Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
2 April 2026

Terjemah Nurul Yaqin: Budi Pekerti Rasulullah (6)

Kam, 2 April 2026 Dibaca 182x

Related Post: Terjemah Nurul Yaqin: Budi Pekerti Rasulullah (5)

IMMIMPANGKEP – Mengenai keadilan, sifat amanah, memelihara kehormatan dan jujur di dalam berkata, Rasulullah saw. adalah orang yang paling jujur katakatanya sejak semula. Hal ini diakui oleh musuh-musuhnya dan oleh orang-orang yang menentangnya sekalipun. Sebelum diangkat menjadi nabi, ia dijuluki Al-Amin (Orang yang Dipercaya). Hal ini telah kami jelaskan secara rinci dalam pembahasan perjalanan hidupnya sebelum masa kenabian.

Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa tangan Rasulullah saw. belum pernah menyentuh tangan wanita lain yang kebebasannya tidak dimilikinya. Abul ‘Abbas al-Mubarrad mengatakan bahwa Kisra (raja Persia) membagi hari-harinya menjadi beberapa bagian, yaitu hari bertiup angin kencang digunakannya untuk tidur, hari mendung digunakannya untuk berburu, hari hujan digunakannya untuk bermain dan minum-minum, dan hari matahari cerah digunakannya untuk keperluan-keperluan. Akan tetapi, Nabi kita membagi siang harinya menjadi tiga bagian, yaitu satu bagian untuk Allah swt., satu bagian lagi untuk keluarganya, sedangkan satu bagian yang lain untuk dirinya sendiri. Kemudian Rasulullah saw. membagibagikan waktu bagi dirinya untuk keperluan menghadapi orang-orang.

Rasulullah saw. selalu meminta tolong kepada orang-orang khusus untuk menyampaikan pesannya kepada orang-orang awam. Untuk itu ia berkata, “Sampaikanlah oleh kalian hal yang diperlukan oleh orang-orang yang tidak sempat mendatangiku karena sesungguhnya barang siapa yang menyampaikannya kepada orang yang tidak mampu hadir, niscaya Allah akan memelihara dirinya pada hari kiamat nanti.” Rasulullah saw. belum pernah menghukum seseorang oleh sebab kesalahan atau dosa yang telah dilakukan oleh orang lain sebagaimana ia pun belum pernah pula mempercayai seseorang yang menjelek-jelekkan orang lain di hadapannya.

Mengenai keanggunan, keagungan, ketenangan, harga diri, dan petunjuk yang baik ia terkenal sebagai orang yang paling diagungkan di dalam majelisnya sehingga di dalam majelis selalu tenang dan khidmat. Bilamana ia duduk, posisi yang diambilnya selalu dalam ber-ihtiba sehingga kebanyakan posisi duduknya ber-ihtiba.

Rasulullah saw. adalah orang yang banyak diam. Ia tidak pernah berbicara tanpa ada keperluan yang penting, dan tidak pernah meladeni orang yang berbicara kurang baik. Perkataannya tegas, tidak bertele-tele, dan tidak pernah melantur. Para sahabat ikut tertawa manakala melihat dia tersenyum karena menghargainya dan mengikuti jejaknya. Majelis tempat duduk Rasulullah adalah majelis yang penuh dengan rasa santun, rasa malu, penuh dengan kebaikan dan rasa amanah. Di dalam majelis Rasulullah belum pernah ada suara bernada tinggi dan belum pernah hal-hal yang haram dikatakan. Bilamana Nabi saw. sedang berbicara, teman-temannya duduk merundukan kepalanya karena mendengarkan pembicaraannya, seolah-olah di atas kepala mereka ada burung.

Ibnu Abu Halah mengatakan bahwa diamnya Rasulullah saw. itu karena empat perkara, yaitu sabar, waspada, hormat, dan berpikir. Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan bahwa bilamana Rasulullah saw. berbicara jika ada seseorang yang menghitungnya, niscaya ia akan dapat menghitungnya. Rasulullah saw. adalah orang yang suka memakai wewangian yang baik, dan ia sering sekali memakainya serta menganjurkan orang-orang supaya memakainya.

Di antara hal-hal yang menunjukkan harga diri Rasulullah saw. ialah bahwa ia mencegah seseorang meniup makanan dan minuman, memerintahkan orang untuk memakan makanan yang ada di hadapannya, dan memerintahkan orang supaya selalu bersiwak dan membersihkan celahcelah jari tangan dan kaki, baik bagian luar maupun bagian dalamnya.

Mengenai kezuhudannya terhadap masalah duniawi, dalam pembahasan yang lalu telah kami kemukakan secara rinci. Kiranya yang cukup dijadikan bukti yang menunjukkan kezuhudan Rasulullah saw. terhadap perkara duniawi dan berpalingnya dari kegemerlapan duniawi ialah ketika dia meninggal dunia, baju besinya dalam keadaan tergadai pada seorang Yahudi demi menafkahi keluarganya. Padahal banyak ghanimah yang mengalir kepadanya dan banyak pula negeri yang dibukanya. Rasulullah saw. selalu berdoa: Ya Allah, jadikanlah rezeki keluarga Muhammad berupa makanan pokok.

Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw. belum pernah mengalami kekenyangan karena makan roti selama tiga hari berturut-turut hingga dia wafat. Siti Aisyah r.a. menceritakan pula bahwa Rasulullah saw. sewaktu wafat tidak meninggalkan dinar, atau dirham, atau kambing, atau unta. Ternyata di dalam rumahnya tiada sesuatu pun yang dapat dimakan oleh makhluk yang hidup, selain sekerat roti kering yang tersimpan di dalam lemari makanannya.

Rasulullah saw. berkata, “Sesungguhnya aku pernah ditawari agar tanah Makkah dijadikan untukku penuh dengan emas. Aku berkata, “Wahai Rabb, jangan Engkau jadikan hal itu. Aku ingin agar sehari merasa lapar dan sehari yang lain merasa kenyang. Adapun mengenai hari ketika aku merasakan lapar akan kugunakan untuk merendahkan diri dan berdoa kepada-Mu. Adapun hari ketika aku merasakan kenyang akan kugunakan untuk memuji dan menyanjung-Mu.”

Kemudian Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan, “Sesungguhnya kami keluarga Muhammad pernah selama satu bulan tidak pernah menyalakan api aapur walau hanya sekali. Makanan kami kala itu hanyalah kurma dan air. “Sahabat Anas ibnu Malik r.a. menceritakan pula bahwa Rasulullah saw. belum pernah makan pada tabsi atau piring besar, belum pernah memakan roti bersama sop, dan sama sekali belum pernah pula memakan daging kambing yang dipanggang.

Dalam sebuah hadiTs yang diriwayatkan oleh Siti ‘Aisyah r.a. disebutkan, “Kasur tempat tidur Rasulullah saw. di dalam rumahnya terbuat dari kain bulu yang tebal. Kami lipat menjadi dua lipatan, kemudian Rasulullah saw. tidur di atasnya. Pada suatu malam kami melipatnya menjadi empat lipat, dan pada keesokan harinya dia bertanya, “Apakah yang telah kalian lakukan terhadap tilam tidurku?” Kemudian kami menjelaskan kepadanya apa yang telah kami lakukan. Lalu ia berkata, ‘Kembalikanlah tilam itu kepada posisinya semula (dua kali lipat) karena sesungguhnya keempukannya membuat aku lupa akan salat sunnahku.”

Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan pula “Perut Rasulullah saw. belum pernah penuh karena kekenyangan makan, dan dia belum pernah mengeluh kepada siapa pun karena lapar. Kemiskinan lebih dicintainya daripada kekayaan. Sekalipun ia tetap dalam keadaan lapar semalam suntuk, hal itu tidak dapat mencegahnya melakukan shaum pada keesokan harinya. Seandainya mau, dia dapat meminta kepada Rabb-nya semua perbendaharaan bumi, buah-buahannya, dan semua kemewahan hidup yang terdapat di muka bumi. Sungguh aku telah menangisinya karena terdorong oleh rasa belas kasihan ketika melihat keadaannya. Seraya kuelus-elus perutnya yang kosong itu, aku berkata kepadanya. “Diriku ini menjadi tebusan engkau. Mengapa engkau tidak mencari bekal duniawi untuk engkau jadikan sebagai bekal makan?

Kala itu Rasulullah saw. menjawab, ‘Hai ‘Aisyah, aku tidak ada urusan dengan masalah duniawi, sedangkan Saudara-saudaraku para rasul yang termasuk ke dalam Ulul-‘Azmi tetap bersabar dalam menghadapi hal-hal yang lebih berat daripada ini. Sekalipun demikian, mereka tetap menunaikan risalahnya dalam keadaan demikian hingga mereka menghadap kepada Rabb mereka, lalu Rabb memuliakan tempat kembali mereka dan memberikan kepada mereka pahala yang agung. Aku merasa sangat malu terhadap mereka bilamana aku hidup dalam keadaan mewah sehingga aku merasa khawatir kelak kedudukanku berada di bawah mereka. Tiada sesuatu pun yang lebih aku cintai kecuali menyusul saudara-saudara dan kekasihkekasihku.” Selan. jutnya Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan, peristiwa itu terjadi satu bulan menjelang wafatnya. Semoga shalawat dan salam-Nya tercurahkan kepadanya.”

