Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
IMMIMPANGKEP – Perkembangan Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari tumbuhnya berbagai kerajaan dan kesultanan Islam di Nusantara. Setelah Islam berinteraksi dengan masyarakat melalui perdagangan, perkawinan, dakwah, pendidikan, tasawuf, dan jaringan ulama, di sejumlah wilayah muncul pusat-pusat kekuasaan yang menjadikan Islam sebagai bagian penting dari kehidupan politik dan sosial.
Pada awal abad ke-17, kerajaan-kerajaan Islam telah berkembang di berbagai kawasan Nusantara, antara lain Perlak, Samudra Pasai dan Aceh di Sumatra; Demak, Pajang, Mataram, Cirebon dan Banten di Jawa; Banjar dan beberapa kesultanan lain di Kalimantan; Gowa-Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu di Sulawesi; serta Ternate, Tidore dan kerajaan-kerajaan Maluku lainnya.
Kemunculan kerajaan Islam tidak sekadar menunjukkan perubahan agama penguasa. Kerajaan-kerajaan tersebut juga menjadi pusat perdagangan, diplomasi, pendidikan, kebudayaan, dan penyebaran Islam. Kota-kota pusat kerajaan berkembang menjadi simpul jaringan maritim yang menghubungkan Nusantara dengan India, Timur Tengah, Cina, dan kawasan Asia Tenggara lainnya.
Oleh karena itu, sejarah kerajaan Islam di Indonesia dapat dilihat sebagai bagian dari proses pembentukan peradaban Islam Nusantara yang memiliki karakter maritim, terbuka terhadap jaringan internasional, sekaligus mampu beradaptasi dengan kebudayaan lokal.
a. Kerajaan-Kerajaan Islam di Sumatera
Sumatera merupakan salah satu wilayah paling awal berkembangnya pusat kekuasaan Islam di Nusantara. Posisi geografisnya yang berhadapan dengan Selat Malaka menjadikannya sangat strategis dalam jaringan perdagangan internasional.
1. Kesultanan Perlak
Perlak atau Peureulak di wilayah Aceh Timur sering disebut sebagai salah satu kerajaan Islam awal di Nusantara. Letaknya yang berada di jalur perdagangan Selat Malaka memungkinkan Perlak berhubungan dengan pedagang dan ulama Muslim dari berbagai kawasan. Perlak kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perkembangan Islam di bagian utara Sumatra.
2. Kesultanan Samudra Pasai
Samudra Pasai merupakan salah satu pusat kekuasaan Islam paling awal yang bukti sejarahnya relatif kuat. Kesultanan ini berkembang di pesisir utara Sumatra, sekitar wilayah Aceh Utara sekarang, dan memiliki posisi strategis di jalur perdagangan Selat Malaka.
Salah satu bukti penting ialah nisan Sultan Malik al-Saleh yang wafat pada 1297 M. Berita Marco Polo yang singgah di wilayah Sumatra pada 1292 serta catatan perjalanan Ibn Battuta pada abad ke-14 juga memberikan gambaran mengenai keberadaan masyarakat dan pemerintahan Islam di kawasan tersebut.
Pada masa Samudra Pasai, Islam berkembang tidak hanya sebagai agama masyarakat tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan politik dan intelektual. Pasai menjadi tempat bertemunya pedagang, ulama, dan pelajar dari berbagai kawasan. Peran semacam ini membuatnya penting dalam pembentukan jaringan Islam di Asia Tenggara.
3. Kesultanan Aceh Darussalam
Setelah melemahnya Samudra Pasai, Aceh Darussalam tampil sebagai kekuatan besar di utara Sumatra. Kesultanan ini berkembang terutama sejak abad ke-16 dan mencapai puncak kejayaan pada masa Sultan Iskandar Muda (1607–1636).
Aceh bukan hanya kekuatan politik dan militer, tetapi juga menjadi pusat intelektual Islam. Pada abad ke-17 muncul ulama-ulama besar seperti Hamzah Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani, Nuruddin al-Raniri, dan Abd al-Rauf al-Singkili. Jaringan keilmuan Aceh memperlihatkan keterhubungan Nusantara dengan pusat-pusat Islam di Makkah, Madinah, dan kawasan Timur Tengah.
