
Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
BLOGGURU – Banyak pertanyaan yang masuk ke penulis, apa perbedaan keturunan Melayu (Ince dan Unda) yang bermukim di Pangkajene dengan keturunan melayu yang bermukim dalam wilayah Kecamatan Minasatene saat ini? Nah, perlu diketahui sebelumnya bahwa wilayah Kecamatan Minasatene saat ini dahulunya merupakan satu kesatuan wilayah yang tak terpisahkan dari Pangkajene, kemudian pada Tahun 2000 (pada masa Pemerintahan Bupati Pangkep HA Gaffar Patappe), untuk lebih mendekatkan pelayanan masyarakat dan optimalisasi kegiatan pemerintahan dan pembangunan, dijadikanlah satu kecamatan tersendiri: Minasatene, pemekaran dari wilayah Kecamatan Pangkajene.
Namun untuk tetap menjawab pertanyaan diatas, diperlukan satu analisis mengenai perbedaan dan persamaan komunitas keturunan Melayu di Pangkajene dan Minasatene, yaitu suatu tinjauan sejarah spasial. Pangkep (dahulu Kerajaan Siang) memiliki dinamika yang unik karena kedua wilayah ini, meski berdekatan, memiliki fungsi sosiologis yang berbeda pada masa lalu. Berikut ini adalah analisis mendalam mengenai perbandingan kedua komunitas tersebut:
1. Karakteristik Komunitas Melayu di Pangkajene
Pangkajene secara historis merupakan pusat pertumbuhan ekonomi dan administrasi pesisir. Keturunan Melayu di Pangkajene umumnya berasal dari faksi pedagang maritim dan syahbandar. Mereka terkonsentrasi di wilayah yang dekat dengan akses sungai dan muara, seperti area pelabuhan kuno yang menghubungkan Siang dengan jaringan pelayaran internasional (Malaka-Johor).
Dari segi status sosial, Di Pangkajene, gelar “Ince” sangat dominan. Mereka berfungsi sebagai kelas menengah perantara (middleman) antara kekuasaan lokal (Karaeng) dengan pedagang asing (Portugis dan kemudian VOC). Budaya Melayu di Pangkajene lebih cepat mengalami hibriditas karena sifat wilayahnya yang kosmopolit. Perkawinan antara saudagar Melayu dengan keluarga Ana’ Karaeng (bangsawan) di Pangkajene bertujuan untuk melegitimasi hak dagang dan penguasaan tanah di pusat kota.
2. Karakteristik Komunitas Melayu di Minasatene
Minasatene, yang secara geografis berada sedikit ke arah pedalaman dan berbukit (area karst), memiliki corak yang berbeda. Keturunan Melayu di Minasatene sering kali dikaitkan dengan kelompok ulama, penyebar agama, dan ahli pertanian. Beberapa narasi lisan menyebutkan bahwa setelah pelabuhan Siang mulai surut kejayaannya, sebagian komunitas Melayu bergerak ke arah pedalaman (Minasatene) untuk mendirikan institusi pendidikan (langgar/pengajian) atau mengelola lahan.
Dari segi status sosial, Gelar “Unda” sering kali ditemukan menonjol di wilayah yang lebih tenang dan agraris seperti ini, menekankan pada penghormatan terhadap garis ibu yang menjaga moralitas dan pendidikan agama di lingkungan keluarga. Di Minasatene, jejak Melayu sering ditemukan pada epigrafi makam di lereng-lereng perbukitan karst. Makam-makam tua di wilayah ini sering menunjukkan ciri nisan yang lebih sederhana namun memiliki pola ukiran yang menyerupai tradisi Sumatera (Melayu-Minangkabau).
Tabel Analisis Komparatif
Benang Merah: Integrasi dalam Kerajaan Siang
Meskipun memiliki perbedaan karakter, kedua kelompok ini disatukan oleh sejarah Kerajaan Siang. Pertama, Satu Silsilah. Banyak keluarga Ince di Pangkajene yang sebenarnya memiliki kerabat dekat di Minasatene. Perpindahan ini sering terjadi karena faktor keamanan atau pembukaan lahan baru. Kedua, Penjaga Literasi. Baik di Pangkajene maupun Minasatene, keturunan Melayu adalah kelompok yang bertanggung jawab atas pengenalan aksara Serang (Arab-Melayu) yang kemudian memengaruhi cara penulisan naskah Lontara lokal.
Tulisan ini sebenarnya merupakan catatan tambahan dari penelitian tesis penulis, “Sumbangsih Orang Melayu dalam Proses Islamisasi Masa Kerajaan Siang di Kabupaten Pangkep”. Tabel perbandingan diatas untuk menunjukkan bahwa Sumbangsih Orang Melayu tidak monolitik. Di Pangkajene, mereka berkontribusi pada aspek Ekonomi-Politik, sedangkan di Minasatene, mereka berkontribusi pada aspek Spiritual-Edukasi.
Selengkapnya kaji dan dalami referensi berikut ini:
Abbas, Irwan. (2013). Sejarah dan Eksistensi Kerajaan Siang di Sulawesi Selatan. Makassar: De La Macca. (Sangat detail membahas pembagian wilayah Siang).
Bulbeck, David. (1992). A Tale of Two Kingdoms: The Historical Archaeology of Gowa and Tallok. (Memberikan konteks wilayah pesisir Pangkep).
Hadjrawi, Muhlis. (2015). Lontara’ Pangkep. Makassar: Dinas Kebudayaan. (Berisi data silsilah keturunan raja dan pendatang).
Hadi, Amirul. (2004). Islam and State in Sumatra: A Study of Seventeenth-Century Aceh. Leiden: Brill. (Untuk membandingkan pola migrasi Melayu-Sumatera ke Sulawesi).
Mattulada. (1991). Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah. Makassar: Universitas Hasanuddin.
Pelras, Christian. (2006). The Bugis. Jakarta: Nalar. (Membahas perbedaan peran pendatang Melayu di pesisir dan pedalaman).
Sutherland, Heather. (2004). The Makassan Trade in the 18th Century. In Journal of Southeast Asian Studies.
Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
Minasatene-Pangkep, 25 Januari 2026
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.