Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
17 Juli 2024

Mengenal Ilmu Nahwu

Rab, 17 Juli 2024 Dibaca 1377x

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

Related Post: Keutamaan Mempelajari Bahasa Arab dan Kutub Nahwu Shorof

IMMIMPANGKEP – Apa yang sebenarnya yang dimaksud Ilmu Nahwu dan hal apa saja yang menjadi pokok bahasannya? Tentu bagi kalangan santri, sebutan “Ilmu Nahwu” merupakan bagian tak terpisahkan dari nafas kehidupan dan pembelajaran di lingkungan Pondok Pesantren, sebuah ilmu yang sangat seru dan menarik dan tak terpisahkan dari Ilmu Shorof, sehingga seringkali disebut Nahwu-Shorof.

Pada masa awal Kenabian, Muhammad SAW, Bahasa Arab yang dikenal belumlah memiliki harakat (fathah, kasrah, dan dammah) maupun titik. Hal ini sangat menyulitkan untuk membacanya, termasuk orang Arab sendiri kesulitan. Kemudian Bahasa Arab berkembang, mulai diberi titik. Sehingga antara huruf hijaiyah yang satu dengan yang lainnya bisa dibedakan secara visual. Namun untuk sebagian kalangan, membacanya tetap saja sulit. Apakah dibaca fathah, kasrah, atau dhammah. Nah untuk memudahkan membacanya, disinilah peran penting Ilmu Nahwu-Shorof.

Secara literatur, ilmu Nahwu didefinisikan sebagai “ilmu yang mempelajari prinsip-prinsip mengenali kalimat-kalimat Bahasa Arab dari sisi i’rab dan bina’-nya” (Jami’ud Durus, Syaikh Musthafa). Ilmu Nahwu bertugas menentukan bunyi atau harakat akhir dari suatu kata dalam struktur kalimat, lazim disebut I’rab.

Sebagai contoh: اَلْحَمْدُ للَّهِ رَبِّ الْعالَمِينَ , mengapa bisa dibaca: Alhamdu Lillahi Rabbil ‘Aalamiin. Mengapa tidak dibaca: Alhamdi Lillaha Rabbil ‘Alamin misalnya. Mengapa huruf dal pada kata Alhamdu dibaca dhammah (du), bukannya kasrah (di), atau fathah(da)? Karena struktur kata Alhamdu berperan sebagai mubtada’, hukum mubtada’ ialah dibaca rafa’, yang ketika di awal kalimat ia harus dibaca dhammah. Maka dengan Nahwu, kita bisa memahami bagaimana membaca bagian akhir suatu kata dalam struktur kalimat.

Lalu bagaimana kita bisa membaca huruf pada awal atau pertengahan kata jika nahwu hanya membahas cara membaca harakat akhir kata saja? Tak perlu pusing memikirkannya, karena disitulah peran Ilmu Shorof, yang mempelajari prinsip-prinsip mengenal pola-pola kalimat dan kondisi-kondisinya” (Jami’ud Durus, Syaikh Musthafa). Tugas Ilmu Shorof adalah mengenali pola kata, karena setiap kata dalam bahasa Arab memiliki pola.

Contohnya kata “Ma-saa-jida” yang pola katanya adalah “Ma-faa-i-la”. Dengan memahami satu pola, kita bisa mengetahui bagaimana cara membaca kata-kata lain yang memiliki kesamaan bentuk dan pola. Pola kata ini disebut wazan. Melalui ilmu Sharaf juga kita bisa mengetahui asal atau bentuk asli dari kosakata-kosakata. Adapun untuk membaca harakat akhirnya, kita kembalikan pada kaidah- kaidah Nahwu.

Karena tak terpisahkannya kedua ilmu ini, Ilmu Nahwu dan Ilmu Shorof, sehingga seringkali disebut Ilmu Nahwu-Shorof. “Nahwu adalah bapak dan Shorof adalah ibunya”. Ilmu Nahwu berperan mengarahkan bagaimana seharusnya suatu kata dibunyikan, sedangkan Ilmu Shorof menyesuaikan polanya masing-masing kata. Keduanya merupakan modal untuk memahami ilmu gramatika bahasa Arab lainnya, seperti ilmu badi, ma’ani, dan bayan, atau yang lebih dikenal dengan ilmu Balaghah.

