Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Kisah Adab Murid-Guru dibalik Penyusunan Kitab Alfiah Ibnu Malik
IMMIMPANGKEP – Tak seperti kebanyakan pelajar dan mahasiswa kebanyakan dalam menuntut ilmu, di Pondok Pesantren kegiatan belajar dan menuntut ilmu haruslah satu paket dengan adab dan menjaga akhlaq terhadap rekan belajar dan guru/ustadz. Dalam khazanah keilmuan Islam, belajar dan menuntut ilmu itu bukan hanya dalam rangka mengejar pemahaman, tetapi juga meraih keberkahan. Ya, keberkahan dalam menuntut ilmu.
Untuk meraih keberkahan dalam menuntut ilmu itulah diperlukan menjaga adab dan akhlaq. Bahkan adab dan akhlaq ini harus berada diatas ilmu itu sendiri. Disinilah pentingnya kita menghafal dan memahami kaidah-kaidah belajar sebagaimana telah dituliskan ulama dalam Nadhom Alala Tanalul ‘Ilma.
Nadhom Alala Tanalul Ilma ini terdiri atas 37 bait, merupakan nadhom yang merangkum penjelasan dari Kitab Ta’lim Muta’allim karya Syaikh Buhanuddin al-Islam al-Zarnuji tentang metode belajar, tujuan belajar, prinsip belajar, strategi belajar dan lain sebagainya terkait Adab-adab Menuntut Ilmu. yang secara keseluruhannya didasarkan pada moral religius agar menjadi manusia yang berkarakter baik.
Berikut ini Nadhom Alala Tanalul Ilma
Artinya:
Ingat, kalian tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, akau akan memberi tahumu tentang kumpulanay denga penjelasan. (Bait 1)
Artinya:
Yaitu cerdas, semangat, sabar, biaya, petunjuk ustadz dan lama waktunya. (Bait 2)
Artinya:
Jangan bertanya tentang seseorang, tapi tanyalah tentang temannya, karena sesungguhnya teman akan mengikuti temannya. (Bait 3)
Artinya:
Bila temannya memiliki kejelekan maka jauhilah secepatnya, dan bila temannya memiliki kebaikan maka temanilah dia, maka kamu akan mendapatkan petunjuk. (Bait 4)
Artinya:
Belajarlah, karena sesungguhnay ilmu adalah perhisan bagi pemiliknya, dan keutamaan serta tanda bagi setiap hal yang terpuji. (Bait 5)
Artinya:
Jadilah orang yang setiap hari mengambil tambahan faedah dari ilmu, dan berenaglah di lautan faedah. (Bait 6)
Artinya:
Pelajarilah fiqih karena fiqih adalah sebaik-baik penuntun menuju kebaikan dan ketakwaan, dan paling lurusnya sesuatu yang lurus. (Bait 7)
Artinya:
Fiqih adalah ilmu yang menunjukkan jalan hidayah, fiqih adalah benteng yang menyelamatkan dari segala perkaya yang berat. (Bait 8)
Artinya:
Karena sesungguhnya satu ahli fiqih yang meniggalkan dunia, itu lebih berat terhadap syetan dari pada seribu ahli ibadah. (Bait 9)
Artinya:
Suatu kerusakan yang besar adalah orang alim yang merusak, tapi lebih besar dari itu adalah orang bodoh yang beribadah. (Bait 10)
Lihat pula: Hadits tentang Menuntut Ilmu dan Menghargai Waktu
Artinya:
Keduanya itu fitnah yang besar didalam alam semesta, bagi seorang yang dalam agamanya mengikuti keduanya. (Bait 11)
Artinya:
Kamu berharap menjadi ahli fiqih yang pandai berdiskusi dengan tanpa usaha, dan gila itu bermacam-macam. (Bait 12)
Artinya:
Tidak ada mencari harta itu tanpa keberatan yang kau rasakan, lalu apalagi ilmu? (Bait 13)
Artinya:
Bila sempurna akal seseorang maka sedikit bicaranya, dan yakinlah akan bodohnya seorang jika ia itu memperbanyak (bicara). (Bait 14)
Artinya:
Pemuda bisa mati sebab tergelincir lisannya, tapi tidak mati karena tergelincir kakinya. (Bait 15)
Artinya:
Tergelincirnya dari mulutnya itu bisa melemparkan kepalanya, tapi tergelincirnya kaki itu sembuh sebentar kemudian. (Bait 16)
Artinya:
Saudaranya ilmu itu masih hidup setelah matinya, walaupun tulang-tulangnya telah hancur di bawah bumi, (Bait 17)
Artinya:
Orang yang mempunyai kebodohan itu mati, walaupun masih berjalan di atas bumi, dia menganggap bahwa dirinya hidup padahal sebenarnya dia telah tiada. (Bait 18)
Artinya:
Setiap orang pemiliki pergerakan untuk derajat yang luhur, tapi sedikit Orang-orang besar yang tabah. (Bait 19)
Artinya:
Bila kamu di masyarakat, maka bergaullah dengan sebaik-baik mereka, dan jangan bergaul dengan yang terburuk, maka kamu akan buruk bersama orang buruk. (Bait 20)
Lihat pula: Adab-adab Penuntut Ilmu dan Kalam Para Ulama
Artinya:
Aku dahulukan guruku dari pada orang tua kandungku, meskipun aku mendapatkan keutamaan dan kemulyaan dari Orangtuaku (Bait 21)
Artinya:
Guruku adalah pembimbing jiwa, dan jiwa itu bagaikan mutiara, sedangkan orang tuaku adalah pembimbing badan, dan badan bagaikan kerang. (Bait 22)
Artinya:
Saya melihat lebih berhaknya hak adalah hak dari guru, dan lebih wajib dilaksanakan atas setiap Orang Islam. (Bait 23)
Artinya:
Sungguh benar-benar berhak diberikan seribu dirham kepada guru untuk kemuliaan karena mengajar satu huruf. (Bait 24)
Artinya:
Saya melihat nafsu kamu yang ingin engkau muliakan, padahal kamu tidak akan mendapat kemuliaan sampai kamu menghinakan nafsumu. (Bait 25)
Artinya:
Bila perbuatan seseorang buruk, maka buruk prasangkanya, dan prasanka yang ia biasakan itu membenarkan. (Bait 26)
Artinya:
Manusia hanya salah satu dari tiga, yaitu orang yang mulia, rendah dan sepadan. (Bait 27)
Artinya:
Orang yang di atasku maka aku tahu derajatnya, dan saya harus mengikuti sesutau yang haq darinya, (Bait 28)
Artinya:
Adapun orang yang sepertiku, bila terpeleset atau salah maka saya menjadi utama, sesungguhnya keutamaan sebab kemuliaan itu (adil seperti) Hakim. (Bait 29)
Artinya:
Adapun orang yang dibawahku maka aku membiasakan sabar, aku jaga kehormatanku, walaupun orang yang mencela itu mencela. (Bait 30)
Lihat pula: Perintah dan Keutamaan Menuntut Ilmu Agama
Artinya:
Tinggalkan seseorang, jangan engkau balas perbuatan jahatnya, akan membalas dia sesuatu yang di dalam dia, dan apa yang ia kerjakan. (Bait 31)
Artinya:
Bukankah termasuk kerugian bila malam-malam berlalu tanpa kemanfaatan, dan kau kira itu termasuk umur. (Bait 32)
Artinya:
Belajarlah! karena manusia tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu, dan saudaranya ilmu tidak seperti Orang Bodoh. (Bait 33)
Artinya:
Mengembaralah dari tanah ari untuk mencari keutamaan, dan pergilah karena dalam bepergian ada lima faedah. (Bait 34)
Artinya:
Hilangnya kesusahan, mencari bekal hidup, ilmu, tatakrama dan teman yang mulia. (Bait 35)
Artinya:
Meskipun dlkatakan: dalam bepergian ada hina, sendiri, menembus belantara dan melakukan kesulitan. (Bait 36)
Artinya:
Kematian pemuda lebih baik dari pada hidupnya di daerah kehinaan di antara pengadu domba dan pedengki. (Bait 37).
Demikian Nadzom Alala Tanalul ‘Ilma dan terjemahnya ini. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep
Tinggalkan Komentar