Info Sekolah
Rabu, 07 Okt 2026
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
  • WELCOME TO Official Website Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep
23 Maret 2026

Menelusuri Sejarah Masuknya Islam di Nusantara Bagian Timur (2)

Sen, 23 Maret 2026 Dibaca 825x

Oleh: Muhammad Farid Wajdi *)

IMMIMPANGKEP – Sulawesi memang merupakan jantung dari dinamika Nusantara bagian Timur, dan Sulawesi Selatan secara spesifik adalah motor penggerak Islamisasi di kawasan tersebut. Sulawesi Selatan menempati posisi unik dalam peta sejarah Islamisasi di Nusantara. Jika wilayah Sumatera Utara dan Aceh menjadi gerbang awal di Barat, maka Sulawesi Selatan—khususnya melalui pelabuhan Makassar—menjadi pusat gravitasi Islam di bagian Timur pada abad ke-17.

Proses Islamisasi di wilayah ini tidak hanya sekadar perpindahan keyakinan pribadi, melainkan sebuah peristiwa politik dan kultural yang masif, yang mengubah struktur masyarakat Bugis-Makassar dari tatanan penganut kepercayaan lokal (Dewata Seuwae) menjadi salah satu benteng Islam terkuat di Indonesia. Jauh sebelum penguasa lokal memeluk Islam secara resmi, ajaran ini sudah bersentuhan dengan masyarakat pesisir Sulawesi Selatan melalui jalur perdagangan.

Sejak abad ke-15, para pedagang Muslim dari Melayu, Jawa, dan Sumatera telah menetap di pelabuhan-pelabuhan seperti Somba Opu (Gowa) dan Siang (Pangkep). Keberadaan komunitas Muslim awal ini bersifat terbatas pada pemukiman pedagang. Raja-raja Gowa saat itu bersikap toleran terhadap para pendatang. Bahkan, Raja Gowa ke-9, Tumapa’risi’ Kallonna, memberikan izin bagi masyarakat Melayu untuk tinggal dan berdagang, menunjukkan bahwa Islam sudah hadir sebagai entitas ekonomi sebelum menjadi entitas politik.

Momentum Islamisasi Resmi: Kedatangan “Dato’ Tallu”

Titik balik sejarah terjadi pada awal abad ke-17. Secara formal, Islam diterima sebagai agama negara di Kerajaan Gowa-Tallo pada tanggal 22 September 1605 (9 Jumadil Awwal 1014 H). Peristiwa ini dipicu oleh kedatangan tiga ulama besar asal Minangkabau yang diutus dari Kerajaan Luwu dan Giri. Mereka dikenal sebagai Dato’ Tallu, yaitu: (1) Dato’ ri Bandang (Abdul Makmur). Ulama yang ahli dalam bidang syariat dan fikih. Beliau memusatkan dakwahnya di Gowa dan Tallo. (2) Dato’ ri Patimang (Sulaiman), Ulama yang ahli dalam bidang tauhid dan teologi, yang berhasil mengislamkan Datu Luwu, La Pattiware’ Daeng Parabbung, raja paling senior di Sulawesi Selatan saat itu. (3) Dato’ ri Tiro (Nurdin Ariyani), Ulama yang ahli dalam bidang tasawuf yang berdakwah di wilayah Bulukumba dan sekitarnya.

Penerimaan Islam oleh penguasa Gowa, Sultan Alauddin (I Mangngarangi Daeng Manrabia), dan Mangkubumi Gowa, Sultan Abdullah Awwalul Islam (I Karaeng Matoaya), menandai lahirnya supremasi Islam di Sulawesi Selatan.  Setelah Gowa-Tallo memeluk Islam, mereka merasa memiliki kewajiban moral dan politik untuk mengajak kerajaan-kerajaan tetangga (Bugis) untuk turut serta memeluk Islam. Hal ini didasarkan pada perjanjian lama antarkerajaan di Sulawesi Selatan yang berbunyi: “Barangsiapa yang melihat jalan yang lebih baik, maka ia harus menyampaikannya kepada saudaranya.”

Namun, ajakan Gowa mendapat penolakan dari persekutuan kerajaan Bugis (Tellumpoccoe), yang memicu serangkaian peperangan yang dikenal sebagai Musu’ Selleng (Perang Islam). Dalam waktu singkat, Gowa berhasil menaklukkan: Soppeng (1609), Wajo (1610), dan Bone (1611). Dengan jatuhnya Bone, seluruh kekuatan utama di Sulawesi Selatan resmi berada di bawah panji Islam. Menariknya, pasca-penaklukan, Gowa tidak memperlakukan kerajaan Bugis sebagai jajahan, melainkan sebagai saudara seiman, yang mempercepat asimilasi agama ke dalam struktur adat.

