Rabu, 07 Okt 2026
  • Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep

Matan Jazariyah dan Terjemahnya – 5

Matan Jazariyah dan Terjemahnya - 5

Oleh: Muhammad Farid Wajdi 

BLOGGURU – Pada Bagian kelima tulisan ini, diketengahkan bait 73- 109, sekaligus sebagai Tulisan penutup   dari Matan Jazariyah dan terjemahnya (1-5).

(73) … وَبَعْدَ تَجْوِيدِكَ لِلْحُرُوفِ … لاَبُدَّ مِنْ مَعْرِفَةِ الْوُقُوفِ

Dan setelah engkau memahami kaidah-kaidah dan praktik dalam tajwidul huruf (bab makhraj sampai mad). Maka selanjutnya engkau mesti memahami kaidah-kaidah waqaf (tata cara berhenti) dalam membaca Al-Quran, karena kesempurnaan membaca
Al-Quran adalah “tajwiidul huruuf wa ma’rifatul wuquuf”.

(74) … وَالاْبِتِدَاءِ وَهْىَ تُقْسَمُ إِذَنْ … ثَلاَثَةٌ تَامٌ وَكَافٍ وَحَسَنْ

Dan juga memahami tata cara ibtida` (memulai bacaan) dalam membaca Al-
Quran. Hukum waqaf dan ibtida terbagi menjadi tiga: taam (sempurna), kaaf (cukup), dan hasan (baik).

(75) … وَهْىَ لِمَا تَمَّ فَإنْ لَّمْ يُوجَدِ … تَعَلُق أَوْ كَانَ مَعْنَى فَابْتَدى

Dan apabila engkau berhenti pada kata yang susunan kalimatnya telah sempurna. Baik itu: tidak ada hubungan lafazh dan makna dengan kata setelahnya atau terdapat hubungan makna dengan kata setelahnya namun tidak terdapat hubungan
lafazh, maka mulailah bacaan (ibtida`) dari kata setelahnya.

(76) … فَالتَّامُ فَالْكَافِى وَ لَفْظاً فَامْنَعَنْ … إِلاَّ رُؤُس الآىِ جَوِّزْ فَالحَسَنْ

Berhenti pada kata yang tidak memiliki hubungan lafazh dan makna dengan kata setelahnya disebut waqaf taam. Sedangkan berhenti pada kata yang memiliki hubungan makna namun tidak memiliki hubungan lafazh dengan kata setelahnya disebut waqaf kaaf.

Adapun bila engkau berhenti pada kata yang memiliki hubungan lafazh dan makna, maka janganlah engkau ibtida` pada kata setelahnya. Kecuali bila engkau berhenti di akhir ayat, walaupun masih memiliki hubungan lafazh dan makna dengan ayat setelahnya, namun engkau boleh langsung ibtida` pada awal ayat, tanpa mengulangi kata yang ada pada akhir ayat sebelumnya. Karena berhenti pada setiap
akhir ayat merupakan kebaikan (waqaf hasan).

(77) … وَغَيْرُ مَا تَمَّ قَبِيحٌ وَلَهُ … الوقَفُ مُضْطُرَّاً وَيُبْدَا قَبْلَهُ

Apabila engkau berhenti pada kata yang belum sempurna lafazh atau maknanya dengan sengaja, maka itu adalah waqaf qabih, yakni cara berhenti yang buruk. Kecuali bila berhenti karena darurat, seperti kehabisan nafas atau bersin, maka hal tersebut diperbolehkan. Lalu, engkau memilih beberapa kata sebelumnya untuk ibtida` agar tidak merusak makna, sehingga maksud dan tujuan ayat tersebut tercapai.

(78) … وَلَيسَ في الْقُرْآنِ مِنْ وَقْفٍ وَجَبْ … وَلاَ حَرَامٌ غَيْرَ مَالَهُ سَبَبْ

Dan permasalahan waqaf dan ibtida’ dalam Al-Quran ini tidak ada yang hukumnya wajib atau haram selama tidak ada sebabnya. Bila ada sebab sebagaimana yang telah dijelaskan, yakni berkaitan dengan hubungan lafazh dan makna, lalu mengakibatkan makna ayat berubah, maka hukumnya bisa jatuh menjadi makruh, haram, atau bahkan kufur.

