
Matan Al-Jazariyah disusun dalam bentuk nazham (syair) yang terdiri dari sekitar 107 bait. Bentuk syair ini bukan tanpa alasan, melainkan untuk memudahkan para penuntut ilmu dalam menghafal dan memahami kaidah-kaidah tajwid secara sistematis. Tradisi penulisan dalam bentuk nazham memang lazim dalam khazanah keilmuan Islam klasik, karena efektif sebagai media pembelajaran.
Isi kitab ini mencakup pokok-pokok penting dalam ilmu tajwid, antara lain: Makharijul huruf (tempat keluarnya huruf), Shifatul huruf (sifat-sifat huruf), Hukum nun sukun dan tanwin, Hukum mim sukun, Hukum mad (panjang-pendek bacaan), Tafkhim dan tarqiq, sertaWaqaf dan ibtida’.
Salah satu keistimewaan Matan Al-Jazariyah adalah kedudukannya sebagai ringkasan padat namun komprehensif dari ilmu tajwid. Meskipun singkat, kitab ini mampu merangkum kaidah-kaidah dasar yang menjadi fondasi dalam membaca Al-Qur’an dengan benar sesuai kaidah.
Di dalamnya juga terdapat penegasan penting mengenai hukum mempelajari tajwid, sebagaimana dinyatakan oleh penulisnya bahwa membaca Al-Qur’an dengan tajwid adalah kewajiban (fardhu ‘ain), sedangkan mempelajari ilmu tajwid secara mendalam adalah fardhu kifayah.
Hingga saat ini, Matan Al-Jazariyah masih menjadi rujukan utama di berbagai lembaga pendidikan Islam, seperti pesantren dan madrasah. Kitab ini biasanya diajarkan dengan metode hafalan, disertai syarah (penjelasan) dari para ulama, sehingga membantu pelajar memahami makna di balik setiap baitnya.
Dengan demikian, Matan Al-Jazariyah bukan hanya sekadar teks ringkas, tetapi merupakan pilar penting dalam pembelajaran tajwid yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam tradisi keilmuan Islam.