Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
IMMIMPANGKEP – Tanggal 2 Mei kembali menyapa. Di tahun 2026 ini, gema Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) terasa lebih dalam, bukan sekadar seremonial rutin di lapangan upacara dengan Pakaian Adat Nusantara, Seragam Korpri atau Batik sekolah. Kita berdiri di sebuah titik waktu di mana teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence) telah menjadi makanan sehari-hari, dan batas-batas ruang kelas semakin cair. Di tengah arus modernitas yang menderu, tema yang diusung pemerintah, “Menguatkan Partisipasi Semesta, Menumbuhkan Pendidikan Untuk Semua”, seolah memanggil kembali ingatan kolektif kita pada satu institusi pendidikan tertua di Nusantara: Pondok Pesantren.
Pesantren bukan hanya artefak sejarah. Ia adalah entitas yang hidup. Jika kita berbicara tentang “Partisipasi Semesta”, pesantren telah melakukannya berabad-abad sebelum istilah stakeholder engagement dipopulerkan oleh teori manajemen Barat. Dan jika kita bicara “Pendidikan Untuk Semua” (Education for All), Pondok Pesantren adalah pelopor inklusivitas yang tidak memandang kasta sosial maupun kemampuan finansial.
Dalam konteks Hardiknas 2026, “Partisipasi Semesta” mengandung makna bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab Kemendikbudristek, Guru dan Tenaga Kependidikan di sekolah, Pembina dan Pengasuh di Pesantren/Madrasah. Ia adalah kerja kolosal semesta—melibatkan orang tua, masyarakat, industri, hingga lingkungan alam itu sendiri.
Di pesantren, partisipasi semesta ini mewujud dalam konsep Khidmah (pengabdian), menyatu dengan masyarakat dan wakaf pendidikan. Pesantren berdiri dan besar karena partisipasi masyarakat melalui tanah wakaf, sumbangan beras dan lauk santri, hingga tenaga dan waktu untuk membangun asrama. Ini adalah bentuk partisipasi semesta yang paling murni. Dalam lingkungan pondok pesantren, juga jamak dikenal “Santri Mengajar Santri”. Model peer learning di pesantren, di mana santri senior membimbing santri junior (sorogan dan bandongan), adalah bukti bahwa setiap elemen di dalam ekosistem pendidikan berperan aktif sebagai pendidik sekaligus peserta didik.
Di tahun 2026, tantangannya adalah bagaimana “Partisipasi Semesta” ini bertransformasi secara digital. Pesantren kini dituntut untuk berkolaborasi dengan dunia industri teknologi, tanpa kehilangan jati diri akhlaqul karimah-nya. Partisipasi semesta hari ini berarti pesantren membuka pintu bagi para praktisi teknologi untuk berbagi ilmu, sementara pesantren memberikan asupan nilai moral bagi perkembangan teknologi yang seringkali bebas nilai.
***
Tema “Pendidikan Untuk Semua” dalam Hardiknas kali ini adalah pengingat bahwa tidak boleh ada anak bangsa yang tertinggal. Di sinilah pesantren menunjukkan keunggulannya yang tak tertandingi. Pesantren adalah “katup pengaman” sosial. Ketika sekolah formal terkadang terkendala oleh zonasi, biaya administrasi yang tinggi, atau syarat-syarat akademik yang kaku, pesantren menerima siapa saja. Dari anak seorang petani di pelosok desa hingga anak pejabat di kota besar; dari mereka yang cerdas secara akademik hingga mereka yang membutuhkan bimbingan khusus karena masalah perilaku.
Di Pondok Pesantren, “Semua” benar-benar berarti semua. Pendidikan tidak hanya dimaknai sebagai transfer pengetahuan (transfer of knowledge), tetapi juga transformasi jiwa (transformation of soul). Pendidikan di pesantren adalah pendidikan sepanjang hayat yang melampaui sekat-sekat usia dan ijazah. Dari sinilah sebenarnya Relevansi Ki Hadjar Dewantara dan Spirit Pesantren menemukan titik temunya. Kita tidak bisa merefleksikan Hardiknas tanpa menyebut Ki Hadjar Dewantara. Menariknya, pemikiran Bapak Pendidikan kita ini banyak dipengaruhi oleh sistem pesantren. Konsep Taman Siswa memiliki kemiripan struktur dengan pesantren: adanya Kyai (Pamong), Santri (Siswa), dan asrama (Pondok).
