
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Imam Malik dan Kitab Al-Muwatho’ yang Disepakati (Sumber: Palontaraq)
BLOGGURU – Siapa yang tak kenal Imam Malik dengan Kitab Al-Muwatho’nya? Mengakrabi Imam Malik dan Kitab Al-Muwatho’ adalah keinginan penulis sejak dahulu. Itulah sebabnya ketika mendapati informasi Majelis Sanad Kitab Al-Muwatho’nya, penulis tidak menyia-nyiakannya, meskipun Sanad yang dimaksud adalah Awail Kitab Al-Muwatho’, dan penulis akan terus mempelajari Kitab Imam Malik ini, dengan sendiri ataupun dengan guru/pembimbing.
Imam Nasa’i berkata,” Tidak ada yang saya lihat orang yang pintar, mulia dan jujur, tepercaya periwayatan haditsnya melebihi Imam Malik, kami tidak tahu dia ada meriwayatkan hadis dari rawi matruk, kecuali Abdul Karim”. (Yang dimaksud adalah Abdul Karim bin Abi al Mukharif al Basri yang menetap di Makkah, karena tidak senegeri dengan Malik, keadaanya tidak banyak diketahui), sementara Ibnu Hayyan berkata,” Imam Malik adalah orang yang pertama menyeleksi para tokoh ahli fiqh di Madinah, dengan fiqh, agama dan keutamaan ibadah”.
Imam Syafi’i yang pernah berguru kepada Imam Malik berkata, “Imam Malik adalah Hujjatullah atas makhluk-Nya setelah para Tabi’in”, sedang Yahya bin Ma’in berkata, “Imam Malik adalah Amirul Mukminin dalam (ilmu) Hadits”, dan Ayyub bin Suwaid berkata, “Imam Malik adalah Imam Darul Hijrah (Imam Madinah) dan as-Sunnah,seorang yang Tsiqah, seorang yang dapat dipercaya”.
Imam Ahmad bin Hanbal berkata, ” Jika engkau melihat seseorang yang membenci Imam Malik, maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah ahli bid’ah”, sementara Imam Abu Hanifah berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang lebih pandai tentang sunnah Rasulullah dari Imam Malik.”
Demikianlah pendapat dan hujjah para Imam tentang Imam Malik. Kini warisannya, “Al-Muwatho’ harusnya menjadi pusaka bagi pelajar dan sarjana muslim untuk mempelajarinya. Abdullah bin Mubarak berkata, “Tidak pernah aku melihat seorang penulis ilmu Rasulullah lebih berwibawa dari Malik, dan lebih besar penghormatannya terhadap hadits Rasulullah dari Malik, serta kikir terhadap agamanya dari Malik, jika dikatakan kepadaku pilihlah Imam bagi umat ini, maka aku akan pilih Malik.”

Kitab Al-Muwatho’. (foto: ist/*)
Imam Malik menyusun Kitab Al-Muwatho’ dalam masa 40 tahun dan selama waktu itu, ia menunjukannya kepada 70 ahli fiqih Madinah dan tidak ada seorangpun yang menyelisihinya. Itulah sebabnya kitab karangannya disebut “Al-Muwaththa” karena Imam Malik memperhadapkan (menguji) karyanya tersebut diantara begitu banyak Ahli Fikih. Imam Malik menceritakan, “Aku telah menyodorkan kitabku ini kepada 70 orang faqih Madinah. Semuanya memberikan kesepakatan mereka. Maka aku menamakannya Al-Muwaththa (yang disepakati).”
Kitab Al-Muwaththa menghimpun 100.000 hadits, dan yang meriwayatkannya lebih dari 1000 Ahli Fikih. Karena itu naskahnya berbeda beda dan keseluruhannya berjumlah 30 naskah, tetapi yang terkenal hanya 20 buah. Dan yang paling masyur adalah riwayat dari Yahya bin Yahyah al Laitsi al Andalusi al Mashmudi.
Sejumlah ‘Ulama berpendapat bahwa sumber hadits itu ada tujuh, yaitu Kutubu Sittah ditambah Al Muwaththa’. Ada pula ulama yang menetapkan Sunan ad Darimi sebagai ganti Al Muwaththa’. Ketika melukiskan Kitab Al Muwaththa’ ini, Ibnu Hazm berkata,” Al Muwaththa’ adalah kitab tentang fiqh dan hadits, aku belum mengetahui bandingannya, sementara Imam Syafii mengungkapkan bahwa “Al-Muwaththa’ merupakan kitab paling shahih setelah Kitabullah”. Atau dalam perkataan disebutkan, “Tiada sebuah kitab di muka bumi ini setelah Al-Qur`an yang lebih banyak mengandungi kebenaran selain dari kitab Al-Muwaththa Imam Malik, inilah karangan para Ulama Muaqoddimin.”
Masih meragukan Al-Muwatho’? Ibnu Al-Arabi: “Al-Muwatho’ merupakan pokok pertama dan inti sari, sedang shahih Bukhari adalah pokok kedua dalam hal ini. Semua kitab seperti Muslim dan Tirmidzi bertumpu kepada keduanya.”, sedang Ibnu Hajar mengatakan, “Imam Malik telah menulis kitabnya dengan 10 ribu hadis. Beliau selalu mentelaah di setiap tahunnya dan menghapus sebagiannya hingga menjadi seperti sekarang ini.”
