IMMIMPANGKEP – Di kalangan teman seangkatannya, #Zealous925, santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep ini, seringkali dipanggil dengan sebutan Celsi. Panggilan ini sebetulnya gabungan dari nama orangtua, dari Ayah yang bernama Cellu, dan ibu yang bernama Sri Emmawati, S.Pd. Nama sebenarnya adalah Nur Insani, sebuah nama yang menjadi pengharapan orangtuanya agar kelak anaknya dapat menjadi orang yang sukses, yang kesuksesannya tidak hanya berdampak bagi diri dan keluarganya, tapi juga berdampak bagi lingkungan sekitarnya. Namanya menjadi harapan akan munculnya “cahaya kemanusiaan” dimanapun berada.
Sejak menjadi santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, satu hal yang menonjol pada dirinya dan menjadi ciri khasnya adalah kerajinannya beribadah. Nur Insani sendiri kadang menyebut dirinya sebagai “anak ibadah”, meskipun dalam kepengurusan OSIS/ISPM Periode 2023/2024, dirinya bukan hanya mengurusi ibadah, tapi dipercaya sebagai Koordinator Seksi Ibadah dan Kebersihan. Belakangan juga menyebut dirinya “anak tapak suci”, karena ikut aktif Latihan Beladiri pada Perguruan Silat Tapak Suci Putera Muhammadiyah.

Nur Insani. (foto: ist/*)
Nur Insani yang kelahiran Bonto Masunggu, Tondong Bua, Kabupaten Bone, Tanggal 29 Mei 2007 ini merupakan salah satu santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep yang bertahan hingga 6 tahun mondok. “Mondok itu asyik dan seru. Senang sekali memiliki banyak teman dari berbagai daerah di Indonesia. Alhamdulillah, saya SMP dan SMA disini, di Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep,” ujarnya.
“Di Pondok, banyak guru memperlakukan kami tidak sebagai murid, tapi menyayangi kami seperti anak sendiri. Dan itulah mungkin yang membuat di Pondok, yang terjalin bukan hanya hubungan pembelajaran, tapi ikatan emosional. Ada banyak guru/pembina dalam Pondok yang marahnya sangat luar biasa kalau mendapati kami melakukan pelanggaran. Dari melihat marahnya itu, kami yakini sebagai bukan marahnya seorang guru, tapi marahnya seorang ayah yang menyayangi kami semuanya,” tutur Nur Insani, yang akan mengakhiri masa mondoknya di pertengahan Tahun 2025 ini.

Nur Insani. (foto: ist/*)
“Terima kasih kepada Bapak/Ibu Guru kami yang tidak memanjakan kami dan senantiasa ingin melihat kami mandiri, melatih kami berorganisasi, mengurus segala sesuatu sendiri, tidak memanjakan kami dengan beragam fasilitas. Kami jadi ikut yakin dengan keyakinan para guru bahwa kunci kesuksesan adalah kemandirian yang telah teruji dengan serba keterbatasan dan minim fasilitas, karena dari situlah muncul beragam kreatifitas dan inovasi, menjadi life skill tersendiri sebagai bekal di masa depan,” tambah gadis bungsu dari dua bersaudara ini.
Nur Insani mengungkapkan bahwa dirinya memiliki hobi membaca dan berorganisasi. Itulah sebabnya, tak mengherankan jika dirinya diamanahi sebagai Ketua Pramuka dan Ketua Panitia Festival Anak Shalehah (FAS) di lingkungan Santriwati Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep. Ketekunannya Tadarrus, Muhadharoh dan seringkali Memimpin Do’a usai Shalat Fardhu di Masjid, membuatnya beberapa kali meraih prestasi langganan Juara Cerdas Cermat Islami (CCI), baik yang diselenggarakan pada saat Porseni maupun yang diselenggarakan oleh Perusahaan, semisal Lomba Cerdas Cermat Islami pada saat HUT PT. Semen Tonasa di Biringere, Pangkep.
Selamat buat Nur Insani, semoga kelak kesuksesan yang diraihnya menjadi “cahaya kemanusiaan” bagi lingkungan sekitarnya. (*)
Komentar Terbaru