Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: I’rob Basmalah dan Segala Hal tentang Basmalah
IMMIMPANGKEP – Judul tulisan bernada pertanyaan ini adalah pertanyaan yang masuk ke Whatsapp Center Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep: 081***328***. Pertanyaannya singkat, “Mengapa Bismillahi berharakat Kasrah?” .
Untuk menjawab pertanyaan ini,—biar orang awam juga mudah memahaminya—maka penulis perlu perjelas dahulu, bahwa yang dimaksud “harakat kasrah” ( ِ- ) adalah Harakat yang berbentuk layaknya garis horizontal miring kecil dan berada di bawah satu huruf hijaiyah. Harakat ini melambangkan fonem /i/. Secara harfiah, kasrah bermakna melanggar. Contoh huruf hijaiyah dengan harakat kasrah adalah ji (ج ِ), hi (حِ), khi (خ ِ), atau di (دِ).
Baiklah, penulis jawab inti pertanyaannya dengan pelan-pelan ya! Menariknya disini, karena “Bismillah” dimulai dengan kasrah bukan karena kata “Allah” atau karena aturan membaca basmalah secara khusus, tetapi karena huruf pertama yang terdengar adalah بِـ (bā’), dan bā’ tersebut merupakan huruf jar.
Pertama, Mengapa dimulai dengan “bi-” (بِـ)? Tulisan:
بِسْمِ اللهِ
dibaca: Bismillāhi
Strukturnya adalah:
بِـ + اسْمِ + اللهِ
bi + ismi + Allāhi
Huruf بِـ (bā’) termasuk حُرُوفُ الْجَرِّ (hurūf al-jarr), yaitu kelompok huruf yang menyebabkan kata benda sesudahnya menjadi majrūr.
Contohnya:
Maka ketika kita mengatakan:
بِسْمِ
kata اسم menjadi majrūr karena didahului بِـ.
Kedua, Mengapa “ism” menjadi “ismi”? Ya, Kata اسم pada keadaan normal dapat berbunyi:
اِسْمٌ — ismun“
sebuah nama”
Tetapi ketika didahului huruf jar بِـ, akhirnya berubah menjadi kasrah:
بِاِسْمٍ → بِاسْمٍ
bi-ismin
Dalam ungkapan basmalah, bentuknya:
بِسْمِ
Harakat akhirnya adalah kasrah, karena kedudukannya majrūr.
Secara i‘rab:
بِـ: حرف جرّ
ḥarfu jarr — huruf jar.
اسْمِ: اسم مجرور بالباء، وعلامة جره الكسرة
ismun majrūr bil-bā’, wa ‘alāmatu jarrihi al-kasra
“Isim yang dijarkan oleh bā’, tanda jarnya adalah kasrah.”
Jadi kasrah pada “bismi” merupakan tanda gramatikal, bukan sekadar tanda baca.
Ketiga,, Mengapa “Allah” juga kasrah? Perhatikanlah:
بِسْمِ اللهِ
Ada dua kata benda yang sama-sama berakhir kasrah:
اسْمِ → ismi
اللهِ → Allāhi
Tetapi alasan gramatikalnya berbeda.
اسمِ menjadi majrūr karena didahului بِـ.
Sedangkan اللهِ menjadi kasrah karena merupakan مضاف إليه (mudāf ilaih) dari kata اسم.
Strukturnya:
بِ + اسْمِ + اللهِ
atau:
بِـ → huruf jar
اسْمِ → isim majrūr sekaligus mudāf
اللهِ → mudāf ilaih majrūr
Karena itu, secara sederhana:
بِسْمِ اللهِ
Artinya: dengan nama Allah
Keempat, “Dengan nama Allah” itu melakukan apa? Secara harfiah, بِسْمِ اللهِ merupakan frasa jar-majrur (جارّ ومجرور).
بِـ = jar
اسمِ = majrur
Tetapi secara struktur, frasa بسم الله sebenarnya belum menjadi kalimat sempurna jika berdiri sendiri.
Muncul pertanyaan, “Dengan nama Allah” itu melakukan apa?
Misalnya seseorang mengatakan:
بِسْمِ اللهِ أَكْتُبُ
“Dengan nama Allah, saya menulis.”
Di sini maknanya lebih jelas. بسم الله berkaitan dengan pekerjaan أكتبُ (saya menulis).
Tetapi ketika kita hanya mengatakan:
بِسْمِ اللهِ
ada kata yang dipahami tetapi tidak disebutkan secara eksplisit.
