Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin – Djuz 3 (7): Adab Kunjungan Takziyah dan Adab Orang yang Mengalami Musibah

Terjemah Kitab Akhlaq Lil Banin – Djuz 3 (7): Adab Kunjungan Takziyah dan Adab Orang yang Mengalami Musibah

BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 3 yang diperuntukkan bagi Laki-laki (Remaja Putra pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

9. Adab Kunjungan Takziyah

1. Apabila engkau mendengar kematian seseorang disun- nahkan bagimu mengucapkan : “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un wa innaa ilaa robbinaa lamungalibuun. Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali, dan sesungguhnya kami kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, tulislah dia di sisi-Mu dalam golongan orang-orang yang berbuat baik dan sampaikan buku catatannya di “Illiyyin dan gantilah dia dalam keluarganya di antara orang-orang yang hidup.  Jangan Engkau haramkan pahalanya bagi kami dan jangan ttmbulkan fitnah pada kami sesudah ia tidak ada.”

Kemudian pergilah kepada keluarganya untuk bertakziyah kepada mereka dengan meringankan kesedihan mereka dan menghibur mereka atas musibah mereka serta menceritakan kepada mereka adanya pahala yang banyak atas kesabaran itu dan melarang mereka berkeluh kesah yang menghilangkan pahala dan menyebabkan dosa. Engkau katakan kepadanya : “Semoga Allah membesarkan pahalamu dan membeni kesabaran yang baik atas apa yang menimpamu serta mengampuni dosa orang yang telah meninggal darimu. Bagi Allah apa yang diambilNya dan bagi-Nya apa yang diberikan-Nya segala sesuatu di sis-Nya mempunyai masa tertentu.”

Demikianlah dunia ini dan inilah kesudahan setiap makhluk hidup “Setiap jiwa itu akan merasakan kematian.” (Ali Imran: 185). Dalam hadits : “Tidaklah seorang mukmin menghibur saudaranya atas musibahnya, melainkan Allah azza wa jalla memakaikan padanya pakaian kemuliaan di hari kiamat.”

2. Hendaklah engkau ikut serta dengan keluarga si mayit dalam merasakan kesedihan mereka. Maka jangan menampakkan kegembiraan di hadapan mereka dengan memakai pakaian yang mewah atau tertawa atau tersenyum atau bergurau dengan orang lain dan tidak banyak berbicara atau berbicara tentang keadaan orang yang wafat selama hal itu tdak dimula: »leh keluarga dan para kerabatnya. Ketika itu pujilah dia dan sebutiah kebaikan-kebaikan perbuatannya. Janganlah engkau menyebut sesuatu keburukannya. Nabi SAW. telah bersabda : “Sebutlah kebaikan-kebaikan orang mati di antara kamu dan jangan menyebut keburukan-keburukan mereka.” Dianjurkan melakukan takziyah sebelum penguburan dan sesudahnya dan dihukum makruh sesudah tiga han, karena memperbarui kesedihan. Kecuali bila pelaku takziyah atau orang yang menerima takziyah tidak ada, maka takziyah itu berlangsung hingga ia datang.

3. Hendaklah engkau membantu keluarga mayit sesuai kemampuanmu dan berusaha menghadiri shalat atas mayit dan mengantarkan jenazahnya, karena hal itu termasuk hakhak sesama kaum muslimin di samping mempunyai keutamaan yang besar. Dalam hadits: “Barangsiapa menghadiri jenazah hingga disembahyangi, ia mendapat satu girath, dan siapa yang menghadiri hingga dikubur, ia mendapat dua girath. Ada yang mengatakan: apakah dua girath itu ? Beliau menjawab: “seperti dua gunung besar.”

10. Adab Orang yang Mengalami Musibah

1. Apabila seseorang mengalami kematian dari salah seorang kerabatnya atau temannya, maka ia harus bersabar dan tabah. Hendaklah ia mengucapkan: “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala atas musibahku dan gantilah aku dengan yang lebih baik darinya.” Dalam hadits : “Barangsiapa mengucapkan Itu, maka Allah Ta’ala memberinya pahala dalam musibahnya dan mengganti baginya dengan yang lebih baik dari itu.”

Berkata Ummu Salaman r.a. : “Ketika Abu Salamah wafat, akumengucapkan sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah SAW. kepadaku.” Maka Allah Ta’ala mengganti dengan orang yang lebih baik darinya, yaitu Rasulullah SAW. Dalam hadits lain : “Apabila anak hamba Allah meninggal dunia, Allah Ta’ala berfirman kepada para malaikat-Nya, “kalian cabutnyawa anak hamba-Ku?’ mereka menjawab, ‘Ya.’ Allah Ta’ala berfirman, ‘Kalian mencabut nyawa buah hatinya?’ Mereka menjawab, ‘Ya. ‘ Allah Ta’ala berfirman, ‘ Apakata hamba:Ku?’ Mereka menjawab, ‘Dia memuji-Mu dan mohon perlindunganMu dengan mengucapkan :Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: Bangunlah bagi hamba-Ku sebuahrumahdisurgadannamakanlah ia BaitulHamdi (rumah pujian).”

2. Hendaklah ia sangat waspada dari meratapi mayit dengan menyebut kabaikan-kebaikannya disertai tangis dan mengeraskan suara, karena ini menunjukkan bahwa ia tidak ridha kepada keputusan Allah dan takdir-Nya, sedangkan : perbuatan itu adalah haram. Begitu pula menampar pipi, mencakar wajah, merobek pakaian dan memukul dada. Dalam hadits : “Rasulullah SAW. berlepas diri dari wanita yang mengeraskan suaranya dengan meratap dan wanita yang mencukur rambutnya serta merobek bajunya pada waktu terkena musibah.”

Adapun tangis tanpa meratap dan mengeraskan suara, maka tidaklah haram. Dalam hadits: “Ketika Rasulullah SAW., diberitahu tentang kematian anak laki-laki dari putrinya Zainab r.a., berlinanglah air mata beliau. Maka Sa’ad bin Ubadah r.a. berkata kepadanya, ‘Apa gerangan ini ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Iniadalah rahmat yang dijadikan Allah dalam hati para hamba-Nya.’ Sesungguhn ya Allah merahmati hambahamba-Nya yang penyayang.”

 

(Bersambung ….. )

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Mengenal Nadhom Nihayatud Tadrib
Oleh : Immim pangkep

Mengenal Nadhom Nihayatud Tadrib

0 Komentar

KELUAR