Selasa, 06 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Kitab Akhlaq lil Banat – Djuz 3 (6): Adab Berkunjung dan Minta Izin, Adab Menjenguk Orang Sakit dan Adab Orang Sakit

Kitab Akhlaq lil Banat – Djuz 3 (6): Adab Berkunjung dan Minta Izin, Adab Menjenguk Orang Sakit dan Adab Orang Sakit

BLOGGURU – Berikut ini terjemah dari Kitab Dasar Akhlaq – Djuz 3, yang diperuntukkan bagi Perempuan (Remaja Putri pada khususnya), yang diajarkan kitabnya pada banyak Pondok Pesantren atau Madrasah setingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah.

Adab Berkunjung dan Minta Izin

1. Wahai putri! patutlah engkau memperhatikan kunjunganmu kepada para kerabatmu, karena hal itu berarti menjalankan silaturrahmi. Di samping itu perhatikan pula untuk mengunjungi teman-teman wanitamu agar tetap terjalin hubungan saling mencinta dengan mereka.

Dalam hadits: “Barangsiapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka dua malaikat menyerunya: Berbahagialah engkau dan amanlah perjalananmu serta akan engkau tempati sebuah rumah di surga nanti.”

2. Hendaklah engkau jalankan adab-adab dalam berkunjung sebagaimana berikut ini, yaitu: Hendaklah engkau minta izin terlebih dahulu sebelum masuk, dengan berdiri di depan pintu luar rumah, supaya tidak melihat orang yang ada di dalamnya. Dalam hadits dikatakan: “Sesungguhnya minta izin itu diharuskan, demi menjaga pandangan.”

Disunnahkan bagimu untuk memberi salam, kemudian meminta izin dengan berkata, ” Assalamu’alaikum, bolehkah saya masuk?” Apabila pintu telah terbuka, maka menghadaplah ke sisi kanan atau kiri. Disebutkan dalam hadits: “Adalah Rasulullah SAW. apabila beliau mendatangi pintu rumah seseorang tidaklah beliau menghadap pintu dari depannya, tetapi dari sisi kanan atau kirinya. Kemudian beliau mengatakan: Assalamu’alaikum, Assalamu’alaikum.” Hal itu disebabkan rumah-rumah pada waktu itu tidak memakai tabir/tirai.

3. Bilamana pintunya tertutup, maka ketuklah dengan pelan. Jika ada bel, maka bunyikanlah tanpa mengejutkan dan ‘ tanpa keras-keras. Allah telah mengajari kita adab-adab untuk minta izin, yaitu dalam firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu selalu ingat. Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin” (An-Nuur: 27, 28).

4. Minta izin itu bisa dilakukan sampai tiga kali. Dalam hadits disebutkan: “Apabila seseorang dari kamu minta izin sampai tiga kali sedang ia tidak diberi izin, maka hendaklah ia pulang.”

Jika dikatakan kepadamu: siapa kamu? atau siapa yang di pintu? maka jawablah dengan menegaskan namamu. Jangan menjawab: saya, atau temanmu, dan yang semacam itu. Kecuali apabila pemilik rumah sudah mengenal suaramu, maka tidaklah mengapa kalau begitu.

Dalam hadits Mi’raj disebutkan : Ketika Jibril minta dibukakan pintu langit, dikatakan kepadanya,” Siapa ini?” Jibril menjawab, “Jibril.”

Sahabat Jabir r.a. berkata: Suatu ketika aku mendatangi Nabi SAW., lalu kuketuk pintu. Nabi SAW. berkata, “Siapa ini?” Aku menjawab, “Aku.” Maka Nabi SAW. berkata, “Aku, aku.” Nampaknya beliau tidak menyukai jawaban itu.

Pernah pula seorang laki-laki mengetuk pintu seorang ulama’. Orang alim itu berkata, “Siapa?” Orang itu menjawab, “Saya.” Maka orang alim itu berkata, “Aku tidak mengenal seorang pun dari saudara-saudara kami yang bernama saya.” Apabila dikatakan kepadamu pemilik rumah sedang tidak ada, maka janganlah marah dan berburuk sangka bahwa ia tidak suka menemuimu.

Allah Ta’ala berfirman: “Dan jika dikatakan kepadamu: “Kembali sajalah,” maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (An-Nuur: 28).

