Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)
Related Post: Meraih Ijazah Sanad Mandzumah Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah
IMMIMPANGKEP – Alhamdulillah, satu kesyukuran dan kebahagiaan tersendiri dapat terus belajar dan meluangkan waktu menghadiri banyak majelis ilmu bersanad dan mengulas kutub para ulama. Salah satu diantaranya yang menarik perhatian penulis tersebut adalah Kitab kecil yang berjudul “Al-Urjuzah Al-Mi’iyyah fi Dzikr Hal Asyraf Al-Bariyyah” karya Al-‘Allamah Ibnu Abil Izz Al-Hanafi, sebuah kitab berbentuk nazham (syair ta’limiy) berjumlah 100 bait berisi perjalanan hidup Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, sejak beliau lahir sampai wafatnya.
Salah satu kelebihan nazham ini adalah disertakan tahun kejadiannya, sehingga sangat memudahkan untuk mengingat kapan satu peristiwa berlangsung. Meski lumayan ringkas, namun nazham ini memuat banyak peristiwa penting yang beliau lalui. Dari hari kelahiran, masa pengasuhan, perjalanan ke Syam, perkenalan dan pernikahan dengan ibunda Khadijah, diangkat sebagai rasul, hijrah, baiat, peperangan, dan seterusnya.
Kitab al-Urjuzah al-Mi’iyyah fi Dzikri Hali Asyraf al-Bariyyah (100 bait rajz yang menjelaskan tentang sisi-sisi kehidupan Rasulullah). Menariknya, Urjuzah ini ditulis oleh al-Imam al-Qadliy Ali ibn Muhammad ibn Abi al-‘Izz ad-Dimasyqiy al-Hanafiy (Wafat pada tahun 792 H), seorang terkemuka dari kalangan Ahlussunah wal Jama’ah, seorang Imam, beliau terkenal dengan karya-karyanya yang sangat berharga dan bermanfaat, terutama syarhnya atas al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah.
Abi al-‘Izz ad-Dimasyqiy al-Hanafiy tumbuh dan dididik dalam lingkungan keluarga yang akademis, religius, dan terpandang. Hidup dalam lingkungan keluarga yang penuh dengan nuansa keilmuan, cinta ulama, dan menuntut ilmu dari ulama tersebut. Salah satu ahli ilmu yang menjadi gurunya adalah Imam Ibn Katsir, seorang ulama besar yang menulis Tafsir Ibnu Katsir, dan dari beliaulah Ibn Abi al-‘Izz banyak mengambil ilmu, termasuk syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyahnya, setiap kali mengutip pernyataan Ibn Katsir, Ibn Abi al-‘Izz selalu mengatakan, guru kami, “Syekh Imaduddin ibn Katsir…”.
Maka dengan demikian, kitab nadham Urjuzah al-Mi’iyah ini juga merupakan khulashah (inti sari) dari karya Ibn Katsir yang membicarakan tentang sejarah hidup Rasulullah, hal ini terekam dalam nadham berikut.
Dalam bait tersebut terdapat kata ‘al-fushul’, kata tersebut ternyata juga mengisyaratkan bahwa dalam menyusun nadham ini, Ibn Abi al-‘Izz terinspirasi dari kitab Ibn Katsir yang berjudul al-Fushul fi sirati ar-Rasul.
Nah, teman-teman pembaca yang budiman, para pelajar dan santri, mari untuk selalu menikmati khazanah keilmuan Islam, termasuk Sirah Nabawiyah. Kitab Urjuzah al-Mi’iyah ini menarik untuk dipelajari dan didalami, bukan karena sesuatu dan lain hal, tapi memang karena dengan kitab kecil inilah, kita lebih semangat dalam menanamkan cinta kepada Nabi dan Rasul kita, Muhammad SAW.
Belajarlah Sirah Nabawiyah. Kejarlah sanad Kitab Mandzumah Urjuzah al-Mi’iyah. Kitab ini merupakan ringkasan sirah Nabawiyah yang berbentuk bait-bait syair berjumlah 100 bait dan memuat banyak peristiwa penting yang Nabi Muhammad SAW lalui, dari hari kelahiran, masa pengasuhan, perjalanan ke Syam, perkenalan dan pernikahan dengan Ibunda Khadijah, diangkat sebagai rasul, hijrah, baiat, peperangan, dan seterusnya. Mandzumah ini sangat bermanfaat bagi kaum Muslimin yang ingin mengakrabi atau bahkan menghafal Sejarah Nabi Muhammad SAW.
Mengapa penting untuk bersanad?
Imam Abdullah bin Mubarak (wafat 181 H) -rahimahullah- berkata,
Artinya:
“Sanad itu bagian dari agama. Kalau lah tidak ada sanad, pasti siapapun bisa berkata apa yang dia kehendaki.” [Riwayat Muslim dalam Muqaddimah Shahihnya]
Beliau juga berkata,
Artinya:
“Perumpamaan orang yang mencari ilmu agama tanpa sanad, seperti orang yang naik ke atap sebuah bangunan tanpa tangga” [Riwayat Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Al Kifayah fi Ilmi Riwayah hal.393]
Imam Sufyan Ats-Tsauri (wafat 161 H) -rahimahullah- berkata:
Artinya:
“Sanad adalah senjatanya orang beriman. Apabila tidak ada senjata tersebut, maka dengan apa mereka berperang (melawan syetan dan syubhat)?” [Riwayat Al-Khatib Al-Baghdadi dalam Syaraf Ashabil Hadits hal.42]
Demikianlah pentingnya bersanad bagi para penuntut ilmu, thalabul ilmi. Karena mengejar sanad bagi seorang pelajar, santri, mahasiswa dan sarjana muslim sangat penting adanya untuk menegaskan keberlanjutan/pewarisan khazanah keilmuan Islam.
Silakan lihat dan resapi terjemahnya pada link Kitab Mandzumah Urjuzah al-Mi’iyah berikut ini: Mandzumah Urjuzah al-Mi’iyah 1 (Bait 1-10), Mandzumah Urjuzah al-Mi’iyah 2 (Bait 11-20), Mandzumah Urjuzah al-Mi’iyah 3 (Bait 21-30), Mandzumah Urjuzah al-Mi’iyah 4 (Bait 31-40), Mandzumah Urjuzah al-Mi’iyah 5 (Bait 41-50), Mandzumah Urjuzah al-Mi’iyah 6 (Bait 51-60), Mandzumah Urjuzah al-Mi’iyah 7 (Bait 61-70), Mandzumah Urjuzah al-Mi’iyah 8 (Bait 71-80), Mandzumah Urjuzah al-Mi’iyah 9 (Bait 81-90), dan Mandzumah Urjuzah al-Mi’iyah 10 (Bait 91-100).

Ijazah Urjuzah Mi’iyah. (foto: ist/*)
Alhamdulillah, kesyukuran penulis tak henti-hentinya dalam upaya mengakrabi sirah nabawiyah, apalagi setelah melalui beberapa majelis ilmu, penulis telah meraih ijazah sanad Kitab Mandzumah Urjuzah al-Mi’iyah ini, dan kedepan, jika dirasa telah mantap, insya Allah penulis akan segera menurunkan sanad kitab Urjuzah al-Mi’iyah ini. Terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh guru dan ustadz yang telah membimbing dan mengajarkan kepada penulis, syarh dan ta’liq kitab bersanad pada beberapa majelis ilmu, baik offline maupun online. Syukron Djazakumullah.
Demikian sedikit catatan ini sebagai pengingat kegiatan majelis ilmu bersanad yang telah diikuti dan ulasan kitab yang telah diposting. Semoga bermanfaat adanya. Barakallahu fiikum. (*)
(* Muhammad Farid Wajdi, Guru/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Pangkep, Sulsel.
Komentar Terbaru