Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
12 Agustus 2026

SKI Kelas X (5): Dakwah Rasulullah SAW Periode Madinah

Rab, 12 Agustus 2026 Dibaca 42x

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

IMMIMPANGKEP – Periode Madinah merupakan babak baru yang sangat menentukan dalam lintasan Sejarah Peradaban Islam (SPI). Setelah menghadapi tekanan, intimidasi, dan pemboikotan selama kurang lebih 13 tahun di Mekkah, Rasulullah SAW bersama kaum Muslimin melakukan hijrah ke Yastrib—yang kemudian diubah namanya menjadi Madinah Al-Munawwarah (Kota yang Bercahaya).

Di kota inilah Islam tidak lagi sekadar menjadi gerakan teologis yang tertindas, melainkan bertransformasi menjadi sebuah kekuatan sosial, politik, hukum, dan militer yang terorganisir. Artikel ini mengulas secara komprehensif mengenai dakwah Rasulullah SAW periode Madinah yang mencakup substansi dakwah, strategi dakwah, pembentukan pertahanan dan keamanan, serta perluasan dakwah ke luar Madinah.

a. Substansi Dakwah Nabi Muhammad SAW Periode Madinah

Jika substansi dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekkah lebih banyak berfokus pada penanaman akidah yang lurus, tauhid, dan pembentukan moral, maka pada periode Madinah substansinya menjadi jauh lebih luas, komprehensif, dan aplikatif dalam kehidupan bernegara. Adapun substansi dakwah tersebut meliputi:

Penguatan Fondasi Keimanan dan Syariat Ibadah Meskipun masyarakat Madinah (terutama kaum Anshar) telah memeluk Islam, penguatan akidah tetap dilakukan. Selain itu, pada periode ini syariat Islam mengenai ibadah harian dan hukum muamalah mulai diturunkan secara rinci, seperti kewajiban zakat, puasa Ramadan, ibadah haji, serta aturan halal dan haram.

Pembangunan Masyarakat Berbasis Akhlak dan Persaudaraan (Ukhuwah) Nabi Muhammad SAW menanamkan nilai-nilai egaliter, menghapus sisa-sisa fanatisme kesukuan jahiliyah (asabiyah), dan menggantinya dengan ikatan ukhuwah Islamiyah. Beliau mempersaudarakan secara resmi antara kaum Muhajirin (pendatang dari Mekkah) dan kaum Anshar (penduduk asli Madinah) di atas landasan akidah, bukan lagi ikatan darah.

Pemberlakuan Hukum dan Keadilan Sosial Islam hadir di Madinah sebagai sistem kehidupan yang mengatur tatanan sosial, ekonomi, dan hukum. Penghapusan sistem riba yang eksploitatif, perlindungan hak-hak perempuan, anak yatim, dan fakir miskin, serta penegakan hukum yang adil tanpa pandang bulu menjadi pilar utama substansi dakwah Madinah.

b. Strategi Dakwah Nabi Muhammad SAW Periode Madinah

Untuk mewujudkan masyarakat Islam yang kuat dan mandiri di tengah kompleksitas demografi Madinah (yang dihuni kaum Muslimin, Yahudi, dan kaum musyrik), Rasulullah SAW merumuskan strategi dakwah yang cerdas dan visioner:

Pembangunan Masjid Nabawi Langkah pertama dan utama setibanya di Madinah adalah membangun Masjid Nabawi. Masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat suci untuk beribadah kepada Allah SWT, tetapi juga berfungsi multi-fungsional: sebagai pusat pemerintahan, pusat pendidikan dan pengajaran, tempat musyawarah strategi militer, serta tempat pengungsian kaum fakir miskin (ahl al-suffah).

Mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Anshar Strategi sosial ini sangat brilian dalam meredam potensi konflik kultural dan ekonomi antara pendatang dan penduduk lokal. Kaum Anshar dengan keikhlasan luar biasa menyambut saudara-saudara mereka dari Mekkah, berbagi tempat tinggal, bahkan membagi harta kekayaan mereka.

Deklarasi Piagam Madinah (Mithaq Madinah / Konstitusi Madinah) Untuk menciptakan kedamaian dan ketertiban di antara berbagai kelompok suku dan agama yang majemuk di Madinah, Rasulullah SAW memprakarsai pembuatan dokumen konstitusi tertulis pertama di dunia yang dikenal sebagai Piagam Madinah. Dokumen ini mengatur:

Kebebasan beragama bagi seluruh penduduk (termasuk kaum Yahudi).

Kewajiban bersama untuk membela Madinah dari serangan musuh luar.

Pengakuan hak-hak politik dan sosial setiap kabilah.