Setiap keluarga yang tinggal dalam satu rumah ada kalanya masing-masing mempunyai kamar khusus. Maka wajiblah meminta izin untuk memasukinya. Janganlah seseorang membuka kamar orang lain tanpa seizin pemiliknya, sekalipun orang terdekat dengannya, sebagaimana ayah dan ibunya.

Dalam hadits disebutkan: “Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW.: “Apakah aku harus minta izin untuk masuk ke kamar ibuku?” Nabi SAW. menjawab, “Ya”. Dia berkata, “Aku tinggal bersamanya dalam satu rumah.” Nabi SAW. berkata, “Mintalah izin untuk masuk kepadanya.” Orang itu berkata, “Aku melayaninya.” Rasulullah SAW. menjawab, “Mintalah izin kepadanya. Apakah engkau suka melihat ibumu dalam keadaan telanjang?” Orang itu menjawab, “Tidak.” Nabi SAW. berkata, “Kalau begitu, mintalah izin kepadanya.”

5. Termasuk tata krama dalam berkunjung adalah engkau berkunjung pada waktu yang sesuai, bukan waktu makan atau tidur ataupun pada waktu bekerja, supaya orang perempuan yang kau kunjungi tidak merasa berat dan tidak membenci kunjunganmu.

Berkunjunglah yang tidak terlalu sering. Jangan berkunjung setiap hari atau dalam hari-hari yang berdekatan supaya ia tidak jemu dengan kedatanganmu. Termasuk tata kramanya pula adalah jangan engkau terlalu jarang berkunjung kepadanya supaya tidak menimbulkan kesepian dan pemutusan hubungan.

Dalam hadits: “Berkunjunglah kadang-kadang supaya dengannya dapat menambah kecintaan.” Janganlah berkunjung terlalu lama, terutama bila orang yang dikunjungi sedang sibuk atau bersiap untuk keluar atau juga akan makan, kecuali bila hal itu atas permintaannya, maka tidaklah mengapa kalau begitu.

6. Hendaklah engkau berpakaian yang bersih, berpenampilan yang bagus lalu duduk di tempat yang pantas. Jangan mendahului orang yang lebih tua umur atau kedudukannya.

Jangan mempermainkan buku-buku dan surat-surat yang terdapat di ruang tamu, alat-alat, bunga-bunga atau juga yang lainnya. Jangan mengambil sesuatu tanpa seizin tuan rumah. Apabila menemukan sepucuk surat janganlah lalu membacanya karena sifat ingin tahu. Dalam hadits dikatakan: “Barangsiapa membaca surat saudaranya tanpa seizinnya, maka ia seakan-akan mengintai dalam neraka.”

Jangan meludah di atas lantai atau permadani, tetapi lakukanlah di tempat membuang ludah atau di manapun yang pantas. Hendaklah engkau ikut serta merasakan suka dan dukanya orang yang dikunjungi.

Dan mintalah izin darinya bila ingin pulang. Jika ia mengizinkannya, tapi keburu datang tamu yang lain, maka tinggallah sebentar dan jangan langsung keluar, supaya tamu yang lain itu tidak menyangka engkau pulang karena dia, dan engkau tidak suka bertemu dengannya. Kecuali bila engkau tergesa-gesa, maka beritahulah dia apa sebab engkau pulang dan kemukakan alasan kepadanya.

7. Apabila seorang perempuan mengunjungimu, maka Sambutlah dia dengan wajah cerah dan penuh gairah seraya berkata, “Ahlan wa Sahlan wa Marhaban/ Selamat datang.” Jabatlah tangannya dengan keadaan engkau sangat gembira atas kunjungannya. Kemudian dudukkan dia di tempat yang pantas dengannya serta bertanyalah kepada dia tentang kesehatannya dan kesehatan keluarganya. Lalu berbicaralah dengannya dengan suara yang lemah lembut dan sopan serta wajah yang berseri-seri.

Berdirilah untuk melayani tamumu sendiri. Allah Ta’ala telah memuji Sayyidina Ibrahim a.s. dengan firman-Nya: “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (malaikat-malaikat) yang dimuliakan?” (Adz-Dzaariyaat: 24).

Mereka itu dimuliakan karena Ibrahim melayani sendri kepadanya dan menyuruh istrinya sebagai pelayan untuk menyegerakan mengeluarkan hidangan.

Allah Ta’ala berfirman: “Maka tidak lama kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang” (Huud: 69). “Maka ia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk (yang dibakar)” (Adz-Dzaariyaat: 26).

