Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Meraih Ijazah Sanad Kitab Ajurumiyah, ‘Imrithi, dan Mutammimah Ajurumiyah
IMMIMPANGKEP – Salah satu hal yang membahagiakan dan membanggakan bagi seorang penuntut ilmu adalah ketika kutub yang kita pelajari sudah bersambung sanadnya dengan para ulama’ penyusun kitab beragam khazanah keilmuan Islam, termasuk diantaranya kutub Nahwu-Shorof.
Ilmu Nahwu-Shorof adalah dua ilmu yang saling terikat dan tak bisa dipisahkan satu sama lain, layaknya ayah dan ibu. “An-Nahwu Abu al-Ilmi wa al-Shorf Ummuhu”, artinya: Ilmu nahwu adalah bapaknya segala ilmu sedangkan ilmu sharaf adalah ibunya. Ilmu Nahwu mempelajari struktur kalimat bahasa Arab, sedang Ilmu shorof mempelajari perubahan suatu kata bentuk kata ke bentuk kata lain.
Hukum mempelajari Ilmu Nahwu-Shorof bagi orang awam adalah fardu kifayah, namun bagi yang hendak menyampaikan dalil-dalil, memahami Al-Qur’an dan hadits, berfatwa, dan menyampaikan dakwah, maka wajib hukumnya (fardhu ‘ain) mempelajari Nahwu Shorof, sebagaimana dikatakan Imam Suyuthi. “Bagaimana seseorang mau memahami Qur’an dan hadits dengan benar kalau tak paham bahasa Arab. Salah satu perangkat dasar memahami bahasa Arab adalah dengan Nahwu-Shorof dan I’lal”.
Itulah sebabnya kunci seseorang agar dapat mengkaji ilmu, membaca kitab kuning (kitab gundul) karya para ulama’ adalah dengan menguasai dan memahami kaidah-kaidah Nahwu-Shorof serta ilmu-ilmu terkait. Para ulama bersepakat atau melakukan ijma’ terkait haram atau tidak bolehnya seseorang berbicara tafsir Al-Qur’an dan menjelaskan hadits, jika yang bersangkutan tidak memahami Nahwu-Shorof maka yang bersangkutan tersebut meragukan dan tak layak dipercaya, dan bahkan terlarang untuk berfatwa. Kalau ada orang yang mengaku ustadz atau ulama yang tidak bisa bahasa Arab sebagai dasar, dan khazanah keilmuan Islam lainnya, seperti Ulumul Qur’an, Ulumul Hadits, Ushul Fiqh, Adab dan Akhlaq, Ilmu Tauhid, dan lain sebagainya, maka jangan ikuti fatwa atau dakwahnya.
Ilmu Nahwu sendiri adalah ilmu yang dibutuhkan untuk mengetahui perubahan harakat akhir dalam kalimat, yang mana jika seseorang salah dalam memberi harakat suatu teks arab terlebih Al-Qur’an dan Hadits maka akan merubah makna teks tersebut. Al-Imam Mujahid menyatakan dengan tegas bahwa bahwa tidak halal bagi orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berbicara tentang kitab Allah (Agama Allah) sedang ia tidak tahu akan ilmu Nahwu.
Mengapa penting bersanad atau mengikuti majelis ilmu/dauroh ilmiyah bersanad?
Imam Abdullah bin Mubarak (wafat 181 H) -rahimahullah- berkata,
Artinya:
“Sanad itu bagian dari agama. Kalau lah tidak ada sanad, pasti siapapun bisa berkata apa yang dia kehendaki.” [Riwayat Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya]
Beliau juga berkata,
Artinya:
“Perumpamaan orang yang mencari ilmu agama tanpa sanad, seperti orang yang naik ke atap sebuah bangunan tanpa tangga” [Riwayat Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al Kifayah fi Ilmi Riwayah hal.393]
Imam Sufyan Ats-Tsauri (wafat 161 H) -rahimahullah- berkata:
Artinya:
“Sanad adalah senjatanya orang beriman. Apabila tidak ada senjata tersebut, maka dengan apa mereka berperang (melawan syetan dan syubhat)?” [Riwayat Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Syaraf Ashabil Hadits hal.42]
Demikianlah pentingnya bersanad bagi para penuntut ilmu, thalabul ilmi. Karena mengejar sanad bagi seorang pelajar, santri, mahasiswa dan sarjana muslim sangat penting adanya untuk menegaskan keberlanjutan/pewarisan khazanah keilmuan Islam.
Berikut ini Sanadisasi Kitab dan Matan Ilmu Nahwu-Shorof yang dapat diikuti majelisnya, dan selanjutnya bisa diperoleh ijazah sanadnya, dengan syarat dan ketentuan yang ditentukan oleh Mujiznya, yaitu:
1. Kitab Nahwu Wadhih (1,2, dan 3); Lihat: Nahwu Wadhih: Kalimat Sempurna (al-Jumlah al-Mufidah)
2. Kitab Matn Ajurumiyyah; Download: الآجرومية Lihat pula: Terjemahan Kitab Matan Al-Ajurumiyah – 1, Terjemahan Kitab Matan Al-Ajurumiyah – 2, Terjemahan Kitab Matan Al-Ajurumiyah – 3, Terjemahan Kitab Matan Al-Ajurumiyah – 4, Terjemahan Kitab Matan Al-Ajurumiyah – 5, Terjemahan Kitab Matan Al-Ajurumiyah – 6.
3. Kitab Imrithy; Download: Nadzom Al-Jurumiyah (‘Imrithi) Lihat: Nadhom Imrithi dan Terjemahnya
4. Kitab Mutammimah Ajurumiyah; Download: متممة الآجرومية في علم العربية
5. Kitab Amtsilatu Tashrifiyah
6. Kitab Nadzom al-Maqsud fi Shorof – نظم المقصود في فن الصرف , Download: نظم المقصود Lihat: Mengakrabi Nadhom Maqsud (Kaidah Tashrif)
7. Kitab Matn Syubrowiy
8. Kitab Matn Kailani; Lihat: Mengenal Kitab Shorof: Matn Kailani
9. Kitab Awamilul Miah
10. Kitab Tasriful Izzi
11. Kitab Qowaidus Shorfiyyah
12. Kitab Qowaidul I’lal
13. Kitab Mulhatul I’rab; Lihat: Penjelasan Singkat tentang Matan Mulhatul I’rob
14. Kitab Qotrun-Nada wa Bhallushada
15. Kitab Matn Alfiah Ibnu Malik; Lihat: Mengenal Kitab Alfiyah Ibnu Malik
Demikianlah sedikit catatan penulis tentang Kutub Nahwu-Shorof dan keinginan untuk selalu mengejar sanad dari beragam kutub nahwu shorof tersebut. Maka demikian pula harapan penulis kepada seluruh santri, pelajar dan mahasiswa muslim untuk selalu menjaga semangat belajar dan memantapkan penguasaan beragam khazanah keilmuan Islam, termasuk yang paling dasar dan penting diantaranya, yaitu kitab Nahwu-Shorof.
Semoga catatan singkat ini bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep, Sulsel.
Komentar Terbaru