Imam Bukhari berkata: “Sanad yang paling shahih adalah Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar.” Oleh karena itu, Bukhari banyak memberikan perhatian kepada hadits-hadits yang dinukil dari jalur tersebut. Imam Ahmad bin Hanbal berkata: “Aku mendengar kitab Al-Muwaththa’ dari lebih 10 orang penghafal lebih yang merupakan murid-murid Imam Malik. Maka aku sodorkan kepada Imam Syafi’i karena ia yang paling kuat di antara mereka.”
Maka apalah arti pendapat penulis, selain menghadapkan dan menyandarkan pendapat penulis yang faqir ini kepada pendapat para ulama dan imam, sebagaimana telah disebutkan. Sungguh merupakan kebahagiaan tersendiri diberi waktu luang dan kesehatan untuk turut mempelajari, dan mencoba menghafal kandungan dari Kitab Al-Muwatho’, sebagaimana pula penulis berusaha untuk menghafalkan dan memahami kandungan Al-Qur’anul Karim.

Kitab Al-Muwatho’. (foto: ist/*)
Lihat pula: Mengakrabi Imam Malik dan Kitab Al-Muwatho’
Disebutkan bahwa kitab Al-Muwatho’ ini memiliki 11, 12 atau bahkan 14 jalur periwayatan. Yang paling terkenal adalah Jalur “Abdurrahman bin Misri” yang dipilih oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Jalur “Tunaisi” yang dipilih oleh Imam Bukhari, Jalur “Yahya bin Yahya At-Tamimi An-Nisyaburi” yang dipilih oleh Imam Muslim, Jalur “Qa’nabi” yang dipilih oleh Imam Abu Daud, Jalur “Qutaibah bin Sa’id” yang dipilih oleh Imam Nasai. Masing-masing dari 5 jalur ini memiliki perbedaan dengan yang lainnya dalam menukil hadits yang terkadang perbedaannya hingga mencapai 300 hadits.
Dari total hadits dalam Kitab Muwatho’ yang mencapai 1.000 hadits, sebagian naskah lainnya bahkan mencapai 1.720 hadits. Abu Mush’ab Az-Zuhri berkata, “Dari total tersebut, 600 hadits musnad, 200 hadits mursal, 613 hadits mauquf dan 285 hadits dari tabi’in (maqthu’). Ya, Imam Malik menyusun kitab Al-Muwaththa’ tersebut berdasarkan Bab-bab fiqih dan hampir semuanya mengandung mayoritas Bab Fiqih dan selain itu, sebagian pembahasan tentang Akhlak. Kitab itu mencakup 61 jilid.
Berkenaan dengan hadits-hadits mursal dalam kitab tersebut, Ibnu Abdul Barr menyusun sebuah kitab yang menyebutkan hadits-hadits mursal dan munqathi. Ia berkata, “Aku telah meneliti riwayat Imam Malik dari tsiqah atau ungkapan “بلغنی” yang berjumlah 61 jilid dan aku menemukan sanad-sanadnya, kecuali 4 hadits yang tidak aku temukan sanadnya, sementara Imam Suyuti dalam rangka membela hadits-hadits mursal dalam Kitab Al-Muwaththa’ berkata, “Setiap hadits yang dimuat dalam kitab ini memiliki dalil dan seluruh haditsnya memiliki sanad. Oleh karena itu, Al-Mu’alliq kitab itu menulis; “Seluruh isi kitab Al-Muwaththa’ adalah shahih dan tidak dikecualikan sesuatu pun darinya.”
Pada akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih Ustadz Abu Abdillah al-Batawi, yang telah menurunkan sanad Awail Kitab Al-Muwatho dalam Majelis Sama wal Ijazah yang diselenggarakan pada Hari Ahad, Tanggal 19 Februari 2023 (Lihat Ijazah Sanad Awail al-Muwatho: DISINI), Semoga hal ini menjadi pemicu dan pemantik semangat belajar dan memahami khazanah keilmuan hadits dan fikih yang terdapat dalam Kitab Al-Muwatho’nya Imam Malik bin Anas rahimahullah Ta’ala. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Al-Qur’an-Hadits & Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.
Artikel/Tulisan terkait:
Tips Sukses Menguasai Ilmu-ilmu Kepesantrenan (Islamic Studies)
Mendalami Islam lewat Kitab Mutun Thalibil Ilmi (Islamic Studies)
Silabus Hafalan Mutun Thalibul ‘Ilmi (Islamic Studies)
Meraih Ijazah Sanad Awail Kutubut Tis’ah (Hadits)
Meraih Ijazah Sanad Hadits Arbain An-Nawawiyah (Hadits)
Meraih Ijazah Sanad Mandzumah ‘Aqidatul Awwam (‘Aqidah)
Meraih Ijazah Sanad Mandzumah Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah (Sirah Nabawiyah)
Meraih Ijazah Sanad 6 Hadits Musalsal (Hadits)
Meraih Ijazah Sanad Kitab ‘Umdatul Ahkam dan Syarahnya (Hadits/Fikih)
Meraih Ijazah Sanad Kitab Al-Ajurumiyah (Nahwu)
Meraih Ijazah Sanad Kitab Shahih Bukhari, Syarah dan Mukhtasornya (Hadits)
Ijazah Sanad Kitab Matan dan Artikel Ilmu Tajwid (Tajwid)
Dalam Sepekan, Raih Tiga Ijazah Sanad Kitab Matan Ilmu Tajwid (Tajwid)
Meraih Ijazah Sanad Kitab Kasyfu Syubuhat dan Qawaidul Arba (Tauhid/’Aqidah)
Meraih Ijazah Sanad Kitab Fikih Dasar: Syafinatun Naja’ (Fikih)
Meraih Ijazah Sanad Kitab At-Tibyan Imam Nawawi (Adab/Akhlak)