Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
IMMIMPANGKEP – Nusantara bagian Timur, yang mencakup wilayah Kepulauan Maluku, Papua, Sulawesi hingga Nusa Tenggara, sering kali disebut sebagai “The Spicy Islands” dalam catatan para penjelajah dunia. Namun, di balik daya tarik rempah-rempahnya, wilayah ini menyimpan sejarah transformasi spiritual yang luar biasa. Masuknya Islam ke wilayah ini bukan sekadar pergantian keyakinan, melainkan sebuah revolusi kebudayaan yang mengubah tatanan politik dari sistem kesukuan menjadi kesultanan yang berdaulat.
Berbeda dengan wilayah Barat Nusantara yang terpapar Islam lebih awal melalui jalur Selat Malaka, proses Islamisasi di Timur memiliki karakteristik unik yang sangat dipengaruhi oleh perdagangan rempah, peran ulama pengembara, dan kebijakan politik para penguasa lokal. Secara umum, para sejarawan menyepakati bahwa Islamisasi di Nusantara Timur tidak terjadi secara tunggal, melainkan melalui beberapa gelombang dan jalur, yaitu:
1. Jalur Perdagangan Rempah (Jalur Laut)
Maluku (Ternate, Tidore, Jailolo, dan Bacan) adalah magnet utama perdagangan dunia. Para pedagang Muslim dari Arab, Gujarat, dan Persia yang sebelumnya telah menetap di Jawa (Gresik dan Tuban) atau Sulawesi (Makassar) membawa ajaran Islam sembari bertransaksi cengkih dan pala. Sejarah mencatat bahwa pada abad ke-14 dan ke-15, pelabuhan-pelabuhan di Maluku telah menjadi titik temu budaya yang heterogen.
2. Peran Ulama dan Sufi
Metode penyebaran Islam di Timur sangat kental dengan corak tasawuf. Para pendakwah tidak datang sebagai penakluk, melainkan sebagai penasihat spiritual, tabib, atau pedagang yang santun. Di Maluku, nama-nama seperti Syekh Mansur dan Jafar Sadik (dalam tradisi lisan Ternate) sering disebut sebagai tokoh kunci yang mengislamkan penguasa setempat.
3. Hubungan Politik dengan Kesultanan di Barat
Kesultanan Demak dan kemudian Kesultanan Gowa-Tallo (Kesultanan Makassar) berperan besar dalam transmisi ajaran Islam ke wilayah Timur. Hubungan diplomatik dan perkawinan antar-bangsawan menjadi sarana efektif dalam memperluas pengaruh Islam hingga ke pedalaman kepulauan.
Islamisasi di Maluku: Poros Utama
Maluku adalah titik awal Islamisasi di Nusantara bagian Timur. Menurut catatan Tomé Pires dalam Suma Oriental, pada awal abad ke-16, raja-raja di Maluku sudah memeluk Islam. Ternate dianggap sebagai kesultanan tertua yang memeluk Islam di wilayah ini. Raja Ternate yang pertama kali memeluk Islam adalah Kolano Marhum (1465–1486) setelah mendapat pengaruh dari seorang alim bernama Maulana Husin. Putranya, Zainal Abidin, kemudian memperdalam ilmu agama di Giri (Jawa) dan pulang membawa gelar “Sultan”, serta menerapkan syariat Islam sebagai hukum negara.
Tidore mengikuti jejak serupa. Persaingan antara Ternate dan Tidore bukan hanya soal wilayah kekuasaan, tetapi juga tentang pengaruh Islam di wilayah sekitarnya, termasuk Papua dan Kepulauan Halmahera.
Jejak Islam di Tanah Papua
Banyak yang beranggapan bahwa Islam baru masuk ke Papua belakangan ini, namun bukti sejarah menunjukkan hal yang berbeda. Islam telah menyapa bumi Cendrawasih jauh sebelum kolonialisme Eropa mencengkeram kuat.
Wilayah pesisir Barat Papua (Fakfak, Kaimana, dan Raja Ampat) memiliki hubungan upeti dan perdagangan dengan Kesultanan Tidore. Melalui hubungan ini, banyak kepala suku lokal yang memeluk Islam. Di Fakfak, terdapat filosofi “Satu Tungku Tiga Batu” yang mencerminkan harmoni antara Islam, Kristen, dan Katolik, namun akar Islamnya telah ada sejak abad ke-16 melalui pengaruh dari pedagang Seram dan kekuasaan Tidore.