Rasa takut dan taatnya kepada Allah swt. serta kegetolannya dalam beribadah, sesuai dengan tingkat pengetahuannya. Oleh sebab itu, Rasulullah saw. pernah berkata, “Seandainya kalian mengetahui apa yang telah aku ketahui, niscaya kalian hanya sedikit tertawa dan banyak menangis. Aku dapat melihat hal-hal yang tidak dapat kalian lihat, atau aku dapat mendengar hal-hal yang tidak dapat kalian dengar. Langit ini telah bersuara karena keberatan, dan memang ia berhak untuk bersuara karena tiada suatu tempat pun, biar sekadar empat jari, di mana tidak ada malaikat yang meletakkan jidatnya karena bersujud kepada Allah swt. Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang telah aku ketahui, niscaya kalian akan tertawa sedikit dan banyak menangis. Kalian niscaya tidak akan dapat bersenang-senang dengan istri-istri kalian di atas tempat tidur kalian, dan niscaya kalian akan keluar ke tempat-tempat yang tinggi lalu kalian meminta tolong kepada Allah swt. Sungguh aku menginginkan sekali diriku ini menjadi sebuah pohon yang dicabut.

Rasulullah saw. selalu melakukan salat sehingga kedua telapak kakinya bengkak-bengkak. Lalu ada yang bertanya kepadanya, “Mengapa engkau paksakan hal ini terhadap diri engkau sedangkan Allah telah mengampuni dosa-dosa engkau yang terdahulu dan yang kemudian?” Kala itu Rasulullah saw. menjawab: Bukankah aku ini seorang hamba yang banyak bersyukur?

Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan pula, “Amal ibadah Rasulullah saw. itu bersifat terus menerus. Siapakah di antara kalian yang mampu melakukan seperti apa yang telah dilakukannya?” Siti ‘Aisyah r.a. menceritakan pula, “Rasulullah saw. selaluber-shaum sehingga kami mengatakan ia tidak pernah berbuka (tidak shaum), dan dia selalu berbuka sehingga kami mengatakan ia tidak pernah ber-shaum.”

‘Auf ibnu Malik menceritakan, “Pada suatu malam kami bersamasama dengan Rasulullah saw. Kemudian dia bersiwak lalu melakukan wudu. Setelah itu dia berdiri untuk salat. Kami pun ikut berdiri pula bermakmum kepadanya. Dalam salatnya itu Rasulullah saw. mulai dengan bacaan surah Al-Bagarah. Dia tidak pernah melewati ayat rahmat tanpa berhenti lalu berdoa, dan tidak pernah melewati ayat ‘Adzab tanpa berhenti lalu meminta perlindungan kepada Allah. Kemudian Rasulullah saw. rukuk dan diam di dalam rukuknya sama lamanya dengan ketika dia berdiri. Lalu dia berdoa: Maha Suci Zat Yang memiliki keperkasaan, kerajaan yang agung, kebesaran dan keagungan.

Setelah itu Nabi saw. bersujud dan mengucapkan doa yang serupa dengan ketika ia sedang melakukan rukuk. Selanjutnya dia membacakan surah Ali Imran dan surah-surah lain pada rakaat berikutnya, dan ia melakukan pula hal yang serupa dengan apa yang telah dilakukannya pada rakaat pertama.”

Di antara para sahabat ada yang menceritakan, “Aku datang menemui Rasulullah saw. yang pada waktu itu sedang melakukan salat. Dari dalam perutnya terdengar suara bagaikan suara air mendidih di dalam panci.”

Abu Halah menceritakan sehubungan dengan sifat-sifat Rasulullah saw. bahwa ia adalah orang yang terus-menerus merasa susah dan selalu berpikir tanpa istirahat. Sahabat ‘Ali r.a. menceritakan, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw. tentang sunnah (kebiasaan)nya Dia menjawab:

Makrifah adalah modalku, akal adalah pokok agamaku, cinta adalah dasarku, rindu adalah kendaraanku, dzikrullah (ingat kepada Allah) adalah hiburanku, percaya diri adalah simpananku, susah adalah temanku, ilmu adalah senjataku, sabar adalah pakaianku, rida adalah ghanimah-ku, tidak mampu adalah kebanggaanku, zuhud (menjauhi keduniawian) adalah pekerjaanku, keyakinan adalah kekuatanku, kejujuran adalah pandangaku, taat adalah kecukupanku, jihad adalah akhlakku, kesenanganku berada di dalam salat, dan buah hatiku adalah sewaktu berzikir kepada-Nya, dan kesusahanku adalah demi umatku, serta kerinduanku hanya kepada Rabb-ku.

Semoga Allah membalas Nabi-Nya dengan balasan yang baik dari umatnya, semoga Allah mengasihi seorang hamba yang mau memperhatikan akhlak-akhlak yang mulia serta sifat-sifat yang indah ini, kemudian ia berpegang teguh kepadanya dan mengikutinya jejak Rasulullah saw. supaya ia mendapat syafaatnya kelak pada hari kiamat dan mendapat keridaan-Nya. Ya Allah, kami memohon taufik kepada-Mu yang di dalamnya terkandung kebaikan sebagai berkah dari karunia dan kemurahan-Mu, wahai Yang Maha Pemurah di antara orang-orang yang pemurah. (*)

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077