Selain ketiga kerajaan tersebut, di Sumatra juga berkembang Kesultanan Palembang Darussalam, Siak Sri Indrapura, Jambi, Deli, dan beberapa pusat kekuasaan Islam lainnya. Palembang, misalnya, berkembang sebagai pusat perdagangan dan intelektual Islam di Sumatra bagian selatan. Kajian mengenai kerajaan Islam Sumatra menunjukkan bahwa perdagangan, pendidikan, dan diplomasi menjadi unsur penting dalam penguatan kesultanan-kesultanan tersebut.
b. Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa
Islamisasi di Jawa berkembang sangat erat dengan jaringan perdagangan pesisir utara Jawa. Kota-kota seperti Gresik, Demak, Tuban, Cirebon, dan Banten menjadi pusat interaksi antara pedagang, ulama, bangsawan, dan masyarakat lokal.
1. Kesultanan Demak
Demak merupakan salah satu kerajaan Islam terpenting di Jawa pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16. Kemunculannya berkaitan dengan berkembangnya komunitas Muslim di pesisir utara Jawa serta melemahnya kekuasaan Majapahit.
Demak kemudian menjadi pusat politik Islam sekaligus salah satu pusat penyebaran Islam di Jawa. Tradisi sejarah Jawa menghubungkan perkembangan Demak dengan jaringan Wali Songo. Masjid Agung Demak menjadi salah satu peninggalan penting yang merepresentasikan hubungan antara agama, kekuasaan, dan kebudayaan Islam di Jawa.
2. Kesultanan Pajang
Setelah kemunduran Demak, pusat kekuasaan Islam di Jawa berpindah ke Pajang. Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir menjadi tokoh utama dalam perkembangan kerajaan ini. Pajang menjadi penghubung antara tradisi politik pesisir Demak dan perkembangan kerajaan Mataram di pedalaman Jawa.
3. Kesultanan Mataram Islam
Mataram berkembang sejak akhir abad ke-16 dan mencapai kejayaan terutama pada masa Sultan Agung (1613–1645). Berbeda dari Demak yang berorientasi kuat pada jaringan pesisir, Mataram memiliki basis kekuasaan di pedalaman Jawa.
Pada masa Sultan Agung, Mataram melakukan ekspansi politik yang luas dan berusaha menyatukan sebagian besar Jawa di bawah pengaruhnya. Dalam bidang kebudayaan, Mataram memperlihatkan proses akulturasi antara tradisi Jawa dengan Islam. Kalender Jawa-Islam, seni, sastra, dan tata pemerintahan menunjukkan bagaimana Islam berinteraksi dengan kebudayaan lokal.
4. Kesultanan Cirebon dan Banten
Cirebon berkembang sebagai pusat Islam di Jawa Barat. Tokoh penting dalam sejarahnya adalah Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Dari Cirebon, jaringan Islam kemudian memiliki hubungan erat dengan perkembangan Banten.
Banten berkembang menjadi kesultanan perdagangan yang sangat penting. Letaknya di sekitar Selat Sunda memberikan keuntungan ekonomi dan strategis. Pada masa Sultan Ageng Tirtayasa, Banten menjadi salah satu kekuatan penting dalam perdagangan internasional serta memiliki hubungan dengan berbagai pusat perdagangan Asia.
Dengan demikian, kerajaan-kerajaan Islam di Jawa menunjukkan dua karakter utama: pusat Islamisasi dan pusat perdagangan maritim. Kota-kota kerajaan kemudian berkembang pula menjadi pusat pendidikan dan kegiatan keagamaan.
c. Kerajaan-Kerajaan Islam di Kalimantan
Islamisasi Kalimantan berkembang terutama melalui jalur perdagangan sungai dan pesisir. Sungai-sungai besar seperti Barito, Kapuas, dan Mahakam menjadi jalur penting mobilitas manusia, barang, dan gagasan.
1. Kesultanan Banjar
Kesultanan Banjar merupakan salah satu kerajaan Islam paling penting di Kalimantan. Islamisasi kerajaan ini berkaitan dengan Pangeran Samudera yang kemudian bergelar Sultan Suriansyah.
Pada 1526, setelah memperoleh dukungan politik dari Demak dalam konflik perebutan kekuasaan, Pangeran Samudera memeluk Islam dan kemudian menjadikan Islam sebagai agama kerajaan. Peristiwa tersebut menjadi titik penting dalam pembentukan Kesultanan Banjar.
