IMMIMPANGKEP – Sehubungan dengan bangsa Romawi Allah berfirman: Dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang dalam beberapa tahun lagi. (Q.S. 30 Ar-Rum: 3-4), dimenangkan-Nya atas segala agama. (Q.S. 9 At-Taubah: 33), Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan, menjadi aman sentausa. (Q.S. 24 An-Nur: 55)
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. (Q.S. 110 An-Nashr: 1-2)
Ternyata semua yang telah diberitakan oleh Al-Quran menjadi kenyataan. Kekaisaran Romawi akhirnya dapat mengalahkan Kerajaan Persia, kemudian manusia masuk agama Islam secara berbondongbondong, dan kekuasaan kaum Muslimin kian meluas, sehingga pada suatu waktu kekuasaan mereka sampai ke Andalusia (Spanyol) di sebelah barat, sampai batas India di sebelah timur, hingga ke Anatolia (Asia Kecil) di sebelah utara, dan sampai mencapai batas terakhir Sudan di sebelah selatan. Allah swt. mengatakan dalam firman-Nya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-gduran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. 15 Al-Hijr: 9)
Ternyata keadaannya, al-hamdulillah seperti apa yang telah diberitakan oleh-Nya hingga sekarang. Allah swt. berfirman pula dalam ayat yang lain: Golongan (orang-orang kafir) itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. (Q.S. 54 Al-Gamar: 45)
Kemudian kejadiannya memang seperti yang telah diberitakan oleh AlQuran, yaitu dalam Perang Badar. Ayat di atas diturunkan di Makkah. Dalam ayat yang lain Allah swt. berfirman: Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tangan kalian. (Q.S. 9 At-Taubah: 14)
Kejadiannya memang persis seperti yang telah diberitakan Allah swt. dalam Kitab-Nya. Hal ini dapat para pembaca ketahui melalui sejarah hidup Rasulullah saw. yang telah kami kemukakan. Di dalamnya telah disebutkan tentang terbongkarnya rahasia orang-orang munafik dan orang-orang Yahudi serta kedustaan perkataan mereka di dalam sumpahnya sebagaimana yang difirmankan-Nya: Dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri, “Mengapa Allah tidak menyiksa kita karena apa yang kita katakan?” (Q.S. 58 Al-Mujadilah: 8)
Mereka menyembunyikan di dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu. (Q.S. 3 Ali ‘Imran: 154)
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata, “Kami mendengar,” tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula), “Dengarlah” semoga kamu tidak dapat mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan) “Raina,” dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. (Q.S. 4 An-Nisa: 46)
Masih banyak ayat lain yang menceritakan hal ihwal mereka.
Keempat: Di antara mukjizat Al-Quran ialah karena di dalamnya terkandung berita-berita tentang umat-umat terdahulu dan syariat-syariatnya. Satu kisah di antaranya tidak akan dapat diketahui selain oleh para pendeta ahli kitab yang benar-benar cemerlang, yang hanya menekuni hal ini seumur hidupnya. Hal ini dapat dikemukakan oleh Rasulullah saw. sesuai dengan kenyataan yang telah terjadi pada masa dahulu. Ahli kitab yang mengetahui kisah ini dengan sebenarnya langsung membenarkan apa yang telah dikemukakannya, karena mereka telah mengetahui bahwa Rasulullah saw. adalah seorang ummi, tidak dapat membaca dan tidak dapat menulis, serta tidak pernah belajar di madrasah atau duduk di majelis ilmu. Hal ini merupakan kenyataan yang tidak diingkari oleh para ahli kitab. Tiada seorang pun di antara mereka yang mengingkari hal ini. Sering kali ahli kitab bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kisahkisah ini. Maka turunlah kepada Rasulullah Al-Quran yang di bacakan kepada mereka sebagai peringatan seperti kisah para nabi, kisah tentang kejadian, dan apa-apa yang telah disebutkan dalam kitab-kitab terdahulu. Ternyata para ulama mereka tiada sorang pun yang berani mendustakan apa yang telah diceritakan oleh Rasulullah saw. karena semuanya benar.
Semua yang diceritakan oleh Rasulullah saw. ternyata dapat membedakan mana yang benar dan mana yang telah mengalami perubahan dari kitab mereka sesudah terlebih dahulu Al-Qur’an yang dibacakannya itu mengingatkan dan mencela mereka sebagaimana yang difirmankan-Nya:
Katakanlah, “(Jika kalian mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kalian orang-orang yang benar.” (Q.5S. 3 Ali ‘Imran: 93)
Di antara bukti yang menunjukkan bahwa para ahli kitab mengetahui kebenaran yang telah dikatakan oleh Rasulullah saw. ialah adanya tantangan dari Allah swt. kepada mereka melalui firman-Nya: Katakanlah, “Jika kalian (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untuk kalian di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian (kalian) jika kalian memang benar. (Q.S. 2 Al-Bagarah: 94)
Kemudian dalam ayat yang lain Allah swt. memastikan tentang ketidakmauan mereka untuk mati, yaitu melalui firman-Nya: Dan sekali-kali mereka tidak-akan mengingini kematian itu selamalamanya karena kesalahan-kesalahan yang telah di perbuat oleh tangan mereka (sendiri). (Q.S. 2 Al-Bagarah: 95)
Ternyata tidak pernah terdengar bahwa ada seseorang di antara mereka yang mengharapkan hal tersebut (kematian) sekalipun hanya melalui mulut saja tanpa dilaksanakan. Sekalipun demikian, mereka adalah orangorang yang paling sengit mendustakan Rasulullah saw. Sebagai contoh ialah seperti yang telah dilakukan oleh penduduk Najran tatkala Rasulullah saw. mengajak mereka untuk ber-mubahalah dan mereka menolak. Hal ini telah kami kemukakan dalam pembahasan mengenai utusan orang Najran.
Di antara hal-hal yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu bukanlah perkataan manusia ialah adanya rasa takut yang menyusup di hati para pendengarnya dan pengaruh yang menguasai mereka sewaktu AlQuran dibacakan. Hal ini tidak lain disebabkan oleh kekuatan yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan wibawanya yang anggun membuat mereka merasa berat untuk mendengarkannya dan semakin dibacakan, semakin bertambah pula antipati mereka terhadapnya.
Oleh sebab itu, benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah saw. yaitu: Sesungguhnya Al-Quran itu sulit dan menyulitkan bagi orang yang membencinya: Al-Quran adalah hukum. Bagi orang mukmin, keagungan dan pengaruh Al-Quran sewaktu ia membacanya justru makin menambahnya senang dan kepercayaannya makin menebal terhadapnya sebagaimana yang telah diungkapkan oleh firmanNya: Gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Rabb-nya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka pada waktu mengingat Allah. (Q.S. 39 Az-Zumar: 23).
Dalam ayat lain Allah swt. berfirman: Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah di sebabkan oleh takut kepada Allah. (Q.S. 59 Al-Hasyr: 21)
Di antara segi-segi mukjizat Al-Quran jalah karena ia merupakan tanda (mukjizat) yang bersifat abadi dan tidak akan lenyap sepanjang dunia masih ada. Di samping itu Allah swt, telah menjamin pemeliharaan keutuhannya sebagaimana yang telah diungkapkan melalui firman-Nya:
Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Q.S. 15 Al-Hjjr: 9)
Di dalam ayat yang lain Allah swt. telah berfirman pula: Yang tidak datang kepadanya (Al-Quran) adalah kebatilan, baik dari depan maupun dari belakangnya. (Q.S. 41 Fushshilat: 42)
Mukjizat-mukjizat para nabi yang lain tidak ada satu pun yang tertinggal, yang ada hanyalah beritanya saja, tetapi mukjizat Al-Qur’an sampai sekarang masih tetap ada. Ia merupakan hujjah yang dapat mengalahkan semua hujjah, dan ia adalah penantang tanpa tandingan. Zaman itu penuh dengan ahli ilmu bayan, pemangku ilmu bahasa dan imam ilmu balaghah, serta jago bicara dan cendekiawan. Sebagian besar dari mereka tidak percaya dan ingkar terhadap syariat Al-Quran. Sekalipun demikian, ternyata tidak ada seorang pun dari kalangan mereka yang mampu mendatangkan sesuatu yang berarti untuk menantang Al-Guran, dan mereka sama sekali tidak mampu membuat dua kalimat yang serupa dengannya. Bahkan setiap orang yang berani mencoba-coba menentang Al-Qur’an dengan mengerahkan segala kemampuannya, pada akhirnya mundur dengan perasaan patah karena tidak mampu menyainginya.
Alangkah baiknya bilamana bab ini kami akhiri dengan menyebutkan hadis Rasulullah saw. mengenai Al-Guran, yaitu: Sesungguhnya Allah swt. menurunkan Al-Quran dalam bentuk perintah, larangan, menceritakan tentang sunnah-sunnah terdahulu, dan perumpamaan-perumpamaan (yang dibuat oleh-Nya). Di dalamnya terkandung berita mengenai kalian dan cerita tentang umat-umat sebelum kalian, berita tentang apa yang bakal terjadi sesudah kalian, dan hukum mengenai apa yang ada di antara kalian.
Al-Quran tidak membosankan sekalipun banyak yang diulang-ulang, dan keajaibannya tidak pernah habis. Al-Quran adalah perkara yang hak dan bukan mainan-mainan. Barang siapa mengatakannya, berarti ia benar, barang siapa memutuskan hukum dengan memakainya, berarti ia adil, barang siapa bersengketa dengan memakainya (sebagai dalilnya), berarti ia akan menang: barang siapa menghukumi (sesuatu) dengan memakainya, berarti ia berlaku adil: barang siapa mengamalkannya, ie akan mendapat pahala: barang siapa berpegang kepadanya, niscaya mendapat petunjuk jalan yang lurus, barang siapa mencari petunjuk ke pada selain Al-Quran, niscaya Allah akan menyesatkannya, dan barang siapa membuat hukum dengan selainnya, niscaya ia dipatahkan oleh Allah. Al-Quran adalah peringatan yang bijaksana, cahaya yang jelas, jalan yang lurus, tali Allah yang kuat, dan penawar yang mujarab. AlQuran merupakan pemelihara bagi orang yang berpegang kepadanya serta merupakan keselamatan bagi orang yang mengikuti (petunjuk)nya. Al-Quran tidak bengkok yang membutuhkan pelurusan, dan ia tidak menyimpang sehingga membuatnya tercela. (*)
Tinggalkan Komentar