Dalam hadits: “Pada suatu hari datang utusan Raja Najasyi (Raja Habasyah di Ethiopia) kepada Rasulullah SAW. Kemudian Nabi SAW. berdiri melayani mereka. Maka sahabat-sahabatnya berkata, “Wahai Rasulullah kami yang mencukupimu. Nabi SAW. menjawab, “Jangan.”

Mereka dulu memuliakan sahabat-sahabatku maka aku ingin membalas budi baik mereka.” Imam Asy-Syafi’i datang kepada Imam Malik rahimahumallahu, lalu Imam Malik menyuguhkan makanan kepadanya. Dan beliau sendiri yang menuangkan air dengan kedua tangannya sambil berkata, “Janganlah engkau heran terhadap apa yang engkau lihat. Melayani tamu adalah wajib.”

8. Suguhkaniah kepada tamumu makanan dan minuman yang Sesuai dengannya dengan seadanya, tanpa memaksakan diri Sehingga engkau tidak merasa berat atas kedatangannya. Jangan engkau katakan, “Maukah aku hidangkan makanan kepadamu?” Akan tetapi suguhkanlah hidangan terlebih dulu. Jika ia suka biar dimakannya. Kalau tidak, maka angkatlah makanan itu.

Sahabat Salman Al-Farisi r.a. berkata, “Rasulullah SAW. menyuruh kami untuk tidak memaksakan diri menyediakan makanan yang tidak ada kepada tamu kami, dan menyuruh kami menyuguhkan makanan yang ada pada kami.”

Janganlah engkau membatasi dalam menghormati tamumu. Dalam hadits disebutkan: “Rasulullah SAW. pernah singgah pada seorang laki-laki yang memiliki unta dan sapi yang banyak, namun ia tidak menjamunya sebagaimana seorang tamu. Kemudian beliau singgah pada Seorang perempuan yang mempunyai beberapa ekor kambing. Perempuan itu pun menyembelih seekor kambing untuknya.

Nabi SAW. berkata: lihatlah kedua orang tadi. Sesungguhnya akhlak ini di tangan Allah. Barangsiapa yang dikehendaki Allah diberi akhlak yang baik, ia pun akan melakukannya.” Dalam hadits lain: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menghormati tamunya.”

Dalam riwayat lain: “Aku dan orang-orang yang bertakwa dari umatku bebas dari sikap memaksa diri.” Seorang Penyair berkata, “Wajah ceria manusia lebih baik daripada hidangan”. Maka bagaimana dengan orang yang menyuguhkan makanan sambil tertawa

9. Disunnahkan bagimu menganjurkan tamu agar giat untuk makan. Dalam hadits yang panjang riwayat dari Abi Hurairah r.a. disebutkan bahwa Nabi SAW. menyuruh memanggil ahli Shuffah (Faqir miskin yang tinggal di masjid Nabi). Ketika mereka datang, Nabi SAW. membuat mereka kenyang dengan segelas susu yang disuguhkannya.

Abu Hurairah r.a. menceritakan hadits itu hingga ia . berkata: Rasulullah SAW. berkata kepadaku, “Tinggal aku dan kamu.” Aku berkata, “Engkau benar, wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW. lalu berkata, “Duduk dan minumlah.” Aku pun duduk dan minum. Nabi SAW. berkata lagi, “Minumlah.” Maka aku pun terus minum dan beliau selalu berkata kepadaku, “Minumlah,” hingga aku berkata, “Tidak demi Tuhan yang mengutusmu dengan kebenaran. Aku tidak menemukan jalan untuk memasukannya.”

Kemudian Nabi SAW. berkata, “Berikan kepadaku.” Kemudian aku memberinya gelas. Maka beliau memuji Allah dan menyebut nama-Nya kemudian baru meminum sisanya.

10. Apabila seseorang datang kepadamu untuk mengunjungimu, janganlah engkau bersembunyi darinya dan menyuruh pelayan perempuanmu berkata kepada tamu bahwa engkau sedang tidak ada di rumah atau engkau lagi tidur. Ini bukan akhlak yang baik. Perbuatan ini haram karena merupakan dusta. Engkau harus menemui tamumu. Jika engkau merasa payah, maka tahanlah kepayahan itu.

