IMMIMPANGKEP – Akhirnya mereka menipu diri mereka sendiri melalui pengacauan, pendustaan, dan membangga-banggakan diri sebagai kompensasi bagi ketidakmampuan mereka, yaitu melalui perkataan mereka seperti berikut ini: “Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah sihir yang dibuat-buat. Al-Qur’an adalah sihir yang terus-menerus dan kedustaan yang dibuat-buat serta dongengan-dongengan orang-orang terdahulu.” Mereka rela dengan kerendahan diri mereka sebagaimana yang telah diungkapkan oleh firman-Nya:
Hati kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya, dan di telinga kami ada sumbatan, dan antara kami dan kamu ada dinding. (Q.S. 41 Fushshilat: 5)
Allah swt. telah berfirman yang menceritakan perkataan mereka: Janganlah kalian mendengarkan dengan sungguh-sungguh Al-Quran Ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya. (Q.S. 41 Fushshilat: 28)
Mereka hanya mengaku-aku saja, padahal kenyataannya mereka sama sekali tidak mampu menandinginya sebagaimana yang telah diceritakan dalam firman-Nya: Seandainya kami suka, niscaya kami dapat mengatakan hal yang serupa dengannya (Al-Quran). (Q.5. 8 Al-Anfal: 31)
Kemudian Allah swt. menyanggah perkataan mereka itu melalui firmanNya: Kalian tidak akan dapat melakukannya. (Q.S. 2 Al-Bagarah: 24)
Mereka sama sekali tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak akan mampu. Orang yang tolol dari kalangan mereka, yang berani melakukan hal itu, justru membuka keaiban dirinya di mata semua orang seperti apa yang telah dilakukan oleh Musailamah al-Kadzdzab.
Allah swt. telah mencabut kefasihan berbicara yang telah menjadi kebiasaan mereka. Bilamana tidak demikian, niscaya orang-orang yang ahli dari kalangan mereka tidak akan menilai bahwa Al-Qur’an itu bukan termasuk jenis kefasihan mereka dan bukan paramasastra mereka. Bahkan mereka akan melarikan diri daripadanya, tetapi kenyataannya mereka mau mendatanginya dalam keadaan tunduk bilamana memikirkan firman Allah swt. berikut ini: Dan dalam gishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian. (Q.3. 2 Al-Bagarah: 179)
Dan (alangkah hebatnya) jika kamu melihat ketika mereka (orangorang kafir) terperanjat ketakutan (pada hari kiamat). Mereka tidak dapat melepaskan diri dan mereka ditangkap dari tempat yang dekat (untuk dibawa ke neraka). (Q.S. 34 Saba: 51)
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang diantara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Q.S. 41 Fushshilat: 34)
Dan difirmankan, “Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan air pun disurutkan, perintah pun diselesaikan, dan bahtera itu pun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan, “Binasalah orang-orang yang zalim.” (Q.S. 11 Hud: 44).
Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa karena dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Q.5S. 29 Al-Ankabut: 40)
Ayat-ayat lainnya yang serupa, bahkan sebagian besar dari AlGuran, niscaya akan dapat membuktikan apa yang telah kami jelaskan di muka tadi, yaitu berkenaan dengan keringkasan lafazh AlQuran, kepadatan maknanya, keindahan ungkapannya, dan keindahan susunan huruf serta keserasiannya. Sesungguhnya di balik setiap lafazh-nya terkandung pengertian yang cukup panjang sehingga berpasal-pasal dan menjadi berbagai macam disiplin ilmu yang kini telah memenuhi kitab-kitab sebagai kesimpulan dari ana yang dikandungnya.
Kemudian penyajian Al-Qur’an tentang kisah-kisah yang panjang mengenai berita kaum-kaum zaman dahulu kala, yang biasanya orang-orang fasih mereka tidak mampu melakukannya merupakan bukti bagi orang yang memperhatikannya, yaitu mengenai hubungan antara suatu jumlah kalimat dengan jumlah kalimat yang lain, keterpaduan penyajiannya, dan kejelasan segi-seginya, seperti kisah tentang Nabi Yusuf yang panjang itu. Kemudian bilamana kisahnya berulang-ulang, ternyata ungkapan yang dipakainya berbeda-beda dan keserasian ungkapannya begitu memukau. Jdiwa seseorang tidak akan bosan sekalipun diulang-ulang dan tidak akan merasa antipati terhadapnya: justru hal itu semakin membuatnya tertarik.
Kedua: Mukjizat Al-Qur’an menyangkut gambaran susunannya yang menakjubkan, uslub-uslub-nya yang aneh dan berbeda pula uslub-uslub yang biasa berlaku dalam bahasa Arab, serta berbeda pula dari nizham dan natsar yang berlaku di kalangan mereka. Semua yang dikemukakan dalam Al-Quran berbeda, dan baik sebelumnya ataupun sesudahnya tidak pernah dijumpai hal yang serupa dengannya, serta tidak ada seorang pun yang mampu membuat sesuatu yang serupa dengannya. Bahkan Al-Qur’an membuat mereka menjadi bingung dan kemampuan mereka melemah di hadapannya. Mereka tidak menemukan jalan untuk membuat hal yang setara dengannya dari kalam mereka. Hal seperti Al-Qur’an tidak mereka jumpai di dalam natsar, nizham, dan sajak mereka. Mukjizat Al-Qur’an baik ditinjau dari segi keringkasan ungkapannya, balaghah (paramasastra), atau dari segi ungkapannya yang aneh, masing-masing segi itu tidak mampu mereka melakukannya, karena masing-masing berada di luar jangkauan kemampuan mereka dan berbeda dengan kefasihan bicara mereka.
Ketiga: Di antara mukjizat al-Quran ialah karena ditinjau dari segi bahwa dalam Al-Quran terkandung berita-berita mengenai masalah gaib dan hal-hal yang belum terjadi, kemudian kejadiannya persis seperti yang telah diberitakan di dalamnya sebagaimana yang terdapat dalam firmanNya: Sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil-Haram, insya Allah dalam keadaan aman. (Q.S. 48 Al-Fath: 27). (*)
Tinggalkan Komentar