Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
31 Maret 2026

Terjemah Nurul Yaqin: Budi Pekerti Rasulullah (4)

Sel, 31 Maret 2026 Dibaca 97x

IMMIMPANGKEP – Banyak sekali hadis yang menceritakan tentang diri Nabi saw. bahwa di dalam dirinya telah terdapat sifat tersebut dalam bentuk yang paling sempurna. Tiada seorang pun yang memiliki sifat penyantun yang tidak pernah berbuat suatu kealpaan dan kekeliruan. Sedangkan Nabi kita, sekalipun banyak menerima perlakuan yang menyakitkan, hanya semakin menambah kesabarannya, dan dalam menghadapi orang yang bersikap tidak mengerti tentang keadaan dirinya, ia sangat penyantun.

Siti ‘Aisyah r.a. dalam salah satu hadis yang diriwayatkannya telah menceritakan: Belum pernah sama sekali Rasulullah saw. disuruh memilih antara dua perkara, sementara ia tidak memilih perkara yang paling mudah di antara keduanya selagi hal itu bukan merupakan perkara yang berdosa, Maka apabila ternyata hal tersebut adalah perbuatan yang berdosa, dia adalah orang yang paling menjauhinya. Dan dia belum pernah membalas untuk pribadinya, kecuali bila larangan Allah dilanggar, pada saat itu dia membalas karena Allah.

Ketika kaum musyrikin melakukan pukulan yang berat terhadap kaum Muslimin dalam Perang Uhud, kemudian Rasulullah saw. diminta untuk berdoa kepada Allah untuk kebinasaan mereka, ternyata yang dikatakan dalam doanya adalah seperti berikut ini: Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui (kebenaran).

Untuk dijadikan sebagai bukti, cukuplah dalam hal ini apa yang telah dilakukan oleh kaum musyrikin Quraisy. Mereka telah menyakiti dan menghina serta mengusirnya bersama para sahabat dari tanah tumpah darahnya, kemudian mereka memeranginya dan bahkan menganjurkan kepada orang-orang selain mereka yang terdiri dari kaum musyrikin Arab untuk memeranginya, sehingga terbentuklah golongan yang bersekutu dari kaum musyrikin.

Akan tetapi, setelah Allah swt. menganugerahkan kepadanya pembukaan kota Makkah, maka sikap yang diambil tidak lebih dari memberi maaf dan ampunan. Dia berkata kepada mereka yang telah ditaklukkan, “Bagaimana menurut kalian, apa yang akan aku lakukan terhadap diri kalian?” Mereka menjawab, “Baik-baik saja karena engkau adalah saudara yang mulia dan anak saudara kami yang mulia (pula).” Rasulullah saw. hanya berkata kepada mereka: Pergilah, sekarang kalian adalah orang-orang yang bebas.

Sahabat Anas r.a. menceritakan bahwa pada suatu hari ia bersama Nabi saw. yang pada saat itu memakai selendang yang terbuat dari kain yang kasar. Kemudian datang seorang Badui yang langsung menarik selendangnya dengan kasar sekali sehingga kain selendang jtu membuat bekasbekas memerah pada lehernya.

Lalu lelaki Badui itu berkata, “Hai Muhammad, berikanlah kepadaku sebagian dari harta Allah yang ada padamu untuk aku muatkan pada dua ekor unta milikku ini. Sebab se sungguhnya engkau memberi kepadaku bukan dari hartamu sendiri dar bukan pula dari harta orang tuamu.”

Ketika itu Nabi saw. diam sejenak, lalu berkata, “Harta ini adalah milik Allah dan aku adalah hamba-Nya.” Selanjutnya dia berkata, “Engkau akan dibalas sesuai dengan perbuatar engkau terhadap diriku.” Lelaki Badui itu menjawab, “Tidak mungkin.” Rasulullah saw. bertanya, “Mengapa tidak mungkin”

Lelaki Badui itu berkata, “Karena sesungguhnya engkau tidak akan membalas keburukan dengan keburukan yang lain.” Rasulullah saw. tertawa setelah mendengar jawaban lelaki badui itu, kemudian ia memerintahkan supaya dimuatkan kepada salah seekor unta milik Badui itu gandum, dan unta miliknya yang lain supaya dimuati kurma.