Kalau sekiranya tamumu minta izin untuk pulang, janganlah terburu-buru mengizinkannya, tetapi tahanlah ia lebih lama, kecuali bila ia mendesakmu meminta izin. Maka izinkan ia pulang dan antarkan dia sampai ke pintu rumah atau ke jalan, sambil menunjukkan penyesalan atas ketergesaannya dan berterima kasih atas kunjungannya serta mengharap agar ia sering berkunjung. Dalam hadits dikatakan: “Sesungguhnya termasuk sunnah adalah apabila seseorang keluar mengantar tamunya menuju pintu rumah.”

Adab Menjenguk Orang Sakit

1. Dianjurkan bagimu menjenguk perempuan yang sedang Sakit, terutama bila ia masih kerabatmu, gurumu ataupun temanmu.

Apabila engkau mendengar salah seorang dari mereka sakit, maka segeralah engkau menjenguknya untuk mengetahui keadaannya dan menghibur hatinya sambil mendo’akannya supaya lekas sembuh. Dalam hadits disebutkan: “Kewajiban seorang muslim atas orang muslim yang lain ada lima yaitu: menjawab salam, menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, memenuhi undangan dan mendo’akan orang yang bersin.”

Dalam hadits lain: “Tidaklah seorang muslim menjenguk muslim lainnya pada waktu pagi, melainkan ia dido’akan oleh 70.000 malaikat sampai sorenya, dan jika ia menjenguknya pada waktu sore, maka ia dido’akan oleh 70.000 malaikat sampai pagi harinya, dan di surga nanti ia akan mendapatkan buah yang siap petik.”

Sebelum menjenguk orang sakit, engkau harus bertanya lebih dulu, apakah ia bisa menerima tamu atau tidak? supaya tidak memberatkan baginya. Apabila ia sanggup menemui, maka segeralah menjenguknya. Tapi apabila ia tidak kuasa atau penyakitnya jenis penyakit menular, maka cukuplah engkau memberi salam kepadanya dan mendo’akannya agar lekas sembuh. Tanyakanlah selalu tentang kesehatannya kepada salah seorang dari keluarganya.

2. Termasuk tata krama berkunjung adalah, engkau hanya duduk sebentar saja di hadapan si sakit, supaya ia tidak merasa payah atau kesal karena. menemuimu, kecuali Dila ia senang atas keberadaanmu, maka hal itu tidaklah mengapa.

Dari sahabat Ibnu Abbas r.a., ia berkata, “Termasuk sunnah Rasulullah SAW adalah mempercepat duduk dan tidak bersuara keras pada waktu menjenguk orang sakit.” Dalam hadits: “Waktu untuk menjenguk orang sakit adalah waktu antara dua perahan susu unta.”

Seorang Ulama Sufi bernama Sariyyu As-Saqathiy Rahimahullah berkata, “Aku sakit di kota Thursus. Kemudian sekelompok orang datang menjengukku, mereka duduk berlama-lama hingga membosankanku. Setelah itu mereka meminta do’a dariku. Maka kuangkat tanganku seraya berdo’a, “Ya Allah, ajarilah kami bagaimana cara menjenguk orang sakit.” Termasuk adab pula, jangan menanyakan keadaannya dengan perkataan yang singkat apabila ia tidak keberatan menjawabnya.

Kalau berat, cukuplah engkau tanyakan siapa yang merawatnya dan ajukan pertanyaanmu dengan suara yang sedang, karena suara yang sangat pelan bisa menimbulkan rasa takut di hatinya, sedangkan suara yang keras mungkin saja bisa membuatnya lebih gelisah dan memperparah penyakitnya.

Letakkan tanganmu di atas dahi atau tangannya. Dalam hadits: “Kesempurnaan menjenguk orang sakit apabila seseorang dari kamu meletakkan tangan di atas dahinya, atau di atas tangannya sambil bertanya kepadanya, bagaimana oa?” Dalam suatu riwayat: “Bagaimana keadaanmu pada waktu pagi?”, atau “Bagaimana keadaanmu pada waktu sore?” f Orang yang sakit menjawab, “Aku dalam keadaan baik, Alhamdulillah.”

Apabila engkau melihat perubahan pada warnanya atau kelemahan badannya, maka jangan tunjukkan kegelisahanmu atas hal itu, supaya’ia tidak takut dan tidak terkejut yang dapat menambah sakitnya. Akan tetapi berilah ia semangat hidup dan do’akan dia Dari sahabat Ibnu Abbas r.a., ia berkata, “Termasuk sunnah Rasulullah SAW adalah mempercepat duduk dan tidak bersuara keras pada waktu menjenguk orang sakit.” Dalam hadits: “Waktu untuk menjenguk orang sakit adalah waktu antara dua perahan susu unta.”