Filosofi Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani adalah nafas harian seorang Kyai dan Ustadz di Pondok Pesantren. Ing Ngarsa Sung Tuladha berarti Kyai dan Ustadz adalah contoh hidup teladan yang baik. Di pesantren, pendidikan karakter terjadi melalui pengamatan santri terhadap perilaku sehari-hari gurunya, bukan sekadar teori di buku paket, Ing Madya Mangun Karsa, berarti di tengah kesibukan mengaji, ada interaksi yang setara di ruang-ruang diskusi (musyawarah) santri, serta Tut Wuri Handayani, yang memberikan dorongan bagi santri untuk hidup mandiri, berdaya dan mengabdi di masyarakat setelah lulus.

Di tahun 2026, spirit ini harus kita perkuat. Pendidikan “Untuk Semua” bukan berarti menyeragamkan semua orang, melainkan memberikan ruang bagi setiap individu untuk tumbuh sesuai kodrat alam dan kodrat zamannya—sebagaimana pesan Ki Hadjar Dewantara. Seiring dengan tema Hardiknas 2026, Pondok Pesantren menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, ia harus tetap menjadi benteng moral. Di sisi lain, ia harus menjadi motor inovasi. Karena itu sangat penting bagi kita semua, khususnya yang terlibat dalam pengelolaan dan pengasuhan Pesantren untuk:
1. Digitalisasi dan Literasi Data. Partisipasi semesta di era digital berarti pesantren harus melek teknologi. Kita mulai melihat “Pesantren 4.0” di mana kajian kitab kuning dilakukan dengan bantuan tablet, dan perpustakaan pesantren dapat diakses secara global. Namun, tantangannya adalah bagaimana menjaga agar algoritma tidak menggantikan posisi Guru (Sanad).
2. Kemandirian Ekonomi (Entrepreneurship). Pendidikan untuk semua memerlukan kemandirian finansial. Pesantren kini banyak mengembangkan unit bisnis, mulai dari pertanian organik hingga industri kreatif. Ini adalah implementasi nyata dari “Partisipasi Semesta” di mana pesantren berkontribusi pada ekonomi daerah, dan bahkan ekonomi nasional.
3. Kurikulum yang Kontekstual. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 menekankan pada relevansi. Pesantren harus mampu menjawab tantangan zaman seperti interdisipliner keilmuan, krisis pangan, multikultural, etika kecerdasan buatan, perubahan iklim, dan lain sebagainya melalui kacamata fiqih kontemporer dan tasawuf.
Pada akhirnya Refleksi Hardiknas 2 Mei 2026 seharusnya membawa kita pada kesimpulan bahwa masa depan pendidikan Indonesia tidak terletak pada peniruan mentah-mentah model pendidikan Barat, melainkan pada integrasi yang harmonis antara sistem pesantren dan kemajuan sains. “Menguatkan Partisipasi Semesta” berarti kita mengakui bahwa setiap elemen masyarakat adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Pesantren telah membuktikan ini. Seorang santri belajar tentang ekonomi saat membantu koperasi pesantren, belajar tentang kepemimpinan saat menjadi pengurus organisasi santri, dan belajar tentang biologi saat bercocok tanam di lahan pondok.

Motto “Menumbuhkan Pendidikan Untuk Semua” berarti memastikan bahwa kualitas pendidikan di pelosok pesantren terpencil sama baiknya dengan sekolah di pusat kota. Teknologi harus digunakan sebagai jembatan pemerataan ini, bukan malah memperlebar jurang pemisah.
Sebagai penutup refleksi ini, mari kita bayangkan sebuah ekosistem pendidikan di mana nilai-nilai luhur pesantren—seperti kemandirian, kesederhanaan, dan keikhlasan—menjadi fondasi bagi setiap anak bangsa yang mahir dalam teknologi dan ilmu pengetahuan. Di kekinian, Hari Pendidikan Nasional 2026 harus menjadi momentum bagi pesantren untuk tidak lagi merasa di pinggiran. Pesantren adalah pusat. Ia adalah laboratorium karakter bangsa. Dengan memperkuat partisipasi semesta dan memegang teguh prinsip pendidikan untuk semua, kita tidak hanya mencetak manusia yang pintar secara kognitif, tetapi juga manusia yang memiliki “hati” untuk sesama dan “sujud” kepada Sang Pencipta.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2026. Mari kita terus menanam kebaikan generasi terdidik, agar kelak anak cucu kita memanen peradaban yang berilmu dan beradab. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Tinggalkan Komentar