Banjar selanjutnya menjadi salah satu pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Kalimantan. Dalam perkembangan berikutnya, tradisi keilmuan Islam Banjar melahirkan ulama besar seperti Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Hal tersebut menunjukkan bahwa kerajaan bukan hanya berfungsi sebagai institusi politik, tetapi juga menjadi pendukung perkembangan pendidikan Islam.
2. Kesultanan-Kesultanan Kalimantan Lainnya
Selain Banjar, berkembang pula Kesultanan Sambas, Pontianak, Mempawah, Sintang, Tanjungpura, Pasir, Bulungan, dan Kutai. Tidak semuanya memiliki pola pembentukan yang sama. Sebagian merupakan transformasi kerajaan lokal melalui proses Islamisasi, sementara sebagian lainnya tumbuh dalam jaringan perdagangan dan kesultanan pesisir.
Di Kalimantan Barat, misalnya, Pontianak berkembang sebagai pusat perdagangan dan kekuasaan Melayu-Islam. Di Kalimantan Timur, Kutai mengalami proses Islamisasi yang kemudian melahirkan Kesultanan Kutai Kartanegara. Dengan demikian, perkembangan Islam di Kalimantan memperlihatkan keterkaitan erat antara jaringan sungai, perdagangan, politik lokal, dan dakwah.
d. Kerajaan-Kerajaan Islam di Sulawesi dan Maluku
Kawasan Sulawesi dan Maluku mempunyai karakter yang sangat khas karena perkembangan Islam di wilayah ini berkaitan erat dengan perdagangan maritim dan jaringan antarkerajaan.
1. Kerajaan Gowa-Tallo
Di Sulawesi Selatan, Gowa-Tallo menjadi salah satu pusat Islamisasi yang paling berpengaruh. Kedatangan Islam berkaitan dengan aktivitas perdagangan dan dakwah para ulama yang kemudian dikenal dalam tradisi lokal sebagai Datuk Tellue: Datuk ri Bandang, Datuk ri Tiro, dan Datuk ri Pattimang.
Raja Tallo I Mallingkang Daeng Manyonri memeluk Islam dengan gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam, sedangkan Raja Gowa I Mangngarangi Daeng Manrabia bergelar Sultan Alauddin. Penerimaan Islam oleh Gowa-Tallo terjadi pada awal abad ke-17, yang menjadi titik penting bagi perkembangan Islam di Sulawesi Selatan.
Setelah Gowa-Tallo menjadi kerajaan Islam, proses Islamisasi meluas ke kerajaan-kerajaan Bugis dan Mandar. Hubungan antara Gowa dengan Bone, Wajo, dan Soppeng tidak selalu berlangsung secara damai. Dalam beberapa kasus terjadi peperangan yang dalam sumber-sumber lokal dikenal sebagai Musu’ Selleng atau perang Islamisasi. Bone menerima Islam pada 1611 setelah mengalami kekalahan dalam konflik dengan Gowa.
Namun, Islamisasi Sulawesi Selatan tidak semata-mata merupakan proses politik dan militer. Dakwah para ulama juga memainkan peranan penting dengan menghubungkan ajaran Islam dengan sistem sosial-budaya setempat, termasuk konsep pangadereng.
Selain Gowa-Tallo dan Bone, Islam kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupan politik Wajo, Soppeng, Luwu, serta kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan. Luwu bahkan tercatat menerima Islam lebih awal daripada Gowa-Tallo, sekitar 1603 M menurut tradisi lontaraq yang dikaji dalam historiografi Sulawesi Selatan.
2. Kesultanan Ternate dan Tidore
Di Maluku, Islam berkembang dalam lingkungan perdagangan rempah-rempah. Ternate dan Tidore merupakan dua kekuatan politik utama yang mempunyai hubungan erat dengan jaringan perdagangan internasional.
Islam di Ternate berkembang melalui pedagang dan mubalig. Sultan Zainal Abidin dikenal sebagai penguasa penting dalam proses pembentukan Ternate sebagai kesultanan Islam. Faktor perdagangan, perkawinan, kondisi geografis sebagai pelabuhan, dan hubungan antarpedagang turut mempercepat penerimaan Islam.
