombang penolakan dan permusuhan yang dilancarkan oleh para elit Quraisy, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, dan Umayyah bin Khalaf. Mereka merasa posisi sosial, politik, dan ekonomi (terutama bisnis perdagangan patung dan stabilitas tata krama kabilah) terancam oleh ajaran persamaan derajat dalam Islam.

Bentuk-Bentuk Tantangan dan Penyiksaan diantaranya: Pertama, Boikot Ekonomi dan Sosial: Ketika kaum Muslimin dan Bani Hasyim (yang melindungi Nabi meski sebagian belum Islam) mendapati tekanan hebat, kaum Quraisy memberlakukan pemboikotan total selama tiga tahun: tidak boleh ada jual beli, pernikahan, maupun interaksi sosial dengan Nabi dan para pengikutnya, hingga mereka kelaparan dan terpaksa memakan daun-daunan kering.

Kedua, Penyiksaan Fisik terhadap Pengikut Nabi: Para budak dan kaum Muslimin dari golongan lemah yang tidak memiliki pelindung kabilah mengalami penyiksaan yang kejam di bawah teriknya padang pasir Makkah, seperti yang dialami oleh Bilal bin Rabah, keluarga Yasir (Ammar, Sumayyah, dan Yasir hingga Sumayyah menjadi syahidah pertama dalam Islam), dan Khabbab bin al-Arat.

Ketiga, Propaganda Negatif: Kaum Quraisy menuduh Nabi Muhammad SAW sebagai tukang sihir, orang gila, penyair gila, atau pemecah belah keluarga, guna menjauhkan masyarakat umum dari mendengarkan dakwah beliau.

Menghadapi jalan buntu di Makkah dan wafatnya dua pelindung utama beliau (paman beliau Abu Thalib dan istri tercinta Khadijah pada “Tahun Kesedihan” / Amul Huzn), Nabi mulai mencari suaka dan ruang dakwah baru di luar Makkah. Nabi mendatangi kota Thaif untuk berdakwah kepada Bani Tsaqif, meski beliau akhirnya ditolak secara kasar dan dilempari batu hingga terluka. Kejadian ini menunjukkan keteguhan luar biasa beliau dalam menjalankan risalah.

Demi menyelamatkan para sahabat dari penyiksaan brutal di Makkah, Nabi memerintahkan gelombang hijrah pertama ke Habasyah (Ethiopia) yang dipimpin oleh Raja Najasyi (Ash-Shahamah) yang terkenal adil dan melindungi kaum Muslimin.

Titik terang pengembangan dakwah muncul ketika Nabi menemui kafilah dari Yathrib (Madinah) saat musim haji. Melalui Bai’at Aqabah pertama dan kedua, penduduk Yathrib menyatakan kesiapan mereka untuk melindungi Nabi Muhammad SAW dan kaum Muslimin di kota mereka, yang kemudian membuka jalan lebar bagi peristiwa besar Hijrah ke Madinah.

Kesimpulan

Dakwah Islam periode Makkah merupakan fondasi mental dan spiritual yang membentuk karakter umat Islam pertama menjadi pribadi yang tangguh, sabar, dan memiliki komitmen akidah yang tidak tergoyahkan. Meskipun penuh dengan hambatan, boikot, penyiksaan fisik, dan penolakan sosial, strategi dakwah yang berbasis pada keteladanan, pemurnian tauhid, serta pencarian ruang sosial baru berhasil menjaga eksistensi risalah Islam hingga akhirnya menemukan tempat bersemi yang subur di Yathrib (Madinah). Dari tempaan 13 tahun di Makkah inilah peradaban besar Islam kemudian lahir dan berkembang.

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)

 

Referensi/Bahan Bacaan: 

Al-Mubarakfuri, Shafiyurrahman. (2021). Sirah Nabawiyah: Perjalanan Hidup Rasulullah SAW. Jakarta: Gema Insani. (Referensi utama bab kronologi dakwah rahasia di Darul Arqam, dakwah terang-terangan, pemboikotan Quraisy, hingga hijrah ke Habasyah dan Thaif).

Hikal, Muhammad Husain. (2008). Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Litera AntarNusa. (Analisis mendalam mengenai substansi dakwah tauhid, akhlak, serta dinamika psikologis masyarakat Makkah dalam merespon ajaran Islam).

Shalabi, Ahmad. (1981). Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jilid 1). Jakarta: Pustaka Al-Husna. (Kajian mengenai pembagian fase dakwah, tantangan sosial-politik elit Quraisy, dan latar belakang hijrah).

Al-Buthi, Muhammad Said Ramadhan. (2006). Fiqhus Sirah: Pemahaman Sirah Nabawiyah untuk Kehidupan Kontemporer. Jakarta: Robbani Press. (Penjelasan komprehensif mengenai strategi dakwah Rasulullah SAW dan hikmah di balik ujian periode Makkah).

Artikel ini memiliki

1 Komentar

Perkenalkan saya saniyah fathanah dari kelas X. menurut saya, beliau menfajk siswa memahami hukum sebab-akibat (kausalitas). menerangkan transformasi dakwah rasulullah saw. di makkah yang berjalan dinamis.

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077