(79) … وَاعرِفْ لِمَقْطُوعٍ وَمَوْصُولٍ وَتَا … فِي مُصْحَفِ الإِمامِ فِيمَا قَدْ أَتَى

Dan ketahuilah permasalahan maqthu’ (dua kata yang ditulis terpisah) dan maushul (dua kata yang ditulis bersambung), serta permasalahan penulisan huruf Ta, apakah ditulis dengan Ta marbuthah atau ditulis dengan Ta maftuhah pada mushaf Imam (Utsmani). Karena pengetahuan terhadap penulisan ini erat kaitannya dengan persoalan waqaf dan ibtida`. Khususnya saat waqaf dan ibtida` yang darurat atau waqaf
dan ibtida` ikhtibariy (sebagai bentuk ujian dan pengajaran).

(80) … فَاقْطَعْ بعَشْرِ كَلِمَاتٍ أنْ لاَّ … مَعْ مَلْجَإٍ وَلاَ إِلهَ إِلاَّ

Pisahkan pada sepuluh kalimat penulisan (أن) dan (ل), yakni saat berhadapan dengan “malja`a” (At-Taubah 118), “laailaaha” (Huud 14),

(81) … وَتَعْبُدُوا يَاسينَ ثَانِي هُودَ لاَ … يُشْرِكْنَ تُشْرِكْ يَدْخُلَنْ تَعْلوا عَلَى

Juga bila (أن) dan (ل) berhadapan dengan “ta’budu” pada surat Yasin (ayat 60) &
Hud (ayat 26), “laa yusyrikna” (Mumtahanah 12), “tusyrik” (Al-Hajj 26), “yadkhulan” (Al-Qalam 24), “ta’lu ‘ala” (Ad-Dukhaan 19),

(82) … أَن لاَّ يَقُولُوا لاَ أَقُولَ إِن مَّا … بِالرَّعْدِ وَالمَفُتُوحَ صِلْ وَعَن مَّا

Juga bila (أن) dan (ل) berhadapan “laa yaqulu” (Al-A’raaf 169) dan “laa aquula” (Al-A’raaf 105). Dan pisahkan juga kata (إن) dan (ما) pada surat Ar-Ra’du (ayat 40), dan bila difathahkan Hamzahnya maka sambungkanlah, yakni kata (أم) dan (ما).
Dan juga pisahkanlah kata (عن) dan (ما)…

(83) … نُهُوا اقْطَعوا مِن مَّا بِرُومٍ وَالنِّسَا … خُلْفُ المُنَافِقِين أَم مَّنْ أَسَّساَ

Sebelum kata “nuhuu” (Al-A’raaf 166).
Dan pisahkanlah (من) dan (ما) pada QS. Ar-Ruum (28) & An-Nisaa (25). Sedangkan pada QS. Al-Munafiqun 10 para Ulama berbeda pendapat apakah penulisan (من) dan (ما) disambung atau dipisah.
Dan pisahkanlah (أم) dan (من) sebelum “assasa” (QS. At-Taubah 109),

(84) … فُصِّلَتِ الَّنسَا وَذِبْحِ حَيْثُ مَا … وَأَن لَّمِ المَفْتُوحَ كَسْرُ إِنَّ مَا

Juga pisahkanlah (أم) dan (من) pada surat Fushshilat 40, An-Nisa 109, dan surat yang menceritakan penyembelihan (dzibhin), yakni QS. Ash-Shaaffat 11. Dan pisahkan juga (حيث) dan (ما) pada semua tempat di dalam Al-Quran, dengan kesepakatan para Ulama. Juga pisahkanlah (أن) dan (لم) pada semua tempat di dalam Al-Quran, dengan kesepakatan para Ulama.
Dan pisahkanlah (ن إ) dan (ما) pada…

(85) … اَلانْعَامِ وَالمَفْتُوحَ يَدْعُونَ مَعَاَ … وَخُلْفُ الاَنْفَالِ وَنَحْلٍ وَقَعَا

urat Al-An’aam 134, dan terjadi perbedaan pendapat pada Surat An-Nahl.
Dan pisahkanlah (ن أ) dan (ما) pada sebelum kata “yad’uuna” (QS. Al-Hajj 62 & Luqman 30). Serta terjadi perbedaan pendapat pada Surat Al-Anfaal (28 & 41), dimana dalam riwayat dari Imam Hafsh disambung.

(86) … وَكُلَّ مَا سَأَلتُمُوهُ وَاخْتُلِفْ … رُدُّوا كَذَا قُلْ بِئْسَمَا وَالوَصْلُ صِفْ

Dan pisahkanlah (كل) dan (ما) pada sebelum kata “sa`altumuhu” (QS. Ibrahim 34). Serta terjadi perbedaan pendapat pada sebelum kata “ruddu” (QS. An-Nisaa 91), dimana dalam riwayat Hafash dipisah penulisannya.

uga (terjadi perbedaan pendapat) pada penulisan (بئ) dan (َسمـا) pada قل بئسما
(Al-Baqarah 93) dan sambungkan (بئ) dan (َسمـا)

(87) … خَلَفْتُمُوِنى وَاشْتَرَوْا في مَا قْطَعَا … أُوحِى أَفَضْتُمُ اشْتَهَتْ يَبْلُو مَعَا

Sebelum “khalaftumuuni” (Al-A’raaf 150) dan “wasytaraw” (Al-Baqarah 90).
Lalu pisahkanlah (في) dan (ما) sebelum “uuhii” (Al-An’aam 145), “afadhtum” (An- Nuur 14), “isytahat” (Al-Anbiya 102), setelah “liyabluwakum” (Al-Maaidah 48 & Al- An’aam 165), dan juga…

(88) … ثَانِي فَعَلْنَ وَقَعَتْ رُومٌ كِلاَ … تَنْزِيلُ شُعَرَاءٍ وَغَيْرَ ذي صِلاَ

Sebelum “fa’alna” yang kedua (Al-Baqarah 240), Al-Waqiah (61), Ruum (28), dua tempat pada Tanzil (Az-Zumar 3 & 46), dan Syu’ara (146). Sedangkan selainnya disambungkan.

(89) … فَأَيْنَمَا كَالنَّحْلِ صِلْ وَ مُخْتَلِفْ … في الشُّعَرَا الأَحْزَابِ وَالنِّسَا وُصِفْ

Dan sambungkanlah (أين) dan (ما) pada (َمـا ْينَ فَأَ Al-Baqarah 115) & An-Nahl (76), dan para Ulama berbeda pendapat apakah penulisannya disambung atau dipisah pada Asy-Syu’ara (92), Al-Ahzaab (61), & An-Nisaa (78).

(90) … وَصِلْ فَإِلَّمْ هُودَ أَلْن نَّجْعَلاَ … نَجْمَعَ كَيْلاَ تَحْزَنُوا تَأْسَوْا عَلَى

Dan sambungkanlah (إن) dan (لم) pada (فَإلَّـم ) Surat Huud (14). Juga sambungkanlah (أن) dan (لن) sebelum kata “naj’ala” (Al-Kahfi 48) & “najma’a” (Al- Qiyaamah 3).

Dan sambungkanlah (كي) dan (لا) sebelum kata “tahzanu” (Aali Imran 154) & “ta’saw ‘alaa” (Al-Hadid 23),

(91) … َحجُّ عَلَيْكَ حََرجٌ وَقَطَعْهُمْ … عَن مَّن يَشَاءُ مَن تَوَلَّى يَوْمَ هُمْ

Juga pada surat Al-Hajj (5), dan sebelum “’alayka harajun” (Al-Ahzab 50).
Dan pisahkanlah (عن) dan (من) sebelum kata “yasyaa” (An-Nuur 43) & pada “man tawalla” (An-Najm 29). Dan juga pisahkanlah kata (يوم) dan (هم).

(92) … ومَالِ هَذَا وَالَّذينَ هَؤْلاَ … تَحِينَ في الإِمَامِ صِلْ وَوُهِّلاَ

Dan pisahkanlah (َمــال ) dengan kata setelahnya bila kata tersebut “haadza” (Al- Kahfi 49 & Al-Furqan 7), “alladziina” (Al-Ma’arij 36), dan “haa-ulaa” (An-Nisaa 78).
Dan kata (لات) dan (حين) dalam (mushaf) Imam terdapat keraguan apakah disambungan (atau dipisahkan). Adapun pendapat terpilih dalam riwayat Imam Hafsh: dipisahkan.

