Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
3 April 2026

Terjemah Nurul Yaqin: Mukjizat – Mukjizat Rasulullah SAW (1)

Jum, 3 April 2026 Dibaca 137x

Related Post: Mengenal Kitab Nurul Yaqin fi Sirah Sayyidil Mursalin

IMMIMPANGKEP – Bilamana seseorang mau memperhatikan pembahasan yang telah kami kemukakan di muka, yaitu sehubungan dengan perjalanan hidup Rasul yang mulia ini, jejak-jajaknya yang terpuji, keunggulan ilmunya, kecemerlangan akalnya, sifat penyantunnya, semua kesempurnaan kemanusiaannya, semua akhlaknya, tingkah lakunya, dan kebenaran ucapannya, niscaya tidak akan diragukan lagi keabsahan kenabiannya dan kebenaran dakwahnya.  Hal ini telah cukup disaksikan oleh seseorang yang tidak diragukan keislaman dan keimanannya seperti ‘Abdullah ibnu Sallam. Ia menceritakan, “Ketika Nabi saw. datang ke Madinah, aku datang kepadanya untuk melihat keadaan yang sebenarnya. Ketika kulihat wajahnya, tampak jelas bagiku, bahwa bukanlah wajah orang yang suka berdusta.”

Imam Muslim meriwayatkan pula bahwa tatkala Dhamad datang menghadap Rasulullah saw. sebagai utusan dari kaumnya, Rasulullah berkata: Sesungguhnya segala puji hanyalah bagi Allah. Kami memuji dan meminta pertolongan kepada-Nya. Barang siapa telah diberi petunjuk oleh Allah, niscaya tiada seorang pun yang dapat menyesatkannya.

Barang siapa telah diberi menyesatkan-Nya, niscaya tiada seorang pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. Aku telah bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.

Pada saat itu juga Dhamad berkata kepadanya, “Ulangi lagi kepadaku perkataan engkau tadi. Sungguh kalimat-kalimat itu telah mencapai perbendaharaan kata yang amat luas. Berikanlah tangan engkau, aku akan berbai’at kepada engkau.”

Ketika sampai ke telinga raja ‘Amman bahwa Rasulullah telah menyeru dirinya untuk masuk Islam, ia berkata, “Demi Allah, sungguh Nabi yang ummi ini telah memberi petunjuk kepadaku. Tiada sekali-kali ia memerintahkan kepada kebaikan kecuali jika dia orang yang pertama kali meneladaninya. Tidak sekali-kali ia melarang sesuatu kecuali jika ia orang yang pertama kali menjauhinya. Dia selalu menang, tetapi tidak sombong. Bila menang ia tidak gaduh. Dia selalu setia kepada janjinya dan selalu melaksanakan apa yang telah dijanjikannya. Aku bersaksi bahwa dia adalah nabi.”

Ibnu Rawwahah dalam salah satu bait syairnya mengatakan: Seandainya di dalam diri Nabi tidak terdapat tanda-tanda yang jelas (mengenai kenabiannya), niscaya penampilannya akan memberikan kesan kepadamu sebagai orang yang berwibawa.

Terlebih lagi Allah swt. telah menampakkan melalui tangannya berbagai macam mukjizat sebagai pembenaran atas kenabiannya. Mukjizat yang memancar dari dirinya tak terhitung banyaknya. Hal ini membuat dirinya nabi yang paling banyak mukjizatnya dan paling jelas bukti-buktinya. Dalam pasal ini insya Allah akan kami ketengahkan mukjizat-mukjizat Rasulullah yang dapat membuat hati pembaca puas serta menambah keyakinan. Mukjizat-mukjizat tersebut berdasarkan periwayatan yang telah diketengahkan oleh sebagian besar sahabat dan telah diakui kebenarannya oleh para ahli hadis. Berikut ini kami mulai dengan mengetengahkan mukjizat yang paling terkenal dan paling jelas keterangannya, yaitu mukjizat Al-Quran.

Perlu untuk diketahui bahwa Kitabullah itu mengandung cukup banyak mukjizat. Hal ini dapat disimpulkan ke dalam empat kategori seperti penjelasan berikut ini: Pertama: Al-Qur’an memiliki metode yang baik, kalimat-kalimatnya membentuk perpaduan yang serasi, dan kefasihan bahasa serta keringkasan ibaratnya dan paramasastranya benar-benar berbeda dengan kebiasaan yang berlaku di kalangan orang Arab. Karena mereka adalah orang-orang yang ahli dalam bidang ini dan sebagai jago-jago berbicara, mereka memiliki keahlian dalam bidang berparamasastra dan menguntai kata-kata bijak yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa yang lain. Mereka dianugerahi kefasihan lisan yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan ketajaman pidato mereka dapat memikat hati pendengarnya. Hal ini telah dijadikan oleh Allah swt. di dalam diri mereka sebagai pembawaan dan watak yang sudah menyatu secara alami.

