Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Pengertian Lafadz dalam Ilmu Nahwu
IMMIMPANGKEP – Apa itu Ilmu Shorof? Seberapa pentingkah ilmu ini sehingga harus (wajib) dipelajari, khususnya bagi pelajar dan mahasiswa muslim? Dalam mempelajari Bahasa Arab, Ilmu Shorof merupakan salah satu syarat yang wajib dikuasai oleh setiap pelajar dan mahasiswa muslim, sebab kata sebagian besar ulama:
Artinya:
“Ilmu Shorof induk segala ilmu, sedang ilmu Nahwu adalah bapaknya.”
Ungkapan diatas, sebagaimana penulis temukan dalam Muqaddimah Kitab “Al-Qawaidus Shorfiyah” tentu tidak asing di kalangan pelajar dan mahasiswa muslim atau di kalangan pembelajar Bahasa Arab. Ungkapan yang memotivasi seseorang dalam mempelajari kaidah (Qawaid) tata bahasa Arab, sekaligus mengungkapkan keutamaan mempelajari ilmu shorof.
Karena keutamaannya, ilmu shorof dilambangkan sebagai induk/ibu dari segala ilmu. Oleh karenanya seorang pembelajar, khususnya pembelajar bahasa Arab harus mempelajari ilmu shorof sebelum mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Mengapa demikian? Karena Ilmu Shorof itu melahirkan bentuk setiap kalimat, sedangkan kalimat itu menunjukkan bermacam-macam ilmu. Kalau tidak ada kalimat (lafadz), tentu tidak akan tulisan. Tanpa tulisan, sukar mendapatkan ilmu.
Ilmu shorof adalah ilmu yang mempelajari akar kata dalam bahasa Arab. Dalam Kitab Durus Fi Syarh ‘Ilm As Shorf Li Al Mubtadien, karya Abdullah Abdul Hamid Abdullah disebutkan bahwa Shorof adalah kaidah-kaidah untuk mengetahui struktur kata secara lafadz dan makna, sedang dalam Kitab Jami’ Ad Durus Al Arabiyah, karya Al Ghulayaini disebutkan bahwa Shorof adalah ilmu tentang asal-usul kata yang dengannya dapat diketahui bentuk-bentuk dari kata-kata bahasa Arab dan keadaannya, yang bukan i’rob dan bukan bina’.
Berbeda dengan Ilmu Nahwu, Ilmu Shorof lebih banyak membahas berbagai kata dari sisi tashrif , i’lal, idgham dan pergantian huruf. Dalam kitab al qowa’id ash shorfiyyah, disebutkan bahwa Ilmu Shorof adalah ilmu yang membahas perubahan keadaan kata dari satu bentuk ke bentuk lain sesuai makna yang dikehendaki. Ilmu shorof mempelajari kaidah-kaidah yang dengannya menghasilkan kata-kata yang berbeda maknanya.
Ilmu Shorof hanya untuk mempelajari perubahan-perubahan kata dari segi lafadz, bukan makna. Artinya ilmu shorof tidak mempelajari makna baru dari perubahan kata yang sedang dipelajari. Ahli shorof telah membuat timbangan tsulatsi dengan فعل , dan ruba’i dengan فعلل. Setiap huruf yang menempati fa disebut fa’ fi’il, yang menempati ‘ain disebut ‘ain fi’il, dan yang menempati lam disebut lam fi’il.
Ketika kita mempelajari bahasa Arab, ilmu shorof menjadi bagian terpenting yang saling melengkapi dengan Ilmu Nahwu, sebagai bagian dari unsur bahasa yang menunjang keberhasilan pembelajaran Bahasa Arab. Di lingkungan pondok pesantren, ilmu shorof menjadi pelajaran wajib yang harus dipelajari serius para santri, bisa dengan menggunakan Kitab Amtsilah al Tashrifiyah, al-Qowa’idus Shorfiyyah, Matan Kailani, atau Kitab al-Qowa’id al i’lal.
Apa saja yang dipelajari dalam Ilmu Shorof? Dalam kitab Amtsilatut Tashrifiyah misalnya, para santri dikenalkan dengan contoh-contoh kata kerja yang dalam bahasa Arab disebut dengan fi’il beserta perubahannya. Para santri juga dikenalkan dengan tashrif istilahi dan lughawi serta bentuk-bentuk perubahannya. Kesemuanya dimaksudkan untuk mengetahui akar kata dalam bahasa Arab.
Mengenai akar kata dalam bahasa Arab, para ulama memiliki perbedaan pendapat. Ulama’ Kuffah berpendapat bahwa akar kata bahasa Arab terletak pada fi’il madhi, sedangkan ulama’ Bashroh berpendapat bahwa akar kata bahasa Arab terletak pada mashdar. Dengan mempelajari shorof, para santri mampu mengetahui akar kata bahasa Arab serta perubahannya dari satu bentuk ke bentuk lain. Seperti perubahan fi’il madhi ke fi’il mudhari’, fi’il mudhari’ ke mashdar, atau dari mashdar ke fi’il amr. Itulah sebabnya dalam belajar Ilmu Shorof dilakukan dengan menghafal perubahan kata pada tashrif istilahi dan tashrif lughawi dimana 1 kata memiliki 14 bentuk kata. Dengan mengetahui akar kata dalam bahasa Arab, maka akan dengan mudah pula memahami makna teks-teks arab, khususnya teks arab pada banyak kitab kuning karya para ulama’.
Dari sekian banyak bentuk kata yang ada dalam bahasa Arab,ada beberapa bentuk kata yang tersusun atas huruf-huruf ‘ilat, diantaranya alif, wawu, dan ya’. Jika fi’il/kata kerja tersusun atas huruf ‘ilat, maka fi’il tersebut sulit diucapkan oleh Orang Arab. Oleh karenanya, huruf ‘ilat tersebut harus diubah ke bentuk yang sederhana dan mudah diucapkan. Ilmu yang mempelajari tata cara perubahan huruf ‘ilat ini terdapat dalam kaidah i’lal.
Kaidah i’lal termasuk di dalam lingkup pembahasan ilmu shorof. Ada beberapa cara untuk mengubah huruf ‘ilat diantaranya dengan menukar (ubdilat), memindahkan tanda baca/harakat/syakl (nuqilat), disukunkan (uskinat), bahkan membuang huruf (khudzifat). Intinya adalah Ilmu Shorof termasuk dalam ilmu Tata Bahasa Arab yang paling penting karena menjadi pedoman untuk mengetahui sighat atau bentuk kata, tasghir dan taksir ,nisbat,mufrad ,jamak, (baik qiyasy atau simay`), `i`lal, idgham dan ibdal.
Semoga catatan singkat ini bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Pembelajar Bahasa Arab/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel
Tinggalkan Komentar