***

Salah satu keberhasilan terbesar dakwah di Sulawesi Selatan adalah kemampuan para ulama dan penguasa untuk mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam sistem nilai lokal yang disebut Pangngadereng (Bugis) atau Pangngadakkang (Makassar). Islam masuk dan mengisi pilar kelima dari sistem adat tersebut, yang kini dikenal dengan unsur Syara’. Masyarakat Bugis-Makassar menciptakan sintesis yang harmonis antara Ade’ (Adat) mengatur hubungan antarmanusia dan Syara’ (Syariat) mengatur hubungan manusia dengan Tuhan.

Filosofi ini kemudian dikristalkan dalam ungkapan: “Adat bersendi Syariat, Syariat bersendi Kitabullah.” Hal ini menyebabkan Islam bukan lagi dianggap sebagai agama asing, melainkan ruh dari kebudayaan Bugis-Makassar itu sendiri.

Pada abad ke-17, Sulawesi Selatan juga melahirkan tokoh kaliber dunia: Syekh Yusuf Abul Mahasin Al-Makassari. Beliau bukan hanya seorang ulama tasawuf (Tarekat Khalwatiyah Yusuf), tetapi juga simbol perlawanan terhadap kolonialisme.

Melalui jaringan intelektual internasionalnya, Syekh Yusuf menghubungkan Makassar dengan pusat-pusat keislaman di Mekkah, Madinah, dan Banten. Pengaruh beliau memastikan bahwa Islam yang berkembang di Sulawesi Selatan adalah Islam yang memiliki kedalaman intelektual dan semangat perjuangan (jihad) yang kuat terhadap ketidakadilan.

Masuknya Islam membawa revolusi literasi. Huruf Lontara tetap dipertahankan, namun penggunaan huruf Arab (Serang) mulai meluas untuk penulisan kitab-kitab agama dan catatan kerajaan (Lontara Bilang). Institusi pendidikan tradisional seperti Langgar dan Meunasah bermunculan, yang menjadi cikal bakal sistem pesantren yang sangat kuat di Sulawesi Selatan hingga hari ini.  Secara keseluruhan, Islamisasi di Sulawesi Selatan adalah model sukses dari “Dakwah Struktural” yang diikuti oleh “Dakwah Kultural”. Peran para penguasa (Topadaeng) yang memeluk Islam terlebih dahulu memberikan legitimasi hukum, sementara para ulama (Dato’ Tallu) memberikan kedalaman spiritual bagi rakyat jelata. (*)

(* Muhammad Farid Wajdi, Guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI)/Pengasuh Ponpes Modern Putri IMMIM Minasatene-Pangkep, Sulsel.

Referensi/Bahan Bacaan:

Pelras, Christian. (2006). The Bugis. Blackwell Publishing. (Menyediakan analisis mendalam tentang transisi budaya masyarakat Bugis).

Mattulada. (1985). Islam di Sulawesi Selatan. Dalam buku: “Agama dan Perubahan Sosial”. Jakarta: Rajawali.

Noorduyn, J. (1955). Een Achttiende-Eeuwse Kroniek van Wadjo’: Buginese Historiografie. ‘s-Gravenhage: HLHLV. (Sumber primer kronik Wajo).

Azra, Azyumardi. (1994). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Bandung: Mizan. (Membahas peran Syekh Yusuf dan transmisi ilmu).

Sewang, Ahmad M. (2005). Islamisasi Kerajaan Gowa: Abad XVI sampai Abad XVII. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. (Buku otoritatif mengenai proses politik Islam di Gowa).

Andaya, Leonard Y. (1981). The Heritage of Arung Palakka: A History of South Sulawesi (Celebes) in the Seventeenth Century. The Hague: Martinus Nijhoff.

Abdurrazak, dkk. (2018). Peranan Dato’ Tallu dalam Islamisasi di Kerajaan Gowa-Tallo. Jurnal Sejarah dan Kebudayaan.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

 

Spam Diblokir

INFO PESANTREN

Pondok Pesantren Modern Putri IMMIM Pangkep

NPSN 40300674
Jl. H Fadeli Luran, Kelurahan Biraeng, Kecamatan Minasatene, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, 90614
TELEPON 081257328077
EMAIL immimpangkep@gmail.com
WHATSAPP +62-81257328077