Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
16 Juli 2026

SKI Kelas X (1): Kebudayaan Masyarakat Makkah Sebelum Islam

Kam, 16 Juli 2026 Dibaca 23x

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

IMMIMPANGKEP –  Sebelum disinari oleh ajaran Islam pada abad ke-7 Masehi, wilayah Jazirah Arab—khususnya kota Makkah dan kawasan sekitarnya—merupakan sebuah ruang sosio-kultural yang dinamis. Periode ini kerap dinamai sebagai masa Jahiliyah, sebuah istilah yang lebih merujuk pada krisis moral, spiritual, dan ketiadaan petunjuk kenabian, alih-alih ketiadaan peradaban.

Untuk memahami lanskap kebudayaan Makkah secara utuh, kita tidak bisa melepaskannya dari pengaruh geopolitik global saat itu, yakni dua imperium adidaya: Romawi Timur (Byzantium) dan Persia (Sasania), serta interaksinya dengan corak kehidupan Arab Pra-Islam dan keberagaman masyarakatnya.

1. Kebudayaan Kerajaan Romawi Timur (Byzantium) dan Pengaruhnya di Perbatasan Arab

Imperium Romawi Timur yang berpusat di Konstantinopel merupakan kekuatan besar di sebelah barat laut Jazirah Arab. Mereka mewarisi kebudayaan Helenistik (Yunani-Romawi) yang dipadukan dengan agama Kristen aliran resmi negara (Orthodox).

Sistem Politik dan Militer: Romawi menganut sistem monarki sentralistik yang didukung oleh birokrasi ketat dan militer yang kuat. Kebudayaan mereka sangat menonjol dalam bidang arsitektur monumental, hukum sipil (seperti Codex Justinianus), dan filsafat.

Hubungan dengan Jazirah Arab: Pengaruh Romawi Timur masuk ke Arab melalui jalur perdagangan dan perbatasan utara, terutama lewat negara-negara buffer (penyangga) seperti Kerajaan Ghassan di perbatasan Syam. Banyak suku Arab di perbatasan utara yang menjadi sekutu (foederati) Romawi, sehingga mengadopsi sebagian budaya, pakaian, hingga agama Kristen mazhab Monofisit dari imperium ini. Bagi masyarakat Makkah, Romawi Timur dikenal sebagai bangsa Rûm yang menguasai perekonomian Mediterania dan sering disinggahi kafilah dagang Quraisy pada musim panas.

2. Kebudayaan Kerajaan Persia (Sasania) dan Hegemoninya di Timur

Di sisi timur Jazirah Arab, berdiri Imperium Sasania Persia yang berpusat di Ctesiphon (Irak modern). Persia adalah rival abadi Romawi Timur dalam memperebutkan pengaruh geopolitik dunia kuno, termasuk pengaruh atas jalur perdagangan strategis di Teluk Persia.

Agama dan Kepercayaan: Agama resmi negara Persia adalah Zoroastrianisme (Mazuisme), sebuah keyakinan dualistik yang menyembah Ahura Mazda (Tuhan Kebaikan) dan memuliakan api abadi (fire temple). Selain itu, aliran heterodoks seperti Manikeisme dan Mazdakisme juga sempat berkembang.

Pengaruh Budaya: Persia dikenal dengan tradisi istana yang megah, seni kerajinan logam yang tinggi, sistem administrasi perpajakan yang terstruktur, serta sastra lisan dan tulisan Pahlavi. Pengaruh Persia masuk ke Jazirah Arab melalui wilayah Hira (dinasti Lakhmids yang menjadi vasal Persia) dan kawasan pesisir timur (Bahrain dan Oman). Meskipun Makkah lebih condong ke orbit perdagangan Romawi (Syam), komoditas mewah dari Persia kerap menghiasi pasar-pasar di Jazirah.

3. Karakteristik Kebudayaan Arab Pra-Islam: Antara Kemuliaan dan Krisis Moral

Masyarakat Arab pra-islam, khususnya kaum Ahlul-Hadar (masyarakat perkotaan Makkah) dan Badui (masyarakat nomaden gurun), memiliki sistem kebudayaan yang unik, lahir dari adaptasi terhadap alam gurun yang keras.

Tradisi Sastra dan Syair: Puncak tertinggi pencapaian estetika bangsa Arab pra-Islam adalah syair (syi’ir). Pasar seperti Ukaz, Majinnah, dan Dhul Majaz tidak hanya menjadi pusat transaksi ekonomi, tetapi juga ajang pamer kebolehan sastra. Syair yang dianggap terbaik akan digantung di dinding Ka’bah (Mu’allaqat). Syair berfungsi sebagai media propaganda, catatan silsilah, pengebom semangat perang, sekaligus ukuran kehormatan sebuah kabilah.