Penunjukan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin tertinggi dan pemutus keputusan sengketa.

c. Pembentukan Pertahanan dan Keamanan

Mengingat ancaman nyata dari kaum kafir Quraisy di Mekkah serta potensi pengkhianatan dari dalam (terutama dari kaum munafik dan beberapa kabilah Yahudi), Rasulullah SAW memandang pentingnya membangun sistem pertahanan dan keamanan negara yang tangguh:

Pembentukan Kekuatan Militer dan Satuan Pengintai Nabi Muhammad SAW mulai membentuk pasukan pertahanan yang terlatih. Beliau mengirim berbagai Ekspedisi Militer (Sariyah) yang dipimpin oleh para sahabat untuk mengintai jalur perdagangan Quraisy menuju Syam, sekaligus menunjukkan eksistensi kekuatan baru Madinah.

Perang-Perang Besar dalam Membela Eksistensi Islam Kaum Muslimin terlibat dalam beberapa peperangan defensif yang sangat menentukan:

Perang Badar (2 H): Kemenangan gemilang pasukan Islam (313 orang) melawan pasukan Quraisy (sekitar 1.000 orang) yang mendongkrak wibawa politik dan militer Madinah.

Perang Uhud (3 H): Pelajaran berharga bagi kaum Muslimin akibat tidak disiplinnya pasukan pemanah di bukit Uhud, yang berujung pada kekalahan sementara.

Perang Khandak / Ahzab (5 H): Strategi bertahan yang cemerlang dengan menggali parit besar di sekeliling kota Madinah untuk menahan gempuran koalisi besar pasukan sekutu musyrik dan Yahudi.

Penertiban Keamanan Internal (Kasus Pengkhianatan) Ketika kabilah-kabilah Yahudi (seperti Bani Qainuqa, Bani Nadzir, dan Bani Quraidzah) melanggar Piagam Madinah dan terbukti melakukan konspirasi militer dengan kaum Quraisy untuk menghancurkan Madinah, Rasulullah SAW mengambil tindakan tegas demi menjaga stabilitas dan keamanan negara.

d. Dakwah ke Luar Madinah

Setelah situasi di dalam kota Madinah stabil dan kekuatan politik Islam mulai diakui di jazirah Arab, fase dakwah Rasulullah SAW meluas ke kancah internasional (luar Madinah):

Pengiriman Surat Diplomasi kepada Para Penguasa Dunia Memasuki tahun ke-6 Hijriyah (setelah Perjanjian Hudaibiyah), Rasulullah SAW mengubah pendekatan dakwah luar negeri melalui jalur diplomasi damai. Beliau mengirimkan surat dakwah dan ajakan memeluk Islam kepada para raja dan kaisar adidaya saat itu, di antaranya:

Heraklius (Kaisar Kekaisaran Bizantium / Romawi Timur).

Kisra Khusrau II (Raja Persia / Sasaniyah).

Negus / Ash-Sham’ah (Raja Najasyi / Habasyah / Ethiopia).

Muqauqis (Penguasa Mesir).

Para penguasa di wilayah Yamamah, Oman, Bahrain, dan Suriah.

Respon Para Penguasa Dunia Respon dari para penguasa tersebut beragam; ada yang menolak dengan sombong (seperti Kisra Persia yang merobek surat Nabi), ada yang menolak secara halus namun tetap menghormati (seperti Kaisar Heraklius), dan ada pula yang menyambut serta masuk Islam dengan ikhlas (seperti Raja Najasyi di Habasyah).

Ekspedisi dan Pembebasan Mekkah (Fathu Makkah) Puncak dari keberhasilan dakwah luar Madinah dan jazirah Arab adalah peristiwa Fathu Makkah (Pembebasan Kota Mekkah) pada tahun 8 Hijriyah. Tanpa pertumpahan darah yang berarti, pasukan Islam berhasil memasuki Mekkah, membersihkan Kakbah dari berhala-berhala, dan memberikan pengampunan umum (amn ‘am). Peristiwa ini membuat kabilah-kabilah Arab di seluruh jazirah berbondong-bondong masuk Islam (dikenal sebagai Amul Wufud atau Tahun Utusan).

Kesimpulan

Dakwah Rasulullah SAW periode Madinah merupakan model ideal transformasi peradaban dari masyarakat yang terpecah belah menjadi sebuah entitas politik dan sosial yang kuat, adil, dan bermartabat. Melalui substansi dakwah yang menyeluruh, strategi pembangunan infrastruktur sosial (Masjid Nabawi dan Ukhuwah), penyusunan konstitusi (Piagam Madinah), sistem pertahanan yang kokoh, serta diplomasi luas ke luar Madinah, Islam berhasil menyebar luas dan menjadi rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil ‘alamin).

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)

 

Referensi/Bahan Bacaan: 

Al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyur-Rahman. Rahiq Al-Makhtum (Sirah Nabawiyah). Jakarta: Ummul Qura.

Haekal, Muhammad Husain. Sejarah Hidup Muhammad. Jakarta: Litera AntarNusa.

Tim Departemen Agama RI. Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077