Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
2 September 2026

HP di Tangan Santri: Ancaman Literasi atau Peluang Dakwah?

Rab, 2 September 2026 Dibaca 316x

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Pedang Bermata Dua: Bahaya Penggunaan Smartphone Berlebih bagi Akal dan Mental

IMMIMPANGKEP – Dahulu, salah satu pemandangan yang paling mudah ditemukan dalam lingkungan Pondok Pesantren adalah santri yang membawa buku, kitab, Al-Qur’an, atau catatan pelajaran ke mana-mana. Waktu luang diisi dengan membaca, menghafal, berdiskusi, muraja’ah, atau mengikuti kajian. Kini, pemandangan itu mulai berubah. Di tangan sebagian santri terdapat benda yang jauh lebih kecil daripada kitab, tetapi memiliki dunia yang jauh lebih luas: handphone atau HP.

Dengan sebuah HP, seorang santri dapat membaca Al-Qur’an, membuka kitab digital, mendengarkan kajian ulama, belajar Bahasa Arab, mengakses jurnal dan buku, mengikuti kelas daring, mencari informasi sejarah Islam, membuat desain, merekam video, menulis artikel, hingga berdakwah kepada ribuan orang. Tetapi dengan benda yang sama, seorang santri juga dapat menghabiskan berjam-jam hanya untuk menggulir media sosial, menonton video tanpa tujuan, mengikuti tren, mengejar popularitas, atau terjebak dalam konten yang tidak memberikan manfaat bagi perkembangan ilmu dan akhlaknya.

Di sinilah persoalan sebenarnya berada. HP bukan ancaman dan bukan pula peluang secara otomatis. Yang menentukan adalah siapa yang memegangnya, bagaimana cara menggunakannya, dan untuk tujuan apa ia digunakan.

HP di tangan santri yang memiliki literasi kuat dapat menjadi perpustakaan berjalan. Sebaliknya, HP di tangan santri yang tidak memiliki kesadaran literasi dapat berubah menjadi pintu masuk bagi pemborosan waktu, kemalasan belajar, bahkan berbagai pengaruh negatif.

***

Perkembangan teknologi informasi komunikasi (TIK) telah mengubah cara manusia memperoleh pengetahuan. Dahulu, seorang santri harus datang ke perpustakaan untuk mencari buku. Kini, banyak sumber ilmu dapat diakses melalui layar HP/gadget.

Seorang santri yang sedang belajar tafsir dapat mencari berbagai referensi. Santri yang mempelajari Bahasa Arab dapat mendengarkan percakapan penutur asli. Santri yang sedang belajar Nahwu-Shorof dapat menemukan video pembelajaran di Channel Youtube. Santri yang menghafal Al-Qur’an dapat menggunakan aplikasi untuk membantu muraja’ah. Santri yang mempelajari Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) dapat menyaksikan dokumenter sejarah dan membaca berbagai sumber online.

Bahkan, seorang santri dapat mengenal pesantren-pesantren lain di berbagai daerah dan berbagai belahan dunia tanpa harus meninggalkan kamarnya. Dunia ilmu menjadi begitu dekat. Tetapi kedekatan dengan informasi tidak selalu berarti kedalaman pengetahuan. Di sinilah literasi menjadi sangat penting.

Santri tidak cukup hanya memiliki akses informasi. Ia harus memiliki kemampuan untuk memilih dan memilah informasi yang bermanfaat, membaca dengan kritis, memeriksa sumber, memahami konteks, membandingkan pendapat, dan mengambil kesimpulan secara bertanggung jawab. Sebab, HP memberikan akses kepada ilmu sekaligus memberikan akses kepada informasi yang belum tentu merupakan ilmu.

Santri yang memiliki budaya literasi akan melihat HP/gadget dengan cara yang berbeda. Baginya, HP bukan sekadar alat komunikasi dan hiburan. HP adalah perpustakaan digital yang dapat dibawa ke mana saja. Ketika menemukan istilah yang belum dipahami dalam kitab, ia dapat mencari penjelasan. Ketika mendapatkan ayat Al-Qur’an, ia dapat membaca tafsirnya. Ketika mempelajari Hadits, ia dapat mencari sumber dan penjelasan ulama. Ketika belajar sejarah Islam, ia dapat membandingkan berbagai referensi.

Lebih jauh lagi, santri dapat menggunakan HP untuk menghasilkan karya. Ia dapat menulis artikel tentang pengalaman belajar di pesantren. Ia dapat membuat video pendek tentang keutamaan menuntut ilmu. Ia dapat membuat konten tentang Bahasa Arab. Ia dapat membagikan tips menghafal Al-Qur’an. Ia dapat membuat infografis tentang sejarah Islam. Ia dapat mendokumentasikan kegiatan pesantren. Ia dapat membuat podcast tentang kehidupan santri.

Pada titik ini, HP berubah fungsi. Dari alat konsumsi menjadi alat produksi. Santri bukan lagi hanya penonton, tetapi menjadi pencipta. Bukan hanya pengikut tren, tetapi ikut menciptakan narasi. Bukan hanya pengguna media sosial, tetapi menjadi bagian dari masyarakat digital yang menyebarkan pengetahuan dan kebaikan.

***

Bagi Guru/Pengasuh Pesantren harus menyadari dan mengambil sikap bijak bahwa dengan perkembangan TIK yang luar biasa, maka dakwah itu tidak selalu harus di Mimbar. Begitu pula dengan santri/santriwati. Masih adanya anggapan di kekinian bahwa dakwah harus dilakukan di masjid, majelis taklim, mimbar Jumat, atau forum pengajian. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya salah, tetapi perkembangan teknologi memperluas ruang dakwah.

Hari ini, dakwah juga dapat dilakukan melalui sebuah tulisan, foto, video pendek, podcast, infografis, atau bahkan satu kalimat yang inspiratif. Seorang santri yang memiliki kemampuan literasi digital dapat menjadi dai di ruang digital. Ia tidak harus menunggu menjadi ustadz/ustadzah terkenal. Ia dapat memulai dari hal sederhana: menceritakan pengalaman belajar, membagikan kutipan kitab, menjelaskan kosa kata Arab, memperkenalkan tradisi pesantren, membagikan kegiatan positif di asrama, atau membuat konten tentang adab santri.

Konten digital semacam itu mungkin terlihat sederhana. Tetapi jika dibuat secara konsisten, kreatif, dan bertanggung jawab, ia dapat memberikan dampak yang besar. Di sinilah HP menjadi peluang dakwah dan Santri sebenarnya dapat menjadi Duta Pesantren dengan sendirinya. Ini yang banyak terlupakan, bahwa ada satu peluang besar yang sering kali belum dimanfaatkan secara optimal oleh pesantren, yaitu bahwa santri dapat menjadi duta digital pesantrennya.

Setiap hari, masyarakat sebenarnya ingin mengetahui seperti apa kehidupan pesantren. Bagaimana santrinya belajar? Apa yang dilakukan di asrama? Bagaimana kegiatan tahfidz? Bagaimana pembelajaran Bahasa Arab? Apa saja kegiatan ekstrakurikulernya? Bagaimana guru membimbing santri? Apa prestasi yang diraih? Semua pertanyaan tersebut dapat dijawab melalui konten yang dibuat oleh santri sendiri.

Ketika santri membuat konten positif tentang pesantrennya, sesungguhnya ia sedang melakukan promosi. Tetapi promosi tersebut bukan sekadar iklan. Ia merupakan kesaksian pengalaman. Video kegiatan belajar, dokumentasi kajian, lomba, tahfidz, olahraga, karya seni, kegiatan sosial, kunjungan pendidikan, hingga kehidupan sehari-hari yang positif dapat memberikan gambaran kepada masyarakat tentang wajah pesantren.

Dengan demikian, HP dapat menjadi alat untuk memperkenalkan pesantren kepada dunia. Pesantren yang sebelumnya hanya dikenal oleh masyarakat sekitar dapat dikenal lebih luas. Tradisi baik yang selama ini hanya berlangsung di lingkungan pesantren dapat dilihat masyarakat. Prestasi santri dapat menjadi inspirasi. Guru dan ustadz dapat menyebarkan gagasan. Bahkan, orang tua calon santri dapat memperoleh informasi yang lebih nyata mengenai kehidupan pesantren.

HP Bisa Juga Hanya Menjadi Mesin Penghabis Waktu

Persoalan muncul ketika HP hanya digunakan untuk konsumsi tanpa batas. Santri membuka media sosial ketika bangun tidur. Membuka lagi setelah belajar. Membuka ketika makan. Membuka sebelum tidur. Waktu yang seharusnya digunakan untuk membaca kitab, muraja’ah, berdiskusi, berolahraga, beribadah, atau beristirahat justru habis untuk menggulir layar.

Satu video selesai, muncul video berikutnya. Satu unggahan dilihat, muncul unggahan lain. Satu komentar dibaca, muncul perdebatan baru. Waktu berjalan tanpa terasa. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika santri mulai mengukur keberhasilannya berdasarkan jumlah likes, views, followers, dan komentar. Ia mulai membuat konten bukan karena bermanfaat, tetapi karena ingin viral. Ia mulai mengikuti tren bukan karena memiliki nilai, tetapi karena takut tertinggal.

Pada titik tertentu, media sosial tidak lagi menjadi alat yang digunakan santri. Justru santri yang digunakan oleh media sosial. Inilah ancaman literasi yang sebenarnya. Bukan HP yang Harus Dimusuhi, tapi penggunanya yang tidak memahami literasi yang baik dan bermanfaat. Karena itu, solusi terhadap persoalan HP di pesantren bukan semata-mata dengan memusuhi teknologi.

Larangan mungkin diperlukan dalam situasi tertentu. Aturan tetap harus dibuat. Pengawasan tetap harus dilakukan. Tetapi pendidikan yang hanya mengandalkan larangan tidak akan cukup menghadapi dunia digital. Karena itu, Santri harus dibekali kesadaran digital. Mereka harus memahami bahwa setiap menit yang dihabiskan di depan layar adalah bagian dari umur yang tidak akan kembali.

Seorang santri harus belajar bertanya sebelum membuka sebuah aplikasi: Apa tujuan saya? Apa yang ingin saya dapatkan? Apakah ini bermanfaat? Apakah setelah menggunakannya saya menjadi lebih baik atau justru kehilangan waktu? Pertanyaan sederhana semacam itu merupakan bagian dari pendidikan karakter di era digital.

Dari Konsumen Menjadi Kreator

Pesantren perlu mengubah paradigma: jangan hanya mengajarkan santri bagaimana menggunakan teknologi, tetapi ajarkan mereka bagaimana menghasilkan sesuatu dengan teknologi. Santri perlu diarahkan untuk menulis. Membuat video edukatif. Mengelola blog. Membuat podcast. Mendesain poster. Membuat dokumentasi kegiatan. Mengembangkan kanal dakwah. Menghasilkan konten Bahasa Arab. Membuat materi pembelajaran Al-Qur’an. Bahkan, jika memiliki kemampuan, mereka dapat belajar fotografi, videografi, desain grafis, pengelolaan media sosial, dan kecakapan digital lainnya.

Dengan demikian, waktu yang biasanya digunakan untuk konsumsi media sosial dapat dialihkan menjadi waktu produktif. Santri tidak hanya bertanya, “Apa yang sedang viral?” Tetapi mulai bertanya: “Apa yang bisa saya buat hari ini?” Pertanyaan tersebut menandai perubahan besar dalam cara berpikir.

Pada akhirnya, kekuatan utama santri di era digital bukan terletak pada kecanggihan HP yang dimilikinya, melainkan pada kualitas literasinya. Santri yang kuat literasinya tidak mudah percaya pada informasi. Ia memeriksa sumber. Ia tidak mudah menyebarkan berita. Ia memahami perbedaan antara fakta dan opini. Ia mampu membedakan ilmu dengan hiburan. Ia mengetahui batas antara dakwah dan sekadar mencari popularitas.

Lebih penting lagi, ia memiliki kemampuan untuk menghubungkan apa yang dibacanya dengan nilai-nilai agama dan adab. Inilah yang membedakan santri dengan pengguna media sosial pada umumnya. Santri tidak boleh sekadar menjadi pengguna teknologi yang terampil, tetapi harus menjadi pengguna teknologi yang berilmu dan beradab.

Karena itu, pesantren juga memiliki pekerjaan rumah yang besar. Pesantren tidak cukup hanya mendidik santri di ruang kelas dan asrama. Pesantren harus hadir dalam ruang digital yang menjadi bagian dari kehidupan generasi muda. Guru, ustadz, pembina, dan pengelola pesantren perlu memberikan pendampingan. Santri perlu diberikan ruang untuk berkarya sekaligus diarahkan agar memahami etika bermedia sosial.

Pesantren dapat membangun tim media santri, klub literasi digital, pelatihan jurnalistik, pelatihan produksi konten Islami, pengelolaan blog santri, dan berbagai program kreatif lainnya. Dengan demikian, teknologi tidak diposisikan sebagai musuh pesantren, tetapi sebagai wasilah untuk memperluas manfaat pendidikan pesantren.

***

Pada akhirnya, HP/gadget hanyalah sebuah alat. Di tangan santri dan guru yang malas membaca, HP dapat menjadi mesin penghabis waktu. Di tangan santri yang tidak memiliki tujuan, HP dapat menjadi pintu masuk berbagai distraksi. Tetapi di tangan santri/guru yang gemar membaca, berpikir, menulis, dan berkarya, HP dapat menjadi perpustakaan, laboratorium kreativitas, studio produksi, ruang belajar, media dakwah, sekaligus jendela untuk memperkenalkan pesantren kepada dunia.

Maka pertanyaannya bukan lagi “Apakah HP boleh berada di tangan santri?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: “Untuk apa HP itu berada di tangan santri?” Jika jawabannya adalah untuk belajar, membaca, menulis, berkarya, berdakwah, berkomunikasi secara sehat, dan mempromosikan kebaikan pesantren, maka HP adalah peluang besar.

Tetapi jika jawabannya hanya untuk menggulir media sosial tanpa tujuan, mengejar hiburan tanpa batas, mengejar popularitas, dan menghabiskan waktu, maka HP dapat menjadi ancaman serius bagi masa depan literasi santri. Karena itu, tugas pesantren bukan sekadar mengambil HP dari tangan santri. Tugas yang lebih besar adalah mendidik tangan yang memegang HP dan pikiran yang berada di balik layar tersebut.

Santri harus belajar bahwa teknologi boleh berada di tangannya, tetapi arah hidupnya tidak boleh ditentukan oleh teknologi. Santri harus mampu memegang HP tanpa kehilangan kitab. Mampu berselancar di dunia digital tanpa tenggelam di dalamnya. Mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan adab. Dan yang paling penting, mampu mengubah sebuah layar kecil di tangannya menjadi jendela besar untuk menyebarkan ilmu, dakwah, inspirasi, dan kebaikan pesantren kepada dunia.

Demikian catatan singkat ini. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077