Dalam ilmu nahwu, ini sering disebut محذوف (maḥżūf), yaitu unsur yang dihilangkan tetapi dapat dipahami dari konteks.
Kelima, Apa kata yang “tersembunyi” itu? Para ulama nahwu menjelaskan bahwa setelah atau sebelum بسم الله terdapat makna pekerjaan yang diperkirakan.
Misalnya ketika hendak makan:
بِسْمِ اللهِ أَكُلُ
“Dengan nama Allah, aku makan.”
Ketika hendak membaca:
بِسْمِ اللهِ أَقْرَأُ
“Dengan nama Allah, aku membaca.”
Ketika hendak menulis:
بِسْمِ اللهِ أَكْتُبُ
“Dengan nama Allah, aku menulis.”
Karena itu, ketika seseorang mengucapkan بسم الله sebelum melakukan sesuatu, makna lengkapnya secara kontekstual kira-kira:
أَبْدَأُ بِسْمِ اللهِ –Abda’u bismillāh
“Aku memulai dengan nama Allah.”
Atau sesuai aktivitasnya:
أَفْعَلُ هٰذَا بِسْمِ اللهِ
“Aku melakukan ini dengan nama Allah.”
Kata yang diperkirakan tidak harus selalu أبدأُ. Ia dapat menyesuaikan dengan pekerjaan yang hendak dilakukan.
Keenam, Mengapa kata tersebut bisa “dihilangkan”? Ya, Bahasa Arab memungkinkan sebagian unsur kalimat dihilangkan apabila sudah dapat dipahami dari konteks. Dalam istilah balaghah dan nahwu, penghilangan (ḥażf) tidak selalu berarti kekurangan. Justru kadang memberikan makna yang lebih luas.
Jika kita mengatakan:
بِسْمِ اللهِ أَكْتُبُ
maka maknanya secara spesifik:
“Dengan nama Allah aku menulis.”
Tetapi jika kita mengucapkan:
بِسْمِ اللهِ
sebelum berbagai aktivitas, maknanya menjadi lebih luas:
“Dengan nama Allah aku memulai aktivitas ini.”
Karena aktivitasnya dapat berubah: makan, minum, membaca, menulis, belajar, bepergian, bekerja, dan sebagainya.
Ketujuh, Apakah “Bismillah” itu kalimat? Secara kaidah nahwu, بِسْمِ اللهِ bukan jumlah (kalimat lengkap) yang memiliki subjek dan predikat yang disebutkan secara eksplisit. Ia merupakan شبه جملة (syibh jumlah), yaitu konstruksi yang menyerupai kalimat, berupa jar-majrur.
Strukturnya dapat digambarkan:
بِسْمِ اللهِ
↓
جارّ ومجرور
↓
بِـ + اسمِ
↓
حرف جرّ + اسم مجرور
Kemudian secara makna ia berkaitan dengan fi’il yang mahzuf (kata kerja yang dipahami tetapi tidak disebutkan).
Kedelapan, Mengapa “Bismillah” terasa sangat istimewa? Ya, Karena hanya dengan tiga unsur pendek:
بِسْمِ اللهِ
terkandung sebuah orientasi hidup: Aku memulai → dengan menyebut nama Allah → mengharapkan pertolongan dan keberkahan-Nya.
Karena itu, basmalah bukan hanya formula pembuka. Ia mengajarkan bahwa aktivitas manusia—belajar, bekerja, makan, menulis, bepergian, maupun melakukan pekerjaan lainnya—idealnya ditempatkan dalam kesadaran bahwa aktivitas tersebut berada dalam tanggung jawab kepada Allah.
Jadi, kalau pertanyaan awalnya adalah “Mengapa Bismillah dimulai dengan kasrah?”, jawaban nahwunya sangat ringkas:
Karena “بِـ” adalah huruf jar yang dibaca “bi”, dan “اسمِ” menjadi isim majrūr. Sedangkan “اللهِ” menjadi majrūr karena berkedudukan sebagai mudāf ilaih.
Adapun dari sisi makna yang lebih dalam, بسم الله merupakan jar-majrur yang terkait dengan kata kerja yang dipahami (maḥżūf)—misalnya أبدأُ (aku memulai), أقرأُ (aku membaca), آكلُ (aku makan), atau kata kerja lain sesuai konteks.
Demikian jawaban singkat atas pertanyaan mengapa Bismillahi berharakat kasrah. Untuk saat ini cukup ya, ini belum kita membahas soal ta’aluqnya ilmu nahwu terhadap bismilah. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel
Tinggalkan Komentar