Penemuan naskah-naskah kuno dan bentuk bangunan masjid di wilayah pesisir menunjukkan bahwa komunitas Muslim telah mapan di Papua sejak lama, berfungsi sebagai gerbang masuknya peradaban luar sebelum masuknya misi penginjilan di abad ke-19.
Islamisasi di Nusa Tenggara
Wilayah Nusa Tenggara (NTB dan NTT) memiliki pola penyebaran yang berbeda. Islam masuk ke Lombok dan Sumbawa melalui dua jalur utama: Jawa (Sunan Prapen dari Giri) dan Sulawesi (Gowa-Tallo).
Islamisasi dilakukan secara masif oleh Sunan Prapen pada abad ke-16. Meskipun sempat bercampur dengan tradisi lokal (munculnya sinkretisme Wetu Telu), Islam perlahan menjadi identitas utama masyarakat Sasak. Kesultanan Bima menjadi pusat penyebaran Islam terpenting di wilayah ini. Hubungan erat antara Bima dengan Makassar membuat Islam berkembang pesat, bahkan Bima sempat menjadi pusat studi agama yang disegani di Nusantara Timur.
***
Karakteristik Islam di Nusantara Timur memiliki beberapa ciri khas, yaitu: (1) Integrasi Adat dan Syara’. Seperti pepatah di Maluku atau Sulawesi, “Adat bersendi Syara’, Syara’ bersendi Kitabullah”. Islam tidak menghapus total adat, melainkan mewarnainya. (2) Perlawanan Terhadap Kolonial. Islam menjadi ideologi pemersatu bagi sultan-sultan di Timur (seperti Sultan Baabullah dan Sultan Nuku) untuk melawan monopoli perdagangan Portugis, Spanyol, dan Belanda. Perang ini bukan hanya soal ekonomi, tapi juga “jihad” mempertahankan kedaulatan dan keyakinan. (3) Pendidikan Berbasis Masjid. Masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat literasi tempat naskah-naskah Arab-Melayu dipelajari dan disalin.
Sejarah masuknya Islam di Nusantara bagian Timur adalah narasi tentang pertemuan budaya yang damai, kepentingan ekonomi yang saling menguntungkan, dan keteguhan politik. Dari Ternate hingga Fakfak, dari Bima hingga Alor, Islam telah membentuk identitas masyarakat yang tangguh dan religius. Memahami sejarah ini sangat penting untuk melihat bagaimana kemajemukan Indonesia telah terbentuk sejak ratusan tahun lalu melalui dialog antar-pulau dan antar-peradaban.
Bahan Bacaan:
Azra, Azyumardi. (2004). The Origins of Islamic Reformism in Southeast Asia: Networks of Malay-Indonesian and Middle Eastern ‘Ulama’ in the Seventeenth and Eighteenth Centuries. Allen & Unwin. (Membahas jaringan ulama yang mencapai Timur).
Ricklefs, M.C. (2008). A History of Modern Indonesia since c. 1200. Palgrave Macmillan. (Standar referensi sejarah Nusantara).
Putuhena, M. Shaleh. (2006). Historiografi Islam di Kesultanan Ternate. Jurnal Al-Qalam.
Lapian, A.B. (1994). Pelayaran dan Perdagangan di Perairan Maluku. LIPI.
Wangmetan, dkk. (2012). Sejarah Masuknya Islam di Papua. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Pires, Tomé. (1512-1515). The Suma Oriental of Tomé Pires. (Catatan saksi mata mengenai kondisi pelabuhan-pelabuhan Islam di Maluku awal abad ke-16).
Reid, Anthony. (1993). Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450-1680. Yale University Press.
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.
Sejarah masuknya islam dinusantara bagian timur adalah melalui jalur perdagangan rempah, peran ulama sufi hubungan politik dan ini terjadi secara bergelombang
Tanggapan saya mengenai artikel ini sangat bermanfaat sebagai referensi sejarah lokal yang menekankan bahwa Islamisasi di Indonesia Timur memiliki dinamika yang unik dan sangat bergantung pada jalur maritim.
Tinggalkan Komentar