Seorang Ulama Sufi bernama Sariyyu As-Saqathiy Rahimahullah berkata, “Aku sakit di kota Thursus. Kemudian sekelompok orang datang menjengukku, mereka duduk berlama-lama hingga membosankanku. Setelah itu mereka meminta do’a dariku. Maka kuangkat tanganku seraya berdo’a, “Ya Allah, ajarilah kami bagaimana cara menjenguk orang sakit.”

Termasuk adab pula, jangan menanyakan keadaannya dengan perkataan yang singkat apabila ia tidak keberatan menjawabnya. Kalau berat, cukuplah engkau tanyakan siapa yang merawatnya dan ajukan pertanyaanmu dengan suara yang sedang, karena suara yang sangat pelan bisa menimbulkan rasa takut di hatinya, sedangkan suara yang keras mungkin saja bisa membuatnya lebih gelisah dan memperparah penyakitnya.

Letakkan tanganmu di atas dahi atau tangannya. Dalam hadits: “Kesempurnaan menjenguk orang sakit apabila seseorang dari kamu meletakkan tangan di atas dahinya, atau di atas tangannya sambil bertanya kepadanya, bagaimana oa?”

Dalam suatu riwayat: “Bagaimana keadaanmu pada waktu pagi?”, atau “Bagaimana keadaanmu pada waktu sore?” Orang yang sakit menjawab, “Aku dalam keadaan baik, Alhamdulillah.”

Apabila engkau melihat perubahan pada warnanya atau kelemahan badannya, maka jangan tunjukkan kegelisahanmu atas hal itu, supaya’ia tidak takut dan tidak terkejut yang dapat menambah sakitnya. Akan tetapi berilah ia semangat hidup dan do’akan dia 4. Disunnahkan bagimu untuk membangkitkan selera makannya.

Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah SAW. menjenguk seorang laki-laki Anshar. Kemudian Nabi SAW. berkata, “Makanan apa yang engkau sukai?” Orang itu menjawab, “Aku suka roti gandum.” Kemudian seorang lakilaki berdiri, lalu pergi dan datang membawa sepotong roti. Maka Nabi SAW. memberinya makanan itu. Kemudian Nabi SAW. berkata, “Apabila orang yang sakit di antara kamu menyukai sesuatu, hendaklah ia memberinya makanan itu.” Disunnahkan pula mendo’akannya dengan do’a yang diriwayatkan dari Nabi SAW. yaitu: “Aku mohon kepada Allah Yang Maha Agung. Tuhan Pemilik “Arsy Yang Agung, agar menyembuhkanmu.”

Dalam hadits lain disebutkan: “Barangsiapa menjenguk orang sakit yang belum datang masa ajalnya, lalu mengucapkan do’a tadi dihadapannya sebanyak 7 kali, maka Allah akan menyembuhkannya dari penyakit itu.” Disunnahkan pula bagimu untuk meminta do’a darinya. Disebutkan dalam hadits: “Jenguklah orang-orang sakit dan suruhlah mereka mendo’akan kamu, karena do’a orang sakit itu mustajab dan dosanya diampuni.”

Adab Orang Sakit

1. Termasuk adab orang sakit adalah bersabar atas penyakit yang dideritanya. Maka ia tidak boleh menggerutu (gelisah/cemas) dan tidak boleh banyak mengeluh, tetapi ridha dengan penyakit yang telah ditakdirkan Allah kepadanya supaya ia mendapat pahala yang banyak.

Telah disebutkan dalam hadits: “Tidaklah orang mukmin yang menderita kepayahan maupun penyakit, kesusahan dan kesedihan, gangguan dan keresahan, bahkan duri yang mengenai kakinya, melainkan Allah menghapus dosa-dosanya dengan semua itu,”

Hendaklah ia berdo’a kepada Allah supaya dirinya lekas sembuh. Sebagaimana dalam hadits: “Seorang laki-laki mengeluh kepada Nabi SAW. atas rasa sakit yang dialami badannya. Maka Rasulullah SAW. berkata kepadanya letakkan tanganmu pada bagian tubuhmu yang sakit dan ucapkan: Bismillah (tiga kali). Dan katakan (tujuh kali): aku berlindung dengan Keperkasaan dan Kekuasaan Allah dari kejahatan apa yang aku rasakan dan aku takuti.”