(93) … وَوَزَنُوهُمُ وَكَالُوهُمُ صِلِ … كَذاَ مِنَ أل وَهَا وَيَا لاَ تَفْصِلِ

Dan sambungkanlah kata (ََ وَ زَنُـوا) dan (ُهــم ), juga sambungkan kata (َكـالُـو ) dan (ْهـم ُ).
Cara menyambungkannya adalah dengan menghilangkan Alif setelah Wawu jamak.
Begitu pula jangan pernah pisahkan penulisan (ال ta’rif) dengan kata setelahnya
(baik itu Qamariyyah atau Syamsiyyah). Sama halnya dengan (يَـا nida) dan (هـا tanbih) dengan kata setelahnya.

(94) … وَرَحْمَتُ الزُّخْرُفِ بِالتَا زَبرَهْ … الاَعْرَافِ رُومٍ هُودٍ كَافِ الْبَقَرَهْ

Dan kata “rahmat” pada QS. Az-Zukhruuf (32) ditulis dengan Ta Maftuhah. Begitu juga pada QS. Al-A’raaf (56), Ruum (50), Huud (73), Kaaf (Maryam: 2), dan Al-Baqarah (218).

(95) … نعْمَتُهَا ثَلاَثُ نَحْلٍ ابْرَهَمْ … مَعَا أَخِيرَاتُ عُقُودُ الثَّانِ هَمْ

Juga kata “ni’mat” padanya (Al-Baqarah 231) ditulis dengan Ta maftuhah, tiga pada An-Nahl (72, 83, 114), dua pada akhir Ibrahim (28 & 34), pada ‘Uqud (Al- Maaidah 11) sebelum kata “ham” yang kedua, sedangkan sebelum “ham” yang pertama
ditulis dengan Ta marbuthah.

(96) … لُقْمَانُ ثُمّ فَاطِرٌ كَالطُّورِ … عَمِرَانُ لَعْنَتَ بِهَا وَالنُّورِ

Juga kata “ni’mat” pada Luqman (31) ditulis dengan Ta maftuhah, kemudian Faathir (3), juga Ath-Thuur (29), dan Aali ‘Imraan (103).
Kemudian kata La’nat padanya (Aali ‘Imraan (61)) ditulis dengan Ta maftuhah juga pada An-Nuur (7).

(97) … وَامْرَأَتٌ يُوسُفَ عِمْرَانَ الْقَصَصْ … تَحْرِيمَ مَعْصِيَتْ بِقَدْ سَمِعْ يُخَصْ

Dan kata “imra`at” pada QS. Yuusuf (30 & 51), Aali ‘Imraan (35), Al-Qashash (9), dan At-Tahriim (10 & 11) ditulis dengan Ta maftuhah. Begitu pun kata “ma’shiyat”
yang terdapat pada Qad Sami’ (Al-Mujaadalah (8 & 9).

(98) … شَجَرَتَ الدُّخِانِ سُنَّتْ فَاطِرِ … كُلاً وَالاَنْفَالَ وَحرفَ غَافرِ

Kata “syajarat” pada QS. Ad-Dukhaan (43 & 44) ditulis dengan Ta maftuhah.
Bagitu pun kata “sunnat” pada QS. Faathir (43), dan Al-Anfaal (38) serta Ghaafir (85).

(99) … قُرَّتُ عَيْنٍ جَنّتٌ في وَقَعَتْ … فِطْرَتْ بَقِيَّتْ وَابْنَتْ وَكَلِمَتْ

Kata “Qurrat” bila bersandingan dengan ‘ain (QS. Al-Qashash 9), kata “Jannat”
pada surat Al-Waaqi’ah (89), kata “Fithrat” pada Ar-Ruum 30, “Baqiyyat” pada Huud 86, dan “Ibnat” pada At-Tahriim 12 dan kata “Kalimat”…

(100) … أَوْسَطَ اَلاعْرَافِ وَكُلُّ مَا اخْتُلِفْ … جَمْعَا وَفَرْداً فيهِ بِالتَاءِ عُرِفْ

Pada pertengahan Al-A’raaf (137). Serta semua kata yang diperselisihkan oleh para Ulama Qurra mengenai mufrad atau jamaknya, maka ditulis dengan Ta’ Maftuhah.

(101) … وَابْدَأُ بِهَمْزِ الْوَصْلِ مِنْ فِعْلٍ بِضَمْ … إنْ كَانَ ثَالِثٌ مِنَ الْفِعْلِ يُضَمْ

Dan bacalah Hamzah washal pada fi’il (kata kerja) dengan dhammah, Bila huruf ketiga pada fi’il tersebut berharakat dhammah.