Di dalam diri mereka hal ini telah terbentuk secara naluriah lagi sangat kuat pengaruhnya. Mereka dengan mudah dapat menciptakan ungkapan yang menakjubkan, dan ungkapan itu mereka pakai di dalam setiap kebutuhan. Mereka dapat berpidato secara naluriah dalam berbagai munasabah dan keadaan yang genting. Mereka dapat mengumandangkan keahliannya dalam bersyair sewaktu mereka sedang berperang. Melalui keahliannya ini mereka dapat mendiskreditkan seseorang, meminta perantara, mengangkat atau merendahkan seseorang, dengan demikian mereka mampu mendatangkan ungkapan yang sangat memukau yang pengaruhnya bagaikan sihir.

Ungkapan-ungkapan mereka lebih indah daripada untaian mutiara, dan dapat membuat hati terpesona karenanya, semua hambatan dan kesulitan dapat dimudahkan, dan semua malapetaka serta ujian dapat disingkirkan. Melalui keahlian mereka di dalam berparamasastra, mereka dapat membuat orang yang pemberani menjadi pengecut, orang yang pengecut menjadi pemberani, orang yang mempunyai kekurangan menjadi tampak Sempurna, dan orang yang terkenal menjadi tidak terkenal.

Di antara mereka ada yang dibesarkan di kalangan Badui (perkampungan) yang memili ki ciri khas perbendaharaan yang luas, kalimat yang tegas, gaya bahasanya cukup anggun, memiliki bakat yang cemerlang dan kecenderungan yang kuat dalam bidang ini. Di antara mereka ada yang dibesarkan di lingkungan hadhar (perkotaan) yang memiliki ciri khas berupa kelihaian dalam berparamasastra, mempunyai lafazh yang cemerlang dan kalimat-kalimat yang bersifat umum serta memiliki ungkapan yang mudah dicerna, dan pandai dalam menguntai kata-kata yang tidak dipaksakan, tetapi sangat indah dan lembut didengar.

Dalam kedua lingkungan tersebut dalam hal paramasastra mereka mempunyai hujjah yang tegas dan kekuatan yang dapat mematahkan, serta pengaruh yang sangat dominan dalam mematahkan hujjah lawan dan menggerakkan potensi. Mereka tidak meragukan lagi bahwa ilmu berbicara tunduk di bawah pengaruh mereka dan berparamasastra sudah menjadi bakat mereka. Mereka telah berhasil mencakup semua jenisnya, menguasai semua sumbernya, memasuki semua pintunya, dan mereka dapat menguasai menaranya untuk mencapai tujuannya. Mereka dapat mengungkapkan semua peristiwa yang besar dan yang kecil sebagaimana mereka pun ahli pula dalam mengungkapkan hal-hal yang jelek.

Mereka pun pandai menguntai kata-kata dalam hal yang sedikit atau yang banyak sebagaimana mereka pun ahli dalam menguntai kata-kata berupa syair maupun kalam biasa, tetapi mereka sama sekali tidak takut selain terhadap Rasulullah bersama Kitabullah yang tidak mengandung kebatilan, baik dari hadapan maupun dari belakangnya, dan ia diturunkan oleh Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. Ayat-ayatnya disusun secara rapi, kalimat-kalimatnya sangat jelas, paramasastranya memukau semua akal, dan kefasihan bahasanya melampaui semua yang telah dikatakan. Keringkasan bahasanya dan kemukjizatannya telah terpadu di dalamnya, dan hakikat serta majasnya tampak menonjol di dalamnya. Permulaan-permulaannya sangat langka keindahannya, dan keglobalan keglobalan serta keindahannya mencakup semua kejelasan. Kepadatannya seimbang dengan keindahan susunan kalimatnya serta lafaz-nyayang pilihan itu sangat sesuai dengan faedahnya yang banyak.

Padahal mereka (orang-orang Arab) memiliki pengetahuan yang sangat luas sekali dalam hal ini, mereka sangat terkenal ahli di dalam berkhotbah dan perbendaharaan syair serta sajak mereka sangat luas. Mereka sangat pandai dalam menguntai kata-kata yang beristilah. Sekalipun demikian, Al-Quran jauh lebih unggul dari mereka. Ia berbicara dan menyanggah mereka setiap saat dan mengingatkan mereka selama dua puluh tahun lebih sebagaimana yang telah dijelaskan oleh firman-Nya:

Atau (patutkah) mereka mengatakan, “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah,” Kalau benar yang kalian katakan itu) maka cobalah datangkan sebuah surat seperti itu dan panggillah siapa yang dapat kalian panggil (untuk membuatnya) selain Allah jika kalian orangorang yang benar. (Q.S. 10 Yunus: 38)

Dan jika kalian (tetap) dalam keraguan tentang Al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) semacam Al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolong kalian selain Allah jika kalian orang-orang yang memang benar. (Q.S. 2 Al-Bagarah: 23)

Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa dengan Al-Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya sekalipun sebagian dari mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.” (Q.5. 17 AlIsra: 88).