2. Hendaklah ia menggunakan obat yang berfaedah untuk kesehatannya. Dalam hadits: “Berobatlah kamu sekalian, karena tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Allah menurunkan obat baginya.”

Hendaklah ia berkeyakinan bahwa kesembuhan itu berasal dari Allah, bukan dari obat. Sebagaimana dikatakan Allah Ta’ala ketika menceritakan tentang Nabi-Nya Ibrahim a.s.: “Dan apabila aku sakit, maka Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku” (AsySyu’ara:80).

Janganlah sampai ia meninggalkan shalat selama menderita sakit atau menunda pada waktu sesudahnya. Hendaklah ia shalat menurut kemampuannya. Nabi SAW. berkata kepada sayyidina Imran bin Hushain r.a. yang menderita penyakit bawasir (penyakit di dubur): “Shalatlah sambil berdiri. Jika tidak sanggup, maka sambil duduk. Jika tidak sanggup maka shalatlah di atas sisi tubuhmu. Jika tidak sanggup lagi maka shalatiah sambil berbaring. Allah tidak memaksa seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya.”

Perempuan yang sakit boleh menjama’ (menggabung) antara shalat Zhuhur dan Ashar, baik taqdim (dimajukan) maupun ta’khir (diakhirkan). Demikian pula antara Maghrib dan Isya”, bila ia merasakan penyakit itu dalam Takbirotul Ihram pada kedua waktu itu dan ketika mengucap salam dari yang pertama dan di antara keduanya.

Jika ia tidak sanggup berwudhu, maka hendaklah meminta orang lain untuk membantunya berwudhu. Jika tidak ada yang membantunya, ia boleh bertayammum. Hendaklah ia berhati-hati sekali terhadap najis karena najis adalah masalah yang berat. Janganlah menggampangkannya/menganggap ringan sebagaimana yang biasa dilakukan sebagian orang sakit.

Janganlah ia meninggalkan puasa ramadhan bila ia mampu atau kalau tidak kuasa, boleh mengqodhonya (menggantinya) segera setelah ia sembuh.

3. Bila ia sudah sembuh, hendaklah ia banyak bersyukur kepada Allah atas kesembuhannya dan mohon kepada Allah agar diberi panjang umur dalam ketaatan kepada-Nya disertai perlindungan dan keafiatan.

Dalam hadits disebutkan: “Mohonlah pengampunan dan kesehatan kepada Allah, karena tiada seorang pun yang diberi sesuatu sesudah keyakinan, yang lebih baik selain daripada sehat walafiat.”

Dalam hadits lain disebutkan: “Sebaik-baik kamu sekalian adalah yang terpanjang umurnya dan terbaik amalannya.”

Hendaklah ia mengingat kebaikan orang-orang yang melayani dan menjenguknya pada waktu ia masih sakit. Sebab ia pun patut berterima kasih kepada mereka dan berkunjung ke rumah-rumah mereka sesuai dengan kemampuannya. Dalam hadits disebutkan: “Barangsiapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.”

Hendaklah ia menepati apa-apa yang dijanjikannya kepada Allah pada waktu masih sat-itnya, yang berupa taubat dan melakukan amal-amal shalih. Telah disebutkan dalam hadits, bahwa Nabi SAW. menjenguk Khawwaat bin Jubair r.a. pada waktu sakitnya, lalu berkata kepadanya, “Wahai khawwaat, apakah sehat badanmu.? Aku menjawab, Dan badanmu, wahai Rasulullah.” Nabi SAW. berkata, “Tepatilah apa yang telah engkau janjikan kepada Allah.”

Aku berkata, “Aku tidak menjanjikan apa-apa kepada Allah ‘azza wa jalla.” Nabi SAW. berkata, “Benar, sesungguhnya tidaklah seseorang hamba sakit, melainkan ia telah berjanji melakukan kebaikan kepada Allah ‘azza wajalla. Maka tepatilah apa yang engkau janjikan kepada Allah.”

 

(Bersambung …. )

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Ramadhan akan Segera Pergi
Oleh : Immim pangkep

Ramadhan akan Segera Pergi

0 Komentar

KELUAR