Di antara sifat yang dimiliki Rasulullah saw. adalah berani dan suka menolong. Kedua sifat itu seperti yang dikisahkan oleh Siti ‘Aisyah r.a., “Aku belum pernah melihat Rasulullah saw. melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berbuat aniaya terhadapnya selagi hal itu bukan merupakan pelanggaran terhadap apa-apa yang telah dilarang oleh Allah swt. Dia belum pernah memukul seseorang dengan tangannya kecuali dalam berjihad di jalan Allah. Dia belum pernah memukul pembantunya dan belum pernah pula memukul istrinya.” Akhirnya Allah swt. mencurahkan shalawat-Nya kepadanya dan membuat hatinya menjadi senang karena sikapnya itu diikuti oleh kaum Muslimin.

Adapun sifat kedermawanan, kebaikan dan kemurahan serta rasa toleransinya Rasulullah saw. merupakan contoh yang utama bagi akhlak yang mulia. Tiada seorang pun yang dapat menandinginya. Hal ini diungkapkan oleh orang-orang yang telah melihat langsung dan mengenalnya dengan baik. Sahabat Jabir r.a. menceritakan dalam salah satu hadis yang diriwayatkannya:

Rasulullah saw. belum pernah diminta sesuatu, lalu dia menjawab, “Tidak.”

Sahabat Ibnu ‘Abbas r.a. telah menceritakan pula: Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan dalam hal kebaikan (harta benda), dan lebih dermawan lagi dalam bulan Ramadan.

Apabila malaikat Jibril menemuinya, maka dia lebih dermawan daripada angin yang berhembus sepoi-sepoi basa.

Siti Khadijah r.a. menceritakan tentang sifat Nabi saw. pada saat ia berbicara kepadanya, “Sesungguhnya engkau adalah orang yang suka menanggung beban penderitaan (orang lain) dan suka berusaha demi orang yang tidak punya.”

Kiranya cukup untuk dijadikan sebagai bukti dalam hal ini apa yang telah dilakukan Rasulullah terhadap orang-orang Hawazin, yaitu tentang pengembalian para tawanan mereka. Apa yang telah dilakukannya ketika membagi-bagi ghanimah, ketika ia memberikan bagian yang besar kepada Orang-orang yang hatinya dilunakkan untuk masuk Islam. Hal ini telah kami bahas secara rinci. Pada suatu hari disuguhkan kepada Rasulullah saw. uang logam sebanyak sembilan puluh ribu keping, lalu ia langsung membagi-bagikannya dan ia baru pergi setelah semuanya habis terbagikan, Pada suatu hari datang menghadap seorang lelaki. Lelaki itu meminta sesuatu kepadanya. Ia menjawab, “Aku sedang tidak mempunyai sesuatu pun yang dapat aku berikan kepada engkau, tetapi jangan khawatir, aku anggap hal ini sebagai hutangku kepada engkau. Nanti, bila aku mendapat sesuatu, akan kubayarkan kepada engkau.

Sahabat ‘Umar r.a. berkata, “Wahai Rasulullah, Allah tidak membebankan kepada engkau hal-hal yang di luar kemampuan engkau.” Hal itu membuat Rasulullah saw. tidak senang, tetapi tiba-tiba seorang lelaki dari kalangan sahabat Anshar berkata, “Wahai Rasulullah, ber-infak-lah, janganlah engkau takut dikurangi oleh Zat yang menguasai ‘arasy (Allah).” Perkataan itu membuat wajah Rasulullah saw. berseri, lalu ia berkata “Memang demikianlah aku diperintahkan.”

Berita-berita yang menceritakan kedermawanan dan kemurahannya memang cukup banyak. Kami cukupkan hal ini dengan pembahasan tadi sebagai bukti supaya diketahui.

