Pondok Pesantren Putri IMMIM Pangkep, Pesantren yang khusus menerima santri putri ini, kampusnya berada di bilangan jalan poros Kecamatan Minasatene Kabupaten Pangkep
BLOGGURU – Syukur Alhamdulillah. satu kesyukuran tersendiri penulis sampai pada titik keseriusan belajar agama (Islam) dan segala pengetahuan yang menjadi derivatnya. Meraih ijazah sanad Matn Alfiah Ibnu Malik merupakan satu lompatan tersendiri dalam memenuhi kerinduan menyambungkan nama dengan Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Maalik.
Di Pondok Pesantren, khususnya Pondok Salafi berkembang semacam patokan kecerdasan seorang santri, yaitu ketika sang santri mampu menghafal dan memaknai bait-bait Matn Alfiah Ibnu Malik. Sampai ada semacam standar kecerdasan tersendiri di kalangan para santri, yaitu pernyataan bahwa “Seorang santri dapat dikatakan hebat kalau santri itu mampu menghafal, memaknai atau memahami bait-bait Alfiyah.
Di kalangan santri yang memiliki pengalaman menghafal bait-bait Alfiah, berkembang semacam asumsi tentang tiga rintangan bagi siapa saja yang berusaha dalam menghafalkan kitab Alfiyah Ibnu Malik ini, yaitu: (1) Santri akan mengalami ekonomi yang sulit. (2) Konon ketika menghafal Nadhom Alfiyah pada sepertiga kedua, yaitu antara nadham 300 sampai 600 akan ada rintangan berupa godaan cinta, baik ia santri putra maupun terhadap santri putri. (3) Konon santri diuji dengan kematian orangtua. Artinya kalau santri sedang menghafal sepertiga terakhir, ia bisa diuji dengan wafatnya salah satu orang tua atau bisa jadi anggota keluarga.
Pertanyaannya, rintangan tersebut sekadar asumsi, mitos atau benar ada sumber petunjuknya? Penulis sendiri belum menemukan petunjuk atau pengalaman mengenai sumber informasi atau cerita santri tersebut. Intinya sebenarnya adalah bahwa semua cobaan di atas, baik rezeki, cinta dan orang tua adalah cobaan yang bisa menimpa siapa saja, apakah dia santri atau tidak, apakah dia sedang menghafal matn alfiah atau tidak. Semua nasib dan ujian adalah rahasia yang tidak diketahui manusia. Meskipun ada sebab musababnya namun mengaitkan sebuah kejadian dengan sesuatu tanpa ada dalil yang jelas adalah tidak bijak. Jadi dapat disimpulkan bahwa segala ujian seperti uraian diatas yanag dikaitkan dengan penghafalan bait-bait alfiah hanyalah asumsi atau mitos.
Perlu diketahui bahwa Ibnu Malik dengan isim karimnya Muhammad bin Abdullah bin Malik ath-Tha’i al-Jayyani atau lebih dikenal dengan isim laqobnya Ibnu Malik adalah seorang pembelajar yang melahirkan Matn Alfiyah dengan perpaduan sastra arab dan kaidah gramatika bahasa Arab. Hal ini tentu sangat keren dan membuat kitab matn alfiah itu menarik dan disukai banyak santri, pelajar dan mahasiswa muslim.
Bagi siapa saja yang terlah menamatkan bait-bait Alfiyah Ibnu Malik, maka telah dapat disebut telah sempurna belajar Nahwu-Shorof. Di antara keunikan dari Matn Alfiah ini adalah penempatan kata dan contoh dalam nadzom yang tidak sembarangan, melainkan mempunyai maksud dan isyaroh tersendiri: kalam hikmah, falsafah dan nasehat hidup.
Bagi seorang santri dan ustadz yang hafal dan memahaminya, Alfiyah bukan sekedar rumus-rumus gramatika bahasa arab tetapi juga menjadi bait-bait yang berisi kebijaksanaan dan bahkan strategi hidup.
“Barang siapa yang tabahur (menguasai secara mendetail dan mendalam layaknya lautan) terhadap suatu ilmu (nahwu shorof), maka orang itu akan (mampu) tabahur pada semua ilmu”.
