Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Mengakrabi Imam Nawawi dan Kitab Riyadhus Shalihin

Mengakrabi Imam Nawawi dan Kitab Riyadhus Shalihin

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

BLOGGURU – Kitab Riyadhush Shalihin adalah satu diantara sekian banyak kitab kuning yang populer dipelajari dan dikaji di Pondok Pesantren dan Perguruan Tinggi Islam. Judul lengkap kitab hadits ini adalah Riyadhus Shalihin  min Kalaami Sayyidil Mursalin, merupakan salah satu karya terbaik (masterpiece) Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawi atau lebih populer dengan sebutan Imam an-Nawawi.  Penulis pertama kali berkenalan dengan kitab yang berarti “Taman Orang-orang Shaleh” ini sejak pertama kali mengenal Ustadz Drs Mustamin, Imam Rawatib Mesjid Ashabul Kahfi dalam lingkungan Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene Pangkep yang juga membawakan pengajian kitab kuning untuk Kitab Riyadhus Shalihin tersebut.

Dengan mengharap taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala, shalawat dan salam senantiasa terkirim untuk baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sungguh agama Islam telah sempurna dan lengkap ajarannya dengan Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber hukumnya, begitu pula ijma ulama’ yang tetap menjadi pusat perhatian pada setiap masa dan tempat sehingga sempurnalah khazanah keilmuan Islam itu. Para ulama dan shalafush Shaleh telah pula menyebar-luaskan khazanah keilmuan tersebut dalam beragam kitab musnad, shihah, sunan dan mu’jam-mu’jam.

Siapa yang tak kenal Imam Nawawi? Nama lengkap beliau adalah Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf an-Nawawy ad-Dimasyqy (631-676 H),  termasuk dalam jajaran ulama besar di Abad ke-7 hijriah.  Di antara karya-karya beliau yang paling terkenal dan tersebar di semua kalangan Umat Islam adalah kitab “Riyadhush Shalihin”. Kitab ini sangat populer dikarenakan paling tidak karena dua hal, yaitu: 

Pertama, isi kandungannya memuat bimbingan hidup,  menumbuhkan jiwa serta melahirkan motivasi beribadah. Ya,  kitab ini umumnya meliputi Targhib dan Tarhib, serta kebutuhan seorang muslim dalam perkara agama, dunia dan akhiratnya. Kitab ini adalah kitab tarbiyah (pembinaan) yang menyentuh spirit kehidupan individual maupun sosial kemasyarakatan dengan uslub (cara pemaparan) yang mudah, jelas, dan praktis.

Materi kitab ini terdiri dari beragam hadits yang dikutip dari  Shahih al-Bukhariy, Muslim, Abu Daud, An Nasaa’i, At Tirmidziy, Ibnu Majah dan lain-lainnya. Imam Nawasi menegaskan bahwa dalam Kitab Riyadhus Shalihin  keseluruhannya hanya memuat hadits-hadits shahih, dan tidak terdapat hadits yang lemah, apalagi palsu.

Kedua, tingginya kedudukan ilmiah Imam Nawawi, menyangkut keluasan ilmu dan kedalaman pemahaman beliau, khususnya dalam bidang fiqh dan sunnah Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kitab Riyadhush Shalihin ini memiliki keistimewaan yang tidak ditemukan dalam  kitab sunnah lainnya, dapat menjadi bekal dan pelita bagi orang yang mengambil petunjuk. Hal inilah yang menjadi sebab mendapatkan kedudukan yang tinggi di kalangan ulama sehingga mereka memberikan syarah, komentar dan mengajarkannya di halaqah ilmu mereka.

Kitab Riyadhus Shalihin ini terdiri dari 17 kitab, 265 bab dan 1897 hadits,  mayoritas babnya menyebut Ayat-ayat Al Quran yang sesuai dengan pembahasan hadits yang ada, lalu membuat tertib dan bab yang saling berhubungan, sehingga kesannya sistematis pada zamannya, sebagaimana diungkapkan dalam Muqaddimah Syarhir Riyadhish Shalihin Karya: Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin dan oleh: Prof. Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath-Thayaar.

Para ulama, kyai dan ustadz, santri serta mahasiswa Islam telah mengambil bagian dari kitab Riyadhus Shalihin ini dengan mempelajari dan mengajarkannya.  Di antara mereka ada yang meringkas atau memberikan penjelasan untuk mendekatkan pemahaman,  ada pula yang meneliti dan mendekatkannya agar mudah dipahami, serta ada pula yang menjelaskannya secara rinci.Ada 4 syarah (ringkasan) kitab Riyadhush Shalihin tersebut, yaitu: Daliilul Faalihiin li Thuruqi Riyaadhish Shaalihiin karya Muhammad bin ‘Allan ash-Shiddiqi asy-Syafi’i al-Asya’ari al-Makki (wafat 1057 H), dan Nuzhatul Muttaqiin Syarh Riyaadhish Shaalihiin karya Mushthafa Sa’id al-Khan, Mushtafa al-Bugha, Muhyiddin Mustu, ‘Ali asy-Syarbaji dan Muhammad Amin Luthfi. Juga, Manhalul Waaridiin Syarh Riyaadhush Shaalihiin karya Shubhi ash-Shalih, dan Daliilur Raaghibiin ilaa Riyaadhush Shaalihiin karya Faruq Hamadah. Semua kitab tersebut merupakan syarah kontemporer. (*) 
Immim pangkep

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR