Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
IMMIMPANGKEP – Banyak guru/pembina atau pengasuh sekolah, khususnya yang melabelkan dirinya sebagai bagian tak terpisahkan dari keluarga besar Pondok Pesantren, terkait mengapa selama memilih jalan pengabdiannya mengajar dan mengasuh santri di Pesantren, tak ada perkembangan berarti yang dilihat, ditemui dan dirasakannya. Inilah yang banyak tidak disadari oleh guru/pembina/pengasuh pesantren tersebut. Bahwa di era kekinian, guru dan tenaga pendidik itu harus mengakrabkan dirinya, bukan hanya pada lingkungan fisik pesantren, tapi juga pada lingkungan digital pesantren.
Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, pesantren tidak lagi hanya hadir dalam ruang-ruang fisik seperti masjid, asrama, kelas, perpustakaan, dan lapangan. Pesantren juga telah memasuki ruang baru yang tidak memiliki dinding dan batas geografis: ruang digital.
Website pesantren, portal sekolah, blog santri, media sosial, kanal video, hingga blog pribadi guru merupakan bagian dari lingkungan digital yang sangat penting bagi lembaga pendidikan, khususnya bagi swasta yang sekolah/pesantrennya dikelola oleh Yayasan. Berbeda dengan Sekolah Negeri, Pihak Yayasan umumnya berharap banyak guru dan tendik juga dapat menjadi promotor bagi kelangsungan hidup sekolah/pesantren.
Nah, Ruang digital itu sangat penting diakrabi guru dan tenaga kependidikan bagi sekolah/lembaga pendidikan swasta, bukan sekadar tempat mengumumkan jadwal kegiatan, menyampaikan informasi penerimaan santri baru, atau memajang dokumentasi kegiatan. Lebih dari itu, ruang digital dapat menjadi tempat promosi, ruang belajar, ruang berbagi gagasan, ruang dokumentasi, ruang apresiasi, sekaligus ruang membangun reputasi dan peradaban pesantren.
Karena itu, sudah saatnya para guru, pembina, dan pengasuh pesantren tidak merasa asing terhadap lingkungan digital. Kita perlu mengakrabi, memasuki, dan menghidupkannya. Harusnya Pondok Pesantren memiliki sosok yang ditunjuk mengelola website secara khusus, bukan guru yang merangkap pengelola website, bukan humas yang merangkap pengelola website, bukan pula penanggung jawab Penerimaan Santriwati Baru yang merangkap pengelola website, bukan pula pengurus yayasan yang merangkap pengelola website.
Lah, kalau tidak mau ikut berpromosi, dan bahkan sekaligus namanya tertera sebagai panitia penerimaan santriwati baru, lantas pula tidak mau ikut menulis dan mengisi website, atau hanya berharap pada satu guru pengasuh website saja yang diharapkan berpromosi terus, bagaimana mau dapat siswa/santri yang banyak? Membangun lingkungan digital pesantren itu tidak dapat dibebankan kepada satu orang. Mengelola Website Pesantren sebagai satu lingkungan digital bagi kelangsung hidup berkelanjutan itu bukan pekerjaan satu orang.
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap website sebagai tugas operator atau admin semata, atau bahkan meremehkan sebagai suatu pekerjaan yang mudah-mudah saja. Bayangkan jika demikian, seorang admin diharapkan mencari dan mengisi seluruh menu dan rubrik: yang ada: berita kegiatan, akademik, kesiswaan, prestasi, guru, santri, ekstrakurikuler, keasramaan, keagamaan, literasi, opini, artikel, pengumuman, galeri, profil lembaga, hingga berbagai informasi lainnya. Mengelola website agar profesional itu membutuhkan kerja kolaboratif.
Kerja Profesional apa yang diharapkan dalam mengelola website? Guru harus menulis bahan pembelajaran, Pembina harus menulis kegiatan pembinaan, Pengasuh menuliskan refleksi dan nasihat, Wali kelas memberikan perkembangan kelas, Pembina ekstrakurikuler melaporkan kegiatan, Santri menulis pengalaman dan karya, Tim dokumentasi wajib menyediakan foto dan video. Admin mengelola, menyunting, mengunggah, dan menata konten. Pimpinan memberikan arah dan supervisi. Dengan pembagian seperti itu, website tidak akan pernah kekurangan bahan dan bisa terus update. Jika dikelola profesional dengan kerja kolaboratif semua unsur guru/pengelola pendidikan, maka barulah dapat dikatakan website tersebut akan menjadi cermin kehidupan pesantren yang sesungguhnya.
Mari Menghidupkan Website Sekolah/Pesantren dari Hal-Hal Sederhana. Kita tidak perlu menunggu tulisan sempurna. Mulailah dari satu kegiatan. Setelah mengajar, tuliskan apa yang dilakukan. Setelah mengikuti pelatihan, tuliskan apa yang dipelajari. Setelah santri mendapatkan prestasi, tuliskan kisahnya. Setelah menyelesaikan sebuah program, tuliskan proses dan hasilnya. Setelah menemukan metode pembelajaran yang menarik, bagikan pengalamannya.
Jika belum mampu menulis panjang, tulislah pendek. Jika belum percaya diri menulis opini, mulailah dari berita kegiatan. Jika belum terbiasa menulis artikel, mulailah dari catatan reflektif. Yang penting adalah konsisten. Sebab budaya digital tidak dibangun dalam sehari. Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan bersama-sama.
Pada akhirnya, menghidupkan website pesantren bukan sekadar persoalan teknologi informasi dan media pencitraan. Ini adalah persoalan budaya. Kita sedang membangun budaya dokumentasi, budaya literasi, budaya berbagi pengetahuan, dan budaya apresiasi. Pesantren memiliki sejarah panjang dalam tradisi keilmuan. Para ulama dahulu menulis kitab, mencatat perjalanan, menyusun pemikiran, dan mewariskan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Hari ini medianya berubah. Jika dahulu ilmu ditulis di atas kertas, maka sekarang ia dapat ditulis dan disebarluaskan melalui website dan blog.
Jika dahulu sebuah kitab membutuhkan waktu panjang untuk sampai kepada pembaca di tempat lain, sekarang sebuah artikel dan berita dapat dibaca dalam hitungan detik oleh siapa saja di berbagai penjuru dunia. Karena itu, jangan biarkan ruang digital pesantren kosong dari gagasan para gurunya. Jangan biarkan pengalaman bertahun-tahun mendidik santri hilang begitu saja. Jangan biarkan prestasi guru dan santri hanya tersimpan di album pribadi. Jangan biarkan inovasi pembelajaran berhenti di satu kelas.
Tuliskan. Dokumentasikan. Bagikan. Mari menjadikan website pesantren sebagai rumah bersama bagi pengetahuan, pengalaman, karya, dan prestasi seluruh warga pesantren. Guru yang menulis sedang meninggalkan jejak. Guru yang mengajak santrinya menulis sedang menumbuhkan budaya. Dan pesantren yang membangun budaya digital sedang menyiapkan warisan pengetahuan untuk generasi yang akan datang. Maka, mulai hari ini, mari kita akrabi lingkungan digital pesantren.
Jangan hanya “jago bercerita”, jangan hanya “sedikit-sedikit mengeluh, dan menyalahkan yang lain”, padahal berbuat hal terkecil sekalipun dalam membuat citra pesantren menjadi lebih baik tidak dilakukan. Jika memang tidak bisa betul-betul menulis, tak mampu menulis atau tak punya waktu menulis, tak mampu ikut berpromosi, kenapa kalau demikian, sekedar untuk mengshare berita atau artikel yang ada di website pesantren saja, itupun berat dan tidak bisa dilakukan, terus kemana-mana berbicara seakan-akan telah melakukan banyak hal untuk sekolah dan pesantren.
Bukan sekadar untuk mengikuti perkembangan zaman, Menulis dan Membagikan artikel/berita tentang Pesantren itu di era kekinian, ditengah persaingan antar lembaga pendidikan—hal ini benar-benar diperlukan dan wajib dilakukan—untuk memastikan bahwa nilai-nilai, ilmu, pengalaman, prestasi, dan pemikiran pesantren hadir dan memberi manfaat di tengah masyarakat digital. Lagi pula. Pesantren tidak boleh hanya menjadi penonton ditengah perubahan teknologi digital dan massif saat ini. Pesantren harus menjadi bagian dari percakapan zaman—dengan ilmu, akhlak, karya, dan tulisan.
***
Seorang guru sesungguhnya memiliki begitu banyak pengetahuan yang lahir dari pengalaman sehari-hari. Apa yang dilakukan guru di kelas, bagaimana ia membina santri, bagaimana menyelesaikan persoalan pembelajaran, metode apa yang berhasil, bagaimana menghadapi karakter santri yang beragam, hingga refleksi setelah melaksanakan sebuah kegiatan, semuanya merupakan pengetahuan yang sangat berharga.
Sayangnya, banyak pengetahuan tersebut berhenti sebagai pengalaman pribadi. Guru mengajar, santri belajar, kegiatan selesai, lalu semuanya berlalu begitu saja. Padahal, pengalaman tersebut dapat dituliskan dan bisa menjadi: menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi yang lain. Ketika seorang guru menulis tentang pengalaman mengajarnya, ia sebenarnya sedang melakukan dua pekerjaan sekaligus: merefleksikan pengalaman dan membagikan pengetahuan.
Tulisan sederhana seperti “Pengalaman Mengajarkan Mahfuzat kepada Santri”, “Strategi Membiasakan Santri Berbahasa Arab di Asrama”, “Pembelajaran SKI Berbasis Kisah dan Keteladanan”, atau “Membangun Budaya Literasi di Kelas” mungkin terlihat sederhana. Tetapi jika ditulis dengan baik, tulisan itu dapat menjadi inspirasi bagi guru lain, bahan diskusi, bahkan menjadi dokumentasi pengetahuan lembaga.
Guru tidak harus menunggu menjadi Magister dan Doktor untuk menulis. Guru cukup menuliskan apa yang dikerjakan, apa yang dipelajari, apa yang berhasil, apa yang belum berhasil, dan apa yang ingin diperbaiki. Dari sanalah budaya intelektual tumbuh. Setiap mata pelajaran memiliki cerita. Setiap kelas memiliki dinamika. Setiap santri memiliki perkembangan. Sayang apabila semuanya hanya tersimpan dalam ingatan guru atau dokumentasi foto di telepon genggam.
Guru dapat menulis perkembangan pembelajaran mingguan atau bulanan. Misalnya, apa materi yang telah diberikan, metode pembelajaran yang digunakan, kegiatan praktik yang dilakukan, respons santri, kendala yang dihadapi, dan capaian yang diperoleh. Dengan demikian, website bukan hanya menjadi etalase kegiatan yang sudah berlangsung, tetapi juga menjadi rekam jejak proses pendidikan.
Orang tua dapat mengetahui aktivitas pendidikan anaknya. Pimpinan pesantren dapat melihat dinamika pembelajaran. Guru lain dapat memperoleh inspirasi. Alumni dapat mengikuti perkembangan almamaternya dan karenanya menjadi kebanggaan tersendiri. Bahkan masyarakat luas dapat melihat bagaimana pesantren bekerja mendidik generasi. Namun, sekali lagi, sangat penting penulis mengingatkan bahwa pengelolaan website, tidak seharusnya menjadi pekerjaan satu orang. Ia yang menulis, ia yang mengatur template, plugin, SEO dan ia pula yang harus menulis dan mengatur menu serta rubriknya. Dokumentasi digital itu penting dan akan sangat apik jika ada kerja kolaboratif didalamnya.
Selain menuliskan kegiatan, guru juga sebaiknya memiliki keberanian untuk menuliskan pemikiran dan gagasan konseptual pembelajarannya. Guru harus membuktikan dirinya memiliki sudut pandang yang khas. Ia mengalami langsung persoalan pendidikan. Karena itu, guru sebenarnya memiliki modal besar untuk menghasilkan tulisan yang bernilai.
Tidak perlu selalu menulis dengan bahasa akademik yang rumit. Tulisan dapat dimulai dari pertanyaan sederhana: Mengapa santri sulit membaca kitab? Bagaimana membangun kebiasaan membaca di pesantren? Bagaimana mendidik santri agar disiplin tanpa kehilangan rasa kasih sayang? Bagaimana teknologi dan kecerdasan buatan dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran? Bagaimana membangun budaya bahasa di lingkungan asrama? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini dapat berkembang menjadi artikel yang menarik dan bermanfaat.
Guru menulis, membaca kembali, menerima tanggapan, berdiskusi, lalu memperbaiki gagasannya. Dari kebiasaan seperti inilah seorang guru dapat berkembang dari sekadar pelaksana pembelajaran menjadi praktisi pendidikan yang reflektif dan produktif secara intelektual. Jangan Hanya Menulis Kegiatan, Tuliskan Juga Prestasi. Guru memperoleh sertifikat pelatihan, mengikuti seminar, menjadi narasumber, mendapatkan penghargaan, menghasilkan karya, melakukan penelitian, membimbing santri meraih juara, atau berhasil melaksanakan sebuah inovasi pembelajaran. Semua itu layak dicatat. Bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk membangun dokumentasi profesional.
Demikian pula dengan pencapaian santri. Ketika santri memenangkan lomba, menyelesaikan hafalan, menghasilkan karya tulis, mengikuti kompetisi, melakukan kegiatan sosial, atau mendapatkan prestasi akademik maupun nonakademik, semuanya perlu didokumentasikan. Dengan demikian pula, Website sekolah dapat menjadi perpustakaan prestasi lembaga. Dan Dari sini pula, akan mudah melihat tren mutu dan kualitas pendidikan yang sedang berlangsung.
Beberapa tahun kemudian, ketika seseorang ingin mengetahui perjalanan sebuah pesantren, mereka tidak hanya menemukan nama dan foto, tetapi juga menemukan jejak perjuangan, karya, inovasi, dan prestasi yang pernah ditorehkan.
Apa Manfaat Ngeblog bagi Guru? Mungkin ada guru yang bertanya, “Apa manfaatnya saya menulis di blog? Bukankah tugas saya mengajar?” Justru karena kita mengajar, maka kita perlu menulis. Ada banyak manfaat dari kebiasaan ngeblog dan menulis secara online.
1. Melatih kemampuan berpikir. Menulis memaksa kita menyusun gagasan secara sistematis. Apa yang selama ini hanya ada dalam pikiran menjadi lebih terstruktur ketika dituangkan dalam tulisan;
2. Meningkatkan kemampuan literasi digital. Guru tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi produsen pengetahuan di ruang digital.
3. Membangun portofolio profesional. Tulisan-tulisan yang terkumpul dapat menjadi rekam jejak pemikiran dan pengalaman seorang guru.
4. Memperluas manfaat pengalaman. Pengalaman mengajar yang ditulis dapat dibaca oleh guru lain di sekolah atau pesantren lain. Bahkan dapat menjangkau pembaca di berbagai daerah.
5. Membangun personal branding yang sehat. Guru dapat dikenal melalui gagasan, karya, dan kontribusinya, bukan semata-mata melalui jabatan.
6. Memperkuat citra lembaga. Ketika guru aktif menulis tentang pembelajaran, kegiatan, prestasi, dan inovasi, masyarakat akan melihat bahwa pesantren tersebut memiliki budaya pendidikan yang hidup.
7. Menjadi arsip sejarah lembaga. Tulisan-tulisan yang tersimpan secara digital dapat menjadi sumber dokumentasi bagi generasi berikutnya.
Dan yang paling penting, menulis membuat kita menyadari bahwa pengalaman mendidik kita memiliki nilai untuk dibagikan kepada orang lain.
Demikian catatan singkat ini. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Blogger
Tinggalkan Komentar