Rasulullah saw. telah banyak mengikuti keadaan yang amat sulit dalam peperangan. Pada saat itu semua orang kuat dan para pendekar perang sering sekali lari meninggalkan Rasulullah saw. Akan tetapi Rasulullah saw. tetap teguh bertahan menghadapi musuh dan tidak lari serta tidak goyah dari posisinya dalam berbagai peperangan. Tiada seorang pun yang dibilang pemberani yang tidak pernah terpukul mundur dan tidak pernah melarikan diri kecuali Rasulullah saw.

Kiranya cukup untuk dijadikan bukti apa yang telah dilakukan Rasulullah saw. dalam Perang Hunain dan Perang Uhud seperti yang telah kami jelaskan di muka. Dalam hal ini Sahabat ‘Abdullah ibnu ‘Umar r.a. menceritakan, “Aku belum pernah melihat seseorang yang lebih berani, lebih suka menolong, dan lebih rela daripada Rasulullah saw.”

Sahabat ‘Ali r.a. menceritakan pula, “Sesungguhnya, apabila keadaan sangat kritis dalam suatu peperangan dan suasana peperangan sedang berkecamuk dengan hebatnya, kami berlindung di belakang Rasulullah. Pada saat itu tiada seorang pun dari kaum Muslimin yang lebih dekat kepada musuh daripada Rasulullah. Aku telah menyaksikan dalam Perang Badar, kami semua berlindung di belakang Rasulullah saw. Dia adalah orang yang paling dekat dengan musuh di antara kami, dan pada saat itu dia adalah orang yang paling hebat dalam peperangan.” Sahabat Anas dalam hal ini menceritakan bahwa Rasulullab saw. adalah orang yang paling berani, paling baik, dan paling dermawan.

Pada suatu hari penduduk kota Madinah dilanda prahara. Pada saat itu hari telah malam. Semua orang berangkat menuju ke arah sumber suara yang gemuruh itu seraya membawa senjata masing-masing. Akan tetapi, mereka bersua dengan Rasulullah saw. yang baru saja kembali dari sumber suara tersebut. Ternyata dia telah mendahului mereka. Pada saat itu Rasulullah saw. menaiki kuda milik Abu Thalhah yang tidak berpelana, sedangkan pedangnya tergantung di leher kuda. Lalu Rasulullah saw. menenangkan mereka dengan berkata, “Kalian tidak usah takut, tidak ada apa-apa.”

Mengenai sifat malu dan merundukkan pandangan mata, Rasulullah saw. adalah orang yang paling pemalu dan paling merundukkan pandangan mata terhadap aurat. Sahabat Abu Sa’id alKhudri sehubungan dengan hal ini telah menceritakan, “Rasulullah saw. adalah orang yang lebih pemalu daripada gadis pingitan. Bilamana ia tidak menyukai sesuatu, hal itu dapat kami ketahui melalui roman mukanya, dan dia adalah orang yang lemah lembut lagi ramah-tamah. Dia belum pernah memperlihatkan kepada seseorang hal-hal yang tidak disukainya karena kemuliaan jiwanya dan karena malu.”

Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw., apabila mendengar berita tentang seseorang yang tidak disukainya, tidak mengatakan mengapa si Fulan berlaku demikian dan demikian. Akan tetapi, yang Dikatakannya adalah, apakah gerangan yang telah dilakukan atau yang telah dikatakan oleh kaum hingga ia berani melakukan atau mengatakan demikian. Kala itu ia tidak menyebutkan pelakunya secara tertentu tetapi memakai ungkapan yang bersifat menyeluruh dengan maksud melarangnya.

Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan pula bahwa Rasulullah saw. tidak pernah berkata buruk dan tidak pernah memburuk-burukkan orang lain. Ia tidak pernah berkata gaduh di pasar-pasar yang dilaluinya, dan tidak pernah membalas perbuatan buruk dengan perbuatan buruk yang lainnya. Dia adalah pemaaf dan mengampuni orang yang berlaku buruk terhadapnya.

 

(Bersambung …. )

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077