Seseorang tidak akan sampai kepada tujuannya, kalau ia tidak memiliki sarana atau alat untuk menyeberang lautan tersebut. Begitupun orang belajar ilmu tafsir dan hadits, ia tidak akan bisa mendalaminya apabila tidak belajar Nahwu-Shorof. Hal ini tentu saja adalah Motivasi kepada siapa saja agar jangan kecil harapan dalam menuntut ilmu. Seorang pembelajar harus tinggi dalam cita citanya dan rendah hati (tawadhu), dalam kehidupannya, sebagaimana nukilan bait alfiah berikut ini:
“Bercita-citalah setinggi langit, dan berteriaklah yang mulia, serta rendahkan hatimu. Insya Alloh dirimu akan mendapat kemudahan serta kebahagiaan dan mati dengan khusnul khotimah” Amin.
Kerendahan hati itu—dalam bait-bait Alfiah—sebenarnya sudah tercermin dalam Bab Muqaddimah, berikut nukilannya:
وهو بسبق حائز تفضيلا # مستوجب ثنائي الجميلا
Artinya:
Dan dia (Imam Ibnu Mu’thiy) memang lebih dahulu dan mendapatkan keunggulan. Dia juga pantas mendapatkan pujian (legitimasi) yang sangat baik dariku.
والله يقضي بهبات وافرة # لي وله في درجات الآخرة
Artinya:
Semoga Allah memberikan anugerah yang sempurna untukku dan juga beliau dalam derajat yang tinggi di akhirat kelak.
Dua bait di atas sengaja ditambahkan sebagai bentuk apresiasi kepada gurunya setalah pengalaman hilangnya hafalan Ibnu Malik karena merasa sudah mengungguli gurunya, sebagaimana dalam bait ke lima, bagian satar ke-sepuluh yang berbunyi:
وتَقتضِى رضًا بغير سخطٍ # فائقةً ألفيّةً ابن معطى
Artinya:
Dan kitab Alfiyah itu akan menarik keridhoan yang tanpa didasari kemarahan # Dan kitab Alfiyah ini lebih unggul dari kitab Alfiyahnya Ibnu Mu’thiy.
Bagaimana cara menghafal Matn Alfiyah Ibnu Malik? Sebagai seorang guru, penulis memiliki pengalaman memandu penghafalan bait-bait Alfiah Ibnu Malik ini dalam bentuk nadhoman di kalangan santriwati Putri IMMIM dan kegiatan itu diulang-ulang, menjadi rutinitas penghafalan sebelum Shalat Isya di Mesjid.
Bagaimanapun, Matn Alfiyyah Ibnu Malik berisi nadhoman Nahwu-Shorof berjumlah 1002 bait. Pengarangnya, Syaikh Muhammad bin Abdullah bin Malik (lahir Tahun 597 H, wafat Tahun 672 H) telah mewariskan khazanah keilmuan gramatika dan sastra Arab yang luar biasa dan mendapatkan ijazah sanad kitab Matn Alfiah Ibnu Malik ini merupakan kebahagiaan penulis yang telah lama penulis tunggu, sejak pertama kali memerintahkan penghafalannya, Tahun 2021.
Sebagaimana halnya sebuah hafalan, kemungkinan besar akan berceceran di tengah jalan dan bahkan bisa hilang sama sekali jika tidak dimuraja’ah. Maka demikianlah penulis yang selalu ingin diingatkan agar hafalan dan pemahaman yang sangat sedikit tentang bait-bait Alfiah ini tetap terjaga. Penulis masih ingin berguru dan menimba banyak pemahaman dari banyak guru lainnya di luar sana.
Ijazah Sanad Matn Alfiah Ibnu Malik, penulis dapatkan dari Ustadzuna, Ustadz Abu Abdullah al-Batawy dan Ustadz Azhar al-Maidany dalam suatu Majelis Sama’. Semoga suatu saat penulis bisa mendapatkan ijazah sanad Matn Alfiah dalam suatu Majelis Hafalan Alfiah. Beberapa tulisan al-faqir ini tentang beberapa tema atau bab dalam Matn Alfiah ibnu Malik adalah pengulangan pelajaran bagi penulis sendiri, semoga pemahaman yang sedikit ini masih bisa tetap terjaga.