Saking pentingnya Ilmu Nahwu ini, sehingga sebagian besar ulama mewajibkan mempelajarinya, mengingat fadhilah (keutamaannya) yang besar.

من تبهّر في النحو اهتدى إلى كل العلوم. شذرات الذهب، ابن العِماد الحنبلي ٢/٤٠٧

Artinya:

“Barangsiapa yang mendalam dalam ilmu nahwu, maka mudah baginya menguasai seluruh cabang ilmu.” Ibnu Imad al-Hambali 2/407

لا أُسأَل عن مسألةٍ من مسائل الفقه، إلا أجبت عنها من قواعدِ النحو. شذرات الذهب ٢/٤٠٧

Artinya:

“Tidaklah aku ditanya tentang masalah² fiqih, kecuali aku menjawabnya dengan kaidah-kaidah Nahwu.” Syadzarotu Dzahab 2/407

أهل العربية هم جنُّ الإنْس، يبصرون ما لا يبصر غيرهم. مناقب الشافعي للبيهقي ٢/٥٣

Artinya:

“Seorang yang pandai bahasa arab adalah jinnya manusia, mereka melihat apa yang orang lain tidak bisa melihat.” Manaqib asy-Syafi’i karya Baihaqi 2/53.

Beberapa pengertian Ilmu Nahwu lainnya, telah penulis publikasikan sebelumnya disini: Beberapa Pengertian Ilmu Nahwu

Ilmu Nahwu diambil dari kata “Nahwu” dalam bahasa Arab yang berarti contoh. Secara terminologi, Ilmu Nahwu adalah ilmu yang membahas pokok-pokok (isim, fi’il, huruf, macam-macam i’rob, awamil, tawabi’, dan lain-lain), yang dengan ilmu tersebut dapat diketahui keadaan-keadaan akhir kalimah baik secara mu’rob maupun mabni.

Penemu ilmu nahwu adalah Abu Al-Aswad Ad-Du’ali. Suatu saat Aswad Ad-duali mendengarkan anak perempuannya berucap:

مَا اَجْمَلُ السَّمَاءِ

(baca : maa ajmalusamaai”)

Maka Aswad Ad-Duali pun menjawab: Kawakibuhaa atau Nujumuha Bintang bintangnya, karena Abu Al-Aswad Ad-Du’ali mengira anak perempuannya bertanya.

Namun anaknya membantah, yang ia maksud adalah takjub bukan pertanyaan. Maka Aswad Ad-Duali pun menjawab:

اِفْتَحِيْ فِيْكِ – iftahii Fiiki: Bukalah Mulutmu

Yang Maksudnya adalah sebagati teguran bacaannya adalah Maa Ajmalaassama’a ! (مَا اَجْمَلَ السَّمَاءَ), bukan Maa Ajmalassama’u (مَا اَجْمَلَ السَّمَاءُ)

Aswad Ad-Dauli pun menceritakan prihal ini kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kemudian Sayyidina Ali memerintahkan untuk mendokumentasikan prihal ilmu nahwu, agar tidak ada lagi kesalahan bacaan dan pengucapan dalam bahasa Arab hingga membuat makna yang berbeda.

Maka demikianlah Ilmu Nahwu bermula dan terus berkembang sebagai suatu ilmu yang penting dipelajari, bukan hanya untuk memahami khazanah Bahasa Arab, tetapi lebih luas lagi, untuk memahami khazanah keilmuan Islam. Dengan Ilmu Nahwu, kita menjaga lisan dari kesalahan pengucapan lafadz Bahasa Arab serta memahami Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW dengan benar. Keluasan pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Hadits sangat bergantung dari kemahiran kita akan Nahwu-Shorof.

Subjek pembahasan dari Ilmu Nahwu adalah huruf (harf), kata (kalimah), dan kalimat (jumlah). Sementara itu, jenis katanya adalah Isim, Fi’il, Huruf (harfun). dengan mengakrabi Ilmu Nahwu, maka pelajar dan mahasiswa muslim akan terbantu mengenali tanda-tandanya dan mengaplikasikannya ketika misalnya, membaca kitab kuning (Qira’atul kutub).

Demikianlah sedikit catatan tentang pengantar mengenal Ilmu Nahwu. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077