Akhlak Luhur dan Budaya Positif: Di tengah stigma jahiliyah, masyarakat Arab pra-Islam menjunjung tinggi tradisi positif seperti menepati janji, keberanian, kepahlawanan, serta memuliakan tamu secara berlebihan (bahkan rela menyembah-nyembahkan harta atau unta satu-satunya demi menjamu tamu).

Sisi Gelap Sosial: Di sisi lain, budaya patriarki yang ekstrem melahirkan tradisi buruk seperti penguburan bayi perempuan hidup-hidup (Wa’dul Banat) karena dianggap beban ekonomi atau aib, sistem perbudakan yang tidak manusiawi, kebiasaan berjudi (maysir), konsumsi minuman keras (khamr), serta fanatisme kesukuan (ashabiyah) yang memicu perang antar-kabilah berkepanjangan.

4. Keberagaman Masyarakat Arab Pra-Islam: Pluralitas Keyakinan dan Suku

Meskipun sering digeneralisasi sebagai penyembah berhala, masyarakat Makkah dan Jazirah Arab sebenarnya memiliki spektrum keyakinan dan struktur sosial yang sangat beragam.

Paganisme dan Penyembahan Berhala: Agama mayoritas saat itu adalah politeisme (paganisme). Tradisi ini masuk ke Makkah melalui ‘Amr bin Luhai al-Khuza’i yang membawa berhala Hubal dari Syam dan meletakkannya di sekitar Ka’bah. Di sekeliling Ka’bah terdapat tidak kurang dari 360 berhala, seperti Latta, Uzza, dan Manat. Berhala-berhala ini dipuja sebagai perantara mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Kelompok Hanif (Monoteis Murni): Sebagian kecil masyarakat Makkah dan sekitarnya tetap mempertahankan sisa-sisa ajaran tauhid Nabi Ibrahim AS (agama Hanif). Mereka menolak menyembah berhala, di antaranya adalah Waraqa bin Naufal, Zaid bin Amr bin Nufail, dan Utsman bin Al-Huwairits.

Agama Samawi (Yahudi dan Kristen): Agama Yahudi dianut oleh beberapa kabilah di Yathrib (Madinah) seperti Bani Nadhir, Bani Quraizha, serta masyarakat di Khaibar dan Yaman. Sementara itu, agama Kristen dianut oleh sebagian suku Arab seperti Bani Ghassan dan Taglib hasil pengaruh Bizantium, serta komunitas kecil di Najran.

Sistem Kabilah dan Loyalitas Suku: Secara sosiologis, masyarakat Makkah terikat dalam sistem kabilah (klan). Tidak ada pemerintahan pusat yang berdaulat di Makkah; hukum yang berlaku adalah hukum rimba atau hukum adat suku. Solidaritas kabilah (ashabiyah) bersifat mutlak—seseorang harus membela sukunya dalam kondisi apapun, baik benar maupun salah.

Kesimpulan

Kebudayaan masyarakat Makkah sebelum Islam adalah sebuah mozaik kompleks yang terbentuk dari benturan dan perpaduan tradisi lokal gurun dengan bayang-bayang pengaruh imperium besar dunia (Romawi dan Persia). Di satu sisi, mereka mewarisi tradisi luhur berupa kefasihan bahasa, perniagaan lintas teritorial, dan semangat egaliter klan. Namun di sisi lain, dekadensi moral, fragmentasi sosial akibat fanatisme suku, serta kaburnya kemurnian ajaran tauhid menciptakan kekosongan spiritual yang mendalam. Kondisi inilah yang kemudian melatarbelakangi lahirnya reformasi besar-besaran ketika Islam datang membawa nilai-nilai pencerahan di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)

 

Referensi/Bahan Bacaan: 

Al-Mubarakfuri, Shafiyurrahman. (2021). Sirah Nabawiyah: Perjalanan Hidup Rasulullah SAW. Jakarta: Gema Insani. (Referensi utama mengenai kondisi sosial, politik, dan keagamaan bangsa Arab pra-Islam serta pengaruh budaya luar).

Hitti, Philip K. (2005). History of the Arabs: Rujukan Induk Paling Otoritatif tentang Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta. (Pembahasan mendalam mengenai interaksi Jazirah Arab dengan Imperium Romawi Timur dan Persia, serta corak kebudayaan Arab pra-Islam).

Lapidus, Ira M. (2002). Sejarah Sosial Ummat Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada. (Analisis struktur sosial, kabilah, dan keberagaman keyakinan masyarakat di Makkah dan sekitarnya sebelum era kenabian).

Shalabi, Ahmad. (Desember 1981). Sejarah dan Kebudayaan Islam (Jilid 1). Jakarta: Pustaka Al-Husna. (Kajian mengenai tradisi syair, pasar tradisional, dan sistem kepercayaan paganisme hingga agama samawi di Jazirah Arab).

 

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077