Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
16 Juni 2025

Menjadi Sarjana dan Guru Pembelajar

Sen, 16 Juni 2025 Dibaca 400x

Related Post: Menjadi Narasumber Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Pangkep

Oleh: Muhammad Farid Wajdi  *)

IMMIMPANGKEP – Banyak orang di sekitar kita, di lingkungan kita, termasuk bahkan dalam ekosistem pendidikan, ketika menjadi sarjana dan bahkan terangkat menjadi seorang guru, tak lagi belajar dan membaca buku. Kesarjanaannya dianggap telah selesai ketika prosesi wisuda telah dijalani. Sebagai seorang sarjana dan guru, yang secara umum kita sebut saja sebagai “thalabul ilm”, penuntut ilmu, maka sejatinya harus menumbuhkan dalam dirinya kecintaan akan ilmu, kegemaran akan belajar, dan tentu saja harus senantiasa mengakrabi ahli ilmu, ulama’. Hanya dengan begitu seseorang dapat disebut pembelajar sejati.

Jika seseorang telah sarjana, pada hakekatnya tidaklah boleh melepaskan kesejatian dirinya sebagai “mahasiswa” atau “mahasantri”. Seorang sarajan tidak boleh malas gerak atau mager, tapi harus selalu berpikir dan mengaplikasikan ilmu yang telah diperolehnya agar bermanfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Karena itu tetaplah membaca setiap buku atau kitab yang ada, perbaharui setiap informasi dan berita yang berkembang, serta jadilah pencerah di tengah masyarakat. Jangan justru menjadi penyebar ‘hoax’ di tengah masyarakat yang masih kurang cerdas dalam memilih dan memilah informasi yang akuntabel.

Jangan pernah menjadi sarjana yang hanya ada dalam selembar ijazah perguruan tinggi. Jangan pernah menjadi sarjana sekedar ‘sarjana’ yang mengalir begitu saja tanpa tambahan pembelajaran yang diinisiasi dari diri sendiri.  Seorang sarjana, apalagi sarjana yang guru, harus selalu ada keinginan berbagi ilmu, semangat, ghirah dan gairah untuk melejitkan kemampuan diri dalam hal kecakapan berbahasa (Public Speaking: Arab dan Inggris), membaca kitab (Qira’atul Kutub), muraja’ah dan ziyadah hafalan (Tahfidzul Qur’an), dan kecakapan berorganisasi, seraya terus belajar, belajar dan belajar meninggikan adab.

Kalau seorang tamatan SMA membutuhkan lapangan pekerjaan, maka sejatinya seorang sarjana sudah mampu berpikir kritis dan menciptakan lapangan kerja, minimal lapangan kerja buat dirinya sendiri. Perkuat kemampuan menguasai digitalisasi dan literasi. Jadilah sarjana pembelajar yang mampu menciptakan lapangan kerja baru dengan digitalisasi dan literasi, Catatlah segala hal yang kamu pelajari, alami, lihat dan rasakan, sehingga lambat laun kemampuan literasi kamu terbina dengan sendirinya.

Seorang sarjana harus mampu merencanakan kegiatan produktif, apalagi jika berada dalam ekosistem pendidikan. Aturlah jadwal secara berkala hadiri majelis ilmu atau ke Perpustakaan. Pinjam atau beli buku jika sempat, biar otak selalu terlatih dengan beragam narasi dan wacana yang baik, serta kurangi main HP (gaming) biar tidak kecanduan.

Seorang sarjana dengan kemampuan digitalisasi dan literasi yang baik akan dapat bekerja dari rumah. Saat ini banyak pekerjaan online dengan penghasilan yang lumayan, tanpa harus keluar dari rumah, meski begitu seorang sarjana memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat dan lingkungannya. Jangan karena sudah mendapatkan penghasilan yang besar dari online, by remote, sehingga tidak mau lagi keluar rumah atau bergaul dengan sekelilingnya. Seorang sarjana harus mahir melatih pikirannya dengan ‘mindfulness’, biar lebih tenang. Salah satu cara melatihnya adalah dengan interaksi sosial yang baik. Sesekali tampillah di forum masyarakat, mengarahkan pembicaraan, mengusulkan hal positif, serta mengajak berpikir/memandang positif (husnudzon) dari setiap persoalan publik yang dihadapi.

Seorang sarjana dengan profesi sebagai guru, harus senantiasa menjaga lisannya. Pahami setiap karakter orang dengan baik, sehingga setiap perkataan menjadi terukur dan berdampak baik bagi kebaikan orang lain, tidak membuat orang lain tersinggung. Jika punya kebiasaan mengerjai orang, sebaiknya ditinggalkan. Jadilah sarjana yang berpikir dan bertindak positif, dan membuat semua orang di sekitar kita juga berpikir dan bertindak positif, tertulari oleh kehadiran dan kebaikan yang kita rencanakan. Mari menjadikan lingkungan sosial dan lingkungan kerja kita positif, salah satu sebabnya karena kita ada didalamnya.

Seorang sarjana akan selalu memiliki cara tersendiri untuk berkembang dan mengembangkan dirinya. Selalu positif thinking dan selalu melihat sisi baik dari setiap interaksi sosial dan bagaimana orang sukses meraih kebahagiaannya. Mintalah saran dan masukan juga dari orang lain yang lebih berpengalaman. Selalu jadikan diri, menempatkan diri dengan baik untuk menjadi bagian dari kebaikan dan perbaikan di masyarakat dan lingkungan pendidikan.

Demikianlah beberapa motivasi diri bagaimana menjadi sarjana dan guru pembelajar. Barakallahu fiikum. (*)

 

(* Muhammad Farid Wajdi, Alumnus Ma’had ‘Aly Takhossus Lughah wal Qiraat (International Qiraat Institute)/Pimred majelisilmu.com

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077