(102) … وَاكْسِرْهُ حَالَ الْكَسْرِ وَالْفَتْحِ وَفِى … الاَسْمَاءِ غَيْرَ اللاَّمِ كَسْرَهَا وَفِى

Dan bacalah Hamzah washal dengan kasrah bila huruf ketiganya berharakat kasrah atau fathah.

Juga bacalah Hamzah washal dengan kasrah apabila berada pada awal kata benda yang tidak didahului Lam ta’rif (Alif Lam), karena pada Alif Lam, Hamzah washal selalu dibaca fathah.

(103) … ابْنٍ مَعَ ابْنَةِ امْرِىءٍ وَاثْنَيْنِ … وَامْرَأةٍ وَاسْمٍ مَعَ اثْنَتَيْنِ

Contoh kata benda yang tidak didahului Lam ta’rif adalah ibnin, ibnati, imriin, itsnaini, imraatin, ismin, dan itsnataini. Semua Hamzah washal yang berada pada awal kata-kata tersebut dibaca dengan kasrah, bila kita ingin memulai bacaan darinya.

(104) … وَحَاذِرِ الْوَقْفَ بِكُلِّ الحَرَكَهْ … إِلاَّ إِذَا رُمْتَ فَبَعْضُ حَرَكَهْ

Dan berhati-hatilah jangan sampai engkau membaca huruf yang berada di akhir kalimat saat waqaf dengan harakat yang sempurna. Kecuali bila engkau membacanya dengan raum, yakni membaca huruf dengan sebagian harakatnya saja, para Ulama mengatakan: sepertiga harakat. Maksudnya membaca huruf terakhir dengan membunyikan sebagian harakatnya saja.

(105) … إِلاَّ بِفَتْحٍ أَوْ بِنَصْبٍ وَأَشِمْ … إِشَارَةً بِالضَّمْ فِي رَفْعٍ وَضَمْ

Namun membaca dengan raum itu tidak bisa dilakukan bila harakat pada akhir hurufnya fathah atau nashab. Jadi, raum hanya bisa dilakukan bila harakat pada akhir hurufnya kasrah atau

Selain raum, berhenti pada akhir kalimat juga bisa dilakukan dengan cara isymam. Yakni memberikan isyarat dengan kedua bibir sebagaimana kita mengucapkan dhammah (memonyongkan kedua bibir tanpa suara). Dan Isymam hanya bisa dilakukan bila harakat pada huruf terakhirnya rafa’ atau dhammah.

(106) … وَقَدْ تَقَضَّى نَظْمِىَ المُقَدَّمَهْ … مِنَّى لِقَارِئِ القُرَآنِ تَقْدِمَهْ

Telah tuntas nazhamku : Al-Muqaddimah. Sebagai hidangan yang aku sajikan kepada segenap para pembaca Al-Quran.

(107) … أَبْيَاتُهَا قَافٌ وَزَاىٌ فِي الْعَدَدْ … مِنْ يُحْسِنِ التَّجْوِيدَ يَظْفَرْ بِالرَّشَدْ

(Bait-baitnya berjumlah Qaf (seratus) dan Zay (tujuh). Siapa saja yang membaguskan bacaan Al-Quran dengan tajwid, merekalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk dan keuntungan yang besar.)

(108) … وَالحَمْدُ لِلِه لَهَا خِتامُ … ثُمَّ الصَّلاَةُ بَعْدُ وَالسَّلاَمُ

Segala puji bagi Allaah ﷻ atas terselesaikannya bait-bait ini, kemudian shalawat teriring salam,

(109) … عَلَى النَّبِىِّ المُصْطَفى وَآلِهِ … وَصَحْبِهِ وتابعِ منوالهِ

(Atas Nabi Muhammad Al-Mushthafa ﷺ dan keluarganya. Juga kepada para Sahabatnya, serta orang-orang yang mengikuti sunnah dan manhajnya.)
Aamiin.

 

Tamat.

Immim pangkep

Tulisan Lainnya

Sejarah Masuknya Islam di Pangkep
Oleh : Immim pangkep

Sejarah Masuknya Islam di Pangkep

0 Komentar

KELUAR