Katakanlah, “(Kalau demikian) datangkanlah sepuluh surat yang dibuat-buat yang menyamainya.” (Q.S. 11 Hud: 13)

Al-Qur’an masih tetap mengingatkan mereka dengan peringatan yang keras mencela mereka dengan celaan yang keras, membodoh-bodohkan orang-orang bijak mereka, merendahkan orang-orang pandai mereka, memorakperandakan tatanan mereka, mencela tuhan-tuhan dan nenek-moyang mereka, dan menghalalkan tanah serta rumah-rumah dan harta benda milik mereka. Padahal mereka dalam semuanya itu tidak berdaya menantangnya dan tidak mampu mendatangkan hal yang semisal dengannya. Akhirnya mereka menipu diri mereka sendiri melalui pengacauan, pendustaan, dan membangga-banggakan diri sebagai kompensasi bagi ketidakmampuan mereka, yaitu melalui perkataan mereka seperti berikut ini: “Al-Quran itu tiada lain hanyalah sihir yang dibuat-buat. Al-Qur’an adalah sihir yang terus-menerus dan kedustaan yang dibuat-buat serta dongengan-dongengan orang-orang terdahulu.” Mereka rela dengan kerendahan diri mereka sebagaimana yang telah diungkapkan oleh firman-Nya:

Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan, dan antara kami dan kamu ada dinding. (Q.S. 41 Fushshilat: 65)

Allah swt. telah berfirman yang menceritakan perkataan mereka: Janganlah kalian mendengarkan dengan sungguh-sungguh Al-Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya. (Q.S. 41 Fushshilat: 28)

Mereka hanya mengaku-aku saja, padahal kenyataannya mereka sama sekali tidak mampu menandinginya sebagaimana yang telah diceritakan dalam firman-Nya: Seandainya kami suka, niscaya kami dapat mengatakan hal yang serupa dengannya (Al-Guran). (Q.5. 8 Al-Anfal: 31)

Kemudian Allah swt. menyanggah perkataan mereka itu melalui firmanNya: Kalian tidak akan dapat melakukannya. (Q.5. 2 Al-Bagarah: 24)

Mereka sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak akan mampu. Orang yang tolol dari kalangan mereka, yang berani melakukan hal itu, justru membuka keaiban dirinya di mata semua orang seperti apa yang telah dilakukan oleh Musailamah al-Kadzdzab.

Allah swt. telah mencabut kefasihan berbicara yang telah menjadi kebiasaan mereka. Bilamana tidak demikian, niscaya orang-orang yang ahli dari kalangan mereka tidak akan menilai bahwa Al-Quran itu bukan termasuk jenis kefasihan mereka dan bukan paramasastra mereka. Bahkan mereka akan melarikan diri daripadanya, tetapi kenyataannya mereka mau mendatanginya dalam keadaan tunduk bilamana memikirkan firman Allah swt. berikut ini:

Dan dalam gishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian. (Q.S. 2 Al-Bagarah: 179)

Dan (alangkah hebatnya) jika kamu melihat ketika mereka (orang-orang kafir) terperanjat ketakutan (pada hari kiamat). Mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka). (Q.S. 34 Saba: 51)

Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang diantara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Q.S. 41 Fushshilat: 34)

Dan difirmankan, “Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera itu pun berlabuh di atas vukit Judi, dan dikatakan, “Binasalah orang-orang yang zalim.” (Q.S. 11 Hud: 44).

Maka masing-masing (merera itu) Kami siksa karena dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Q.5. 29 Al-Ankabut: 40)

Ayat-ayat lainnya yang serupa, bahkan sebagian besar dari AlGuran, niscaya akan dapat membuktikan apa yang telah kami jelaskan di muka tadi, yaitu berkenaan dengan keringkasan lafazh Al-Qur’an, kepadatan maknanya, keindahan ungkapannya, dan keindahan susunan huruf serta keserasiannya. Sesungguhnya di balik setiap lafazh-nya terkandung pengertian yang cukup panjang sehingga berpasal-pasal dan menjadi berbagai macam disiplin ilmu yang kini telah memenuhi kitab-kitab sebagai kesimpulan dari ayat yang dikandungnya.

 

(Bersambung …. )

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077