Tidore juga berkembang sebagai kekuatan politik Islam di Maluku. Selain Ternate dan Tidore, Bacan dan Jailolo termasuk kerajaan Maluku yang mengalami proses Islamisasi. Persaingan antarkerajaan kemudian berkelindan dengan kepentingan Portugis, Spanyol, dan Belanda dalam memperebutkan perdagangan rempah-rempah.
Penutup
Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia merupakan bagian penting dari proses pembentukan peradaban Islam Nusantara. Perkembangannya tidak terjadi secara seragam. Di Sumatra, Islam tumbuh melalui kota-kota pelabuhan seperti Perlak, Samudra Pasai, dan Aceh. Di Jawa, perkembangan Demak, Pajang, Mataram, Cirebon, dan Banten menunjukkan hubungan antara Islam, perdagangan, dan transformasi politik setelah melemahnya kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha.
Di Kalimantan, Kesultanan Banjar dan berbagai kesultanan pesisir menunjukkan pentingnya jaringan perdagangan sungai dan maritim. Sementara di Sulawesi dan Maluku, Gowa-Tallo, Bone, Wajo, Luwu, Ternate, dan Tidore memperlihatkan karakter Islamisasi yang berhubungan erat dengan perdagangan, diplomasi, dakwah, bahkan konflik antarkerajaan.
Dengan demikian, kerajaan Islam tidak hanya dapat dipahami sebagai pemerintahan yang rajanya beragama Islam. Kerajaan-kerajaan tersebut merupakan simpul peradaban: tempat berlangsungnya perdagangan, pendidikan, dakwah, diplomasi, produksi kebudayaan, dan pembentukan identitas sosial masyarakat Muslim. Jaringan antarkesultanan bahkan membentuk hubungan ekonomi dan intelektual yang menghubungkan berbagai wilayah Nusantara dengan dunia Islam yang lebih luas.
Warisan kerajaan-kerajaan Islam tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang dalam bentuk masjid tua, makam raja dan ulama, keraton, istana, manuskrip, tradisi keagamaan, bahasa, sastra, hukum adat, serta berbagai praktik kebudayaan masyarakat. Karena itu, mempelajari kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia berarti mempelajari salah satu fondasi penting dalam sejarah terbentuknya masyarakat dan kebudayaan Indonesia.
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Referensi/Bahan Bacaan:
Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII: Akar Pembaruan Islam Indonesia. Jakarta: Kencana, 2004.
Abdullah, Taufik, ed. Sejarah Umat Islam Indonesia. Jakarta: Majelis Ulama Indonesia, 1991.
Ambary, Hasan Muarif. Menemukan Peradaban: Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998.
Buseri, Kamrani. “Kesultanan Banjar dan Kepentingan Dakwah Islam.” Al-Banjari: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Keislaman 11, no. 2 (2012): 221–230.
Dahlan, Muhammad. “Proses Islamisasi Melalui Dakwah di Sulawesi Selatan dalam Tinjauan Sejarah.” Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan 1, no. 1 (2013).
Haif, Abu, dan Irnawati Gani Arif. “Proses Penerimaan Islam di Kerajaan Ternate.” Tumanurung: Jurnal Sejarah dan Budaya 1, no. 1 (2020).
Helmiati. Sejarah Islam Asia Tenggara. Pekanbaru: Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Sultan Syarif Kasim Riau.
Mihara, Susmihara. “Pendidikan Islam Masa Kerajaan Islam di Nusantara.” Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan 6, no. 1 (2018).
Patunru, Abdul Daeng. Sejarah Gowa. Ujung Pandang: Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara, 1976.
Reid, Anthony. Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680. Vol. 1, The Lands Below the Winds. New Haven: Yale University Press, 1988.
Reid, Anthony. Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680. Vol. 2, Expansion and Crisis. New Haven: Yale University Press, 1993.
Ricklefs, M. C. A History of Modern Indonesia Since c. 1200. 4th ed. Stanford: Stanford University Press, 2008.
Siswadi, Puji. “Politik Islamisasi Kerajaan Gowa-Tallo terhadap Tiga Kerajaan Tellumpoccoe (Bone, Soppeng, Wajo) pada Abad XVII.” Rihlah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan 4, no. 1 (2016): 120–140.
Sulistiono, Budi. “Faktor Pendukung Terbentuknya Jaringan Perdagangan antar Kesultanan di Nusantara.” Buletin Al-Turas 17, no. 1 (2011).
Tinggalkan Komentar